Scroll untuk baca artikel
Lingkungan

Kisah Juraimi Ketua Camar Tambakrejo Semarang Melawan Abrasi

80
×

Kisah Juraimi Ketua Camar Tambakrejo Semarang Melawan Abrasi

Share this article
kisah-juraimi-ketua-camar-tambakrejo-semarang-melawan-abrasi
Kisah Juraimi Ketua Camar Tambakrejo Semarang Melawan Abrasi

Juraimi, tokoh pesisir dari Tambakrejo, Semarang, bukan hanya dikenal sebagai pemimpin komunitas penggerak lingkungan, tetapi juga sosok yang penuh dedikasi. 

Tinggal di kawasan pesisir padat penduduk, ia berinisiatif memperjuangkan masyarakat lokal untuk melawan ancaman abrasi dan erosi melalui penanaman mangrove.

Example 300x600

Salah satu tokoh penting di balik gerakan ini adalah Juraimi, atau akrab disapa Pak Ju (50 tahun), Ketua KPL Camar Tambakrejo. Di bawah kepemimpinannya, KPL Camar (singkatan dari Cinta Alam Mangrove Asri dan Rimbun) tumbuh menjadi kelompok lingkungan yang solid.

Bersama masyarakat, Pak Ju Tambakrejo berhasil menjadi motor penggerak konservasi mangrove sejak tahun 2013 melalui program-program yang difasilitasi oleh LindungiHutan.

Awal Keterlibatan Pak Juraimi Tambakrejo

Pak Ju bercerita bahwa keterlibatan masyarakat Tambakrejo berawal dari kesadaran sederhana: menjaga tanah kelahiran. Sebagai putra daerah, ia merasa punya amanah untuk mengembalikan wilayah pesisir yang terus tergerus abrasi.

“Alhamdulillah Allah memberikan jalan lewat uluran tangan LindungiHutan. Sejak 2013, kami bertekad mengembalikan wilayah dari ancaman abrasi dan erosi dengan menanam mangrove,” ujarnya.

Upaya Pak Ju dan KPL Tambakrejo tak hanya berdampak ekologis, tetapi juga melahirkan destinasi Mangrove Edupark Tambakrejo yang resmi dibuka pada 2020.

Edupark ini menghadirkan jogging track sepanjang ±200 meter, gazebo, jalur perahu wisata, pusat pembibitan, hingga galeri UMKM.

Selain sebagai tempat wisata, pengunjung juga diajak belajar menanam mangrove secara langsung, menjadikannya ruang edukasi dan konservasi sekaligus.

KPL Camar juga mengedepankan prinsip pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Misalnya, dari ongkos kapal wisata, sebagian besar hasilnya langsung diberikan kepada nelayan.

Ibu-ibu pesisir pun aktif mengembangkan UMKM, seperti produksi terasi, bandeng presto, otak-otak, telur asin, hingga olahan unik seperti keripik mangrove. Produk khas mereka, paket makan “Sego Pesisir” seharga Rp15.000, kini jadi daya tarik tambahan bagi pengunjung.

Berkat konsistensinya, inisiatif KPL Camar juga berhasil mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari akademisi, pemerintah daerah, hingga Pertamina melalui program CSR.

juraimi tambakrejo semarang ketua camar

Puncaknya, pada 2021, program Mangrove Edupark Tambakrejo ikut mengantarkan Pertamina meraih PROPER Emas dari KLHK, sebuah penghargaan bergengsi di bidang lingkungan.

Bagi Juraimi Tambakrejo, menanam mangrove bukan sekadar rutinitas, tetapi simbol perjuangan mempertahankan identitas kampung pesisir dari kepunahan akibat perubahan iklim.

Baca Juga: Pantai Tambakrejo, Kota Semarang: Abrasi dan Makam Tenggelam

Dampak Sosial dan Ekonomi

Program penghijauan di Tambakrejo membawa manfaat sosial dan ekonomi yang signifikan. Menurut Pak Ju, kehadiran LindungiHutan membuat masyarakat semakin paham pentingnya menjaga ekosistem, sekaligus mendapat nilai tambah dalam kehidupan sehari-hari.

Para bapak memperoleh tambahan penghasilan dari kegiatan penanaman, sementara para ibu mulai mengolah mangrove menjadi produk bernilai ekonomi seperti keripik mangrove, minuman herbal, hingga pewarna alami untuk batik.

Selain itu, ekosistem mangrove yang pulih juga menjadi tempat pemijahan ikan, sehingga hasil tangkapan nelayan meningkat.

“Banyak manfaat yang dirasakan. Tidak hanya menambah ekonomi keluarga, tetapi juga memberi peluang usaha baru bagi warga kami,” ungkap Juraimi.

Dampak Inisiatif KPL Camar Tambakrejo

Sebelum adanya program rehabilitasi, udara di Tambakrejo terasa panas dan ekstrem. Kini, masyarakat mulai merasakan perubahan nyata.

