Scroll untuk baca artikel
Lingkungan

ESG Adalah: Pengertian, Pilar, dan Manfaat bagi Perusahaan

5
×

ESG Adalah: Pengertian, Pilar, dan Manfaat bagi Perusahaan

Share this article
esg-adalah:-pengertian,-pilar,-dan-manfaat-bagi-perusahaan
ESG Adalah: Pengertian, Pilar, dan Manfaat bagi Perusahaan

LindungiHutan Insight

  • ESG adalah konsep yang mengacu pada standar Environmental, Social, and Governance untuk memastikan perusahaan menjalankan bisnis secara berkelanjutan dan bertanggung jawab
  • ESG terdiri dari tiga pilar utama, yaitu lingkungan, sosial, dan tata kelola, yang membantu perusahaan mengelola risiko, membangun kepercayaan publik, serta menjaga operasional yang etis dan berkelanjutan
  • Penerapan ESG memberikan berbagai manfaat bagi perusahaan, mulai dari meningkatkan reputasi dan kinerja bisnis hingga membuka peluang investasi dan menjaga keberlanjutan jangka panjang

Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan kewajiban transparansi bisnis, ESG kini menjadi salah satu konsep paling penting dalam dunia usaha dan investasi. 

ESG adalah singkatan dari Environmental, Social, and Governance, sebuah standar yang membantu perusahaan menjalankan bisnis secara berkelanjutan sekaligus bertanggung jawab terhadap lingkungan, masyarakat, dan tata kelola internal. 

Example 300x600

Bagi perusahaan yang ingin bertahan dan relevan di era sustainability, memahami environmental social governance bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Apa Itu ESG?

ESG adalah seperangkat standar yang mengacu pada tiga kriteria utama dalam mengukur keberlanjutan bisnis. 

Menurut OECD (2022), ESG mengacu pada proses mempertimbangkan elemen lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam pengalokasian aset dan pengambilan keputusan risiko, sehingga menghasilkan keuntungan finansial jangka panjang yang berkelanjutan.

Terminologi ESG sering dikaitkan dengan program keberlanjutan (sustainability) yang dijalankan oleh perusahaan swasta, baik dalam konteks pendanaan, investasi, maupun pelaporan kepada publik.

Sementara itu, Alijoyo (2019) dalam laman KPBU Kemenkeu mendefinisikan ESG sebagai konsep yang mengedepankan kegiatan pembangunan, investasi, dan bisnis yang berkelanjutan. 

Dengan kata lain, ESG bukan sekadar laporan tahunan, melainkan sebuah pendekatan holistik dalam menjalankan bisnis yang sehat dan bertanggung jawab.

Konsep ini semakin relevan karena investor, regulator, dan pemangku kepentingan kini menuntut perusahaan untuk tidak hanya menghasilkan profit, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.

ESG meliputi tiga lingkup utama yang masing-masing memiliki indikator dan tanggung jawab tersendiri. Berikut penjelasan dari setiap pilarnya.

1. Faktor Lingkungan (Environmental)

Pilar environmental mendorong perusahaan untuk memperhatikan keberlangsungan alam dalam setiap kegiatan bisnisnya. Ini mencakup aspek-aspek seperti penggunaan sumber daya alam, emisi karbon, efisiensi energi, polusi, hingga inisiatif keberlanjutan.

Secara lebih spesifik, indikator faktor lingkungan dalam ESG meliputi:

  • Penggunaan energi ramah lingkungan
  • Pengelolaan limbah yang baik agar tidak menjadi polutan
  • Partisipasi dalam konservasi sumber daya alam yang tidak tergantikan
  • Perlakuan wajar terhadap binatang
  • Penerapan sistem manajemen risiko lingkungan yang efektif

Perusahaan yang memperhatikan aspek ini cenderung lebih siap menghadapi risiko lingkungan di masa depan.

Pilar sosial mencakup isu-isu ketenagakerjaan, hak asasi manusia, privasi data, hingga keterlibatan komunitas. Intinya, perusahaan perlu memastikan hubungan yang baik dan setara dengan semua pemangku kepentingan, baik internal maupun eksternal.

Indikator faktor sosial dalam ESG antara lain:

  • Pemilihan pemasok yang juga memiliki kebijakan dan praktik ESG
  • Keterlibatan perusahaan dalam pembangunan komunitas lokal
  • Kepastian lingkungan kerja yang sehat dan aman bagi karyawan
  • Mempertimbangkan masukan dari seluruh pemangku kepentingan

Perusahaan yang kuat di aspek sosial biasanya memiliki kepercayaan publik yang lebih baik.

3. Faktor Tata Kelola (Governance)

Tata kelola mencakup etika perusahaan secara keseluruhan, yaitu akuntansi yang akurat dan transparan, integritas dalam memilih pemimpin, serta pemenuhan hak pemegang saham.

Indikator faktor tata kelola dalam ESG meliputi:

  • Penggunaan metode akuntansi yang sesuai standar yang berlaku
  • Kepastian semua pihak dapat berpartisipasi dalam pengambilan keputusan penting
  • Tidak ada kontribusi politik untuk memperoleh perlakuan istimewa
  • Tidak terlibat dalam kegiatan ilegal

Tata kelola yang baik (Good Corporate Governance) menjadi fondasi utama agar dua pilar sebelumnya, lingkungan dan sosial, dapat berjalan secara konsisten dan terstruktur.

