Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Sensasi Makan dengan Nuansa Pedesaan di Kampung Kecil Karawang

27
×

Sensasi Makan dengan Nuansa Pedesaan di Kampung Kecil Karawang

Share this article
sensasi-makan-dengan-nuansa-pedesaan-di-kampung-kecil-karawang
Sensasi Makan dengan Nuansa Pedesaan di Kampung Kecil Karawang
Sensasi Makan dengan Nuansa Pedesaan di Kampung Kecil Karawang
Sensasi Makan dengan Nuansa Pedesaan di Kampung Kecil Karawang

Sensasi Makan dengan Nuansa Pedesaan di Kampung Kecil Karawang | Restaurant & Culinary, Travel | Maret 2026

Memenuhi keinginan suami yang gandrung dengan hidangan yang disajikan oleh resto sunda – Kampung Kecil – siang itu saya dan si bungsu menemani beliau menuntaskan rasa penasaran untuk mencoba salah satu cabang mereka di Karawang. Karawang Barat lebih tepatnya. Bakal seseru apa sih? Sama gak ya dengan sajian dan visual mereka di Cirebon?

“Saya mau ngikutin GMaps aja. Bunda boleh istirahat jadi pemandu arah.” Begitu titah suami saat mobil mulai dikeluarkan dari garasi. Tumben nih, batin saya sembari merasakan lega yang tidak biasa dengan tanda tanya tanpa butuh jawaban. Pernyataan baru dari suami yang biasanya (baca: selalu) mengandalkan istrinya untuk jadi navigator di setiap perjalanan.

Example 300x600

Berhasil kah nyetir sendiri tanpa arahan jejak dari saya? Ijin ngumpet di belakang ya.

Ya jelas nyasar dong.

GMaps ternyata raja tega juga sih. Sudah jelas lokasi yang dituju ada di Karawang Barat, GMaps mengarahkan suami keluar tol Karawang Timur. Karena menurut aplikasi ini, lewat Karawang Timur bakalan tidak macet dan lebih cepat sampai. Saya mengernyitkan kening. Kok aneh. Kan itu beda betul posisinya. Cerita perjalanannya pun jadi super duper rempong. Selesai keluar tol harus melewati jalanan sibuk, beberapa kali belak-belok, dan menyusur pinggir rel kereta agar kembali ke Karawang Barat. Padahal jelas-jelas Karawang Barat itu jauh lebih dekat dari Cikarang. Astaga.

Saya sempat mengintip peta sih. Tapi demi agar suami bangga bisa mencapai sesuatu tanpa bantuan Dora (nunjuk diri sendiri), saya menahan diri untuk tak bersuara.

Tapi akhirnya gak tahan juga untuk tak berkomentar saat akan pulang. Saya memutuskan untuk kembali ke fungsi semula. Menjadi navigator. Saya pun mengarahkan suami untuk mengambil jalur tertentu yang cukup saya kenal betul, kemudian hanya dalam 15 menit ke depan, mobil kami masuk ke pintu tol Karawang Barat ke arah Jakarta (melewati Cikarang), plus 20 menit kemudian sudah tiba di rumah. Jauh lebih efisien dan efektif jika dibandingkan dengan kedatangan tadi yang membutuhkan waktu satu jam tiga puluh menit. Dan itu tanpa menggunakan GMaps.

Sensasi Makan dengan Nuansa Pedesaan di Kampung Kecil Karawang

Keindahan Tata Ruang yang Mengesankan

Saya gak menyangka bahwa ternyata resto Kampung Kecil Karawang tidak berada di sebuah lahan luas dan dalam posisi stand alone seperti biasanya. Tapi ternyata ada di belakang deretan ruko dan berdampingan dengan pintu masuk sebuah perumahan elit. Pintu utamanya sendiri mudah dilihat dari kejauhan karena fasad yang terbuat dari kaitan bambu tersebut disusun tegak menjulang dengan tulisan jenama yang eye-catchy di sisi paling atas. Gampang sekali ditandai.

Jalan masuknya juga teraspal dengan apik. Lebarnya cukup untuk lalu lalang dua mobil sekaligus. Persis di sebelah bangunan inti, ada sebuah area parkir yang cukup luas dan setidaknya bisa menampung sekitar dua puluhan mobil. Ada beberapa petugas yang dengan ramah mengarahkan kita untuk menitipkan kendaraan.

Saat berjalan mendekat ke arah pintu masuk, saya kembali terpaku dengan kemegahan fasad nya. Terlihat gagah dan istimewa. Bentuknya yang lonjong tegak itu sama dengan apa yang saya lihat saat berkunjung ke resto mereka di Cirebon. Di dalam jalinan bambu terikat ini, ada beberapa tempat duduk untuk tamu menunggu serta counter khusus pelayanan yang mendata kebutuhan tamu. Desain ruang ini juga tampak unik. Selain terlihat semakin banyaknya unsur bambu, juga ada aneka tanaman yang terlihat subur dan terawat.

Sapaan ramah seorang petugas berseragam, mengurai perhatian saya. Dia memberikan beberapa opsi tempat duduk untuk saya pilih. Wah saya mendadak bingung. Tempatnya luas banget. Tapi akhirnya malah balik bertanya, “Ada yang pencahayaannya bagus buat foto-foto dan tidak terlalu rame?” Petugas ini langsung mengangguk. Dia mengajak saya ke lantai atas yang persis berada di atas tempat penerimaan tamu ini. Sebuah area berbentuk lingkaran dengan banyak meja bulat dan pemandangan arah kedatangan tamu tadi. Karena berada di pinggir dengan atap yang rimbun, spot ini jadi tidak over lighting.

Pilihan yang jitu.

Seorang petugas datang membawa buku menu tapi dia mengusulkan kami untuk melakukan penelusuran sajian lewat barcode yang tersedia di meja. Saya memutuskan untuk menyusur daftar ini dan melakukan pesanan sebelum akhirnya melangkah ke setiap sisi bangunan untuk memotret dan melahirkan footage keindahan Kampung Kecil Karawang.

Sensasi Makan dengan Nuansa Pedesaan di Kampung Kecil Karawang
Sensasi Makan dengan Nuansa Pedesaan di Kampung Kecil Karawang

Suara angin mengalir mendayu manis di telinga saat saya memutuskan untuk menyusur lantai dua terlebih dahulu. Cuaca memang sedang mendung dengan angin yang lumayan kencang menyapu wajah. Tapi niat untuk mengambil foto dan membuat footage di Kampung Kecil Karawang harus terus berlangsung. Untungnya saat saya berkeliling, jumlah tamu masih terbatas, jadi bisa menyiasati sudut pengambilan gambar tanpa takut mengalami “kebocoran fotografi” Tricky memang memotret di tempat umum seperti di restoran laris seperti ini.

Baru beberapa langkah aja, saya langsung mengagumi kepiawaian desainer luar dan dalam ruang. Pengaturan bentuk, kekokohan jalinan bambu, dan komposisi ruang makan terlihat begitu tertata dengan baik. Seperti yang disampaikan si petugas tadi, ada tempat khusus untuk lesehan, tapi banyak juga yang dengan posisi duduk seperti biasa. Ada yang ber-AC dalam jumlah terbatas dan ruang setengah terbuka yang merambah hampir setiap sisi.

Di setiap sudut ruang selalu ready beberapa petugas. Jadi meskipun tempatnya seluas samudra dan mirip dengan perahu Nabi Nuh, tamu dengan mudah meminta bantuan. Di setiap sudut juga ada mobile cashier – mengenakan seragam berbeda dengan para pelayan – yang siap dengan mesin EDC dan barcode untuk transaksi QRIS. Wah keren banget. Efisien dan efektif untuk working flows dan kecepatan pelayanan.

Yuk mari kita lanjutkan penelusuran.

Sensasi Makan dengan Nuansa Pedesaan di Kampung Kecil Karawang

Baru lima menit berkeliling, saya tak henti berdecak kagum. Lantai dua ini sepertinya mampu menampung ratusan orang. Setiap melangkah saya memperhatikan bagaimana jalinan bambu yang ada terbangun dan ditunjang dengan kokohnya struktur bangunan. Tak terdengar bunyi deritan saat kita melangkah yang bisa jadi membuat kita merinding. Kokoh luar biasa.

Sampai di ujung belakang lantai dua, saya menjejak tangga untuk melangkah turun. Di lantai bawah ini kekaguman saya menjadi-jadi. Opsi ruang makannya memang tidak sebanyak di atas, tapi pemandangan di tengah-tengah sungguh menyejukkan hati.

Di sini, di ruang terbuka, kita bisa melihat kolam air dengan ubin biru dan air yang jernih bening. Di berbagai sudut tumbuh banyak pohon dan dedaunan hijau yang membuat nuansa pedesaan di lantai bawah ini semakin asri serta menyejukkan. Selain berbagai opsi ruang makan, juga ada spot berfoto dengan latar belakang susunan batako yang tertata apik seperti panggung kecil. Sederhana tapi tetap mengesankan.

Penataan yang pantas mendapatkan pujian.

Mari sekarang kembali ke meja untuk menikmati serangkaian pesanan masakan tadi. Selezat apakah aneka asupan tersebut?

Sensasi Makan dengan Nuansa Pedesaan di Kampung Kecil Karawang
Sensasi Makan dengan Nuansa Pedesaan di Kampung Kecil Karawang

Ragam Sajian yang Saya Nikmati

Untuk kunjungan perdana ini saya memesan sayur asem, karedok, nasi liwet seketel, buncis oseng, tahu Sumedang (goreng kriuk), ikan kuwe bakar, tahu gejrot bandung, pindang iga, dan pindang patin. Sementara untuk minuman saya, suami, dan si bungsu hanya memesan minuman serba teh (teh tawar hangat dan es teh).

Pesanan asupan sayuran semua kaya rasa dengan bumbu yang sama sekali tidak pelit. Nasi liwet nya pun termasak dengan sempurna. Tidak kelembekan atau kelembutan pun tidak pera. Yang pasti jelas kebanyakan untuk kami bertiga, si bukan penggila nasi. Cuma saya ada satu usulan. Rempah-rempah yang menjadi bagian penting dari hidangan nasi liwet dapat ditambahkan lagi agar konsep wangi “liwetnya” nasi dapat disentuh lidah dan tercium sempurna lewat hidung kita.

Untuk hidangan tahu – tahu goreng kriuk dan tahu gejrot – keduanya patut dapat jempol lebih dari dua. Semuanya tergoreng sempurna, kriuk nya mantab, tapi tidak meninggalkan minyak yang berlebihan. Di Kampung Kecil Karawang ini mendadak saya doyan banget dengan tahu gejrot. Kenapa? Karena bumbu kuahnya mantab betul. Pedasnya gak bikin lidah saya melejit. Sensasi kriuk nya juga seng ada lawan. Tahunya tergoreng sempurna. Saya akhirnya rebutan menghabiskan tahu gejrot ini bareng suami.

Ikan kuwe bakar nya juga mantab. Bumbunya meresap dengan baik meski di awal saya sempat khawatir karena tampak luar nya legam banget. Ukurannya aja yang terlalu besar untuk kami bertiga. Jadi setengah porsi dari sajian ini kami putuskan untuk dibawa pulang saja.

Nah yang perlu dikoreksi adalah masakan pindang nya. Kuah pindang nya jauh dari pakem atau standarisasi masakan pindang. Sensasi asam manis nya tak bangkit sama sekali. Potongan sayur dan atau buah yang biasanya menemani resep pindang kehadirannya sepi betul. Hanya kebanyakan kuah tanpa rasa. Daging iganya sih lembut dan mudah dikunyah tapi tampilan fatal ada di ikan patinnya. Sepanjang makan pindang patin, setahu saya ikannya hanya direbus setelah tentu saja diberikan kesempatan untuk dimarinasi. Sementara yang saya nikmati di sini, ikannya digoreng. Itu pun dagingnya mengeras dan susah untuk dibelah. Mungkin karena sudah digoreng berulang kali.

Duh sayang banget deh. Padahal sejak dari rumah, saya sudah terniat memesan pindang patin dan membayangkan akan menikmati sajian yang memanjakan lidah dan rasa ini serta memori indah yang terukir apik dalam hidup saya. Sekaligus mengingat kenangan bagaimana dulu saya bisa menikmati pindang patin saat masih berada di Palembang sesering apa pun, selama saya inginkan. Kelezatan dan keunikan rasa yang lahir dari kuahnya itu benar-benar bikin kangen akan tempat kelahiran.

Semoga catatan ini bisa dibaca oleh Kampung Kecil Karawang ya. Agar bisa membenahi resep pindang milik mereka. Kembali pada rumus asli dan menyajikannya untuk konsumen sesuai dengan pakemnya.

Sensasi Makan dengan Nuansa Pedesaan di Kampung Kecil Karawang

Sensasi Makan dengan Nuansa Pedesaan

Saya rasa judul ini cocok untuk disematkan kepada Kampung Kecil Karawang. Selain tempatnya yang memang diatur dengan konsep pedesaan, resto ini memang menghadirkan menu nusantara sebagai andalan mereka. Satu hal yang melengkapi apa yang sebagian besar orang pikirkan saat bersantap di kedai makan seperti ini.

Melihat tempatnya yang luar biasa grande dengan area duduk yang luas, resto yang merupakan bagian dari grup Kampung Kecil ini, lebih cocok untuk didatangi bersama keluarga atau datang berkelompok banyak. Kita – para tetamu – bukan hanya disuguhkan seni arsitektur yang unik, tata desain dalam ruang yang sophisticated, tapi juga bisa merasakan banyak pilihan menu nusantara yang jarang kita nikmati. Masakan daerah rumahan yang barangkali tak biasa atau bisa kita asup saat di rumah.

Untuk harga, Kampung Kecil, menghadirkan angka yang relatif sama dengan rumah makan sejenis. Antara 20-an ribu hingga 50-an ribu, dan di atas itu untuk menu istimewa karena ukurannya yang besar. Selebihnya masih masuk akal. Untuk kami bertiga dengan barisan menu di atas, suami membayar sekitar 90K/orang. Sudah termasuk pajak. Cukup reasonable sih menurut saya. Karena value yang didapatkan bukan hanya tentang masakannya tapi juga penyajian tempat yang menghibur mata, raga, dan jiwa.

Sensasi Makan dengan Nuansa Pedesaan di Kampung Kecil Karawang
Sensasi Makan dengan Nuansa Pedesaan di Kampung Kecil Karawang
Sensasi Makan dengan Nuansa Pedesaan di Kampung Kecil Karawang
Sensasi Makan dengan Nuansa Pedesaan di Kampung Kecil Karawang
Sensasi Makan dengan Nuansa Pedesaan di Kampung Kecil Karawang
Sensasi Makan dengan Nuansa Pedesaan di Kampung Kecil Karawang

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com