LindungiHutan Insight
- Pantai Bahagia, Kabupaten Bekasi adalah kawasan pesisir yang menghadapi abrasi dan banjir rob akibat alih fungsi lahan.
- Bermitra dengan Pokdarwis Alipbata sejak 2018, LindungiHutan turut melakukan konservasi mangrove untuk menyelamatkan Pantai Bahagia.
- Upaya konservasi mangrove menunjukkan dampak positif, tetapi perawatan secara konsisten serta pengembangan sektor ekonomi dan sosial bagi masyarakat masih diperlukan.
Pantai Bahagia merupakan wilayah pesisir di Kabupaten Bekasi yang menghadapi abrasi dan banjir rob akibat alih fungsi lahan. Kondisi ini tidak hanya mengancam ekosistem pesisir, tetapi juga berdampak bagi kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Karena itu, upaya konservasi menjadi penting dilakukan untuk menjaga keberlanjutan wilayah pesisir Pantai Bahagia.
Artikel ini akan membahas lebih dalam mengenai Pantai Bahagia, kondisi lingkungannya, serta berbagai tantangan yang dihadapi oleh masyarakat di kawasan tersebut.
Profil Lokasi Penanaman Pantai Bahagia
Pantai Bahagia merupakan desa pesisir yang terletak di Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Desa ini memiliki luas wilayah administratif sebesar 2.513,169 hektare dan merupakan hasil pemekaran dari wilayah Muara Gembong pada 1984.
LindungiHutan memiliki titik penanaman dan menjalankan aktivitas komunitas di Pantai Bahagia yang terpusat di Kampung Beting, salah satu dari tiga kampung pesisir di Desa Pantai Bahagia.
Kampung Beting dulunya dikenal dengan sebutan “Kampung Dolar” karena hasil tambak udang dan bandeng yang sangat menguntungkan.
LindungiHutan telah bermitra dengan kelompok setempat, yaitu Pokdarwis Alipbata sejak 2018. Kemitraan tersebut masih berlangsung hingga saat ini.
Salah satu mitra petani dalam kemitraan ini adalah Sonhaji, seorang Petani Penggerak sekaligus ketua Pokdarwis Alipbata. Sonhaji menjelaskan bahwa pada era sebelum tahun 2000, satu kakap (petak tambak) dapat menghasilkan hingga Rp1 juta dalam sehari.
Sonhaji telah aktif dalam kegiatan lingkungan sejak 2013. Sepanjang kiprahnya, ia tercatat telah menanam lebih dari 300.000 pohon mangrove.
Kondisi Kawasan Mangrove dan Ancaman di Pantai Bahagia
Sebelum tahun 1998, wilayah pesisir Kampung Beting masih memiliki jalur hutan mangrove alami sepanjang sekitar satu kilometer dari bibir pantai. Namun, tingginya keuntungan usaha tambak udang dan bandeng dinilai jauh lebih menjanjikan dibanding mempertahankan mangrove.
Keuntungan dari usaha tambak udang dan bandeng kemudian mendorong warga untuk mengubah kawasan mangrove menjadi tambak secara besar-besaran sehingga kondisi pesisir pada saat itu menjadi gundul dan kehilangan sabuk hijau pelindungnya.
Tindakan tersebut memicu abrasi besar sejak tahun 2000. Dampaknya mulai terasa pada 2005, ketika banjir rob merendam rumah warga setiap kali pasang purnama datang.
Puncaknya pada 2013, tiga kampung di bagian terluar kawasan, yaitu Sungai Jeruju, Beting Ujung (Beting Tinggi), dan Encle, hilang total dan sekitar 150 kepala keluarga harus mengungsi ke wilayah yang lebih aman.
Peristiwa tersebut mendorong warga memulai gerakan penanaman mangrove secara swadaya, yang kini membentuk kelompok-kelompok penggerak konservasi di Kampung Beting.

Masyarakat sebagai Penggerak Konservasi
Ada dua kelompok warga yang menjadi ujung tombak program lingkungan di Kampung Beting, yaitu Pokdarwis Alipbata dan Kelompok Kebaya (Kelompok Bahagia Berkarya).
Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Alipbata berawal dari inisiatif gerakan SeMuGo (Selamatkan Muara Gembong), sebuah gerakan informal tanpa struktur organisasi resmi yang digagas oleh anak-anak muda asal Bekasi yang memiliki kepedulian terhadap alam.
Kelompok Kebaya (Kelompok Bahagia Berkarya) berawal dari kelompok simpan-pinjam bernama “Kenari” yang dibentuk pada 2013. Kelompok ini beranggotakan ibu-ibu yang berkumpul untuk mengisi waktu luang sekaligus mengolah hasil mangrove menjadi berbagai produk, seperti dodol. Pada 2017, nama kelompok tersebut resmi berganti menjadi “Kebaya”, yang diambil dari nama Desa Bahagia dan mencerminkan harapan agar para anggotanya terus berkarya.
Meskipun konservasi diperlukan untuk menghadapi abrasi, upaya penanaman mangrove pada awalnya sempat menimbulkan pro dan kontra di kalangan warga.
Pemilik tambak, khususnya, khawatir karena menganggap tambak yang rimbun oleh mangrove akan sulit menghasilkan tangkapan.
Untuk mengatasi hal ini, kelompok menerapkan skema sewa lahan kepada pemilik tambak sebagai bentuk kompensasi, meski nilainya masih relatif kecil, sehingga warga tetap mendapatkan nilai balik atas lahan yang digunakan untuk penanaman.
Seiring waktu, persepsi warga mulai bergeser. Warga mulai mendukung aktivitas konservasi, ditandai dengan semakin banyaknya pemilik lahan yang menawarkan sendiri lahannya untuk ditanami mangrove.
Potensi Ekonomi, Sosial, dan Budaya di Pantai Bahagia
Pantai Bahagia tidak hanya memiliki potensi ekologis, tetapi juga menyimpan nilai sosial dan budaya serta potensi ekonomi yang dapat dikembangkan.
Sosial dan Budaya
Tidak hanya mangrove, kawasan Pantai Bahagia juga memiliki kearifan lokal yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Nadran atau Pesta Laut merupakan tradisi tahunan masyarakat Desa Pantai Bahagia yang telah berlangsung secara turun-temurun sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil laut. Tradisi ini dilaksanakan setiap bulan Juni atau Juli di kawasan Muara Bendera.
Perayaan terbaru pada Juli 2026 diikuti sedikitnya 700 hingga 800 kapal nelayan, dengan prosesi inti berupa pelarungan sesaji kepala kerbau.
Selain kepala kerbau, sesaji turut mencakup aneka buah-buahan, makanan, dan kue yang dihias di atas perahu sebelum dilarung ke laut sebagai simbol “kami dapat dari laut, kami kembalikan ke laut”.
Selain Nadran, warga juga mengenal “pesta rajungan” yang dirayakan saat musim panen rajungan tiba sebagai bentuk syukur atas hasil tangkapan tersebut.
Ekonomi dan Potensi Lainnya
Nelayan tangkap menjadi mata pencaharian utama warga Kampung Beting setelah tambak rusak akibat abrasi. Kaum laki-laki umumnya melaut secara rutin (along), sementara sebagian ibu rumah tangga mengolah hasil mangrove melalui Kelompok Kebaya untuk memperoleh penghasilan tambahan tanpa meninggalkan keluarga.
Ketergantungan warga pada ekosistem pesisir membuat penghasilan mereka rentan. Saat tambak masih produktif, penghasilan dapat mencapai sekitar Rp1 juta per hari, tetapi setelah abrasi menghancurkan tambak, penghasilan mereka hanya mencapai sekitar Rp50.000.
Di tengah kondisi tersebut, penanaman mangrove dilakukan bersama LindungiHutan dan sejumlah mitra lainnya turut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat yang terlihat melalui dua jalur:
- Skema sewa lahan tambak untuk penanaman, yang memberi pemasukan tambahan meski nilainya masih kecil.
- Diversifikasi produk olahan mangrove oleh Kelompok Kebaya yang kini mencapai 12 jenis olahan dari bahan mangrove (dodol, keripik buah, kumpet buah mangrove, stik, kacang umpet, keripik daun, kopi, dan tepung dari buah api-api).
Kelompok Kebaya juga tengah menjajaki produk baru berbasis hasil laut, seperti keripik ikan dan udang crispy. Produk-produk tersebut masih dalam tahap uji coba dan menjadi bagian dari upaya memperluas pilihan sumber pendapatan masyarakat, tidak hanya bergantung pada produk olahan mangrove.

Potensi ekonomi kawasan tidak hanya berasal dari produk olahan mangrove. Kampung Beting juga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata mangrove.
Kawasan ini juga memiliki potensi berupa jalur trekking, keberadaan satwa ikonik seperti Lutung Jawa dan burung air, serta panorama pantai dan laut. Bahkan, kelompok pengelola telah mengantongi Surat Keputusan (SK) resmi dari Dinas Pariwisata untuk pengembangan kawasan ekowisata.
Meski demikian, pengembangan wisata di kawasan ini masih terkendala oleh akses jalan yang terbatas serta masalah sanitasi. Warga masih membuang sampah ke sungai karena belum tersedianya fasilitas pembuangan sampah dan MCK yang memadai di kawasan ini.
Upaya Konservasi Mangrove di Pantai Bahagia
Upaya konservasi mangrove sejauh ini sudah berdampak positif bagi masyarakat dan lingkungan, namun konsistensi merawat masih diperlukan.
Seiring dengan tumbuhnya kembali mangrove di sepanjang pesisir, dampak hantaman ombak terhadap pemukiman warga mulai berkurang. Meskipun air laut masih dapat masuk ke pemukiman saat pasang, karena kawasan tersebut belum memiliki tanggul pelindung permanen.
Selain itu, kembalinya mangrove di kawasan tersebut turut mendorong kemunculan kembali kerang-kerangan dan bibit udang yang sebelumnya jarang ditemukan.
Biota tersebut kini berkembang biak di sekitar akar mangrove dan dapat ditangkap serta dijual oleh warga sebagai sumber pendapatan tambahan selain hasil tangkapan dari laut lepas.
LindungiHutan telah mempunyai upaya konservasi di kawasan ini. Hingga saat ini, program LindungiHutan di lokasi ini telah melibatkan 152 kampanye alam, 5.071 orang, dengan 116.402 pohon tertanam dan estimasi serapan karbon 73.2k kg CO₂eq.
Baca Juga: Pakuwon Group Tanam 1.105 Mangrove di Pantai Bahagia, Kabupaten Bekasi
Penutup
Kondisi pesisir Pantai Bahagia saat ini menunjukkan kebutuhan penanaman mangrove kembali. Untuk menjaga keberlanjutan upaya tersebut, diperlukan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat dan sektor swasta.
Setiap kontribusi dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk menjaga pesisir dan keberlanjutan kehidupan masyarakat di Pantai Bahagia, Kabupaten Bekasi.
Anda, secara pribadi maupun bersama perusahaan, bisa berkontribusi dalam menjaga dan memulihkan mangrove Pantai Bahagia melalui donasi pohon maupun kampanye alam. Silakan menghubungi pihak LindungiHutan atau klik buka kampanye di tombol di bawah ini.
Dukung Pemulihan Pantai Bahagia untuk Masa Depan Pesisir







