LindungiHutan Insight
- Bukan hanya berdampak pada ekosistem mangrove, abrasi juga dapat mengancam mata pencaharian masyarakat pesisir.
- Rehabilitasi mangrove berperan besar dalam menghadapi ancaman abrasi dan menjadi penopang kehidupan masyarakat pesisir.
- Desa Kelapapati menjadi bukti nyata bahwa fungsi dan dampak ekologis yang bernilai jangka panjang jauh lebih berarti dibandingkan keuntungan instan.
Di pesisir Desa Kelapapati, Bengkalis, Riau, mangrove bukan sekadar hamparan hijau di tepi laut tetapi juga sebagai benteng alami yang membantu melindungi daratan dari abrasi sekaligus menopang kehidupan masyarakat pesisir.
Di kawasan ini, kelompok konservasi mangrove Paghet Seghagah telah menjaga dan merehabilitasi kawasan mangrove selama lebih dari satu dekade. Perjalanan tersebut berawal dari kondisi pesisir yang terancam akibat penebangan liar dan abrasi.
Serta bujukan untuk dialihfungsikan menjadi tambak udang. Di tengah tekanan tersebut, kelompok masyarakat memilih mempertahankan mangrove sebagai bagian penting dari masa depan pesisir Kelapapati.
Profil Desa Kelapapati, Kabupaten Bengkalis, Riau
Desa Kelapapati, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau menjadi salah satu titik penanaman LindungiHutan di pesisir timur Sumatra.
Kawasan mangrove seluas kurang lebih 14 hektare dikelola oleh kelompok konservasi setempat selama lebih dari satu dekade.
LindungiHutan mulai membina lokasi ini sebagai area konservasi mangrove sejak 2026 dengan fokus penanaman Rhizophora mucronata dan Rhizophora stylosa bersama mitra lokal Kelompok Paghet Seghagah, beranggotakan 21 orang yang digagas oleh Rio Fernandes, sejak sekitar tahun 2011 hingga 2012.
Nama “Paghet Seghagah” berasal dari sebutan masyarakat tempo dulu yang mana konon di sekitar wilayah Kelapapati ini sering terdengar suara orang “nyegah” atau berteriak. Pada akhirnya nama tersebut melekat dan diadopsi sebagai nama kelompok konservasi mangrove.
Kini, Desa Kelapapati juga telah meraih pengakuan sebagai “Desa Proklim” (Program Kampung Iklim) dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bengkalis, dengan kontribusi kawasan mangrove menjadi poin penilaian tertinggi (sekitar 70% dari total penilaian).

Sebagai salah satu lokasi penanaman yang masih baru dalam jaringan LindungiHutan, telah ditanam 2.006 pohon dari kampanye alam pertama. Saat ini, area yang siap ditanam bersama LindungiHutan di Kelapapati mencapai 24 hektare.
Lingkungan dan Ekosistem Pesisir

Pesisir Desa Kelapapati sudah lama menghadapi ancaman abrasi yang terus menggerus garis pantai. Kawasan ini termasuk bagian pesisir yang mengalami kerusakan terparah dalam sepuluh tahun terakhir.
Bappeda Bengkalis menyebutkan abrasi telah merusak ribuan hektare ekosistem mangrove di kabupaten ini, sekaligus mengancam mata pencaharian para nelayan pesisir.
Meski di beberapa titik masih terjadi erosi ringan, terutama di bagian pantai yang lebih tinggi akibat kerusakan dinding penahan tanah, hasil rehabilitasi kawasan selama kurang lebih 14 tahun terakhir mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Proses sedimentasi alami membuat permukaan tanah semakin stabil dan merata, menandakan pemulihan ekosistem mangrove yang berjalan positif di kawasan ini.
Populasi ikan juga meningkat karena plankton berkembang di sekitar akar mangrove sehingga ikan berkumpul di sana.
Bahkan setelah 14 tahun, warga baru pertama kali menemukan udang galah, spesies bernilai ekonomi tinggi di kawasan tersebut.
Data LindungiHutan juga menyebutkan, per tanggal 11 Agustus 2026, proyeksi serapan karbon 5 tahun ke depan dari aksi penghijauan di kawasan ini mencapai 436.000 kg CO₂eq atau 436 ton CO₂eq.
Baca Juga: Profil Desa Pejarakan, Bali Barat: Harmoni Mangrove dan Konservasi Pesisir
Manfaat Sosial dan Keterlibatan Masyarakat Lokal
Upaya konservasi sempat diremehkan dan dianggap hanya melakukan “kerja bodoh” dan “kerja tak bermanfaat’. Warga sekitar menganggap bahwa bakau bisa tumbuh sendiri tanpa perlu ditanam.
Seiring berjalannya waktu, terlihat bahwa rehabilitasi tidak hanya berdampak untuk lingkungan tetapi juga pada seluruh aspek kehidupan masyarakat.
Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan penanaman dan pemeliharaan mangrove, mulai dari pembibitan hingga monitoring pohon menumbuhkan rasa memiliki masyarakat terhadap kawasan konservasi ini.

Keberadaan mangrove yang terjaga turut menjadikan kawasan ini sebagai ruang belajar lingkungan sekaligus pusat riset lapangan bagi mahasiswa dan peneliti.
Kearifan lokal yang adaptif dan berkelanjutan juga diterapkan untuk menjaga keselarasan alam melalui gotong-royong pembersihan saluran air demi memitigasi banjir rob.
Serta pelestarian arsitektur adaptif rumah panggung Melayu tradisional dan tradisi Kenduri Kampung sebagai bentuk doa bersama atas rasa syukur dan memohon keselamatan desa.
Masyarakat Kelapapati berharap hutan mangrove di desa mereka dapat kembali seperti semula supaya dapat menjadi tempat hidup bagi ikan dan satwa laut lainnya yang bisa ditangkap dan dijual oleh nelayan setempat.
Rio Fernandes juga menegaskan bahwa nilai jangka panjang seperti fungsi ekologis, penyerapan emisi karbon, dan keanekaragaman hayati jauh lebih berarti dibanding keuntungan instan.
Peluang Ekonomi: Ekowisata Hingga Potensi Wisata Sejarah
Sebagian besar masyarakat setempat menggantungkan hidup pada ekosistem pesisir, melalui pekerjaan sebagai nelayan dan pedagang.
Adanya mangrove di sekitar pesisir, ikan, udang, dan hewan laut lainnya hidup di sekitar akar pohon, sehingga warga tidak perlu mencari tangkapan jauh ke tengah laut.
Peluang ekonomi baru juga muncul dari berkembangnya Home Creative Paghet Seghagah, unit usaha kreatif berbasis mangrove yang menghasilkan produk olahan seperti sirup dan keripik.
Serta destinasi ekowisata yang ditandai dengan peresmian spot pancing Bima Polbeng Paghet Seghagah pada Desember 2025.

Seluruh potensi ini turut didukung Program Bengkalis Lestari yang diluncurkan Bupati Bengkalis pada November 2025, sebuah inisiatif yang secara khusus menyasar pengelolaan sumber daya alam sekaligus pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir.
Bengkalis juga menyimpan banyak jejak sejarah kolonial Belanda seperti bangunan tua hingga makam kuno yang bisa menjadi penunjang wisata dan edukasi.
Siapa Saja yang Bisa Berkontribusi di Desa Kelapapati?
Lokasi ini akan terus dikembangkan melalui kolaborasi dengan masyarakat, perusahaan, serta berbagai pihak untuk mendukung upaya restorasi dan pelestarian ekosistem pesisir secara berkelanjutan.
Perusahaan dan brand dapat memberi dukungan melalui program CSR, ESG, maupun kegiatan lingkungan.
Individu, komunitas, sekolah, dan organisasi juga dapat berkontribusi melalui kegiatan edukasi, penanaman bersama, atau kampanye publik.
Penutup
Desa Kelapapati menunjukkan bahwa menjaga mangrove lebih dari sekadar penanaman pohon. Ada pesisir dan kehidupan masyarakat yang perlu dilindungi, serta peluang ekonomi yang dapat tumbuh dari ekosistem yang sehat.
Setelah lebih dari satu dekade perjuangan, keberlanjutan kawasan ini membutuhkan dukungan yang terus berjalan.
Melalui kampanye penanaman bersama LindungiHutan, siapa pun dapat ikut mengambil bagian dalam menjaga pesisir Kelapapati dan mewariskan keberlanjutan lingkungan untuk generasi berikutnya.
Bersama Pulihkan Mangrove Desa Kelapapati Riau untuk Lindungi Masa Depan Pesisir







