Kawasan Ekowisata Mangrove Pantai Indah Kapuk terasa berbeda dari biasanya. Di tengah area terbuka yang dikelilingi pepohonan, puluhan orang berkumpul membawa buku, membawa rasa penasaran, dan keresahan.
Inilah Literacy for the Earth, kolaborasi LindungiHutan dan Jakarta Book Party dalam memperingati Hari Bumi 2026 dengan cara yang nyata dan bermakna.
Kenapa “Literacy for the Earth”?
Dalam rangka memperingati Hari Bumi 2026, LindungiHutan bersama Jakarta Book Party menghadirkan pendekatan yang berbeda. Tidak sekadar seremonial, tetapi menggabungkan literasi dengan pengalaman langsung di alam.
Ketika dua nilai bertemu, literasi dan aksi lingkungan, hasilnya adalah Literacy for the Earth.
Jakarta Book Party sendiri dikenal sebagai komunitas literasi yang aktif menggerakan budaya membaca di Jakarta. Sebuah komunitas yang percaya bahwa buku bisa mengubah cara pandang seseorang terhadap dunia.
Sebanyak 61 peserta dari berbagai latar belakang berkumpul dalam satu tujuan yang sama: memahami bumi, sekaligus berkontribusi menjaganya. Bagi sebagian besar peserta, kegiatan ini menjadi pengalaman pertama mereka dalam aksi penanaman mangrove.
Baca juga: Hari Bumi 2026: Investasi Hijau Jadi Keharusan Bisnis
Ketika Kata-Kata Bertemu Alam
Kegiatan dimulai dengan silent reading. Di ruang terbuka hijau, para peserta Literacy for the Earth membaca buku pilihan masing-masing.



Dari membaca, suasana beralih ke diskusi interaktif tentang isu-isu yang lebih besar: abrasi pantai yang mengancam pesisir Jakarta, gaya hidup minim plastik, dan bagaimana semua ini berkaitan dengan SDG 14 tentang kehidupan bawah laut.
Belajar tidak berhenti di sana. Peserta diajak menyusuri kawasan mangrove PIK melalui mangrove walk untuk belajar langsung tentang ekosistem yang selama ini mungkin hanya mereka baca di buku.
Menyentuh akar mangrove, mendengar penjelasan tentang peran mangrove sebagai benteng alami abrasi, dan mengagumi betapa kompleksnya ekosistem pesisir yang ada di depan mata mereka.
Puncaknya adalah aksi penanaman. Satu per satu, peserta menanam bibit Rizophora, jenis mangrove yang dikenal kuat dan vital bagi ekosistem pesisir. Total 50 pohon berhasil ditanam hari itu.

Yang membuat momen ini lebih istimewa yaitu adanya sistem Tree Tagging dari LindungiHutan. Setiap peserta memiliki pohon yang “milik mereka sendiri” dan bisa dipantau pertumbuhannya. Bukan sekadar menanam lalu pergi, melainkan membangun ikatan.
Acara ditutup dengan sesi networking yang hangat, percakapan mengalir bebas, koneksi baru terbentuk, dan semangat untuk terus berbuat lebih baik bagi lingkungan terasa nyata di antara peserta.

Apa yang Peserta Bawa Pulang?
Dari sesi diskusi round table, satu kesimpulan besar yang muncul yaitu merawat bumi bisa dilakukan oleh siapa saja. Siapa pun dapat berkontribusi, tanpa harus menunggu waktu luang atau latar belakang tertentu.

Dalam hal ini, LindungiHutan hadir sebagai jembatan. Melalui platform yang dimilikinya, individu maupun komunitas dapat menanam, memantau, hingga memastikan keberlanjutan aksi mereka secara transparan.
Kesan positif juga datang dari para peserta.
Seru bisa ketemu temen-temen, baca buku bareng, terus kenalan sama temen baru,” ujar Maulana dari Depok yang memberikan nilai 10/10 dari kegiatan ini.
Peserta lain bahkan menyebut pengalaman ini layak diberi nilai “1000”, sebagai bentuk antusiasme terhadap kegiatan yang menurutnya mampu mengajak lebih banyak orang untuk “melestarikan lingkungan bersama”.
Bagi banyak peserta, ini bukan hanya kegiatan satu hari, tetapi pengalaman yang mengubah cara pandang.
Dari 50 Pohon ke Harapan yang Tumbuh
Lima puluh pohon yang ditanam hari itu mungkin terlihat kecil. Namun, seiring waktu, mereka akan tumbuh menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar, melindungi pesisir, menyerap karbon, dan menjaga keseimbangan alam.
Lebih dari itu, dampak sebenarnya juga tumbuh dalam diri peserta. Dari sini muncul potensi lahirnya green influencers, individu yang membawa semangat keberlanjutan ke lingkaran masing-masing, baik melalui komunitas, pekerjaan, maupun kehidupan sehari-hari.

Kedepannya, konsep “Literasi dan Aksi” yang terbukti berhasil di Literacy for the Earth direncanakan untuk diadaptasi ke lokasi-lokasi penanaman lain, dengan skala yang lebih besar.
Baca Juga: Reforestathon: Jelajahi Sukses Digelar di Desa Sukawali dan Bedono
Saatnya Ikut Menanam, Bukan Hanya Membaca
Membaca memberikan pemahaman, tetapi bumi membutuhkan lebih dari itu.
Literacy for the Earth menunjukkan bahwa langkah kecil bisa dimulai dari siapa saja, bahkan dari mereka yang awalnya hanya datang untuk membaca. Kini bukan tentang apa yang kita tahu tentang lingkungan, tetapi apa yang bisa kita lakukan setelah mengetahuinya.
Melalui LindungiHutan, setiap orang memiliki kesempatan untuk mengambil bagian. Karena pada akhirnya, mencintai bumi tidak harus dimulai dari hal besar, cukup dari satu langkah sederhana: menanam.
Bergabunglah di ekosistem LindungiHutan. Mulai aksi hijaumu dari sini.







