Scroll untuk baca artikel
Lingkungan

Mengenal Desa Warloka, Pesisir Labuan Bajo yang Perlu Dijaga dari Abrasi

8
×

Mengenal Desa Warloka, Pesisir Labuan Bajo yang Perlu Dijaga dari Abrasi

Share this article
mengenal-desa-warloka,-pesisir-labuan-bajo-yang-perlu-dijaga-dari-abrasi
Mengenal Desa Warloka, Pesisir Labuan Bajo yang Perlu Dijaga dari Abrasi

Desa Warloka merupakan wilayah yang memiliki potensi alam, wisata, dan kehidupan masyarakat yang erat dengan pesisir. Namun, potensi tersebut perlu diimbangi dengan upaya menjaga ekosistem, khususnya mangrove.

Penyusutan tutupan mangrove dan alih fungsi lahan dapat memperbesar kerentanan pesisir terhadap abrasi, mengurangi fungsi mangrove sebagai habitat biota dan penyangga kehidupan masyarakat, hingga menimbulkan berbagai polemik antara masyarakat dengan pihak luar.

Example 300x600

Oleh karena itu, rehabilitasi mangrove yang melibatkan masyarakat menjadi salah satu upaya penting untuk menjaga pesisir secara berkelanjutan. Saat ini Desa Warloka menjadi salah satu lokasi LindungiHutan untuk mendukung penanaman mangrove bersama masyarakat, Pokdarwis, serta kelompok lokal lainnya.

Profil Desa Warloka, Kabupaten Manggarai Barat, NTT

Desa Warloka terletak di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, berbatasan dengan Taman Nasional Komodo dan Kawasan Ekonomi Khusus Golo Mori, dengan jarak tempuh sekitar 30 menit sampai satu jam dari Kota Labuan Bajo.

Desa Warloka dikenal sebagai salah satu kampung tertua di pesisir Labuan Bajo sekaligus pelabuhan pertama di Pulau Flores bagian barat. 

Sejak 2019, wilayah pesisirnya berproses memekarkan diri menjadi Desa Persiapan Warloka Pesisir berdasarkan SK Gubernur NTT No. 238/KEP/HK/2020, sekaligus berbatasan langsung dengan Hutan Lindung Wae Wuul.

Pada tahun 2024, Warloka Pesisir ditetapkan sebagai prioritas pertama pembangunan Kampung Nelayan Modern oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Di tengah penetapan tersebut, ekosistem pesisir Warloka menyimpan tutupan mangrove seluas sekitar 34 hektare yang tersebar dalam beberapa kelompok yang terpisah.

Sebagai salah satu lokasi penanaman yang masih baru dalam jaringan LindungiHutan, saat ini terdapat enam kampanye aktif yang berjalan dengan fokus penanaman mangrove Rhizophora, salah satunya kampanye “Selamatkan Bumi, Ibu Pertiwi” yang digalang oleh Aloysius Juni.

Kegiatan penanaman yang dilakukan oleh LindungiHutan di Desa Warloka melibatkan kelompok Pokdarwis sebagai mitra kolaborasi dengan mitra petani utama yakni Rifaldo, pemuda asli Warloka yang menjabat sebagai wakil ketua Pokdarwis Desa Warloka.

Lingkungan dan Ekosistem Pesisir

Mangrove menjadi bagian penting dari bentang pesisir Warloka. Ekosistem ini berfungsi membantu melindungi garis pantai, menjaga kualitas perairan, menyerap karbon, dan menyediakan habitat bagi biota yang turut mendukung kehidupan masyarakat pesisir.

Namun, keberadaannya perlu dijaga di tengah perubahan penggunaan lahan dan perkembangan kawasan yang menyebabkan lahan mangrove di Desa Warloka semakin menyusut.

lahan mangrove di desa warloka

Masyarakat Warloka memang belum pernah mengalami banjir rob yang datang mendadak, tetapi air laut sering naik dan masuk ke sebagian rumah yang berada paling dekat dengan garis pantai saat musim pasang tahunan.

Meskipun warga telah memahami siklus pasang dan antisipasi yang perlu dilakukan, keadaan ini tetap menunjukkan bahwa tegakan mangrove saat ini belum cukup menahan air pasang dan bisa berdampak semakin besar jika penyusutannya terus berlanjut.

Tutupan mangrove yang belum rapat dan masih terpecah juga memperparah abrasi dan erosi yang terus berlangsung. Oleh karena itu, kelompok lokal kini berfokus menjaga dan memadatkan sisa lahan yang ada agar tidak semakin berkurang.

mangrove di desa warloka

Terdapat tiga jenis mangrove yang ditanam oleh kelompok lokal di Desa Warloka, yaitu:

  1. Rhizophora mucronata atau bakau, jenis ini paling banyak ditanam karena dinilai paling tahan pada area yang berhadapan langsung dengan laut, dan juga menjadi fokus penanaman LindungiHutan di Desa Warloka saat ini.
  2. Avicennia yang masih dapat ditemukan meskipun populasinya tidak sebanyak Rhizophora,
  3. Sonneratia yang tumbuh secara alami di sepanjang pesisir.

Selain itu, terdapat beberapa spesies fauna yang teramati di Desa Warloka, di antaranya:

  1. Monyet ekor panjang, satwa ini yang paling sering terlihat. Rifaldo, pemuda lokal atau wakil ketua Pokdarwis Warloka menyebut bahwa satwa tersebut sudah lama ada dan populasinya masih mudah ditemui hingga sekarang, bahkan terbiasa mencari makan sendiri di tepi pantai dengan menangkap ikan di perairan dangkal.
  2. Burung air seperti bangau juga pernah terlihat, meskipun saat ini sudah lama tidak terlihat lagi dan diduga populasinya menyusut jauh.
  3. Beragam burung kecil lain juga cukup sering terdengar suaranya meski jenisnya belum teridentifikasi.

Perubahan paling nyata pada ekosistem pesisir Warloka setelah restorasi terlihat pada kualitas pengelolaannya. Di masa sebelumnya kegiatan penanaman berjalan tanpa jadwal tetap dan bergantung pada ketersediaan bibit yang dicari bersama-sama.

Namun, setelah Pokdarwis aktif sejak tahun 2021 dan kelompok Si Mangrove terbentuk pada tahun 2023, pendekatannya mulai bergeser dari sekadar menanam menjadi menanam, menjaga, merawat, dan memonitor secara berkala setiap satu hingga tiga bulan dengan pembibitan mandiri yang berada tepat di sisi kawasan mangrove.

Hasil lainnya, kawasan ini juga sudah mulai berfungsi sebagai ruang edukasi, ditandai kunjungan berulang kelompok mahasiswa dari Singapura yang datang untuk keempat kalinya guna melihat kembali mangrove yang pernah mereka tanam.

Baca Juga: Mangrove di Pantai Bahagia, Kabupaten Bekasi: Upaya Menghadapi Banjir Rob dan Abrasi

Manfaat Sosial dan Keterlibatan Masyarakat Lokal

Upaya menjaga pesisir Warloka tidak terlepas dari peran masyarakat lokal. Pengembangan Desa Warloka melibatkan dua kelompok konservasi mangrove dengan fokus pengembangan yang berbeda.

Pokdarwis Desa Warloka menaungi kegiatan secara lebih luas, dengan fokus pengembangan ekowisata berbasis alam, sementara pengelolaan harian mangrove dipegang oleh kelompok Si Mangrove.

Sebagaimana hasil perubahan setelah restorasi, aktifnya dua kelompok tersebut menciptakan perubahan sistem pengelolaan yang kini lebih terjadwal dan terorganisir.

Kelompok perempuan atau UMKM ibu-ibu yang beranggotakan sekitar tujuh orang juga ikut terlibat dengan fokus produk yang berbeda setiap kelompok, yaitu pengelolaan sambal, kerupuk, dan kerajinan tangan dari bahan yang bisa didaur ulang.

Salah satu dari ketiga kelompok tersebut anggotanya juga tergabung dalam pengelola Si Mangrove, sehingga koordinasi ketersediaan bahan baku olahan mangrove antara kelompok tani dan kelompok UMKM berjalan cukup dekat.

Di sisi lain, kesadaran masyarakat soal mangrove juga masih pasif, karena sebagian warga memahami pentingnya mangrove secara umum namun masih memandangnya sebagai hal biasa selama dampak kerusakan belum terasa langsung.  

Meski begitu, kehadiran LindungiHutan sebagai platform penanaman yang dikenal luas turut memperkuat keyakinan warga bahwa menjaga mangrove memang perlu dilakukan bersama.

Pentingnya upaya menjaga ekosistem pesisir juga ditunjukkan melalui keberlangsungan tradisi lokal di Desa Warloka, salah satunya tradisi Mappaleppe dari suku Bajo yang merupakan upacara permohonan keselamatan kepada Tuhan dan leluhur sebelum melaut. Masyarakat percaya bahwa laut adalah sumber kehidupan yang harus dijaga.

Berdasarkan cerita tetua komunitas Bugis-Bajo setempat, dahulu juga terdapat praktik doa keselamatan sebelum melaut kepada sosok yang disebut Karang Tua, sesepuh laut yang dipercaya menjaga keselamatan nelayan.

Namun, tradisi tersebut kini semakin jarang dilakukan seiring pengerasan pantai yang membuat masyarakat pesisir kehilangan “halaman laut” mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kelestarian tradisi juga dapat ikut terancam akibat kerusakan ekosistem.

Melalui kolaborasi bersama LindungiHutan, masyarakat berharap program ini dapat terus mendukung pelestarian alam, khususnya edukasi masyarakat untuk menjaga dan memonitor mangrove secara berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan tanam yang berhenti setelah penanaman selesai.

Rifaldo, wakil ketua Pokdarwis Desa Warloka juga berharap akan semakin banyak pihak, mulai dari donatur individu, korporasi, yayasan, hingga komunitas kecil yang dapat turut ambil bagian sehingga penanaman di Warloka memberi dampak yang nyata dan berkelanjutan bagi desanya.

Kehidupan Ekonomi dan Potensi Wisata Desa Warloka yang Bernilai

Kehidupan ekonomi Desa Warloka dikenal sebagai perkampungan nelayan, di mana mayoritas warga menggantungkan hidup dari hasil laut.

Berdasarkan data terbaru dari InfoMabar, saat ini Desa Warloka telah resmi dilaunching sebagai lokus Program Kampung Nelayan BSI yang menjadi harapan untuk mengubah wajah kawasan pesisir Desa Warloka menjadi pusat ekonomi yang mandiri.

Namun, ketergantungan ekonomi terhadap hasil laut, kondisi cuaca, dan gelombang menyebabkan tingkat penghasilan nelayan menjadi tidak menentu. Pada kondisi cuaca buruk nelayan bisa tidak melaut hingga satu bulan penuh, sehingga pendapatan mereka dapat terancam pada situasi tersebut.

Menciptakan peluang ekonomi baru menjadi salah satu solusi untuk menghadapi tantangan tersebut. Meskipun kolaborasi LindungiHutan di Desa Warloka baru berjalan, geliat ekonomi berbasis mangrove di luar penanaman sudah mulai terlihat, ditandai keberadaan tiga kelompok UMKM ibu-ibu yang aktif mengolah produk berbahan hasil laut dan pesisir.

Kelompok UMKM tersebut sempat mengikuti pelatihan pengolahan sirup berbahan mangrove di Kota Labuan Bajo, namun produk ini belum diproduksi secara mandiri di Warloka karena keterbatasan alat pengolahan yang dinilai mahal dan sulit didapat di lokasi.

Dari sisi wisata, potensi paket wisata terpadu menjadi salah satu peluang yang mulai dilihat yakni dengan menggabungkan penjelajahan mangrove, kunjungan ke Situs Batu Meja, bukit dengan panorama laut, dan cerita nelayan tradisional setempat menjadi satu rangkaian aktivitas edukasi dan wisata alam.

edukasi penanaman mangrove di desa warloka

Dalam catatan Labuan Bajo Voice, kekayaan satwa di Warloka juga menjadi potensi pendukung dalam menciptakan konsep wisata penjelajahan hutan mangrove dengan perahu kecil untuk menyaksikan berbagai jenis burung dan satwa liar, sekaligus berfungsi sebagai benteng alami yang melindungi desa dari abrasi.

Hingga tanggal 11 Desember 2025 Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan secara resmi telah meluncurkan Desa Wisata Pesisir Warloka sebagai bagian dari rangkaian program Fasilitasi Masyarakat Desa Wisata Tahun Anggaran 2025.

Baca Juga: Desa Sukawali Tangerang: Merawat Mangrove, Menjaga Masa Depan Pesisir Cisadane

Berikan Kontribusi Anda untuk Menjaga Pesisir Desa Warloka

Program penanaman LindungiHutan di Desa Warloka bersama kelompok lokal diarahkan sebagai kegiatan rehabilitasi yang dapat membantu menjaga garis pantai, mendukung konservasi pesisir, sekaligus memperkuat keberlangsungan perekonomian masyarakat.

Perusahaan dan brand dapat menjadikan Desa Warloka sebagai bagian dari program CSR, employee engagement, atau aksi lingkungan lainnya. Individu juga dapat berkontribusi melalui donasi pohon.

Ingin ikut menjaga pesisir Labuan Bajo? Kunjungi laman Desa Warloka dan mulai kontribusimu melalui kampanye alam atau donasi pohon.

Mari Pulihkan Pesisir Desa Warloka dengan Menanam Mangrove