“Sekitar 75% perubahan sudah mulai dirasakan. Udara lebih sejuk, dan air pasang yang dulu sering masuk ke permukiman kini berkurang drastis,” kata Juraimi Tambakrejo.

Mangrove berperan penting menyerap karbon, menghasilkan oksigen, serta menahan laju abrasi. Meski belum sepenuhnya berhasil, langkah ini menunjukkan upaya nyata mengembalikan wilayah pesisir agar lebih terlindungi dari bencana alam.

Edukasi dan Pemberdayaan

Program penanaman mangrove di Tambakrejo bukan hanya soal menanam pohon semata. LindungiHutan menjadikannya sarana edukasi bagi masyarakat untuk memahami nilai ekologis sekaligus potensi ekonominya.

lindungihutan pertamina juraimi tambakrejo

Melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan, warga mulai mengenal bahwa mangrove memiliki peran penting, tidak hanya sebagai pelindung pantai, tetapi juga sebagai ekosistem yang menyimpan banyak manfaat.

Salah satu inovasi yang diterapkan oleh Pak Juraimi Tambakrejo adalah metode segitiga penanaman. Dengan pola ini, bibit mangrove ditanam membentuk susunan segitiga sehingga lebih kokoh menghadapi arus dan gelombang. Hasilnya, tingkat hidup tanaman lebih tinggi dan kawasan hijau tumbuh lebih merata.

Bagi Juraimi Tambakrejo, teknik ini bukan sekadar soal tata cara menanam, melainkan strategi yang memastikan keberlanjutan ekosistem.

Pola tanam tersebut juga memberi dampak langsung bagi warga, karena kawasan pesisir yang lebih stabil berarti juga meningkatkan peluang penghidupan.

Pak Ju menyebut bahwa sekitar 75% kebutuhan masyarakat dalam hal pemanfaatan dan pelestarian mangrove kini difasilitasi lewat program ini. Mulai dari penyediaan bibit, sarana perawatan, hingga akses untuk pemasaran produk olahan mangrove.

Dukungan ini membuat warga merasa tidak berjalan sendiri, melainkan memiliki mitra yang mendampingi sejak awal hingga proses pemberdayaan. “Masyarakat belajar bahwa mangrove itu bukan sekadar penahan abrasi, tapi juga sumber kehidupan,” jelasnya.

Melalui pendekatan edukasi ini, perlahan pola pikir masyarakat berubah. Jika dulu mangrove hanya dianggap sebagai pohon penahan gelombang, kini warga Tambakrejo melihatnya sebagai peluang masa depan.

Juraimi Tambakrejo menegaskan bahwa transformasi pemahaman ini adalah kunci agar masyarakat terus menjaga mangrove, karena mereka merasakan manfaat langsungnya, baik dari sisi lingkungan, sosial, maupun ekonomi.

Baca Juga: Pesisir Tambakrejo Semarang, Cikal Bakal Lokasi Penanaman LindungiHutan

Refleksi dan Harapan ke Depan

Secara nasional, program-program penanaman mangrove, seperti di Tambakrejo berkontribusi dalam skema lebih besar.

Penanaman bersama LindungiHutan dari kawasan pesisir yang dulu terancam abrasi, kini tumbuh hutan mangrove seluas ±2 hektar dengan lebih dari 150.000 bibit yang berhasil ditanam sejak 2011.

Lingkungan menjadi lebih sejuk, gelombang air pasang berkurang drastis, ekosistem perikanan kembali pulih, dan masyarakat mendapatkan tambahan penghasilan dari wisata serta produk UMKM berbasis mangrove.

Berbagai upaya tersebut menggambarkan sebuah capaian yang mempertegas manfaat ekologis dan sosial dari pelestarian mangrove.

Dalam refleksinya, Juraimi Tambakrejo menilai LindungiHutan berbeda dari lembaga lain. Menurutnya, kontribusi LindungiHutan dalam pendampingan mencapai 90% dari keseluruhan proses, mulai dari penanaman hingga pemberdayaan.

juraimi ketua kpl camar tambakrejo semarang lindungihutan pertamina

“Mereka tidak membedakan siapa pun, semua diperlakukan setara. Inilah yang membuat program berjalan berkelanjutan,” ungkapnya.

Ke depan, Pak Juraimi Tambakrejo berharap LindungiHutan dapat memperluas jangkauan ke daerah lain di Indonesia yang lebih membutuhkan.

“Tambakrejo sudah merasakan manfaat besar. Semoga pengalaman kami bisa menjadi inspirasi bagi kampung-kampung pesisir lain untuk bergerak bersama menjaga lingkungan.”

Kisah Juraimi Tambakrejo dan warga pesisir Semarang adalah bukti nyata bahwa konservasi mangrove tidak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga membawa perubahan sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

Dengan kolaborasi yang kuat bersama LindungiHutan, mereka berhasil membuktikan bahwa menjaga alam berarti menjaga masa depan.

LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.1 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan