Restorasi habitat penting bagi satwa liar karena membantu memulihkan kembali fungsi ekosistem yang menyediakan sumber makanan dan air, tempat berlindung, dan ruang untuk berkembang biak.
Kebutuhan tersebut semakin penting setelah habitat mengalami kerusakan akibat kebakaran hutan, karena padamnya api tidak serta-merta mengembalikan kondisi ekosistem seperti semula.
Satwa yang selamat dari kebakaran hutan masih dapat mengalami kehilangan tempat hidup dan sumber makanan dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, penyelamatan satwa perlu diikuti dengan pemulihan habitat agar kawasan yang rusak dapat kembali mendukung kehidupan satwa.
Bagaimana Kebakaran Hutan Mengancam Habitat Satwa?
Hutan merupakan bagian penting dari kehidupan satwa liar. Ketika kebakaran terjadi, dampaknya tidak hanya terlihat dari pepohonan yang hangus, tetapi juga pada berbagai komponen ekosistem di dalamnya.
Kebakaran menghancurkan vegetasi yang menjadi sumber makanan sekaligus tempat berlindung satwa. Ketika tutupan hutan berkurang, ruang hidup satwa menjadi semakin terbatas dan dapat menurunkan keanekaragaman hayati serta mengubah persebaran dan interaksi antarspesies.
Satwa yang kehilangan sumber makanan dan air dapat berpindah mencari habitat baru yang berpotensi membawa satwa ke area yang berbatasan dengan perkebunan atau permukiman sehingga meningkatkan risiko konflik dengan manusia.
IPB University menyebutkan bahwa pemulihan ekosistem setelah karhutla terjadi tidak dapat diukur hanya dari tumbuhnya kembali vegetasi, pemulihan jaring dan rantai makanan setelah karhutla membutuhkan waktu sangat panjang dan tidak selalu kembali seperti kondisi semula.
Mengapa Restorasi Habitat Penting untuk Satwa?
Restorasi habitat merupakan upaya memulihkan suatu kawasan agar kembali memiliki fungsi sebagai ekosistem yang mendukung kehidupan. YIARI menjelaskan restorasi habitat dilakukan melalui kegiatan seperti penanaman kembali lahan yang terbuka akibat pembalakan liar dan kebakaran, termasuk restorasi hutan dan penanaman mangrove.
Dalam prosesnya, kebutuhan satwa perlu menjadi pertimbangan. Restorasi habitat perlu memperhatikan makanan, air, ruang, dan tempat berlindung yang dibutuhkan spesies untuk bertahan hidup dan berkembang biak.
Restorasi habitat juga dapat membantu memulihkan keanekaragaman hayati dan populasi spesies di suatu kawasan. Lebih luas lagi, ekosistem yang sehat dapat memberikan manfaat bagi manusia dan meningkatkan ketahanan lingkungan terhadap gangguan tertentu seperti bencana alam.
Baca Juga: Prasetia Diputra: Bersama Warga Merawat Mangrove di Geopark Ciletuh, Sukabumi
Seperti Apa Restorasi Habitat yang Berdampak?
Restorasi habitat bukan sekadar menanam pohon sebanyak mungkin. Jenis tanaman perlu disesuaikan dengan kondisi ekosistem dan kebutuhan satwa. Pendekatan berbasis habitat atau ekosistem berupaya menjaga kawasan agar spesies yang bergantung di dalamnya turut terlindungi.
Seperti yang dilakukan tim BOS Foundation pada program restorasi Hutan Kehje Sewen yang dimulai dengan pendataan pohon induk yang sehat sebagai sumber benih, pohon yang dipilih dengan mempertimbangkan kebutuhan pakan orangutan.
Pendekatan tersebut membutuhkan proses yang berkelanjutan, mulai dari memahami kondisi habitat, memilih jenis yang sesuai, melakukan penanaman, hingga memantau perkembangannya.
Rangkaian kegiatan rehabilitasi hutan tidak hanya untuk memulihkan Hutan Kehje Sewen sebagai kawasan hijau, tetapi juga sebagai habitat alami yang mampu mendukung kehidupan orangutan secara berkelanjutan.
Apa yang Bisa Dilakukan Perusahaan untuk Mendukung Restorasi Habitat?
Perusahaan dapat mendukung restorasi habitat melalui program CSR dan ESG yang berorientasi pada pemulihan ekosistem, mulai dari pemulihan vegetasi, perlindungan biodiversitas, hingga kolaborasi dengan masyarakat lokal dan organisasi lingkungan.
Dukungan perusahaan terhadap restorasi habitat juga perlu mempertimbangkan karakteristik ekosistem yang dipulihkan. Setiap ekosistem memiliki kerentanan dan kebutuhan pengelolaan yang berbeda.
Pada ekosistem gambut misalnya, Dina Avanza Mardiana menjelaskan bahwa kondisi gambut yang dikeringkan dapat meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran karena bahan organiknya menjadi lebih mudah terbakar.
Oleh karena itu, keberhasilan program sebaiknya tidak hanya dilihat dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga perkembangan vegetasi, kondisi habitat, biodiversitas, serta manfaat bagi masyarakat.
Baca Juga: 9 Lokasi Penanaman Pohon Terbaru, dari Jawa hingga Riau
Memulihkan Habitat, Menjaga Rumah Satwa
Menyelamatkan satwa dari kebakaran merupakan respons penting, tetapi perlindungan jangka panjang membutuhkan habitat yang sehat. Restorasi habitat menjadi salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi ekosistem dan menyediakan kembali ruang hidup bagi satwa.
Individu maupun perusahaan dapat mengambil bagian dengan mendukung program pemulihan lingkungan dan konservasi yang dilakukan secara berkelanjutan bersama masyarakat lokal yang telah banyak dilakukan oleh berbagai organisasi, salah satunya LindungiHutan.
