Di pesisir timur Surabaya, terdapat kawasan hijau yang berperan penting dalam melindungi kehidupan masyarakat pesisir. Namanya Ekowisata Mangrove Wonorejo, kawasan mangrove seluas sekitar 200 hektare yang menjadi bagian dari Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya).
Di tengah ancaman abrasi, banjir rob, dan sampah kiriman laut, mangrove di kawasan ini menjadi benteng alami bagi pesisir sekaligus habitat berbagai satwa. Namun, menjaga ekosistemnya bukan perkara mudah.
Di balik hijaunya kawasan tersebut, ada perjuangan panjang masyarakat untuk memulihkan mangrove dan merawatnya agar tetap bertahan.
Ekowisata Mangrove Wonorejo terletak di Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya, Jawa Timur. Kawasan ini merupakan bagian dari kawasan konservasi Pantai Timur Surabaya yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 2 Tahun 2007.
Selain melindungi pesisir, hutan mangrove Wonorejo menjadi habitat bagi kepiting bakau, kera ekor panjang, dan sedikitnya 38 spesies burung. Kawasan ini juga menjadi tempat singgah burung migran jalur East Asian–Australasian Flyway, salah satunya Kuntul Besar.
Upaya pemulihan kawasan tidak lepas dari peran Kelompok Tani Hutan (KTH) Ekowisata Mangrove Wonorejo. LindungiHutan berkolaborasi dengan kelompok ini sejak 2022 untuk mendukung rehabilitasi mangrove.
Anda dapat melihat kondisi kawasan dan peluang kontribusi di halaman lokasi penanaman Ekowisata Mangrove Wonorejo.
Ancaman yang Mengintai: Abrasi, Rob, dan Penebangan Liar
Wonorejo bukan kawasan yang bebas dari ancaman. Kawasan ini tercatat sebagai salah satu titik rawan rob tertinggi di Surabaya.
Pemetaan BPBD Surabaya pada pertengahan 2025 menempatkan genangan rob di Wonorejo Timur sebagai yang tertinggi di antara sepuluh wilayah prioritas, dengan ketinggian genangan mencapai 45 cm di jalan dan 30 cm di dalam rumah warga.
Selain rob, penebangan liar juga pernah menjadi persoalan serius. Minimnya pengetahuan masyarakat sempat membuat banyak warga menebang bakau karena dianggap tidak memberi manfaat langsung.
Kerusakan itu kemudian diperparah oleh erosi, sedimentasi, dan alih fungsi lahan menjadi permukiman dan tambak.
Pemulihan yang Terus Berjalan dan Tantangan Sampah yang Mengintai
Sebelum restorasi, pesisir Wonorejo jauh lebih terbuka dan rentan. Tutupan mangrove tipis, akses terbatas, dan sebagian lahan telah berubah fungsi.
Kini, kerapatan mangrove jauh lebih baik. Kawasan ini juga rutin disinggahi burung migran yang datang dari luar daerah, termasuk dari Australia, baik sekadar mencari makan maupun untuk bertelur dan mengerami sebelum kembali bermigrasi.
Salah satu burung migran yang tercatat kembali muncul seiring membaiknya kondisi ekosistem adalah Kuntul Besar atau Great Egret. Hal ini sejalan dengan penelitian Akhadah et al. (2019) yang mencatat 38 spesies burung dari 24 famili di kawasan ini.
Namun, pemulihan ini juga menghadapi masalah yang serius. Salah satu persoalan yang masih terus berlangsung hingga kini adalah sampah plastik.
Menurut Samuel Pranowo Sandriano, Field Coordinator LindungiHutan, kondisi terparah terjadi pada Agustus lalu ketika kiriman sampah dari laut datang bersamaan dengan pasang tinggi yang mencapai dua meter.
“Info dari petani, ketebalan sampahnya sampai 10–15 cm. Buat bersihinnya petani harus pakai alat yang ditarik biar sampahnya bisa keangkut semua,” ujar Samuel.
Dampaknya terasa langsung pada bibit muda. Sampah yang tersangkut terbawa naik saat pasang dan mengendap saat surut, tepat di area mangrove yang masih di bawah satu tahun.
Karena akar dan batangnya belum kuat, banyak bibit mati terseret sampah. Tanpa penanganan serius, pemulihan yang sudah berjalan bertahun-tahun bisa terhambat.
Baca Juga: Nurul Fatmawati, Sosok Perempuan Inspiratif di Balik 38 Ribu Pohon Mangrove di Wonorejo Surabaya
Gerakan Warga yang Menjaga Kawasan Mangrove
Kepedulian terhadap kerusakan mangrove mendorong warga Wonorejo untuk mulai bergerak bersama KTH Ekowisata Mangrove Wonorejo sejak sekitar 2007 saat pembalakan liar mengubah kondisi hutan.
Atas inisiatif Ir. Joko Suwondo, warga mulai menanam kembali mangrove yang rusak dan membangun upaya pelestarian secara swadaya, tanpa bergantung pada dana APBD.
Salah satu sosok yang berperan dalam pemulihan tersebut adalah Nurul Fatmawati. Bergabung sejak 2008, ia kini menjadi Koordinator Lapangan KTH Ekowisata Mangrove Wonorejo.
Bersama tim, Nurul menangani rehabilitasi, memantau pertumbuhan bibit, serta menghadapi berbagai kendala, mulai dari pembalakan liar hingga sampah kiriman laut yang kerap menumpuk.
Bagi Nurul, menanam mangrove saja tidak cukup. Bibit perlu dirawat agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang. Prinsip ini sejalan dengan upaya KTH yang terus memulihkan kawasan pesisir Wonorejo.
Semangat gotong royong antar warga pun semakin tumbuh yang menunjukkan bahwa pelestarian mangrove bukan hanya sekadar memulihkan lingkungan, tetapi juga menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir.
Ekonomi yang Tumbuh dari Mangrove
Pemulihan ekosistem mangrove juga membawa dampak ekonomi bagi warga. Sejak berkolaborasi dengan LindungiHutan, warga yang terlibat mendapat penghasilan tambahan sebagai petani bakau, di luar pekerjaan utama mereka sebagai petani tambak dan nelayan.
Kawasan ini juga mengembangkan produk olahan mangrove. Sirup Bogem yang diolah dari buah pedada menjadi oleh-oleh khas kawasan wisata hutan mangrove Wonorejo.
Selain sirup, kelompok tani juga mengolah buah mangrove menjadi tepung, keripik, dan kopi mangrove. Upaya ini dipelopori oleh Bapak Mohson bersama Kelompok Tani Mangrove Wonorejo.
Dari sisi wisata, Ekowisata Mangrove Wonorejo kini berkembang menjadi destinasi lengkap dengan wahana kapal, kolam pancing, jogging track, dan kantin kuliner.
Siapa Saja yang Bisa Berkontribusi di Wonorejo?
LindungiHutan membuka pintu seluas-luasnya bagi siapa pun yang ingin berkontribusi nyata di Wonorejo.
- Individu: Anda bisa membuat kampanye alam untuk merayakan momen spesial seperti ulang tahun, wisuda, atau pernikahan.
- Brand dan Perusahaan: program CSR atau ESG berbasis alam dapat dijalankan di sini, dengan dokumentasi dan laporan dampak yang terstruktur.
- Komunitas, Sekolah, dan Organisasi: kegiatan penghijauan bersama dapat menjadi aksi kolektif yang memperkuat solidaritas sekaligus memberi dampak ekologis.
Baca Juga: PT Hino Finance Indonesia Tanam 2.511 Mangrove di Pesisir Wonorejo, Surabaya
Hutan mangrove Wonorejo menunggu langkah nyata Anda untuk terus pulih. Setiap pohon yang Anda tanam adalah benteng yang akan bertahan puluhan tahun, melindungi kampung dari abrasi, dan menjadi rumah bagi kehidupan pesisir.
Mari berkontribusi untuk Ekowisata Mangrove Wonorejo bersama LindungiHutan.
Dukung Pemulihan Ekonomi Mangrove Wonorejo untuk Masa Depan Pesisir