Manfaat ESG bagi Perusahaan

Penerapan ESG menjadi penting bagi perusahaan dalam menghadapi tuntutan bisnis yang semakin transparan dan berkelanjutan.

The Association of Chartered Certified Accountants (ACCA) dalam Setyaningrum (2023) mencatat setidaknya tujuh manfaat utama penerapan ESG bagi perusahaan:

  1. Mendukung kinerja perusahaan secara keseluruhan
  2. Membantu identifikasi risiko dan inovasi bisnis sejak dini
  3. Meningkatkan reputasi perusahaan di mata investor dan publik
  4. Memanfaatkan kesempatan bisnis yang semakin terbuka di era keberlanjutan
  5. Meningkatkan kualitas manajemen melalui transparansi yang lebih baik
  6. Menjaga keberlanjutan bisnis jangka panjang di tengah dinamika global
  7. Mendukung kinerja keuangan yang lebih stabil dan terpercaya

Baca Juga: 5 Langkah Penerapan CSR Lingkungan di  Perusahaan

ESG di Indonesia

10 Standar ESG Berdasarkan Kerangka yang Ditetapkan Pemerintah

Pemerintah Indonesia telah menetapkan sepuluh standar ESG dalam suatu kerangka khusus sebagai panduan bagi perusahaan. Kesepuluh standar tersebut adalah:

  1. Pencegahan polusi dan pengelolaan limbah
  2. Konservasi keanekaragaman hayati
  3. Pengelolaan sumber daya alam dan efisiensi energi
  4. Mitigasi perubahan iklim, adaptasi, dan risiko bencana
  5. Ketenagakerjaan dan lingkungan kerja
  6. Keragaman, kesetaraan, inklusivitas, dan akses
  7. Minat sosial
  8. Warisan budaya
  9. Kepemimpinan dan pemerintahan
  10. Risiko dan kontrol

Konteks ESG di Indonesia sendiri terus berkembang pesat. Bursa Efek Indonesia (BEI) telah bergabung dengan United Nations Sustainable Stock Exchanges (SSE) sejak 18 April 2019, sebagai komitmen mendorong transparansi perusahaan terhadap isu ESG.

BEI juga telah menerbitkan berbagai regulasi dan inisiatif, antara lain kewajiban Laporan Berkelanjutan (Sustainability Report) berdasarkan Peraturan OJK No. 51/POJK.03/2017, penyusunan Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB), hingga peluncuran indeks berbasis ESG seperti ESG Leaders dan SRI-KEHATI.

Hasilnya? Berdasarkan Sustainalytics ESG Risk Report 2022, BEI mendapatkan skor ESG 16,9 masuk kategori “low risk”, artinya BEI telah berhasil menerapkan praktik keuangan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Mengenal ESG Score Secara Singkat

ESG score adalah nilai atau skor yang diberikan kepada perusahaan berdasarkan kinerja mereka dalam tiga pilar ESG. 

Skor ini digunakan oleh investor dan pemangku kepentingan untuk mengevaluasi seberapa baik perusahaan mengelola risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola.

Lembaga seperti Sustainalytics, MSCI, dan Bloomberg adalah beberapa penyedia penilaian ESG yang paling diakui secara global. Semakin baik praktik ESG sebuah perusahaan, semakin tinggi nilainya di mata investor yang berorientasi pada keberlanjutan.

ESG score menjadi semakin penting karena banyak dana investasi besar kini mensyaratkan skor ESG minimum sebelum mengalokasikan modalnya ke suatu perusahaan. Artinya, skor ESG yang baik secara langsung membuka akses ke lebih banyak peluang pendanaan.

Langkah Awal Memahami Penerapan ESG

Bagi perusahaan yang baru memulai perjalanan ESG-nya, ada beberapa langkah yang bisa diambil secara bertahap:

1. Identifikasi dampak bisnis saat ini

Mulailah dengan memetakan dampak operasional perusahaan terhadap lingkungan, karyawan, komunitas, dan tata kelola. Ini menjadi baseline untuk menyusun strategi ESG yang relevan.

2. Susun strategi dan target ESG

Tentukan prioritas berdasarkan materialitas, aspek ESG mana yang paling berdampak bagi bisnis dan pemangku kepentingan. Tetapkan target yang terukur dan realistis.

3. Implementasikan program konkret

Mulai dari program yang dampaknya langsung terasa dan mudah dilaporkan. Salah satu langkah yang paling mudah namun berdampak nyata adalah berkontribusi pada program lingkungan yang terverifikasi.

Perusahaan yang lebih awal memahami dan menerapkan environmental social governance akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan, yaitu lebih dipercaya investor, lebih disukai konsumen, dan lebih siap menghadapi regulasi masa depan.

Semakin cepat perusahaan memulai, semakin kuat keberlanjutan yang terbangun. Dan pada akhirnya, bisnis yang baik bagi lingkungan dan masyarakat adalah bisnis yang juga baik untuk masa depannya sendiri.

LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.2 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan