Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Solusi Buku Yogyakarta, Ruang Kolaborasi, Membaca dan Menyeruput Kopi

32
×

Solusi Buku Yogyakarta, Ruang Kolaborasi, Membaca dan Menyeruput Kopi

Share this article
solusi-buku-yogyakarta,-ruang-kolaborasi,-membaca-dan-menyeruput-kopi
Solusi Buku Yogyakarta, Ruang Kolaborasi, Membaca dan Menyeruput Kopi
Solusi Buku Yogyakarta, Ruang Kolaborasi, Membaca dan Menyeruput Kopi
Solusi Buku Yogyakarta, Ruang Kolaborasi, Membaca dan Menyeruput Kopi

Solusi Buku Yogyakarta, Ruang Kolaborasi, Membaca, dan Menyeruput Kopi | Featured & Travel | Januari 2026

Sejak 2025 dan aktif menangani urusan operasional indie publisher Annie Nugraha Mediatama (ANM), saya jadi lebih banyak meluangkan waktu untuk berkutat dalam dunia kepenulisan buku. Rangkaian pekerjaan yang akhirnya mengajak saya untuk menyusur beragam perpustakaan dan ruang baca di berbagai tempat di tanah air

Example 300x600

Rutin menyusur lewat berbagai media sosial (khususnya Instagram) saya menemukan Yogyakarta sebagai salah satu basis bertumbuhnya book store, library, and cafe yang cukup menarik perhatian. Rancang bangunnya menarik dan fungsional. Interior design nya menghadirkan keunikan, estetika yang cantik, dan nyaman untuk berlama-lama. Apalagi kemudian sang pemilik venue menambah sebuah cafe untuk ngopi dan menikmati aneka camilan. Bahkan ada yang berwujud restoran dengan konsep sajian tertentu yang terhitung sebagai makan besar.

Dari semua penelusuran inilah saya kemudian menemukan Solusi Buku yang berada di Sleman, Yogyakarta. Ruang kolaborasi, membaca, dan menyeruput kopi yang hangat menyenangkan.

Mengapa Yogyakarta? Karena daerah istimewa inilah yang memegang tampuk tertinggi sebagai jawara minat membaca di tanah air. Jadi gak heran, banyak kegiatan penerbitan buku dan rentengan kegiatan literasi lainnya yang berkembang dengan baik di sini.

Solusi Buku Yogyakarta, Ruang Kolaborasi, Membaca dan Menyeruput Kopi

Bertamu ke Solusi Buku

Mudah banget bagi Mas Adi – yang mengantarkan saya – untuk menemukan posisi Solusi Buku di Sleman lewat GMaps. Saya yang sudah berulangkali ke kawasan ini pun cepat paham dengan jalurnya.

Maklum Dora. Biasa disuruh nganter tamu dan nyari alamat orang.

“Ini mah gak jauh dari Shira Media yang pernah ibuk kunjungi dulu loh,” jelas Mas Adi mengingatkan saya yang langsung mengangguk paham. Kenapa gak sekalian mampir waktu itu ya? Ah, baru keinget. Dulu itu saya harus mampir ke dua tempat lagi sebelum akhirnya check-in di salah satu hotel di Prawirotaman. Kalau sudah “terduduk” di perpustakaan tuh saya bisa lama banget ngejogrok. Lupa waktu. Betah maksimal. Dan di waktu itu, saya bahkan menghabiskan hampir setengah hari di Shira Media.

Saat sampai di Jl. Karangayar Raya di mana Solusi Buku berada, pintu gerbang depan sedang digeser oleh petugas keamanan. Jadi saya datang pas tempat ini buka dan jadi tamu pertama. Awalnya saya kira dalam rangka menyambut saya tapi ternyata memang mereka baru buka. Ih, sudah ke-ge-er-ran dulu akutu. Seorang petugas keamanan mengarahkan Mas Adi untuk parkir persis di depan ruko. Cukup lapang. Setidaknya bisalah menampung 5-6 kendaraan roda empat dan belasan motor.

Saya pun turun dengan semangat luar biasa sembari meluruskan badan.

Begitu berada di depan fasad ruko bercat putih, yang langsung tertanam di netra saya lebih dulu adalah bahwa saya sedang berada di sebuah area tertutup yang dimiliki oleh Solusi Buku. Tanah mereka dikelilingi pagar yang lumayan tinggi dengan rumah kecil satpam di salah satu sudut. Di tanah yang besar ini ada 3 (tiga) buah ruko dua lantai di sisi kiri pintu masuk. Satu untuk Solusi Buku, sementara di sebelahnya ada kantor khusus untuk melayani pengiriman dan penerimaan barang serta kantor lainnya (yang ini tidak saya tanyakan untuk apa). Lalu ada bangunan 2 lantai yang cukup besar di sisi kanan. Di antara 3 ruko dan bangunan 2 lantai ini ada jalan aspal menuju sisi belakang masing-masing bangunan. Jalurnya sedikit turun. Jadi semua yang ada di belakang ini posisi bangunannya lebih rendah dari yang di depan.

Awalnya tadi saya kira di belakang ini ada cafe atau rumah makan yang tersembunyi. Tapi ternyata saya keliru. Saat saya berbalik lagi ke depan, tak lama ada 2 mobil box tertutup mengantarkan barang. Kesibukan un-loading pun terjadi dengan suara gesekan paket yang banyak luar biasa. What a good business indeed.

Belakangan atau beberapa bulan kemudian saat saya bertemu dengan tim manajemen Kompas Gramedia, saya mengetahui bahwa Solusi Buku adalah salah satu distributor besar bagi mereka. Oalah. Pantas aja saat itu saya lihat berkotak-kotak besar terikat rapi di masukkan satu persatu ke gudang buku di bagian belakang itu.

Baiklah. Mari kembali ke depan.

Saya sempat berdiri tegak memperhatikan tulisan yang terpampang di fasad bangunan. Ada tulisan Solusi Buku yang diikuti dengan jargon “Collaborative Space and Coffee” Saya langsung paham. Solusi Buku berarti “menyediakan diri” untuk berkolaborasi dengan pihak mana pun sembari juga menyajikan kopi. Saya memaknai bagian akhir dulu. Karena apalah artinya membaca, duduk berlama-lama, jika tidak disertai – setidaknya – oleh secangkir bahkan bercangkir-cangkir kopi. Plus camilan jika lambung juga minta diisi dengan jajanan.

Ada dua set meja dan kursi rotan untuk ngaso dan tempat khusus untuk para ahli hisab di area/teras depan. Ada juga rak sepatu yang menandakan bahwa saya harus melucuti alas kaki yang saya kenakan jika ingin masuk.

Dinding depan ini dikuasai oleh kaca dengan lis kayu yang sudah diplitur. Jadi jika mau selintas mengintip, kita bisa banget melongok situasi di dalam. Setidaknya apa saja yang ada di lantai satu.

Sapaan “selamat datang” yang dilontarkan oleh seorang petugas pria yang sedang duduk bekerja di depan laptop, persis menghadap ke sisi luar, membuat saya cukup terkejut. Senyum semringah dan termanis yang saya miliki langsung merekah. Lelaki sumeh khas pria Jawa ini tiba-tiba mengenalkan diri dan mengajukan tangannya untuk bersalaman. Saya sempat kaget. Gak siap menerima tawaran keramahan seperti itu.

Lelaki yang kemudian saya ketahui bernama Duta (bukan Sheila on 7) ini mengenalkan diri sebagai salah seorang person-in-charge Solusi Buku. Dengan sigap dia menarikkan satu bangku tinggi di depan meja yang juga jangkung untuk saya duduk. Letaknya strategis banget. Di sudut kanan depan pintu masuk. Posisi yang memungkinkan saya menebar pandangan ke seluruh sisi lantai satu.

Mas Duta duduk di hadapan saya, menutup laptop, dan menghentikan kerja. Saya loh tidak janjian apa-apa dan eh gak nyangka bakal ketemu orang yang tepat untuk bertanya-tanya tentang Solusi Buku. Kondisi yang persis saya alami saat main ke Shira Media. Langsung punya kesempatan emas bertemu dengan Mas Cahyo, CEO dari Shira Media. Beliau pun saat itu ramah menyambut dan menanggapi obrolan saya yang memang datang dengan penuh rasa penasaran.

Solusi Buku Yogyakarta, Ruang Kolaborasi, Membaca dan Menyeruput Kopi

Fasilitas yang Nyaman dan Menyenangkan

Dari penjelasan Mas Duta lah saya mengetahui bahwa ruko dua lantai ini dibagi menjadi dua fungsi. Lantai bawah digunakan untuk penjualan buku, minuman dan makanan, lalu ada beberapa meja untuk membaca.

Semua rak buku kayu di lantai satu ini dipasang menempel ke dinding. Sederhana aja bentuknya. Selain rak tinggi juga ada rak-rak kecil yang mendekat ke dinding kaca depan. Lalu ada satu meja khusus yang menampilkan beberapa buku baru dan buku yang tercatat memiliki angka penjualan yang mengagumkan. Area best seller yang pastinya diidam-idamkan oleh banyak penulis.

Buku yang dijual juga banyak ragamnya. Mulai dari novel fiksi dan non-fiksi, buku terjemahan, buku pendidikan, pengembangan diri, dan masih banyak lagi. Semua berjajar rapi dan dikelompokkan dengan baik. Dari Mas Duta saya mendapatkan informasi bahwa buku-buku terjemahan dari novel-novel Korea Selatan banyak dapat perhatian. Saya sendiri pernah membaca beberapa di antaranya. Menghadirkan rangkaian judul lucu menggelitik, para penulis Korea sepertinya punya sense-of-humor and sensitivity yang gak main-main. Saya pernah juga beli yang bertuliskan huruf Hangeul karena di masa itu saya lagi getol belajar menulis alfabet fonetik yang dihadirkan sejak 1443 (abad ke-15) di Korea. Sekedar untuk melancarkan membaca tanpa ngotot mencari terjemahannya.

Sementara di lantai atas disediakan sebuah ruang lapang tanpa sekat dengan rak buku yang siap dibaca. Sentuhan gaya rak dan warnanya pun berbeda dengan di lantai bawah. Fungsinya lebih kepada perpustakaan dan ruang baca. Selain lantai parquette yang terpasang rapi, ada juga sofa dan meja. Di lantai 2 ini sering diadakan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan dunia literasi. Launching buku baru, diskusi tentang dunia buku dan pelatihan menulis, pameran karya seni, dan berbagai jenis komunikasi kreatif lainnya. Terselip juga sebuah teras kecil dengan meja dan dudukan tinggi yang menghadap ke jalan di lantai 2 ini. Hanya bisa diduduki tak lebih dari 3 orang.

Saya dan Mas Duta ngobrol tentang banyak hal di meja kecil itu. Saya kemudian bersengaja memesan segelas besar teh tawar dingin untuk menyemangati waktu-waktu “orasi seru” dalam 1 jam berikutnya. Lewat obrolan yang “bergizi” ini saya memahami bahwa Solusi Buku lahir memang untuk menjadi sarana pertemuan mereka yang mencintai buku dan kegiatan membaca. Beberapa menit setelah saya datang, di tengah-tengah obrolan kami, tamu pun bertambah banyak.

Semangat saya untuk memiliki tempat sejenis pun jadi semakin berkobar. Tapi mimpi saya bahkan lebih luas lagi. Ah panjang betul kalau harus dijalin dalam beberapa paragraf. Nanti ya kalau masanya sudah pas dan siap.

Solusi Buku Yogyakarta, Ruang Kolaborasi, Membaca dan Menyeruput Kopi

Usai ngobrol panjang kali lebar, dari Sabang sampai Merauke, saya meminta izin Mas Duta untuk memotret berkeliling sembari tentu saja menyusur banyak buku dengan berbagai kualifikasi.

Terkadang saya berhenti khusus untuk memperhatikan aneka sampul buku. Hadir dengan berbagai warna dan rancangan, banyak di antaranya yang menjadi inspirasi saya dalam menciptakan banyak buku yang saya tangani. Baik untuk indie publisher yang saya dirikan maupun untuk pihak lain yang menyewa jasa saya.

