Scroll untuk baca artikel
Lingkungan

Green Mindset di Korporasi: Studi Kasus Sucofindo dalam Transformasi Hijau

64
×

Green Mindset di Korporasi: Studi Kasus Sucofindo dalam Transformasi Hijau

Share this article
green-mindset-di-korporasi:-studi-kasus-sucofindo-dalam-transformasi-hijau
Green Mindset di Korporasi: Studi Kasus Sucofindo dalam Transformasi Hijau

“Green mindset isn’t a department. It’s how the whole company thinks,” tegas Dissa Natria. Menurutnya, green mindset tidak hanya menjadi tanggung jawab satu departemen, melainkan harus menjadi pola pikir kolektif di seluruh lini perusahaan.

Paparan tersebut disampaikan dalam acara Green Skilling ke-21 yang diadakan LindungiHutan dengan tema “Menanam Green Mindset dari Akar Peran Bisnis dan Komunitas dalam Mendorong Transformasi Hijau.” 

Example 300x600

Green mindset di korporasi ibarat menanam pohon, dimulai dari benih kecil berupa kesadaran lalu tumbuh menjadi budaya perusahaan yang konsisten, sistematis, dan berdampak luas. 

Perjalanan inilah yang sedang ditempuh Sucofindo sebagai salah satu pionir dalam membangun green culture di dunia usaha Indonesia.

Apa Itu Green Mindset di Korporasi?

Menurut Sekar Dwi Setyaningrum, green mindset adalah pola pikir yang menempatkan keberlanjutan sebagai inti dari setiap keputusan bisnis.

Bukan hanya mengejar profit, melainkan juga memastikan efisiensi, kepedulian lingkungan, inklusivitas, dan tanggung jawab sosial.

green mindset di korporasi

Dalam konteks perusahaan, menanam green mindset berarti:

  • Menyadari dampak setiap aktivitas operasional pada lingkungan.
  • Bertanggung jawab terhadap triple bottom line: People, Planet, Profit.
  • Mengintegrasikan nilai keberlanjutan ke seluruh lini, bukan hanya di divisi CSR.

Dengan cara ini, green mindset di korporasi menjadi fondasi untuk menciptakan transformasi hijau yang nyata dan berkelanjutan.

Enam Siklus Pola Pikir Green Mindset

Sekar Dwi Setyaningrum merangkum green mindset sebagai proses berulang yang membentuk perilaku dan budaya di organisasi yang terlihat dalam enam siklus pola pikir green mindset sebagai berikut:

  1. Awakening – kesadaran akan masalah lingkungan, seperti isu TPA penuh di Pekalongan dan Semarang.
  2. Understanding – belajar melalui riset, komunitas, dan pelatihan
  3. Evaluation – mengevaluasi dampak setiap perilaku ke lingkungan
  4. Action – melakukan perubahan nyata, mulai dari efisiensi energi hingga pengurangan limbah.
  5. Advocacy – menjadi inspirasi dan berperan aktif mendukung perusahan di lingkungan sekitar.
  6. Re-evaluation – melakukan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement).

Kenapa Ada Green Mindset?

Dissa Natria menjelaskan bahwa tren istilah green mindset, sustainability, dan ESG bukan sekadar jargon. Akar utamanya adalah perubahan iklim yang nyata terasa saat ini, misalnya musim kemarau yang bergeser menjadi hujan, serta banjir yang semakin parah. 

green mindset di perusahaan

Kesadaran global terhadap dampak pemanasan bumi ini mendorong para pemimpin dunia untuk mengambil langkah mitigasi, salah satunya melalui Paris Agreement 2015.

Perjanjian ini menjadi komitmen bersama untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GHG), karena dampaknya bersifat lintas sektor dan lintas negara.

Baca Juga: Menanam Green Mindset di Komunitas: Fondasi Transformasi Hijau

Paris Agreement: Konteks Regulasi & Peran Indonesia

Indonesia meratifikasi Paris Agreement pada 2016 melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016. Sejak itu, Indonesia menyampaikan kontribusi iklimnya melalui Nationally Determined Contribution (NDC). Perjalanan NDC Indonesia antara lain:

  • First NDC (2016)
  • Updated NDC (2021) dengan target penurunan emisi 29% upaya mandiri dan 41% dengan dukungan internasional
  • Enhanced NDC (2022) dengan target menjadi 31,89% secara mandiri dan 43,2% dengan dukungan internasional
  • Second NDC (2023)
paris agreement indonesia green mindset

Selain itu, lahir pula kebijakan pendukung seperti Perpres No. 98/2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK), Permen LHK No. 21/2022, Perpres No. 129/2022, serta komitmen Indonesia menuju Net Zero Emissions 2060 atau lebih cepat.

Sucofindo mengambil peran strategis sebagai Lembaga Validasi dan Verifikasi yang terdaftar di KLHK untuk mendukung kebijakan nilai ekonomi karbon.

lembaga validasi verifikasi sucofindo lindungihutan

Green Mindset untuk Strategi Internal

Dissa Natria menegaskan kembali bahwa “green mindset isn’t a department. It’s how the whole company thinks”.

green mindset adalah

Ada lima strategi internal yang perlu diterapkan untuk menumbuhkan green mindset:

  • Memiliki pola pikir jangka panjang yang berorientasi pada keberlanjutan, tidak sekadar target jangka pendek
  • Sadar dampak dan bertanggung jawab atas keputusan bisnis terhadap People Planet Profit seperti menghindari praktik kerja eksploitatif
  • Menempatkan nilai keberlanjutan dalam inti strategis perusahaan, bukan hanya di CSR
  • Bersikap inklusif dan kolektif dengan melibatkan semua lini
  • Adaptif dan berbasis inovasi dengan melihat regulasi sebagai peluang untuk efisiensi dan pengembangan solusi baru

Contoh strategi internal yang dilakukan oleh Sucofindo:

  • Edukasi dan pelatihan berkelanjutan untuk seluruh karyawan
  • Komunikasi yang konsisten melalui townhall, intranet, dan pesan dari pimpinan
  • Integrasi dalam sistem HR dan Operasi, termasuk KPI dan evaluasi kinerja 
  • Penguatan melalui aksi dan teladan melalui praktik nyata seperti improvement internal terkait sustainability

Perbedaan Green Mindset dan Green Culture

Berikut perbedaan antara green mindset dan green culture sebagai berikut:

  • Green Mindset: pola pikir individu terhadap keberlanjutan, seperti membawa tumbler atau mengurangi plastik.
  • Green Culture: perilaku kolektif perusahaan yang lahir dari sistem, kebijakan, dan teladan pimpinan.
perbedaan green mindset green culture

Keduanya saling melengkapi dan melengkapi, di mana green mindset menumbuhkan green culture, sementara green culture memperkuat green mindset di setiap karyawan baru.

Studi Kasus Sucofindo: Membangun Green Culture di Korporasi

Sebagai perusahaan TIC (Testing, Inspection, Certification) terbesar di Indonesia, Sucofindo telah menjadi contoh bagaimana green mindset di korporasi bisa diimplementasikan dalam praktik nyata.

Beberapa inisiatif Sucofindo antara lain:

  • Kampanye internal & edukasi: melalui event CarbonTalk dan ENSIA (Environmental and Social Innovation Awards) untuk mendorong inovasi ramah lingkungan.

  • Employee engagement: pelatihan dan layanan Green Generation mencakup audit lingkungan, sertifikasi,  verifikasi emisi karbon, dan pelatihan praktik berkelanjutan.
  • Leadership commitment: manajemen membentuk lembaga validasi dan verifikasi GRK, sekaligus memberi apresiasi untuk inovasi lingkungan.
  • Audit & sertifikasi: penerapan audit internal rutin serta dorongan sertifikasi industri hijau di berbagai sektor.
  • Kolaborasi & apresiasi inovasi pegawai: pemberian penghargaan pada karyawan dan tim yang berkontribusi pada inovasi lingkungan dan sosial seperti dalam tim internal dalam penerapan 5S (bersih, memilah-milah barang)

Selain internal, Sucofindo juga aktif berkolaborasi dengan komunitas, institusi, dan publik melalui seminar, edukasi, dan pendampingan lintas industri. 

Tujuannya adalah memperkuat pelestarian lingkungan, membangun daya saing industri, serta keberlanjutan masyarakat dan generasi mendatang.

Baca Juga: Integrasi Green Mindset & Skills: Strategi Bisnis Berkelanjutan

Tata Kelola Sucofindo untuk Mendukung Transformasi Hijau

Sucofindo menerapkan tata kelola perusahaan yang mendukung transformasi hijau, di antaranya:

  • Penerapan prinsip GCG dan penyusunan roadmap ESG.
  • Kebijakan internal seperti ISO 14001, ISO 45001, dan ISO 9001.
  • Struktur organisasi yang membentuk task force ESG internal.
  • Transparansi laporan berbasis standar GRI dan POJK
  • Sistem whistleblowing, kode etik, etika bisnis, dan antikorupsi.
  • Digitalisasi tata kelola untuk efisiensi kertas.

Semua langkah ini menunjukkan bagaimana green mindset bukan jargon, melainkan strategi nyata yang diterapkan secara sistematis.

Penutup

Studi kasus Sucofindo membuktikan bahwa menanam green mindset di korporasi bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan strategis untuk menghadapi tantangan global. Transformasi hijau hanya bisa tercapai bila mindset keberlanjutan diintegrasikan ke dalam setiap lini bisnis.

EducaTree: Corporate Training untuk Menanam Green Mindset

Jika perusahaan Anda ingin memulai perjalanan transformasi hijau, LindungiHutan menghadirkan EducaTree berupa program corporate training sustainability dan workshop lingkungan yang dirancang untuk membangun green mindset di korporasi.

Program ini dapat diselenggarakan secara online maupun offline untuk meningkatkan kesadaran karyawan sekaligus memperkuat komitmen keberlanjutan. 

Hubungi tim sales LindungiHutan sekarang untuk memulai perjalanan green mindset di perusahaan Anda bersama EducaTree. Saatnya menciptakan transformasi hijau yang nyata, sistematis, dan berdampak jangka panjang.

Mulai Green Mindset di Korporasi Anda Hari Ini dengan EducaTree