LindungiHutan Insight
- Saptono Tanjung adalah salah satu figur yang mendedikasikan diri kepada sektor perhutanan, khususnya sektor konservasi hutan dan pengembangan sosial.
- Salah satu tempat yang menjadi fokus pengabdiannya adalah Pasir Kadilangu. Sempat mendapat penolakan dan berbagai tantangan saat menanam mangrove, kini upaya tersebut sudah memberikan dampak positif bagi warga setempat.
- Baru-baru ini, Saptono Tanjung dan Yayasan Damar Alam Nusantara telah bekerja sama dengan Lindungihutan untuk menanam 500 bibit pohon mangrove di Pasir Kadilangu.
“Ancaman bencana memang ada itu, tapi masyarakat belum memahami itu,” kata Saptono Tanjung, seorang petani penggerak dari Pasir Kadilangu, Yogyakarta.
Hampir semua orang di Indonesia mengetahui Pantai Parangtritis. Pantai Parangtritis adalah salah satu potensi wisata yang dimiliki oleh Yogyakarta.
Namun, area pesisir Yogyakarta tidak hanya menyimpan potensi yang menggembirakan, namun juga menyimpan bahaya.
Kadilangu adalah salah satu area di pesisir Yogyakarta yang rentan terkena bencana alam sehingga memerlukan upaya konservasi alam dan mitigasi bencana.
Saptono Tanjung menjadi salah satu figur yang mendedikasikan dirinya untuk ketahanan dan kelestarian alam di Kadilangu.
Saptono Tanjung dan Hutan
Hutan bukanlah hal yang asing bagi Saptono Tanjung. Sosok yang akrab dipanggil Pak Tanjung atau Tanjung ini telah menyelesaikan studi di Fakultas Kehutanan Instiper tahun 1997.
Tanjung kemudian menjalani karirnya dalam sektor konservasi hutan dan pengembangan sosial. Tanjung juga sempat menjadi auditor untuk pengelolaan hutan lestari dan legalitas kayu, “Jadi nyawa saya sepertinya di hutan,” ungkap Tanjung.
Saat ini, Tanjung adalah ketua dari Yayasan Damar Alam Nusantara yang bersekretariat di Wates, Kulon Progo.
Karena posisinya tersebut, saat ini Tanjung fokus mendampingi masyarakat di kawasan pesisir Kulon Progo dan kelompok Hutan Kemasyarakatan (HKM) Kulon Progo.
Salah satu daerah yang menjadi fokus kegiatan Tanjung adalah area Pasir Kadilangu.
Mengubah Keadaan Melalui Konservasi Mangrove
Kadilangu adalah salah satu Pedukuhan yang terletak di kawasan pesisir Yogyakarta, tepatnya di Kabupaten Kulon Progo.
Dulu, banjir kerap datang dan menggenangi jalan serta pemukiman warga. Bahkan banjir bisa bertahan hingga dua bulan ketika muara belum dibuka.
Warga juga sempat kesulitan untuk bisa mendapat air bersih, utamanya yang dapat diminum, karena air sumur mereka payau.
Melihat kondisi yang seperti itu, pada tahun 2011, Tanjung bersama dengan warga memutuskan untuk bergotong royong membuka muara.
Upaya pembukaan muara kemudian dilanjutkan dengan menanam beberapa bibit pohon mangrove. Mereka juga mengajak pemerintah daerah untuk menanam. Akhirnya pohon mangrove mulai tumbuh, hingga puncaknya pada tahun 2013.
Tidak berhenti dengan menanam mangrove saja, Tanjung juga terlibat dalam pemberdayaan masyarakat pesisir.
Pada tahun 2014, Tanjung dilibatkan oleh UNDP untuk mengembangkan konsep Desa Tangguh di wilayah pesisir. Tanjung juga pernah menjadi pendamping nasional untuk BNPB terkait desain shelter dan mitigasi bencana di Kadilangu.
Atas dedikasinya selama puluhan tahun, pada tahun 2017, Tanjung meraih penghargaan Kalpataru kategori Pembina Lingkungan.
Baca Juga: 9 Lokasi Penanaman Pohon Terbaru, dari Jawa hingga Riau
Pencapaian yang ada bukanlah didapat tanpa tantangan atau hambatan.
Banjir menjadi ancaman dan tantangan utama bagi penanaman mangrove di Kadilangu. Ketika banjir tiba, tanaman juvenil muda akan terendam sampai pucuk daun.
Aktivitas hewan seperti siput dan kerbau juga menjadi tantangan. Siput dapat mengerat batang mangrove yang menyebabkan tanaman menjadi kering dan mati. Kerbau-kerbau dari peternakan sekitar juga sering memakan mangrove.
Selain itu, kegiatan manusia seperti tambak pun menjadi tantangan. Tanjung juga sempat menghadapi penolakan ketika di awal-awal menanam mangrove.
Namun, itu semua dapat dilalui dengan keteguhan serta kerja sama dengan warga dan berbagai pihak.
Kini, hasil dari mangrove sudah mulai dirasakan oleh masyarakat. Secara bertahap, ekosistem mangrove mulai terbentuk serta flora dan fauna semakin hadir dan bertambah.
Potensi wisata mulai muncul dan telah memberikan penghasilan bagi warga setempat.
Sejak objek wisata mulai berkembang di kawasan sekitar 2016, muncul sumber pendapatan baru bagi warga seperti jasa parkir dari pengunjung pemancing, usaha kuliner, dan jasa wisata lainnya.
Tanjung juga mengembangkan konsep Dharma Wisata di kawasan konservasi. Tanjung ingin menguatkan sisi edukasi dan mengajak siapapun yang berwisata untuk peduli dan berkontribusi bagi kelestarian alam.
Konservasi Mangrove Untuk Masa Depan
Walaupun konservasi sudah berjalan, tapi masih banyak yang perlu dikerjakan.
Sejak pandemi COVID-19, pemasukan dari sektor wisata sempat terhenti total yang mempengaruhi kemampuan warga dan pengelola untuk membiayai perawatan tanaman dan fasilitas wisata.
Tanjung berharap ada solusi dan bantuan terkait sarana dan prasarana untuk wisata yang lebih baik.
Tanjung sendiri mengakui tidak bisa sendiri sehingga perlu berkolaborasi. Menurutnya, meskipun lokasi konservasi berada di Yogyakarta, upaya pelestarian Kadilangu terbuka bagi siapa pun yang ingin ikut berkontribusi.
Menurut Tanjung, di Kulon Progo, masih banyak wilayah yang masih bisa digarap atau ditanami pohon, entah mangrove maupun menanam di daratan.
Baru-baru ini Lindungihutan, melalui kegiatan Reforestathon, telah bekerja sama dengan Yayasan Damar Alam Nusantara untuk menanam sekitar 500 pohon mangrove di Kadilangu. “Kita coba di lapangan ternyata kita satu nafas, ada visi dan keinginan yang sama. Saya pikir ini menjadi sinergi yang bisa kita teruskan,” ungkap Tanjung.
Akhirnya, bagi Tanjung, agenda kedepan adalah bagaimana hutan lestari dan rakyatnya sejahtera. “Mari bersama-sama melakukan yang lebih bermanfaat dan lebih luas dari mangrove, sehingga bermanfaat bagi anak cucu, baik lingkungan maupun finansialnya,” pungkasnya.
Upaya menjaga kelestarian Kadilangu membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. Perusahaan, brand, maupun individu dapat turut ambil bagian dengan membuka Kampanye Alam atau berdonasi untuk mendukung penanaman dan perawatan mangrove di lokasi ini.
Setiap kontribusi dapat menjadi bagian dari upaya menjaga pesisir sekaligus mendukung keberlanjutan masyarakat di sekitar Kadilangu.
Baca Juga: Dulu Terancam Abrasi, Pantai Pasir Kadilangu Kini Jadi Kawasan Mangrove
