Scroll untuk baca artikel
Lingkungan

Operasi Modifikasi Cuaca: Apa Itu dan Bagaimana Cara Kerjanya untuk Cegah Karhutla?

8
×

Operasi Modifikasi Cuaca: Apa Itu dan Bagaimana Cara Kerjanya untuk Cegah Karhutla?

Share this article
operasi-modifikasi-cuaca:-apa-itu-dan-bagaimana-cara-kerjanya-untuk-cegah-karhutla?
Operasi Modifikasi Cuaca: Apa Itu dan Bagaimana Cara Kerjanya untuk Cegah Karhutla?

LindungiHutan Insight

  • Operasi modifikasi cuaca merupakan teknologi berbasis sains yang digunakan untuk mempercepat hujan guna membantu mencegah dan mengendalikan karhutla di Indonesia.
  • Pelaksanaan operasi modifikasi cuaca dilakukan melalui penyemaian awan dengan garam menggunakan pesawat dan hanya efektif jika terdapat kondisi awan yang mendukung.
  • Meski terbukti membantu menekan dampak karhutla, operasi modifikasi cuaca bukan solusi utama sehingga perlindungan hutan dan pencegahan kerusakan lahan tetap menjadi langkah terpenting.

Setiap kali musim kemarau tiba, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali membayangi jutaan warga Indonesia. Operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu andalan pemerintah dalam menghadapi situasi ini. Asap tebal menyelimuti langit Riau, Jambi, dan Kalimantan.

Dampaknya tidak main-main bagi kehidupan masyarakat sehari-hari. Sekolah diliburkan, penerbangan terganggu, dan aktivitas publik ikut terhambat. Bahkan, ribuan orang mengidap infeksi saluran pernapasan akibat kabut asap.

Example 300x600

Di tengah kondisi darurat, teknologi mulai memainkan peran penting. Bukan sulap atau rekayasa fiktif, solusi ini berbasis sains yang teruji. Operasi modifikasi cuaca telah digunakan Indonesia selama puluhan tahun untuk mencegah dan menanggulangi karhutla.

Namun, seberapa jauh kita benar-benar memahami cara kerja operasi modifikasi cuaca ini? Dan apakah ia cukup ampuh untuk menjadi solusi jangka panjang?

Operasi modifikasi cuaca, atau yang sering disebut Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), adalah upaya ilmiah untuk mengubah proses alami pembentukan cuaca.

Fokus utamanya adalah memengaruhi terbentuknya hujan melalui intervensi manusia. Pendekatan ini berbasis sains dan telah diterapkan dalam berbagai situasi.

Sederhananya, teknologi ini meningkatkan peluang terjadinya hujan dari awan yang sudah ada agar lebih cepat menurunkan hujan. Selain itu, hujan juga dapat diarahkan ke wilayah yang paling membutuhkan. Dengan cara ini, dampak kekeringan atau bencana dapat diminimalkan.

Bayangkan awan sebagai spons basah yang perlu sedikit “diperas” agar airnya keluar. Itulah esensi dari operasi modifikasi cuaca, bukan menciptakan hujan dari udara kosong, melainkan mempercepat dan mengarahkan hujan yang sebenarnya sudah siap turun.

Perlu dicatat bahwa istilah “hujan buatan” yang sering kita dengar di media merujuk pada hal yang sama dengan TMC atau operasi modifikasi cuaca. Ketiganya adalah satu teknologi yang sama, hanya dengan penamaan berbeda.

Bagaimana Cara Kerjanya?

Proses operasi modifikasi cuaca melibatkan beberapa tahap yang terkoordinasi:

  • Identifikasi awan potensial: BMKG memantau pertumbuhan awan, arah angin, dan kelembapan udara secara real-time. Awan jenis Cumulus congestus atau Cumulonimbus (Cb) yang cukup tebal menjadi target utama.
  • Penyemaian awan (cloud seeding): Pesawat jenis Casa NC-212 yang membawa ratusan kilogram hingga satu ton garam NaCl (natrium klorida) terbang menuju awan target. Garam ini bersifat higroskopis, artinya mudah menyerap uap air.
  • Proses kondensasi dipercepat: Partikel garam yang disebar ke dalam awan menjadi inti kondensasi. Uap air di sekitarnya menempel, membentuk tetesan yang semakin besar, hingga akhirnya cukup berat untuk jatuh sebagai hujan.
  • Pemantauan oleh BMKG: Radar cuaca BMKG terus memantau posisi awan dan menginformasikan arah angin kepada pilot agar penyemaian tepat sasaran.

Satu kali sortie penerbangan penyemaian awan biasanya memakan waktu tiga hingga empat jam. Dalam kondisi karhutla aktif, operasi modifikasi cuaca bisa dilakukan dua kali sortie setiap harinya.

Di Mana Saja OMC Sudah Dilakukan di Indonesia?

Operasi modifikasi cuaca secara rutin digelar di enam provinsi prioritas yang paling rentan karhutla sesuai Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2020, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Paling baru, pada Mei 2026 BMKG menjadwalkan operasi modifikasi cuaca selama 10 hari di lima wilayah Sumatera Selatan untuk mengantisipasi potensi karhutla menjelang puncak musim kemarau Juni–Agustus. 

