LindungiHutan Insight
- Rio Fernandes menunjukkan bahwa konservasi mangrove tidak hanya berdampak untuk lingkungan, tetapi juga keberlangsungan hidup masyarakat pesisir.
- Keberhasilan konservasi mangrove memerlukan perjuangan dan proses yang panjang.
- Kolaborasi menjadi salah satu kunci keberhasilan rehabilitasi mangrove.
Area terbuka yang telah rimbun dan lestarinya keanekaragaman hayati di Desa Kelapapati, Kabupaten Bengkalis, Riau menjadi bukti nyata perjuangan seorang penggerak sekaligus pendiri kelompok konservasi mangrove Paghet Seghagah, Rio Fernandes.
“Kalau bukan kami yang menjaga dan merawat kawasan ini, siapa lagi? Waktu ada tawaran tambak udang saja kami tolak, karena kami sudah berkomitmen sejak awal,” ujar Rio Fernandes, menegaskan pentingnya aksi nyata menjaga mangrove di Bengkalis.
Perjuangan dan semangatnya menjaga dan mengelola kawasan mangrove membuktikan bahwa aksi lingkungan dapat memberikan dampak besar, baik untuk lingkungan maupun masyarakat.
14 Tahun Perjuangan: Berawal dari Keprihatinan Atas Penebangan Liar

Perjalanan Rio Fernandes berawal dari keprihatinan 14 tahun yang lalu ketika melihat penebangan mangrove secara liar menggunakan mesin sensor (chainsaw) di lahan seluas 14 hektar.
Lahan tersebut merupakan bekas kolam yang digadaikan pemilik lama kepada pemerintah daerah.
Rio Fernandes bersama rekannya almarhum Samsul Bahari yang akrab disapa Bang Sam mulai menegur dan melapor ke Kepala Desa pada masa itu yakni Bang Jul.
Yang kemudian mendapatkan respon baik dan dukungan langsung pembentukan kelompok konservasi untuk mengelola lahan tersebut yang kini dikenal sebagai Paghet Seghagah.
Tantangan Dukungan Dana Hingga Perpecahan Kelompok
Awal perjuangan dilalui tanpa dukungan finansial. Rio Fernandes sebagai sekretaris dan sahabatnya Bang Sam sebagai ketua pertama, serta rekan lainnya mengupayakan modal penanaman dengan kantong pribadi.
Strategi mengganti polybag dengan plastik es dan menggunakan gerobak dorong dilakukan demi menekan biaya.
Upaya konservasi sempat diremehkan dan dianggap hanya melakukan “kerja bodoh” dan “kerja tak bermanfaat’ karena anggapan bahwa bakau bisa tumbuh sendiri tanpa perlu ditanam.
Ujian lebih berat datang ketika seorang pengusaha udang menawarkan kontrak lahan 14 hektare tersebut menjadi tambak udang, lengkap dengan skema bagi hasil yang menggiurkan di tengah tingginya harga udang saat itu.
Tawaran tersebut berhasil menimbulkan perpecahan di dalam kelompok dan membuat sebagian anggota yang tertarik memilih mundur.
Namun, Rio Fernandes bersama rekan lainnya dengan tegas menolak dan tetap mempertahankan komitmen untuk merehabilitasi kawasan mangrove Desa Kelapapati, Bengkalis.
Keputusan tersebut menjadi titik penting bagi keberlanjutan upaya konservasi hingga hari ini.
Terbukanya Akses Kolaborasi
Di tahun 2019, regenerasi mulai dilakukan, bagi Rio Fernandes anak-anak muda binaannya harus mendapatkan kesempatan untuk memimpin. Ia pun mempercayakan posisi ketua pada Rio Sempana.

Hingga tahun 2023-2024, bermula dari kunjungan Mangrove Action Project (MAP) asal Inggris, Rio Fernandes mulai aktif membuka akses komunikasi dan kolaborasi keluar.
Upaya tersebut menghasilkan kerja sama dengan Politeknik Bengkalis dan Universitas Riau (UNRI) untuk riset mahasiswa dan dosen.
Dukungan lainnya dari Yayasan Gambut/Global Environment Centre (GEC) Malaysia, PLN Peduli, sebuah perusahaan BUMN, dan Yayasan LindungiHutan.
Kolaborasi bersama LindungiHutan dilakukan melalui penanaman 2.006 mangrove Rhizophora dari kampanye alam pertama sebagai bagian dari upaya rehabilitasi kawasan.

Kolaborasi ini menjadi jalan untuk memperkuat konservasi, karena rehabilitasi mangrove membutuhkan dukungan pengetahuan, sumber daya, dan pendanaan.
Baca Juga: Nurul Fatmawati, Sosok Perempuan Inspiratif di Balik 38 Ribu Pohon Mangrove di Wonorejo Surabaya
Ekosistem Terjaga, Emisi Karbon Berhasil Diserap
Meski di beberapa titik masih terjadi erosi ringan, hasil rehabilitasi kawasan mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Proses sedimentasi alami membuat permukaan tanah semakin stabil dan merata, menandakan pemulihan ekosistem mangrove yang berjalan positif di kawasan ini.
Dari hasil identifikasi Rio Sempana dan mitra NGO, kawasan ini memiliki lebih dari 25 jenis mangrove sejati dan lebih dari 5 jenis mangrove asosiasi.
Dua jenis yang sempat nyaris punah secara lokal, Rhizophora mucronata dan Rhizophora stylosa berhasil dipulihkan berkat bibit yang didapat dari kelompok konservasi mitra di Desa Pambang yakni kelompok Bang Samsul yang telah berjalan sekitar 25 tahun dan berstatus LPHD.

Data LindungiHutan juga menyebutkan, per tanggal 11 Agustus 2026, proyeksi serapan karbon 5 tahun ke depan dari aksi penghijauan mencapai 436.000 kg CO₂eq atau 436 ton CO₂eq.
Namun, Rio menegaskan tidak ingin memandang angka ini semata dari sisi finansial, agar semangat aksi nyata tidak pudar.
Tantangan, Hambatan, dan Semangat yang Tak Pernah Padam
Selama perjalanan Rio Fernandes, banyak tantangan dan hambatan yang harus diatasi, di antaranya abrasi yang terus berlangsung, angin musim selatan dan barat, hama kepiting kecil, dan aktivitas pencarian cacing laut.

Selain tantangan ekologis, dua anggota kelompok juga pernah dirawat di rumah sakit akibat gigitan ular bakau dan luka parang hingga tujuh jahitan.
Namun, rasa sakit itu tidak melunturkan semangat mereka untuk kembali ke lapangan justru ini menjadi motivasi bagi Rio Fernandes untuk terus melanjutkan perjuangan.
Keterlibatan Masyarakat dan Ekowisata Sebagai Peluang Ekonomi Baru
Dalam prosesnya, Rio Fernandes juga melibatkan nelayan pesisir dalam kegiatan rehabilitasi.
Melalui dukungan program LindungiHutan, nelayan pesisir mulai memahami pentingnya mangrove dan turut menjaga serta melaporkan kondisi tanaman.
Aturan tetap dibuat sederhana, warga bebas mencari kepiting, siput, dan ikan, asal tidak menggunakan racun dan tidak menebang pohon mangrove dalam bentuk apa pun.
Aksi konservasi yang sebelumnya dilakukan untuk menyelamatkan ekosistem ternyata juga memberikan peluang ekonomi baru, yakni ekowisata.

Rio Fernandes melihat keramaian dari aktivitas memancing dan kunjungan menjadi bentuk pengamanan alami karena membuat pelaku penebangan liar kini segan beraksi.
Baca Juga: Mengenal Desa Kelapapati, Bengkalis, Riau yang Terancam Abrasi
Harapan Rio Fernandes Bersama LindungiHutan untuk Keberlanjutan Kawasan
Rio Fernandes berharap besar terhadap keberlangsungan konservasi dan keberlanjutan kepemimpinan.
“Besar harapan saya, yang kami lakukan di sini tidak habis di sini dan kami berharap ini berlanjut dan bergenerasi,” ujarnya.
Harapannya, lahan konservasi 14 hektare ini benar-benar menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat, sekaligus tempat edukasi dan penelitian bagi generasi mendatang.
“Dan itu bukan proses yang instan, bukan proses yang cepat, dan bukan proses yang mudah,” ujarnya.
Sehingga melalui dukungan mitra seperti Yayasan Lindungi Hutan diharapkan dapat berlanjut mencakup rehabilitasi, pemeliharaan, pengembangan ekowisata, serta edukasi, termasuk kebutuhan infrastruktur dasar seperti fasilitas MCK yang belum tersedia.







