LindungiHutan Insight
- Desa Sukawali Tangerang merupakan kawasan pesisir di muara Sungai Cisadane yang memiliki potensi mangrove dan kehidupan masyarakat yang erat dengan ekosistem pesisir.
- Pesisir Sukawali menghadapi abrasi, sampah kiriman, aktivitas tambak, dan banjir rob yang mengancam ekosistem mangrove serta kehidupan masyarakat.
- Bersama LindungiHutan, siapa pun dapat berkontribusi melalui penanaman mangrove, donasi pohon, kampanye alam, maupun program CSR dan ESG untuk memulihkan pesisir Sukawali.
Desa Sukawali Tangerang merupakan kawasan pesisir yang terus berupaya memulihkan ekosistem mangrove melalui kolaborasi masyarakat dan berbagai pihak. Sebelumnya, wilayah ini menghadapi sejumlah tantangan seperti abrasi, sampah pesisir, aktivitas tambak, dan ancaman banjir rob.

Melalui Kampung Bahari Nusantara (KBN) Sukawali, upaya restorasi dilakukan secara bertahap untuk mengembalikan fungsi mangrove sekaligus membuka peluang ekonomi berkelanjutan.
Sejak 2022, Desa Sukawali juga menjadi salah satu lokasi restorasi mangrove LindungiHutan yang terbuka bagi berbagai pihak untuk turut mendukung upaya konservasi pesisir.
Profil Desa Sukawali Tangerang: Pesisir Muara Cisadane dengan Potensi Mangrove
Desa Sukawali merupakan wilayah pesisir yang berada di Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang. Letaknya yang berada di kawasan muara Sungai Cisadane menjadikan wilayah ini memiliki peran ekologis penting sebagai tempat bertemunya aliran sungai dan laut.
Kondisi tersebut membuat kawasan Sukawali menjadi tempat berkumpulnya sedimen dan material dari wilayah hulu, termasuk sampah yang terbawa aliran sungai. Di sisi lain, kawasan ini memiliki potensi besar untuk pengembangan ekosistem mangrove yang berperan dalam menjaga keseimbangan pesisir.
Kehidupan masyarakat Desa Sukawali juga tidak terlepas dari kawasan pesisir. Berbagai aktivitas dan mata pencaharian, seperti nelayan, petani tambak, pembudidaya mangrove, hingga usaha lainnya, bergantung pada keberlanjutan lingkungan sekitar.
Kedekatan masyarakat dengan laut juga tercermin dalam tradisi Pesta Laut atau Nadran yang dilaksanakan setiap bulan Maulud sebagai bentuk syukur atas hasil laut. Tradisi ini mencerminkan eratnya hubungan masyarakat dengan laut sekaligus pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir sebagai sumber penghidupan.
Upaya menjaga kawasan tersebut salah satunya dilakukan bersama Kampung Bahari Nusantara (KBN) Sukawali, yang sebelumnya dikenal sebagai Remaja Tabur Mangrove atau Kelompok Tani Remaja Tanjung Burung. KBN ini telah bergerak dalam kegiatan konservasi sejak 2016 sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap kondisi pesisir yang mengalami tekanan lingkungan.
Menurut Syahrul atau yang akrab disapa Zabrun, Ketua KBN Sukawali, kegiatan konservasi dilakukan secara bertahap melalui penanaman dan pemeliharaan mangrove untuk memulihkan kawasan pesisir. Selain itu, Ahmad Marbawi atau Mas Bawi turut berperan sebagai salah satu pembina KBN dalam mendampingi perkembangan kegiatan konservasi.
Tantangan Pesisir Desa Sukawali Tangerang: Ancaman Abrasi, Sampah, dan Banjir Rob
Sebelum dilakukan restorasi, kawasan pesisir Desa Sukawali Tangerang menghadapi berbagai tekanan lingkungan akibat perubahan penggunaan lahan, aktivitas tambak, permukiman, serta permasalahan sampah pesisir.
Tekanan tersebut turut memengaruhi keberadaan tutupan mangrove yang berperan sebagai perlindungan alami kawasan pesisir. Berkurangnya tutupan mangrove membuat kawasan ini semakin rentan terhadap gelombang laut, abrasi, dan ancaman banjir rob.

Selain berpotensi mengganggu permukiman, tambak, dan aktivitas ekonomi masyarakat, abrasi juga menjadi tantangan bagi keberlanjutan kawasan pesisir. Di sisi lain, sampah kiriman dari wilayah hulu dapat menumpuk di kawasan pesisir, menghambat pertumbuhan bibit mangrove, dan menurunkan kualitas habitat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa restorasi mangrove di Sukawali tidak hanya bertujuan menanam pohon, tetapi juga mengembalikan fungsi ekologis kawasan sebagai pelindung alami pesisir sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Baca Juga: BRI Danareksa Sekuritas Tanam 1.000 Mangrove untuk Lindungi Pesisir Desa Sukawali
Restorasi Mangrove Sukawali dan Kolaborasi Bersama LindungiHutan
Upaya pemulihan mangrove Desa Sukawali Tangerang berkembang melalui kolaborasi masyarakat lokal dan berbagai pihak.
Melalui kolaborasi tersebut, LindungiHutan bersama masyarakat Sukawali melakukan restorasi mangrove untuk memperkuat perlindungan pesisir sekaligus mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Dalam proses penanaman mangrove, kawasan Sukawali menghadapi tantangan gelombang, arus laut, serta tumpukan sampah yang terbawa dari aliran sungai.

Menurut Syahrul, kondisi tersebut mendorong pengembangan alat pemecah ombak (APO) dengan memanfaatkan tumpukan sampah yang sebelumnya menjadi masalah sebagai bagian dari struktur APO, sekaligus membantu melindungi area tanam mangrove.
Berbagai inovasi dan inisiatif yang dilakukan kini mulai menunjukkan hasil nyata. Hingga Agustus 2026, kolaborasi tersebut telah menghasilkan 38.738 pohon tertanam melalui 106 kampanye alam yang melibatkan 1.760 orang, dengan estimasi serapan karbon sebesar 16 ribu kg CO₂eq.
Pemulihan ini juga mulai terlihat dari kondisi mangrove yang ditanam, dengan akar pohon berusia 3-4 tahun kini cukup kuat untuk berfungsi sebagai pengganti alami APO ketika struktur buatan tersebut nantinya rusak.
Restorasi mangrove Sukawali menjadi bukti bahwa pemulihan lingkungan dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat melalui kolaborasi berkelanjutan.
Keanekaragaman Hayati dan Fungsi Ekologis Mangrove Sukawali
Mangrove Desa Sukawali Tangerang memiliki fungsi ekologis penting bagi kawasan pesisir. Vegetasi mangrove membantu mengurangi energi gelombang, menangkap sedimen, mencegah abrasi, serta menjadi habitat bagi berbagai jenis biota laut.
Jenis mangrove yang ditanam di kawasan Sukawali didominasi oleh kelompok bakau (Rhizophora spp.), seperti Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, dan Rhizophora apiculata. Jenis ini dipilih karena memiliki sistem perakaran yang kuat sehingga mampu beradaptasi dengan kondisi pesisir berlumpur dan membantu memperkuat perlindungan garis pantai.

Selain jenis Rhizophora, beberapa jenis lain yang dikembangkan antara lain Avicennia alba dan Avicennia marina. Pemilihan jenis mangrove dilakukan berdasarkan kemampuan adaptasi terhadap kondisi lingkungan serta manfaat ekologis yang diberikan.
Keberadaan mangrove Sukawali juga mendukung kehidupan berbagai fauna pesisir, seperti ikan, udang, kepiting bakau, dan burung pesisir. Ekosistem ini menjadi ruang penting bagi keberlangsungan rantai makanan sekaligus menjaga keseimbangan kawasan pesisir.
Dampak Sosial Konservasi Mangrove bagi Masyarakat Sukawali
Konservasi mangrove di Desa Sukawali Tangerang turut membawa perubahan dalam cara pandang masyarakat terhadap keberadaan mangrove. Jika sebelumnya mangrove dianggap belum memberikan manfaat ekonomi secara langsung, kini masyarakat mulai memahami perannya dalam menjaga pesisir dan mendukung kehidupan mereka.
Menurut Syahrul dan Mas Bawi, perubahan terbesar terlihat dari meningkatnya keterlibatan masyarakat dalam kegiatan konservasi. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam menjaga keberlanjutan kawasan.
Mas Bawi menuturkan filosofi kerja kelompok dengan mengutip peribahasa Madura “tetesan kosong”, yang menggambarkan perkataan tanpa aksi sebagai sesuatu yang sia-sia. Karena itu, upaya menyadarkan masyarakat dilakukan bukan sekadar melalui penjelasan, tetapi dengan mengajak mereka terlibat langsung dalam aksi, seperti menanam dan merawat mangrove.
Selain penanaman, masyarakat juga mengembangkan pembibitan mangrove secara mandiri yang membuka peluang penghasilan tambahan sekaligus memperkuat kemandirian.
Potensi Ekonomi dan Ekowisata Mangrove Desa Sukawali Tangerang
Pemulihan kawasan mangrove Sukawali tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Salah satunya melalui pengembangan konsep silvofishery, yaitu perpaduan antara konservasi mangrove dan kegiatan budidaya perikanan seperti bandeng, kakap, dan udang. Pendekatan ini memungkinkan masyarakat tetap memperoleh manfaat ekonomi tanpa mengurangi fungsi ekologis mangrove.
Peluang ekonomi juga dikembangkan melalui pembibitan mangrove secara mandiri. Masyarakat dapat terlibat dalam penyediaan dan perawatan bibit, sehingga kegiatan konservasi sekaligus membuka peluang penghasilan tambahan.
Selain itu, kawasan mangrove Sukawali memiliki potensi sebagai lokasi ekowisata dan edukasi mangrove, serta pengembangan produk olahan berbasis tanaman pesisir yang mendukung ekonomi kreatif lokal.
Baca Juga: Langkah Nyata R17 Group Pulihkan Ekosistem Pesisir dengan Menanam 1.000 Mangrove di Desa Sukawali
Peluang Kolaborasi Konservasi di Desa Sukawali Tangerang
Desa Sukawali Tangerang menjadi salah satu lokasi yang terbuka untuk berbagai bentuk kolaborasi konservasi. Perusahaan dan brand dapat berkontribusi melalui program CSR maupun ESG, sedangkan komunitas dan individu dapat ikut berperan melalui kampanye alam serta donasi pohon.
Setiap kontribusi dapat membantu memperkuat ekosistem mangrove, meningkatkan tutupan hijau pesisir, mengurangi risiko abrasi, serta mendukung keberlanjutan ekonomi masyarakat sekitar.
Melalui kolaborasi bersama LindungiHutan, aksi sederhana seperti penanaman satu pohon mangrove dapat menjadi bagian dari upaya besar dalam menjaga pesisir Indonesia.
Penutup
Desa Sukawali Tangerang menjadi bukti bahwa kawasan pesisir yang menghadapi ancaman abrasi, sampah, dan degradasi lingkungan masih memiliki peluang besar untuk dipulihkan.
Melalui keterlibatan masyarakat, Kampung Bahari Nusantara, tokoh penggerak lokal, dan berbagai pihak pendukung, kawasan yang sebelumnya rentan kini mulai berkembang menjadi ekosistem mangrove yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Upaya menjaga Sukawali tidak berhenti pada penanaman pohon, tetapi juga tentang membangun masa depan pesisir yang lebih tangguh melalui konservasi, pemberdayaan ekonomi, dan kolaborasi berkelanjutan.
Mari ikut mendukung pemulihan Desa Sukawali Tangerang melalui kampanye alam, program CSR, maupun donasi pohon bersama LindungiHutan untuk mewujudkan pesisir yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Mari Bantu Pulihkan Desa Sukawali untuk Lindungi Masa Depan Pesisir







