Scroll untuk baca artikel
Lingkungan

Nurul Fatmawati, Sosok Perempuan Inspiratif di Balik 38 Ribu Pohon Mangrove di Wonorejo Surabaya

3
×

Nurul Fatmawati, Sosok Perempuan Inspiratif di Balik 38 Ribu Pohon Mangrove di Wonorejo Surabaya

Share this article
nurul-fatmawati,-sosok-perempuan-inspiratif-di-balik-38-ribu-pohon-mangrove-di-wonorejo-surabaya
Nurul Fatmawati, Sosok Perempuan Inspiratif di Balik 38 Ribu Pohon Mangrove di Wonorejo Surabaya

LindungiHutan Insight

  • Nurul Fatmawati menjadi penggerak utama rehabilitasi mangrove Wonorejo sejak 2008 dan berhasil menanam lebih dari 38 ribu pohon bersama LindungiHutan.
  • Ia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari abrasi hingga pembalakan liar, namun tetap konsisten memulihkan ekosistem pesisir.
  • Upayanya berdampak besar secara ekologis dan sosial, sekaligus mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk aktif menjaga dan merawat lingkungan.

Di ujung timur Kota Surabaya, kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo seluas 200 hektar kini menjadi benteng alami pesisir sekaligus paru-paru hijau kota. Hasil ini tidak lepas dari peran Nurul Fatmawati sebagai sosok yang tak terpisahkan dari perjalanan ini.

Sejak 2008, Nurul Fatmawati merupakan satu-satunya perempuan di antara petani tambak Wonorejo yang aktif memimpin rehabilitasi pesisir. 

Example 300x600

Bersama LindungiHutan, ia telah berkontribusi pada penanaman 38.710 mangrove, menjalankan 42 kampanye alam, dan melibatkan lebih dari 1.019 orang di kawasan ekowisata mangrove Wonorejo Surabaya.

Titik Balik Nurul Fatmawati: Dari Ancaman Abrasi hingga Menjadi Pelestari

petani penggerak nurul fatmawati

Perjalanan Nurul Fatmawati tidak terjadi secara instan. Ada proses panjang yang dimulai dari kondisi pesisir yang memprihatinkan hingga berbagai tantangan yang mengujinya dalam menjaga mangrove. Berikut kisah lengkapnya.

Kisah Pesisir Wonorejo yang Sempat Terkikis

Siapa sangka, Ekowisata Mangrove Wonorejo yang kini hijau pernah berada di ambang kerusakan? Pada 2010, kondisi mangrove masih minim, akses terbatas, dan abrasi terus menggerus pesisir dari tahun ke tahun. 

Di tengah kondisi itulah, Nurul Fatmawati mulai bergerak. Ia bergabung sejak 2008 atas ajakan Pak Joko Suwondo, Ketua Pengelola Ekowisata Mangrove Wonorejo, yang melihat potensi besar kawasan ini jika masyarakat mau bergerak bersama.

Dari inisiatif Pak Joko inilah komunitas petani tambak Wonorejo mulai berorganisasi dan menyepakati satu tujuan bersama, yaitu mengembalikan ekosistem pesisir yang telah lama terkikis.

Tantangan utamanya tidak hanya meyakinkan warga bahwa menanam mangrove merupakan investasi jangka panjang, tetapi juga menghadapi berbagai kondisi di lapangan.

Mulai dari maraknya pembalakan liar yang sempat merusak ekosistem, hingga persoalan sampah laut yang datang dari berbagai daerah dan harus dibersihkan hampir setiap hari, terutama saat musim angin timur.

Di tengah keterbatasan tersebut, ia tetap konsisten mengedukasi masyarakat, mengajak kolaborasi, dan memastikan mangrove yang ditanam tidak hanya tumbuh, tetapi juga dirawat secara berkelanjutan. Sebuah perjuangan yang ia jalani dengan sabar.

Baca Juga: Berkunjung ke Ekowisata Mangrove Wonorejo Surabaya

Semangat Nurul Fatmawati Melawan Pembalakan Liar

petani penggerak nurul fatmawati

Ujian terbesar datang pada tahun 2015. Penebangan ilegal mangrove jenis api-api oleh warga terjadi secara masif. Kayu mangrove sempat ditebang untuk bahan bakar dan arang, bahkan kasusnya masuk ranah hukum. 

Dampaknya signifikan, berdasarkan Peraturan Daerah Kota Surabaya No. 2 Tahun 2007, kawasan konservasi PAMURBAYA seharusnya mencakup 2.500 hektar. Kenyataannya, luas yang tersisa hanya sekitar 440 hektar pada tahun 2015.

