
Nge-bandung lagi ah. Kali ini nderek suami yang kebetulan ada meeting di Bandung. Lumayan bisa ikutan nebeng nginap di hotel semalam. Tanpa berpanjang cerita, saya memilih Grand Tjokro Premiere yang berlokasi di Cihampelas. Lokasi asyik dan strategis untuk ngelencer ke beberapa arah dan tempat
Jadwal meeting suami ternyata dimajukan dan ditambah jumlah harinya. Walhasil dia harus berangkat ke Bandung terlebih dahulu bersama rekan kantor dan menggunakan mobil dinas. Skenario keberangkatan saya pun jadi berubah. Karena di hari kerja saya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan terlebih dahulu, akhirnya saya tetap menyusul di akhir pekan saja.
Segan berkendara sendiri selama hampir 2 jam, saya pun merayu si bungsu untuk mau menemani saya. Meski dengan mencucu dan ngomel panjang kali lebar, akhirnya mau juga dia menemani saya. Tentu saja dengan janji akan diajak jalan-jalan ke mall (saat itu dia lagi gandrung dengan PVJ), belanja sesuatu yang (sangat) dia inginkan, dan makan di sebuah resto mengikuti selera dan keinginannya.
Yasudlah ya. Daripada garing sendirian.

Menuju Kawasan Cihampelas
Berangkat sekitar pkl. 08:00 wib dari rumah di Cikarang, saya dan si bungsu bersepakat untuk menghabiskan waktu dan makan siang terlebih dahulu di PVJ (Paris Van Java) Mall sebelum akhirnya check-in di Grand Tjokro Premiere yang berada di kawasan Cihampelas pada pkl 14:00 wib.
Semua dengan pertimbangan efisiensi dan efektivitas semata. Ke PVJ sangat memudahkan bagi saya yang masuk Bandung melalui tol Pasteur. Tinggal lurus lalu belok kiri saat bertemu dengan perempatan RSUP Hasan Sadikin. Dah tinggal ngebut sedikit langsung ketemu PVJ di sisi kiri jalan. Setelah itu baru ke Grand Tjokro Premiere yang bisa digapai hanya sekian menit dari PVJ. Gak jauh kalau lihat peta sih.
Skenario kami pas. Memperhitungkan macet yang bisa muncul saat akhir pekan, kami tiba di PVJ 30 menit setelah mall dibuka. Parkiran masih terasa lapang, luas, dan lega dengan pilihan titik yang banyak. Satu privilege yang susah untuk didapatkan saat kita datang ke PVJ saat menjelang makan siang. Singkat cerita, setelah tawaf di hampir setiap sisi PVJ kemudian ditutup dengan makan siang, pkl. 14:00 wib, saya dan si bungsu pun berkendara menuju Grand Tjokro Premiere Hotel.
Tak disangka perjalanan yang seharusnya hanya sekian menit harus berlangsung lebih lama karena kepadatan lalu lintas. Akhirnya saya baru tiba di hotel sekitar pkl. 16:00 wib. Waktu kritis saat antrian check-in ternyata sudah mengular.
Yasudah mari kita lapangkan sabar.
Baca Juga : Saat Estetika dan Kenyamanan Menyatu di Yats Colony Yogyakarta

Pengennya sih sehabis meletakkan seluruh bawaan dan istirahat sebentar, saya dan si bungsu berniat ngelencer ke Cihampelas Walk. Dari hotel sebenarnya tidak begitu jauh tapi tetap aja butuh usaha ekstra jika berjalan kaki. Sementara betis kami berdua sudah terasa nyut-nyutan. Akhirnya niatan ini pun terpaksa dibatalkan dengan hormat. Saya akhirnya menghubungi suami untuk dibawakan makan malam, membersihkan diri, hingga akhirnya tepar di kasur sembari menonton film dan drama di tablet yang saya bawa.
Kamar yang kami tempati (tipe premiere) ini cukup luas untuk ditempati bertiga. Suami yang tadinya memesan kasur dengan tipe King, nyatanya terpaksa dirubah menjadi twin karena saya sudah kesorean check-in. Pengen protes tapi hayati dan fisik sudah terlalu lelah. Antrian yang mengular, menurut hemat saya, bisa jadi alasan kuat bagi para petugas untuk bersegera melayani setiap tamu yang datang. Apalagi tadi sempat ada tamu yang datangnya berombongan hampir seRT. Banyak anak kecilnya pulak. Heboh pastinya.
Tadi sore setelah urusan administrasi rampung, kami diarahkan untuk menuju north building. Gedung yang berada di sisi kanan main building di mana ruang penerimaan tamu (utama) berada. Di lantai dasar north building ini ternyata lengkap dengan fasilitas. Saat pintu kaca otomatis terbuka saya bisa melihat service area layaknya sebuah apartment. Di lantai dasar ini ada sisi khusus dengan beberapa PC yang tersambung dengan internet. Kemudian ada vending machine, photo box, lalu satu set sofa berwarna abu-abu yang tampak nyaman untuk menerima tamu.
Masih di lantai yang sama, ada unit khusus coin laundry yang ruangannya cukup besar dengan banyak mesin cuci. Kemudian ada area main anak-anak, kursi pijat, mini market serta medical room/nursery room. Mirip banget dengan aneka fasilitas yang saya lihat di apartemen anak saya.
Saya sempat turun kembali dan belanja beberapa camilan di mini marketnya. Ukurannya benar-benar mini. Mungkin hanya sekitar 12m2. Tapi stoknya cukup lengkap. Raknya merapat satu sama lain jadi pengunjung harus bergantian saat melewati sela antara rak yang ada. Yah tapi setidaknya kebutuhan dasar untuk menginap tersediakan di sini. Semisal kita lupa membawa sikat gigi, odol, sabun, sampo, atau membeli camilan mengenyangkan seperti biskuit, roti, dan pop-mie si pengganjal perut.
Baca Juga : Bestah Coliving Denpasar Bali, Menginap Serasa di Rumah Sendiri

Sarapan Istimewa
Malam sebelum tidur anak saya mengingatkan hal penting tentang sarapan. Mengetahui bahwa penghuni/tamu north building tidak memilik restoran tertentu yang melayani makan pagi, kegiatan ini berarti terpusat di satu tempat saja. Tepatnya di Tjokro Resto yang berada di lantai 1 gedung utama (main building).
Saya tidak tahu berapa besar Tjokro Resto tapi si bungsu mengusulkan untuk makan pagi sedikit lebih awal dari jadwal biasanya. Keputusan ini tepat menurut saya karena ternyata tamu hotel begitu berlimpah. Kami berdua bahkan sempat lama mencari tempat untuk duduk karena hampir di setiap sisi dikuasai oleh tamu berombongan. Sempat menunggu sekian menit di dekat counter pencatatan tamu, akhirnya kami diarahkan ke sebuah meja pojokan yang syukurnya cukup strategis untuk berlalu lalang mengambil makanan. Bahkan berada persis di satu titik yang bisa dengan leluasa melihat besarnya resto dan padatnya pada tetamu yang sarapan di Tjokro Resto.
Yang pasti hiruk pikuknya luar biasa. Tak cuma denting hantaman sendok dan piring yang terdengar tapi juga pekik suara ibu-ibu yang sibuk mengatur anak-anaknya. Bahkan tak sedikit tamu yang mengobrol dan tertawa dengan suara keras. Saya mendadak merasa sedang berada di food court yang laris dan tak henti menerima pengunjung dengan pilihan kedai makanan yang berlimpah ruah.
Saya akhirnya meminta si bungsu untuk mengelilingi setiap sudut meja hidangan sementara saya menjaga meja yang kami tempati. Laporannya sungguh menakjubkan. Bahkan si bungsu pun datang dengan decak kagum karena belum pernah sepanjang hidupnya menginap di hotel, ada sajian sarapan seperti di food court.
Ragam sajiannya juga sangat bervariasi. Mulai dari sajian nusantara, american breakfast, ala Italia, masakan korea, menu jepang, dengan pilihan appetizer dan dessert yang tak kalah serunya. Mengamati caranya bercerita saya mendadak semangat dan berharap bahwa pagi ini lambung saya bisa melar seperti karet hingga mampu menampung banyak makanan.
Saat saya berkeliling sendiri, kekaguman itu semakin menjadi. Sebagian besar masakan nusantara (sajian dari beberapa daerah di Indonesia) tersedia di deretan gubuk kayu kecil persis seperti saat kita berada di serangkaian catering pernikahan. Di setiap gubuk pun sudah ada petugas yang siap melayani. Sajian buffet tersaji di 3 meja island yang sangat besar. Lalu ada meja panjang khusus untuk makanan hangat, menu berkuah, atau yang memang disiapkan hanya berdasarkan pesanan. Ada beberapa orang chef yang siap melayani. Mereka tampak kewalahan meski tetap cekatan menerima deretan pesanan yang seperti tiada habisnya.
Baca Juga : Menyesap Keheningan di Puri Payogan, Kedewatan, Ubud, Bali

Ada satu sudut yang menarik adalah perhatian saya adalah barisan produk bakery dan beberapa pilihan ice cream serta minuman dingin lainnya. Rangkaian asupan menyegarkan lainnya yang bikin selera makan saya meningkat adalah sederetan fresh salad lengkap dengan pilihan dressing serta condiment yang menaikkan rasa. Lalu berbagai manisan dan asinan ala Jepang yang segar menyentuh lidah.
Astaga. Saya tak henti mondar-mandir untuk menikmati sayur dan buah segar ini.
Sementara saya berjibaku mencoba satu persatu sayur dan buah segar beserta dressing nya, si bungsu tergila-gila dengan pilihan pasta yang juga terlalu sayang untuk dilewatkan. Tapi saya tetap mengingatkannya untuk mengambil porsi sedikit saja dari setiap apa yang ingin dia coba, agar bisa merasakan sebagian bahkan semua menu pasta yang ditawarkan dan tetap menghabiskannya.
Sayangnya strategi dan aturan ini tidak diikuti oleh banyak pengunjung lainnya. Dari pengamatan saya, beberapa kali saya melihat para tamu, setidaknya yang duduk di dekat saya, meninggalkan sisa makanan yang menggunung. Tidak menghabiskan tapi sudah mengambil yang baru. Dan itu dilakukan seperti dengan sengaja. Saat melihat ekspresi tak mengenakkan dari para petugas yang membersihkan meja, saya langsung maklum. Sayangnya mereka dalam kapasitas yang tidak diperbolehkan menegur tamu.
Baca Juga : Etika Sarapan di Hotel yang Wajib Kita Ketahui


Saat kembali ke kamar sehabis sarapan, saya tidak terkejut saat suami mendadak berteriak “Astaga. Dari mana aja sih? Sarapan kok lama banget.”
Saya dan si bungsu tertawa renyah. Kami bahkan tidak kaget saat memeriksa jam digital yang ada di gawai masing-masing. Tanpa melihat angka yang tertera pun saya sudah merasakan lamanya waktu yang kami berdua habiskan di Tjokro Resto. Bahkan tadi setelah sempat memutuskan untuk menyerah, saya tak mampu mengangkat bokong untuk segera beranjak dari kursi yang saya duduki.
Puas rasanya mengambil sedikit demi sedikit dan memberikan jeda bagi lambung dengan bergerak aktif ke sana kemari sembari memotret dan memperhatikan bagian mana yang menjadi favorit para penginap. Yang pasti segala macam hidangan nasi beserta lauk pelengkapnya tetap jadi idola. Lalu beragam pasta serta daging-dagingan plus hidangan khas Bandung seperti batagor, siomay, mie kocok, dan beberapa lagi yang biasa dinikmati saat ada kenduri.
Jarang sekali saya lihat ada yang mengambil salad, pasta, buah-buahan termasuk asinan ala Jepang. Tapi kondisi ini justru menguntungkan saya. Gak ada saingan untuk berebutan salad beserta antek-antek penyedapnya. Semua saya nikmati sepuas mungkin tanpa nasi.
Yang pasti, jika lambung saya laksana karet dengan daya serap yang tinggi seperti apa yang dimiliki Tzuyang, food vlogger dan mukbanger asal Korea Selatan yang begitu populer di lini Youtube, saya pasti betah ngejogrok berlama-lama sembari menikmati setiap masakan sepuas mungkin. Tentu saja dengan bonus harapan tetap langsing meski makannya sudah penuh berpanci-panci, berpiring-piring, dan bermangkok-mangkok.
Jadi jika nantinya ada kesempatan nginap di Grand Tjokro Premiere Bandung lagi, saya pasti bersengaja menyewa kantong Doraemon sebagai cadangan lambung sebagai wadah tambahan untuk makan pagi.
Baca Juga : Mejore Hotel Amed, Menghadirkan Debur Ombak yang Menenangkan Jiwa












