Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berdampak pada manusia dan lingkungan, tetapi juga mengancam kehidupan serta habitat satwa liar. Hutan yang terbakar membuat satwa kehilangan tempat tinggal dan sumber makanan, bahkan dapat menyebabkan satwa mengalami cedera hingga kematian.
Isu ini kembali menjadi perhatian sejak September 2026, ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Asap dan luas lahan yang terbakar menjadi dampak yang paling mudah terlihat, sementara nasib satwa liar yang terdampak seringkali tidak disadari.
Menurut catatan Kementerian Kehutanan, ada sebanyak 24 satwa liar terdampak karhutla di Kalimantan Barat yang berhasil diselamatkan selama periode 1 Agustus hingga 10 September 2026. Kasus ini menunjukkan bahwa ketika hutan terbakar, satwa juga menghadapi ancaman serius untuk bertahan hidup.
Memahami bagaimana kebakaran hutan memengaruhi kehidupan satwa penting untuk melihat persoalan karhutla secara lebih menyeluruh. Sebab, ketika hutan terbakar, yang terancam bukan hanya tutupan lahannya, tetapi juga kehidupan yang bergantung di dalamnya.
Situasi Kebakaran Hutan Indonesia Saat Ini
September masih menjadi periode kritis karhutla di Indonesia. BMKG mencatat sekitar 81% zona musim telah memasuki musim kemarau hingga Dasarian pertama September. Meskipun begitu, kebakaran ini sebagian besar dipicu oleh ulah manusia seperti pembukaan lahan dan semakin diperkuat oleh pengaruh El Niño.
Pada 13 September, hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi masih banyak terdeteksi, dengan konsentrasi terbesar di Kalimantan sebanyak 627 titik, disusul Papua dan Maluku sejumlah 200 titik, Sulawesi 104 titik, serta Sumatra 86 titik.
Besarnya situasi ini juga terlihat dari jumlah emisi CO₂ dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia yang melonjak tajam dan menjadi yang tertinggi hingga mencapai 19,7 juta metrik ton sepanjang 1-7 September 2026 melampaui Rusia dan Brazil.
Baca Juga: 7 Wilayah dengan Kebakaran Hutan dan Titik Api Terbanyak di Indonesia
Bagaimana Kebakaran Hutan Mengancam Keberlangsungan Satwa?
Selain kerusakan ekosistem, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia telah menyebabkan kehidupan satwa liar terancam, khususnya terhadap keberlangsungan habitat satwa liar. Berikut ini alasan mengapa kehidupan satwa liar juga terdampak karhutla:
1. Kehilangan habitat
Bagi satwa liar, hutan bukan sekadar kumpulan pepohonan, melainkan tempat berlindung, berkembang biak, dan menjalankan berbagai aktivitas untuk bertahan hidup. Ketika vegetasi terbakar, ruang hidup tersebut juga ikut hilang.
2. Kehilangan sumber makanan dan air
Kebakaran dapat menghancurkan tumbuhan, buah, serta sumber air yang menjadi bagian dari rantai makanan. Sehingga, satwa harus berpindah untuk mencari sumber daya baru, yang belum tentu tersedia dan aman.
3. Satwa keluar dari habitat dan berisiko berkonflik dengan manusia
Ketika habitat tidak lagi menyediakan makanan dan tempat berlindung, satwa dapat masuk ke perkebunan atau permukiman. Kondisi ini berpotensi meningkatkan konflik antara manusia dan satwa liar.
4. Risiko kematian dan penurunan populasi
Sebagian satwa dapat mati akibat api, asap, dan panas. Sementara itu, satwa yang selamat tetap menghadapi risiko jangka panjang akibat hilangnya habitat dan sumber makanan.
Orangutan dan Satwa Lain yang Terdesak Karhutla
Orangutan merupakan salah satu satwa yang menjadi korban karhutla, seperti yang terjadi pada orangutan betina bernama Mama Penja. Dalam tulisan Ocsya Ade CP, dijelaskan bahwa Mama Penja ditemukan dalam kondisi kurus, dehidrasi, anemia berat, hingga mengalami luka bakar di kedua katrenggiling, bekantan, kukang, macan dahan, rangkong, tapikinya.
Mama Penja ditemukan bersama anaknya di sekitar kawasan hutan yang terdampak kebakaran yaitu di salah satu kebun sawit milik warga transmigrasi di Desa Penjalaan dan saat ini telah diselamatkan oleh tim gabungan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat.
Ancaman tersebut tidak hanya dialami orangutan. Ada banyak satwa terdampak karhutla lainnya, mulai dari trenggiling, bekantan, kukang, macan dahan, rangkong, tapir, dan satwa lainnya. Kerusakan ekosistem yang tempat mereka hidup telah menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup mereka.
Penyelamatan satwa saat karhutla terjadi merupakan langkah penting. Namun, upaya tersebut perlu disertai perlindungan dan pemulihan habitat agar satwa dapat kembali memiliki ruang hidup yang aman.
Menjaga Hutan Berarti Menjaga Rumah Satwa
Perlindungan satwa tidak dapat dipisahkan dari perlindungan habitat. Ketika hutan terjaga, satwa memiliki ruang untuk mencari makan, berlindung, berkembang biak, dan menjalankan perannya dalam ekosistem.
Oleh karena itu, pencegahan kebakaran, perlindungan kawasan hutan, dan pemulihan ekosistem menjadi bagian penting dalam menjaga habitat satwa dalam jangka panjang. Upaya tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga sektor usaha.
Baca Juga: Pentingnya Restorasi Habitat Bagi Satwa Liar
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Melindungi satwa dari ancaman karhutla membutuhkan kontribusi bersama. Masyarakat dapat menghindari aktivitas pembakaran lahan yang berisiko, meningkatkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan, serta mendukung upaya konservasi dan perlindungan habitat.
Bagi perusahaan, dukungan dapat diwujudkan melalui program konservasi atau restorasi ekosistem yang berbasis lokasi dan melibatkan masyarakat. Sebab, menjaga hutan bukan hanya tentang mempertahankan pepohonan, tetapi juga memastikan satwa tetap memiliki rumah dan ekosistem tetap mampu menopang kehidupan.
Setiap upaya untuk melindungi dan memulihkan habitat dapat menjadi bagian dari langkah menjaga keberlangsungan kehidupan di dalamnya.