Kerusakan ini diperparah oleh erosi, sedimentasi, serta alih fungsi lahan menjadi permukiman dan tambak. Bagi Nurul, momen ini menjadi titik terberat, ketika mangrove yang dirawat bertahun-tahun hilang.

Namun, Nurul dan tim pengelola Ekowisata Mangrove Wonorejo tidak menyerah. Mereka melanjutkan restorasi dengan fokus pada penanaman mangrove jenis Rhizophora, dan ke depannya mulai mengkombinasikan dengan jenis api-api untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

Nurul Fatmawati dan Ilmu yang Didapat dari Ekowisata Mangrove Wonorejo

petani penggerak nurul fatmawati

Perjalanan Nurul Fatmawati bukan hanya tentang pelestarian, tetapi juga proses belajar memahami peran mangrove bagi lingkungan dan masyarakat.

Mengenal Vegetasi Penjaga Pesisir: Rhizophora, Api-api, dan Jenis Lainnya

Beberapa jenis vegetasi yang ditemukan di kawasan ini antara lain:

  • Rhizophora (bakau) sebagai penahan abrasi utama
  • Avicennia (api-api) untuk mempercepat pertumbuhan ekosistem
  • Nypa fruticans dan Excoecaria agallocha sebagai bagian dari biodiversitas pesisir

Kawasan ini juga menjadi habitat berbagai fauna, seperti kepiting bakau, kera ekor panjang, serta ratusan spesies burung, menjadikannya kawasan ekowisata mangrove yang kaya akan keanekaragaman hayati.

Wonorejo sebagai Penyerap Karbon dan Penjaga Ekosistem Pesisir Surabaya

Mangrove di Wonorejo tidak hanya menjaga garis pantai, tetapi juga berperan sebagai penyerap karbon alami. Dari kampanye bersama LindungiHutan, tercatat total serapan karbon mencapai 13.300 kg CO₂. 

Selain itu, manfaat lain yang dirasakan langsung di lapangan meliputi:

  • Tanah pesisir menjadi lebih padat dan stabil
  • Abrasi berkurang secara signifikan
  • Habitat biota laut kembali pulih
  • Akar mangrove membantu menyaring air

Perubahan ini menjadi bukti nyata bahwa rehabilitasi mangrove memberikan dampak ekologis sekaligus ekonomi bagi masyarakat lokal.

Sinergi Nurul Fatmawati dan LindungiHutan dalam Membangun Ekosistem

petani penggerak nurul fatmawati

Upaya pelestarian mangrove tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi berbagai pihak agar dampaknya semakin luas dan berkelanjutan. Inilah yang kemudian dilakukan oleh Nurul Fatmawati bersama LindungiHutan.

Menjembatani Kepedulian Publik Lewat Kampanye Alam

Sejak 2022, kawasan ekowisata mangrove Wonorejo menjalin kolaborasi dengan LindungiHutan untuk membangun ekosistem mangrove dengan komitmen yang dijalankan bersama.

Hingga saat ini, kolaborasi antara campaigner, brand, dan perusahaan bersama LindungiHutan di kawasan ekowisata mangrove Wonorejo Surabaya telah menghasilkan:

  • 42 kampanye alam yang telah berhasil dilaksanakan
  • 1.019 orang terlibat sebagai relawan dan donatur
  • 38.710 pohon mangrove tertanam di lokasi
  • Lebih dari 1,3 hektare area yang kini telah tertanami.

Salah satu momen paling berkesan adalah penanaman sekitar 5.000 mangrove yang didukung oleh Bank Indonesia.

Meski kondisi lahan sangat menantang, seperti lumpur mencapai perut orang dewasa, tim tetap berhasil menjalankan penanaman dengan strategi bergerombol untuk meningkatkan tingkat keberhasilan tumbuh.

Setiap kampanye yang berjalan tidak berhenti di hari penanaman. Nurul bersama tim secara rutin melakukan monitoring dan pelaporan berkala, memastikan setiap bibit yang tertanam benar-benar tumbuh dan berdampak.

Baca Juga: Profil Wilayah Penanaman Hutan Mangrove Wonorejo, Surabaya

Pesan Nurul Fatmawati untuk Generasi Mendatang 

Bagi Nurul Fatmawati, menjaga lingkungan bukan sekadar aktivitas, tetapi komitmen jangka panjang. Ia menekankan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan dari jumlah pohon yang ditanam.

Ia berpesan kepada generasi muda untuk tidak membuang sampah sembarangan, serta aktif menanam, merawat mangrove, dan menjaga lingkungan.

“Menanam saja tidak cukup, harus dirawat agar memberi dampak jangka panjang,” ujarnya.

Dedikasi selama hampir dua dekade ini membuktikan bahwa kehadiran satu perempuan mampu menggerakkan ribuan tangan untuk menghijaukan kembali pesisir Surabaya.

LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.2 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan