- Saya membangun bisnis dari kamar tidur saya pada usia 18 tahun dan mengubahnya menjadi sukses.
- Saya masih kecil di ruang rapat, memperkenalkan bisnis saya kepada para eksekutif.
- Ketika saya mendaftar ke perguruan tinggi, saya menyadari bahwa saya memiliki masa kecil yang berbeda dari kebanyakan orang; Saya harus banyak belajar.
Jauh sebelum saya memahami kewirausahaan, saya sudah melakukannya.
Pada usia 7 tahun, saya mengambil barang-barang dari sekitar rumah dan menjualnya kepada tetangga dan teman. Itu sederhana, tapi saya menyukai prosesnya. Saya selalu menjual sesuatu.
Pada usia 9 tahun, setelah mendapatkan iPad pertama saya, naluri itu berubah menjadi kreasi. Saya belajar sendiri cara membangun media sosial halaman, bereksperimen dengan konten dan mempelajari cara menarik perhatian. Saya tidak menganggapnya sebagai pemasaran. Saya hanya menikmati membangun.
Lalu, pada Maret 2020, semuanya berubah. Saya duduk di kelas enam ketika saya mengetahui bahwa kami akan berada di rumah selama lima minggu karena COVID. Daripada membuang-buang waktu, saya memutuskan untuk menggunakannya. Saya mulai meneliti ide bisnis.
Saat itulah saya membuat milik saya bisnis pakaian. Meskipun berhasil, saya menyadari masih banyak yang harus saya pelajari ketika saya mendaftar ke perguruan tinggi.
Saya membangun bisnis enam digit saat remaja
Dari kamar tidur saya, saya mulai mendesain dan menjual T-shirt, hoodies, dan stiker. Desainnya terinspirasi dari pantai, mencerminkan gaya hidup yang terasa jauh dari ketidakpastian dunia saat itu. Ini menjadi lebih dari sekedar cara untuk menghasilkan uang. Itu adalah jalan keluar. Sebuah pelarian.
Pada usia 20, saya membangun situs web pertama saya dan meluncurkan apa yang kemudian menjadi Coastal Cool.
Dengan pinjaman $500 dari orang tua saya, yang saya bayar kembali dalam minggu pertama penjualan, saya mengubah ide kecil itu menjadi sesuatu yang nyata. Saya tidak punya tim dan investor – hanya laptop dan kemauan untuk memikirkan sesuatu.
Selama enam tahun berikutnya, proyek tersebut berkembang menjadi merek global bernilai enam digit. Produk saya telah ditampilkan di televisi nasional dan dikirim ke seluruh dunia. Setiap pembelian menghilangkan satu pon plastik di lautan, mengubah apa yang awalnya hanya proyek kamar tidur menjadi proyek perusahaan yang digerakkan oleh misi.
Melalui perjalanan ini, saya telah melakukan perjalanan, bertemu orang-orang luar biasa, dan menginspirasi orang lain untuk mulai membangun ide-ide mereka sendiri.
Masa kecil saya berbeda dari kebanyakan teman-teman saya
Sementara sebagian besar anak-anak sedang mengalami sekolah menengah dan sekolah menengah atas secara tradisional, saya tumbuh di lingkungan yang berbeda. Pada usia 13 tahun, saya duduk di ruang rapat bersama para eksekutif yang berusia empat kali lipat usia saya dan di industri yang saya tidak punya pengalaman di dalamnya.
Di saat yang sama, saya masih kecil, jadi SMA menjadi keseimbangan antara dua dunia. Sementara yang lain fokus pada olahraga dan rencana sosial, saya memikirkan strategi, pertumbuhan, dan langkah selanjutnya. Saya selalu bekerja, selalu berpikir.
Ini bukan hanya tentang uang. Ini tentang pengalaman, orang-orang, dan proses membangun sesuatu dari ketiadaan. Tidak peduli seberapa banyak pencapaianku, aku selalu menginginkan lebih. Untuk berbuat lebih banyak. Untuk melihat lebih banyak. Untuk mempelajari lebih lanjut.
Namun tahun-tahun itu juga merupakan tahun-tahun terakhir masa kecilku. Ada saat-saat ketika saya merasa memiliki pola pikir seperti seseorang yang jauh lebih tua. Hal ini menjadi jelas pada saat itu proses pendaftaran perguruan tinggi.
Saya tidak menyadari perbedaannya sampai saya mendaftar ke perguruan tinggi
Satu pertanyaan di Aplikasi Umum bertanya: “Apa yang mendefinisikan dirimu?”
Pertanyaan itu menghentikan saya.
Selama enam tahun, saya telah membangun visi menjadi merek global. Namun ketika saya melangkah mundur, saya menyadari sesuatu yang lebih dalam: Apakah perusahaan saya mendefinisikan saya, atau apakah itu hanya sesuatu yang saya bangun?
Saya baru berusia 18 tahun. Saya telah melakukan banyak hal, namun masih banyak yang belum saya alami – begitu banyak yang belum saya pelajari, tidak hanya dalam bisnis, namun juga dalam kehidupan.
Untuk pertama kalinya, saya mulai memisahkan apa yang telah saya ciptakan dari siapa saya nantinya. Saya menyadari bahwa saya sedang belajar, tetapi hanya di dalam dunia yang telah saya bangun. Saya ingin memahami lebih banyak — lebih dari sekadar bisnis. Saya ingin belajar dari orang lain, tertantang, dan tumbuh dalam cara yang belum saya alami.
Perguruan tinggi, bagi saya, bukanlah suatu keharusan. Itu adalah sebuah pilihan. Membangun perusahaan mengajari saya cara menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Perguruan tinggi akan mengajari saya cara memikirkan segala hal.
Pada usia 18, saya membangun sesuatu yang nyata. Tapi saya masih menjadi seseorang, dan saya siap mencari tahu siapa dia.