Sebelumnya, OMC juga digelar di Daerah Tangkapan Air Danau Toba, Sumatera Utara, sebagai bagian dari strategi nasional pengendalian karhutla 2026.

Di luar konteks karhutla, operasi modifikasi cuaca juga pernah digunakan untuk keperluan lain, mulai dari pengendalian banjir di Jakarta, pengisian waduk, hingga memastikan cuaca bersih saat ajang MotoGP Mandalika 2022.

operasi modifikasi cuaca

Baca Juga: El Nino Segera Datang. Lebih Kering dan Lebih Panas. Kekeringan? Kebakaran Hutan?

Kapan Operasi Modifikasi Cuaca Bisa dan Tidak Bisa Dilakukan?

Inilah salah satu kesalahpahaman terbesar tentang operasi modifikasi cuaca, yaitu banyak orang mengira teknologi ini bisa dipakai kapan saja, bahkan di tengah kemarau panjang yang benar-benar kering.

Faktanya, operasi modifikasi cuaca hanya bisa dilakukan ketika ada awan yang cukup tebal di langit. Tanpa awan, tidak ada yang bisa “diperas”. Ini sebabnya OMC paling efektif digelar di fase “kemarau kecil”, periode transisi sebelum puncak musim kering, ketika awan masih tumbuh namun hujan belum turun secara alami.

Syarat teknis lainnya meliputi kelembapan udara yang memadai, arah angin yang mendukung agar hujan jatuh di lokasi yang ditargetkan, serta kondisi awan yang berada pada ketinggian dan tipe yang sesuai. 

Tanpa semua syarat ini terpenuhi, operasi modifikasi cuaca tidak bisa dilaksanakan atau hasilnya tidak akan optimal.

Siapa yang Menjalankan OMC di Indonesia?

Operasi modifikasi cuaca bukan pekerjaan satu lembaga saja. Ia membutuhkan kolaborasi lintas instansi yang terkoordinasi ketat:

  • BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana): Penanggung jawab utama operasi, termasuk pembiayaan melalui anggaran siap pakai kebencanaan.
  • BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika): Menyediakan data prediksi cuaca, memantau pertumbuhan awan secara real-time, dan memberikan arahan teknis kepada pilot.
  • BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional): Lembaga yang mengembangkan teknologi dan riset di balik operasi modifikasi cuaca di Indonesia.
  • TNI AU (Angkatan Udara): Menyediakan armada pesawat Casa NC-212 yang menjadi tulang punggung penyemaian awan dari udara.

Pembiayaan Operasi Modifikasi Cuaca bisa juga berasal dari KLHK maupun dana CSR perusahaan yang beroperasi di kawasan rawan karhutla.

Efektivitas dan Keterbatasan OMC

Ada data yang cukup meyakinkan soal efektivitas operasi modifikasi cuaca. BNPB mencatat bahwa kerugian negara akibat karhutla pada 2019, tahun El Nino parah mencapai Rp75 triliun. 

Sementara pada 2025, meski karhutla masih terjadi, kerugian berhasil ditekan menjadi Rp6,7 triliun. Penurunan drastis ini disebut sebagai hasil dari kombinasi operasi darat, OMC, operasi udara, dan penegakan hukum.

Namun ada catatan penting, yaitu operasi modifikasi cuaca bukan teknologi yang bisa diandalkan sepenuhnya. Keterbatasannya nyata dan perlu dipahami:

  • Bergantung 100% pada ketersediaan awan. Saat kemarau ekstrem tanpa awan, operasi modifikasi cuaca tidak bisa dilakukan sama sekali.
  • Sulit diukur efektivitasnya secara pasti. Tidak ada cara yang 100% akurat untuk membuktikan berapa banyak hujan yang “dihasilkan” oleh penyemaian dibanding yang turun secara alami.
  • Biaya tinggi dan bersifat reaktif. Setiap operasi menghabiskan puluhan ton garam dan jam terbang pesawat, investasi yang terus berulang selama ancaman karhutla tidak diatasi dari akarnya.

Baca Juga: 7 Upaya Pengendalian Karhutla 2026 di Tengah El Nino

OMC Bukan Satu-satunya Solusi

Operasi modifikasi cuaca adalah bukti bahwa teknologi bisa menjadi senjata dalam menghadapi karhutla. Namun seperti payung di tengah hujan deras, ia melindungi, tapi tidak menghentikan hujan. Selama deforestasi terus berlangsung dan lahan gambut terus dirusak, Indonesia akan terus bergantung pada solusi darurat yang mahal dan terbatas.

Pencegahan yang sesungguhnya dimulai dari menjaga hutan tetap berdiri. Setiap pohon yang tumbuh adalah satu langkah menjauh dari bencana berikutnya, sekaligus mengurangi ketergantungan pada operasi modifikasi cuaca yang hanya bisa bekerja ketika ada awan di langit.

Di sinilah peran perusahaan menjadi krusial. Melalui program berbasis Nature-based Solutions (NbS), seperti restorasi lahan gambut, penanaman pohon di kawasan penyangga, dan pengelolaan lanskap berkelanjutan, perusahaan dapat berkontribusi langsung dalam menekan risiko karhutla bahkan sebelum api sempat muncul.

LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.2 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan