Scroll untuk baca artikel
Lingkungan

Hari Keanekaragaman Hayati 2026: Sejarah, Tema, dan Cara Merayakannya

5
×

Hari Keanekaragaman Hayati 2026: Sejarah, Tema, dan Cara Merayakannya

Share this article
hari-keanekaragaman-hayati-2026:-sejarah,-tema,-dan-cara-merayakannya
Hari Keanekaragaman Hayati 2026: Sejarah, Tema, dan Cara Merayakannya

LindungiHutan Insight

  • Hari Keanekaragaman Hayati 2026 menegaskan pentingnya aksi lokal untuk menjaga biodiversitas demi dampak global.
  • Indonesia sebagai negara megabiodiversitas menghadapi ancaman serius sehingga membutuhkan peran aktif semua pihak dalam pelestarian.
  • Momentum ini menjadi ajakan nyata untuk berkontribusi melalui langkah sederhana hingga program berkelanjutan guna melindungi ekosistem.

Setiap 22 Mei diperingati Hari Keanekaragaman Hayati sebagai pengingat pentingnya keanekaragaman hayati. Pada tahun ini, Hari Keanekaragaman Hayati 2026 mengusung tema “Acting Locally for Global Impact” yang menekankan pentingnya aksi lokal bagi dampak global.

Di Indonesia, Hari Keanekaragaman Hayati 2026 bukan hanya seremonial. Sebagai negara megabiodiversitas kedua di dunia, Indonesia menyimpan kekayaan hayati yang luar biasa. Namun, Indonesia juga menghadapi ancaman. Menurut data IUCN Red List, ribuan spesies di Indonesia masuk dalam daftar merah spesies terancam punah.

Example 300x600

Lantas, apa sebenarnya Hari Keanekaragaman Hayati itu? Bagaimana sejarahnya? Apa tema Hari Keanekaragaman Hayati 2026? Dan yang terpenting, apa yang bisa kita lakukan? Simak selengkapnya di artikel ini.

Hari Keanekaragaman Hayati Internasional atau International Day for Biological Diversity (IDB) adalah peringatan tahunan yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meningkatkan kesadaran global tentang pentingnya keanekaragaman hayati.

Keanekaragaman hayati atau biodiversity mencakup semua bentuk kehidupan di bumi, dari tanaman, hewan, jamur, hingga mikroorganisme. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Walter G. Rosen pada tahun 1985 dan didefinisikan sebagai “keragaman kehidupan di bumi beserta pola-pola alami yang dibentuknya.”

Menurut Convention on Biological Diversity (CBD), peringatan ini jatuh setiap 22 Mei dan ditetapkan secara resmi oleh Majelis Umum PBB pada tahun 2000. 

Sejarah Hari Keanekaragaman Hayati Internasional

Perjalanan Hari Keanekaragaman Hayati dimulai jauh sebelum tahun 2000. Pada tahun 1988, Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) membentuk kelompok kerja untuk mengeksplorasi kebutuhan konvensi internasional tentang keanekaragaman hayati.

Puncaknya terjadi pada 22 Mei 1992, saat teks awal Convention on Biological Diversity (CBD) diadopsi di Nairobi, Kenya. Konvensi ini resmi berlaku mulai 29 Desember 1993 dan kini memiliki 196 negara anggota.

Berdasarkan informasi dari National Geographic Education, PBB menetapkan 22 Mei sebagai Hari Keanekaragaman Hayati Internasional untuk memperingati momen bersejarah, termasuk perayaan 25 tahun pada 2018 sebagai tonggak konservasi global. 

Tema Hari Keanekaragaman Hayati 2026

Tema Hari Keanekaragaman Hayati 2026 menegaskan bahwa upaya menghentikan dan memulihkan kehilangan keanekaragaman hayati bergantung pada kekuatan aksi lokal yang selaras dengan program pemerintah.

Tema ini juga berkaitan dengan Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB 2026 di Armenia, di mana lima bulan setelah IDB dunia mengevaluasi implementasi Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (KMGBF)

Bagi Indonesia, tema ini menjadi ajakan nyata bahwa individu, perusahaan, dan komunitas memiliki peran penting menjaga keanekaragaman hayati sebagai warisan dunia.

hari keanekaragaman hayati 2026

Mengapa Keanekaragaman Hayati Sangat Penting?

Keanekaragaman hayati bukan sekadar soal keindahan alam. Ia adalah fondasi kehidupan manusia itu sendiri.

Secara ekologis, setiap spesies memiliki peran dalam ekosistemnya. Hilangnya satu spesies dapat memicu efek domino yang mengganggu keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.

Dari sisi ekonomi dan pangan, lebih dari 70% tanaman pangan dunia bergantung pada penyerbukan oleh serangga, terutama lebah. Kehilangan populasi lebah berarti ancaman bagi ketahanan pangan global.

Di bidang kesehatan, lebih dari 50% obat-obatan modern berasal dari bahan alami yang ditemukan dalam keanekaragaman hayati. Hutan hujan tropis Indonesia, misalnya, menyimpan ribuan senyawa bioaktif yang belum sepenuhnya terjelajahi.

Menurut laporan IPBES, sekitar satu juta spesies di dunia kini berada dalam ancaman kepunahan, lebih banyak dari yang pernah terjadi sepanjang sejarah manusia.

Ancaman Terhadap Keanekaragaman Hayati

Meski keanekaragaman hayati meningkat secara alami selama miliaran tahun, ia bisa menurun secara drastis dalam waktu singkat. Aktivitas manusia menjadi penyebab utama percepatan kepunahan ini.

  • Deforestasi: Pembukaan lahan besar-besaran menghancurkan habitat alami dan memutus koridor ekologi yang vital.
  • Perubahan Iklim: Kenaikan suhu dan perubahan pola hujan memaksa spesies bermigrasi atau punah jika tidak mampu beradaptasi.
  • Perburuan Liar: Perdagangan satwa liar ilegal terus mengancam spesies endemik Indonesia seperti harimau sumatera, orangutan, dan badak jawa.
  • Polusi: Pencemaran air, tanah, dan udara merusak ekosistem dan menurunkan kemampuan spesies untuk bertahan hidup.

UNEP memperkirakan laju kepunahan spesies saat ini 100 kali lebih cepat dibanding laju alaminya dan diperkirakan akan terus meningkat hingga 1.000 hingga 10.000 kali lipat dalam beberapa dekade ke depan.

Cara Merayakan dan Berkontribusi di Hari Keanekaragaman Hayati 2026

Sejalan dengan tema Hari Keanekaragaman Hayati 2026, setiap lapisan masyarakat dapat berkontribusi.

Sebagai individu, Anda bisa mulai dari hal sederhana yaitu menanam pohon di halaman rumah, mengurangi penggunaan plastik, membeli produk yang bersumber dari praktik berkelanjutan, atau sekadar menyebarkan informasi tentang keanekaragaman hayati di media sosial.

Sebagai komunitas atau organisasi, manfaatkan momentum ini untuk mengadakan kegiatan penanaman pohon, kampanye edukasi lingkungan, atau program CSR yang selaras dengan target Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework.

Sebagai perusahaan, integrasikan komitmen biodiversitas ke dalam laporan keberlanjutan perusahaan dan dukung program pelestarian ekosistem yang terukur dan berbasis sains.

Baca juga: Rayakan Hari Keanekaragaman Hayati dengan CSR Hijau.

Hari Keanekaragaman Hayati 2026 bukan sekadar peringatan. Ini adalah ajakan bertindak dari lingkungan terdekat, dengan dampak yang dirasakan oleh seluruh planet. Tema “Acting Locally for Global Impact” mengingatkan bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil yang konsisten.

Indonesia, dengan kekayaan biodiversitasnya yang tak tertandingi, memiliki tanggung jawab sekaligus kesempatan besar. Mari manfaatkan momentum Hari Keanekaragaman Hayati 2026 ini untuk tanam pohon, dukung gerakan pelestarian, dan jadikan keberlanjutan sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.

LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.2 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan