“Alam udah carry hidup kita, sekarang I’m trying to return the favor lewat kerja di LindungiHutan.”
Bagi Seruni Sekar Gandhis, atau yang akrab disapa Gandhis, kalimat itu bukan sekadar quote manis. Itu adalah cara pandangnya terhadap hidup.
Di tengah rutinitas sebagai Performance Marketing, Gandhis tetap menjadi seorang explorer. Sabtu–Minggu bisa tiba-tiba sudah di luar kota, menyusuri curug, perbukitan, atau sudut alam yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Lalu Senin pagi buta sudah kembali ke Semarang, duduk rapi di depan laptop, bekerja seperti biasa.
Gandhis sebagai Explorer: Healing dan Keluar dari Comfort Zone
Kalau ditanya destinasi favorit, Gandhis akan menjawab: curug, perbukitan, dan laut.
Curug sering jadi pilihan karena lebih fleksibel dan banyak opsi. Pantai atau laut butuh perencanaan lebih matang dan tidak selalu tersedia dekat kota. Tapi apapun destinasinya, tujuannya sama: healing dan belajar hal baru.
Ia suka mengamati behaviour suatu tempat. Apa khasnya? Bagaimana orang-orangnya? Apa yang membuat tempat itu berbeda?

Baginya, eksplorasi bukan cuma soal foto estetik. Tapi tentang menyadari bahwa dunia itu luas. Bahwa hidup tidak harus monoton. Bahwa keluar dari comfort zone bisa membuka cara pandang baru.
Salah satu momen paling membekas terjadi di Banyuwangi saat ia diving. Guide di sana bercerita tentang whale shark yang dijaga agar tidak terbiasa diberi makan oleh manusia.
Jika ada yang mencoba memberi makan, justru akan ditegur agar tidak mengubah perilaku alaminya.
Dari situ Gandhis belajar satu hal penting: Apa yang sudah baik di alam, tidak perlu diubah hanya demi kenyamanan manusia. Prinsip itu kemudian ia bawa ke cara berpikirnya tentang pekerjaan lingkungan.
Klik Antara Passion Alam dan Kerja Remote di LindungiHutan
Ketika bergabung dengan LindungiHutan, Gandhis merasa ada koneksi yang natural antara passion eksplorasinya dan pekerjaannya.
Sebagai performance marketing, ia bertugas membuat iklan dan strategi kampanye. Tapi kali ini yang ia bawa bukan sekadar produk melainkan isu lingkungan.
Emosinya terasa berbeda. Lebih personal. Lebih menyentuh.
Ditambah lagi sistem kerja remote (WFA) membuatnya bisa tetap produktif sekaligus menjalani passion eksplorasi.
Produktivitas meningkat karena waktu perjalanan ke kantor bisa dipangkas. To-do list bisa langsung dikerjakan tanpa distraksi perjalanan.
Sementara kreativitas justru muncul dari fleksibilitas itu. Kadang bekerja dari rumah terasa membosankan, maka ia pindah ke teras, ke kafe, atau work from cafe bersama rekan kerja. Dari obrolan santai tentang sponsorship di meja sebelah, bisa muncul ide kolaborasi baru.
Observasi sederhana sering melahirkan insight tak terduga.
Performance Marketing dengan Hati
Di balik angka CTR, conversion, dan optimasi visual, ada satu hal yang membuat pekerjaan Gandhis berbeda yaitu misi.
“Bikin konten lingkungan itu lebih challenging. Kita harus bersaing sama konten hiburan yang seru-seru banget.”
Ia tak hanya memikirkan angka performa. Ia memikirkan bagaimana membuat orang peduli. Bagaimana menggugah emosi audiens agar mau ikut berdonasi pohon atau beraksi nyata.
Strateginya:
- Optimasi visual secara konsisten
- Membuat urgency untuk setiap campaign
- Menyesuaikan konten dengan sektor prioritas seperti CSR dan ESG
- Memanfaatkan ebook untuk menarik perhatian audience sekalian share insight gratis
Bagi Gandhis, marketing bukan cuma jualan. Tapi mengedukasi dan menggerakkan.
Culture yang “Ngeselin Tapi Dirindukan”
Budaya kerja di LindungiHutan juga menjadi faktor penting. Keterbukaan ide, kebebasan menyusun strategi, serta dukungan untuk talent development membuat Gandhis merasa tertantang sekaligus difasilitasi.

Ada satu culture unik: Cerita Kemarin. Setiap dua minggu sekali di hari Senin, tim berbagi cerita personal.
Karena WFH, sering kali obrolan hanya seputar pekerjaan. Lewat sesi ini, mereka jadi tahu keseharian satu sama lain. Ada tawa, ada pelajaran hidup, ada cerita yang bikin tersentuh.
Bagi Gandhis yang cheerful dan mudah tersentuh, ruang seperti itu terasa hangat.
Outing pun tak kalah berkesan. Jeep ke hutan, makan durian, aktivitas yang sedikit menantang semuanya terasa menyatu dengan karakter explorer dalam dirinya.
Baca Juga: Putra Akbar Cerita Soal Kreativitas, Alam, dan Jalan yang Dipilih
Project Highlight: Penanaman Mangrove di Pulau Pari
Salah satu momen paling mengubah perspektif Gandhis terjadi saat mengikuti penanaman mangrove di Pulau Pari.
Ia melihat langsung bagaimana masyarakat setempat gigih menanam mangrove untuk menahan ombak dan abrasi. Perbedaan ombak di dua sisi perairan terlihat nyata. Di area tanpa mangrove, gelombang lebih terasa. Di area dengan gugusan mangrove yang sudah puluhan tahun tumbuh, air jauh lebih tenang.
Itu bukan lagi teori. Itu bukti di depan mata.
Ia juga berbincang dengan petani setempat tentang perubahan yang terjadi dari dulu hingga sekarang. Tentang rob yang makin terasa. Tentang dampak perubahan iklim yang mereka alami langsung.
Ada pula momen ketika ia melihat kerusakan pesisir secara langsung. Gugusan mangrove yang dulu rapat, kini sebagian rusak. Pengalaman itu membuatnya terdiam.
Dari sana, kampanye digital tentang mangrove bukan lagi sekadar konten edukatif. Ia tahu persis mengapa isu itu penting.

Di Ramadan, ia juga menginisiasi kolaborasi lintas kegiatan bukan sponsor dalam arti biasa tetapi memberikan voucher pohon untuk peserta event seperti Yatim Fest.
Bagi Gandhis, lingkungan tidak harus selalu berdiri sendiri. Ia bisa masuk ke berbagai ruang kolaborasi.
Turning Point: Dari “Bersih-Bersih Sampah” ke Impact yang Terukur
Dulu, Gandhis mengira peduli lingkungan cukup dengan bersih-bersih sampah atau menanam di pot.
Pandangan itu berubah sejak proses interview di LindungiHutan. Ia baru tahu bahwa pohon yang ditanam bisa dipantau dampaknya. Ada data serapan karbon. Ada tracking yang bisa dilihat.
Mirip seperti lari yang bisa dipantau lewat Strava.
Ternyata kontribusi tidak harus selalu besar dan berat. Tapi bisa nyata dan terukur.
Sejak itu, cara kerjanya berubah.
Secara personal, ia lebih sering membagikan konten peduli lingkungan di media sosial.
Secara profesional, ia merasa lebih tertantang. Isu lingkungan bukan hiburan yang mudah viral. Kontennya harus edukatif, informatif, tapi tetap menarik dan emosional.
Ia harus memutar otak bagaimana membuat orang peduli.
Tiga Kata Tentang Seruni Sekar Gandhis
Jika diminta mendeskripsikan dirinya, Gandhis memilih tiga kata:
- Cheerful
Ia ingin menyebarkan energi positif ke orang-orang di sekitarnya. - Explorer
Ia selalu ingin tahu hal baru, keluar dari zona nyaman, dan melihat perspektif berbeda. - Empati
Mudah tersentuh, peka terhadap orang lain, dan peduli terhadap lingkungan.
Tiga kata ini cukup menggambarkan sosok Seruni Sekar Gandhis, pribadi yang memadukan logika marketing dengan hati yang peduli alam.
Baca Juga: LindungiHutan Raih Penghargaan “Eco-Resilient Agent” di EPSA 2025
Sebuah Pengingat
Gandhis sering membayangkan: bagaimana jika suatu hari semua yang hijau berubah jadi bangunan?
Jika setiap hari hanya layar laptop tanpa hijau di depan mata, apa yang bisa jadi tempat pulang?
Baginya, alam sudah memberi healing, udara segar, dan kenyamanan hidup. Maka menjaga dan mempertahankannya adalah bentuk balas budi paling sederhana.
“Alam udah carry hidup kita, sekarang I’m trying to return the favor lewat kerja di LindungiHutan.”
Melalui strategi digital, kolaborasi, dan kampanye yang terus ia kembangkan, Gandhis berkomitmen untuk menjaga agar yang hijau tetap lestari hari ini dan di masa depan. 💚







