Scroll untuk baca artikel
Lingkungan

Padang Lamun: Potensi Karbon untuk Mendukung Strategi Keberlanjutan Perusahaan

webmaster
6
×

Padang Lamun: Potensi Karbon untuk Mendukung Strategi Keberlanjutan Perusahaan

Share this article
padang-lamun:-potensi-karbon-untuk-mendukung-strategi-keberlanjutan-perusahaan
Padang Lamun: Potensi Karbon untuk Mendukung Strategi Keberlanjutan Perusahaan

LindungiHutan Insight

  • Padang lamun mampu menyimpan karbon hingga 83.000 ton per km², dua kali lipat dari hutan tropis.
  • Restorasi lamun masih menghadapi tantangan besar seperti keterbatasan anggaran, rendahnya kesadaran publik.
  • Konservasi padang lamun kini mendapatkan perhatian dari berbagai pihak yang mulai melirik potensinya dalam strategi keberlanjutan. 

Padang lamun, ekosistem pesisir yang mampu menyimpan karbon hingga 83.000 metrik ton per kilometer persegi, dua kali lipat lebih tinggi dari kemampuan hutan hujan tropis yang hanya sekitar 30.000 metrik ton per km²

Namun, baru sekitar 10% dari total luas padang lamun Indonesia yang tervalidasi dengan baik, sehingga pemanfaatannya dalam program konservasi dan karbon biru masih sangat terbatas. 

Example 300x600

Di tengah meningkatnya kebutuhan akan solusi berbasis alam, lamun mulai menjadi perhatian dalam strategi ESG, CSR, dan blue carbon bagi perusahaan yang ingin menunjukkan komitmen keberlanjutan.

Blue Carbon dan Munculnya Perhatian pada Padang Lamun

Konsep blue carbon atau karbon biru merujuk pada karbon yang diserap dan disimpan oleh ekosistem pesisir seperti mangrove, padang lamun, dan rawa pasang surut. 

Ekosistem ini mampu menyerap karbon dalam jumlah besar dan menyimpannya dalam biomassa serta sedimen dalam jangka waktu yang sangat panjang. Secara global, setidaknya 55% karbon dunia diserap oleh organisme laut dan ekosistem pesisir.

Pada COP30 di Brasil, Indonesia secara resmi meluncurkan Peta Jalan Ekosistem Karbon Biru dan Panduan Aksi yang menempatkan mangrove, padang lamun, dan rawa pasang surut sebagai komponen strategis dalam upaya pengurangan emisi dan pembangunan ketahanan iklim.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga menyiapkan 17 lokasi untuk dijadikan kawasan strategis nasional khusus cadangan karbon biru.

Langkah ini mencerminkan komitmen nasional dalam mengelola ekosistem karbon biru sekaligus melindungi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Nilai Ekonomi Blue Carbon

Dari sisi ekonomi, potensi blue carbon Indonesia sangat besar. Ekosistem padang lamun Indonesia diperkirakan mampu menyerap hingga 790 juta ton karbon dioksida (CO₂) dengan nilai ekonomi yang diproyeksikan mencapai US$35 miliar. 

Sementara itu, ekosistem mangrove seluas 3,36 juta hektare diperkirakan dapat menyerap 11 miliar ton CO₂ dengan nilai ekonomi sekitar US$66 miliar.

Jika dibandingkan dengan ekosistem pesisir lainnya, posisi lamun tergolong unik. Luas padang lamun Indonesia mencapai 860.156 hektare dengan potensi menyerap 3,7 juta ton CO₂ ekuivalen per tahun. 

Meskipun luasnya lebih kecil dari mangrove yang mencakup 997.733 hektare dengan serapan 6,3 juta ton CO₂ per tahun, lamun memiliki efisiensi penyimpanan karbon per satuan luas yang jauh lebih tinggi. 

Secara total, potensi karbon biru dari mangrove dan padang lamun di bawah kewenangan KKP mencapai sekitar 10 juta ton CO₂ ekuivalen per tahun.

Unduh Booklet Karbon Biru di sini.

Net Zero Emission

Kapan Perusahaan Sebaiknya Mendukung Konservasi Padang Lamun?

Perusahaan sebaiknya mulai mempertimbangkan dukungan terhadap konservasi padang lamun mendiversifikasi portofolio karbon berbasis alam di luar program mangrove yang sudah umum. 

Konservasi lamun menawarkan nilai tambah yang signifikan, di antaranya melindungi keanekaragaman hayati, menjaga ketahanan pangan masyarakat pesisir, dan memperkuat ketahanan pantai.

LindungiHutan telah memulai langkah nyata dalam konservasi lamun melalui program penanaman yang melibatkan perusahaan mitra, salah satunya dengan Pertamina Hulu Indonesia. 

Program ini menjadi bukti bahwa konservasi lamun dapat diintegrasikan ke dalam strategi ESG perusahaan sebagai bagian dari komitmen terhadap keberlanjutan pesisir dan pengelolaan karbon biru.

Langkah ini menempatkan lamun dalam strategi iklim nasional, bergeser dari sekadar eksploitasi ruang pesisir menuju pengelolaan berbasis ekosistem.

Baca Juga: PT Pertamina Hulu Indonesia Tanam 500 Lamun di Pulau Pari Kepulauan Seribu

Cara Berkontribusi dalam Konservasi Padang Lamun

Ada beberapa cara bagi perusahaan dan individu untuk berkontribusi dalam konservasi padang lamun:

  1. Mendukung program konservasi dan restorasi lamun melalui kemitraan dengan organisasi konservasi seperti LindungiHutan
  2. Meningkatkan Kesadaran tentang peran penting lamun di kalangan karyawan, mitra bisnis, dan masyarakat luas. 
  3. Mengintegrasikan konservasi lamun ke dalam program CSR dan strategi ESG perusahaan

Padang lamun adalah aset blue carbon yang mulai dipertimbangkan dalam strategi keberlanjutan perusahaan. 

Dengan potensi serapan karbon yang luar biasa, nilai ekonomi yang besar, dan peran ekologis yang vital, lamun menawarkan peluang bagi perusahaan untuk menunjukkan komitmen nyata terhadap keberlanjutan. 

LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.3 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan