Setiap tanggal 24 Oktober, dunia memperingati Hari Aksi Iklim Internasional (International Day of Climate Action) dimana merupakan momentum global untuk mengingatkan bahwa perubahan iklim bukan isu masa depan, melainkan krisis yang sudah terjadi hari ini.
Kita melihatnya di mana-mana: suhu ekstrem, banjir yang makin sering, kekeringan yang meluas, dan cuaca tak menentu. Indonesia pun tak luput dari dampaknya. Lalu, apa yang sebenarnya dimaksud dengan aksi iklim, dan bagaimana cara kita ikut berperan?
Apa Itu Hari Aksi Iklim Internasional?
Hari Aksi Iklim Internasional pertama kali diperingati pada tahun 2009 sebagai respons terhadap meningkatnya suhu bumi akibat emisi gas rumah kaca. Peringatan ini dilaksanakan setiap tanggal 24 Oktober.
Momentum ini lahir dari gerakan masyarakat global yang menuntut tindakan nyata dari pemerintah dan perusahaan untuk menekan laju perubahan iklim.
Secara sederhana, aksi iklim adalah segala upaya yang dilakukan individu, komunitas, atau institusi untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan beradaptasi terhadapnya. Bentuknya bisa berupa:
- menghemat energi,
- beralih ke energi terbarukan,
- mengelola sampah dengan benar,
- hingga mendukung kegiatan penghijauan.
Tujuan peringatan ini bukan sekadar seremonial, tapi untuk menyatukan kesadaran global bahwa bumi tidak bisa menunggu lebih lama.
Mengapa Aksi Iklim Itu Penting?
Krisis iklim kini menjadi ancaman terbesar bagi kehidupan manusia. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menunjukkan bahwa suhu rata-rata bumi sudah naik lebih dari 1,1°C sejak era praindustri.
Bagi Indonesia, dampaknya terasa nyata:
- Banjir rob di Semarang dan Jakarta akibat kenaikan permukaan laut.
- Kekeringan panjang di Jawa dan Nusa Tenggara.
- Kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan yang merusak ekosistem.
Tanpa aksi nyata, perubahan iklim dapat menurunkan produktivitas pertanian, memperluas kemiskinan, dan memperparah krisis kesehatan masyarakat.
Karena itu, aksi iklim penting dilakukan sekarang, tidak menunggu bencana berikutnya datang.
Contoh Aksi Iklim Berbasis Alam
Salah satu bentuk aksi paling efektif adalah nature-based solutions atau upaya berbasis alam untuk menanggulangi krisis iklim. Contohnya:
- Reforestasi dan Penanaman Pohon
Menanam pohon membantu menyerap karbon dioksida (CO₂), memperbaiki tata air, dan mengembalikan habitat alami. - Restorasi Mangrove
Hutan mangrove mampu menyerap karbon hingga lima kali lebih banyak dibandingkan hutan daratan. Akar mangrove juga melindungi pesisir dari abrasi dan banjir rob. - Edukasi Lingkungan
Membangun kesadaran publik tentang pentingnya menjaga alam — mulai dari anak sekolah hingga korporasi besar. - Kolaborasi CSR dan Komunitas
Banyak perusahaan kini menjalankan program CSR hijau, seperti yang difasilitasi LindungiHutan melalui platform digital CorporaTree dan EducaTree, untuk memperluas dampak sosial-lingkungan.

Kombinasi antara aksi individu dan kolaborasi lintas sektor inilah yang menjadi kunci keberhasilan menghadapi krisis iklim.
Baca Juga: Nature Based Solutions: Solusi Alami untuk Keberlanjutan
Kampanye Alam Nyata: Mapping for Impact di Semarang
Sebagai bentuk nyata dari aksi iklim, Perkumpulan OpenStreetMap Indonesia (POI) membuka kampanye alam di LindungiHutan melalui program Mapping for Impact di Kota Semarang.
Program ini berfokus pada penanaman mangrove partisipatif yang bertujuan memperkuat ketahanan iklim di wilayah pesisir utara Jawa Tengah.
Tujuan utama:
- Mengurangi risiko banjir rob dan abrasi di pesisir Semarang.
- Menyerap emisi karbon melalui vegetasi mangrove.
- Memberdayakan masyarakat sekitar hutan sebagai penjaga ekosistem.
Melalui kampanye ini, Perkumpulan OpenStreetMap Indonesia (POI) mengajak publik dan perusahaan untuk ikut berkontribusi dalam aksi iklim lokal yang berdampak global. Anda dapat mendukung langsung melalui laman berikut:
Dengan setiap donasi yang Anda berikan, satu pohon mangrove akan ditanam untuk melindungi pesisir Semarang dan menjadi bagian dari solusi iklim dunia.
Aksi iklim tidak harus dimulai dari langkah besar. Anda bisa memulainya dari hal-hal sederhana:
- Menanam pohon di lingkungan rumah.
- Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
- Menghemat listrik dan air.
- Mendukung produk lokal berkelanjutan.
Ketika jutaan orang melakukan aksi kecil secara konsisten, dampaknya akan terasa besar bagi bumi. Seperti filosofi LindungiHutan: “Setiap pohon yang ditanam adalah napas baru untuk bumi.”

Hingga kini, LindungiHutan telah menanam lebih dari 1,1 juta pohon di 30+ lokasi bersama 600+ brand. Angka ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara individu, komunitas, dan perusahaan benar-benar bisa menciptakan perubahan nyata.
Baca Juga: Penanaman Mangrove, Mitigasi Perubahan Iklim dan Investasi untuk Lingkungan Berkelanjutan
Hari Aksi Iklim, Momentum untuk Bergerak Bersama
Hari Aksi Iklim Internasional adalah pengingat bahwa waktu kita untuk bertindak semakin sempit. Krisis iklim tidak akan berhenti jika kita hanya menunggu.
Setiap pohon yang Anda tanam, setiap liter air yang Anda hemat, dan setiap keputusan ramah lingkungan yang Anda ambil adalah bagian dari solusi global.
Mari jadikan 24 Oktober 2025 bukan hanya peringatan, tapi juga titik awal perubahan. Mulailah aksi iklim Anda hari ini bersama LindungiHutan. Karena bumi yang sehat adalah warisan terbaik yang bisa kita berikan kepada generasi berikutnya.
Penulis: Lintang Pramudito