Harus sih melakukan hal ini sebanyak mungkin selama ke toko buku karena seringkali – setidaknya di diri saya sendiri – sampul buku menjadi daya tarik tersendiri saat menyusur setiap rak. Saya memperhatikan details warna (single ataupun mix/bercampur), font yang digunakan, logo penerbit, nama penulis, di sisi mana tulisan itu bisa menangkap arah pandang calon pembeli buku, hingga bagian blurb yang harus bisa mewakili isi dalam buku.

Semua ornamen yang sesungguhnya lah menjadi “wajah” dari buku tersebut. Dari apa yang saya amati, pekerjaan membuat cover buku tuh sejatinya tidaklah mudah pada akhirnya. Jadi saya – setelah pulang dari sini -memperteguh diri untuk menambah ilmu tentang ilustrasi. Mencoba aplikasi selain yang sudah digunakan atau menambah kulikan pengetahuan dan atau sense of art di aplikasi yang saya gunakan saat ini. Eksplorasi lebih lah pokoknya.

Melangkah melalui tangga dengan rail bercat putih, saya menemukan rangkaian tulisan di dinding penghubung lantai 1 dan 2.

” Books are not meant to remain in your mind, but in your heart. Maybe they exist in your mind too, but as something more than memories” (Solusi Buku)

Saya melamati makna yang terkandung di dalam quote yang berisikan 2 kalimat ini. Berdiri untuk sekian menit. Membaca berulang-ulang. Kemudian mengingatkan diri sendiri bahwa buku sesungguhnya punya arti dan makna khusus yang tertinggal di dalam ingatan saya.

Ini bener banget. Sepanjang ratusan buku yang sudah saya baca sedari kecil, ada banyak buku yang terekam indah di dalam otak saya. Buku belajar membaca dan menulis yang disampaikan oleh guru TK. Buku berhitung saat kelas 1-3 SD. Buku bahasa Indonesia dan pengetahuan umum selama di SMP yang membuat saya terus berada di ranking teratas. Lalu buku tentang pelajaran menulis dan bahasa Inggris selama SMA yang kemudian membuat saya menemukan jati diri. Bahwa ternyata minat besar saya jatuh pada keilmuan bahasa, linguistik, sosiologi, dan komunikasi.

Ya ampun jadi mengangkat memori lama gara-gara baca quote di tangga ini.

Solusi Buku Yogyakarta, Ruang Kolaborasi, Membaca dan Menyeruput Kopi
Solusi Buku Yogyakarta, Ruang Kolaborasi, Membaca dan Menyeruput Kopi

Melangkah Pulang dengan Penuh Kesan

Tak terasa waktu 2 jam sudah saya habiskan di Solusi Buku Yogyakarta. Ruang kolaborasi, membaca, dan menyeruput kopi yang berjarak hanya sekitar 2km dari Stadion Maguwoharjo. Saya bergegas menenteng beberapa buku yang sudah saya niatkan akan dibeli di sini. Membawa pulang beberapa pembatas buku yang diberikan sebagai bonus, setelah sebelumnya mendapatkan diskon khusus untuk buku-buku itu sendiri.

Saya pamit pada Mas Duta dan si Mbak yang bertugas melayani pesanan makanan dan minuman, sembari sekali lagi menatap ke arah banyak tamu di lantai bawah. Mejanya saat itu sudah penuh. Ada yang konsentrasi membaca, tapi ada juga yang bekerja di depan laptop.

Yang pasti jangan bilang kalau kamu itu bibliofil (pecinta buku) atau bookworm (kutu buku) kalau belum mampir ke Solusi Buku.

“Books are the mirror of the souls” (Solusi Buku)

Solusi Buku Yogyakarta, Ruang Kolaborasi, Membaca dan Menyeruput Kopi
Solusi Buku Yogyakarta, Ruang Kolaborasi, Membaca dan Menyeruput Kopi
Solusi Buku Yogyakarta, Ruang Kolaborasi, Membaca dan Menyeruput Kopi
Solusi Buku Yogyakarta, Ruang Kolaborasi, Membaca dan Menyeruput Kopi
Solusi Buku Yogyakarta, Ruang Kolaborasi, Membaca dan Menyeruput Kopi
Solusi Buku Yogyakarta, Ruang Kolaborasi, Membaca dan Menyeruput Kopi
Solusi Buku Yogyakarta, Ruang Kolaborasi, Membaca dan Menyeruput Kopi

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com