Scroll untuk baca artikel
Lingkungan

Reef Soundscape: Ketika Laut Kehilangan Suaranya

webmaster
9
×

Reef Soundscape: Ketika Laut Kehilangan Suaranya

Share this article
reef-soundscape:-ketika-laut-kehilangan-suaranya
Reef Soundscape: Ketika Laut Kehilangan Suaranya

LindungiHutan Insight

  • Reef Soundscape adalah keseluruhan suara yang dihasilkan oleh ekosistem terumbu karang.
  • Perubahan iklim, polusi laut, dan overfishing menjadi tantangan yang dapat mengikis suara laut.
  • Menjaga ekosistem pesisir menjadi langkah awal untuk menjaga laut tetap bersuara.

Dulu, laut Indonesia penuh suara kehidupan. Ada suara krek-krek udang yang bersahut-sahutan, gemericik ikan yang melintas, dan dengung kehidupan yang mengisi setiap sudut bawah laut. Tapi, kini tidak lagi.

Bukan karena tidak ada yang tinggal, tetapi karena rumah mereka perlahan menghilang. Para ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai krisis reef soundscape.

Example 300x600

Apa itu Reef Soundscape?

Reef soundscape adalah keseluruhan suara yang dihasilkan oleh ekosistem terumbu karang. Mulai dari suara ikan, udang, hingga karang itu sendiri yang tumbuh.

Terumbu karang yang sehat justru sangat berisik. Ada suara lenguhan dari ikan-ikan, serta derik khas dari udang-udang snapping yang menjadi penanda ekosistem yang hidup dan seimbang. 

Kompleksitas lanskap akustik alami ini bisa digunakan sebagai indikator kesehatan terumbu karang. Reef yang terdegradasi akan jauh lebih sunyi dan keheningan ini adalah sinyal bahaya.

Mengapa Suara Laut Penting bagi Kehidupan Laut?

Suara laut bukan sekadar kebisingan di bawah laut, melainkan sistem navigasi alami. Reef soundscape berfungsi sebagai kompas bagi biota laut untuk pulang dan menetap di habitat yang layak.

Larva karang menggunakan suara sebagai sinyal untuk menentukan di mana mereka akan menetap dan tumbuh. Ketika soundscape melemah, larva kehilangan navigasi alami mereka sehingga siklus generasi terumbu karang terganggu.

Tidak hanya larva, ikan-ikan muda dan berbagai invertebrata juga bergantung pada soundscape untuk navigasi, mencari pasangan, dan menemukan habitat yang aman.

Ketika laut menjadi senyap, generasi berikutnya akan kehilangan arah pulang. Dan tanpa penghuni baru, ekosistem yang rusak akan semakin sulit pulih.

Apa yang Membuat Laut Kita Semakin Senyap?

Luas terumbu karang di Indonesia mencapai lebih dari 51.000 km² yang mencakup sekitar 18% dari total terumbu karang dunia. Namun, dalam pengelolaannya menghadapi berbagai tantangan kompleks yang mengikis suara laut kita:

  • Perubahan iklim: menyebabkan kenaikan suhu laut dan berpengaruh pada pemutihan karang. Karang kehilangan pigmen warna dan perlahan mati.
  • Polusi laut: aktivitas industri dan sampah plastik mengganggu ekosistem. 
  • Overfishing dan illegal fishing: eksploitasi ikan yang melampaui keberlanjutan akan mengancam keberlanjutan ekosistem laut. 
  • Aktivitas manusia: pariwisata bahari yang tidak bertanggung jawab dan pembangunan di pesisir merusak struktur karang secara langsung.

Data BPS 2024 mencatat 33,82% terumbu karang dalam kondisi buruk. Kondisi ini tidak merata, data terbaru BPS 2025 menunjukkan beberapa provinsi mencatat kerusakan di atas 70%, seperti Sulawesi Tenggara (72%) dan Kalimantan Selatan (78,15%).

Ketika Terumbu Karang Mati, Siapa yang Terdampak?

Kematian terumbu karang bukan isu yang bisa diisolasi, dampaknya menjalar ke seluruh ekosistem. 

Populasi ikan menurun drastis karena kehilangan habitat dan tempat berkembang biak. Nelayan pesisir kehilangan mata pencaharian. Masyarakat yang bergantung pada laut sehat, baik untuk pangan maupun pariwisata akan ikut terdampak.

Ekosistem laut dan pesisir juga saling terhubung erat. Ketika terumbu karang melemah, garis pertahanan pertama pesisir ikut rapuh, termasuk kawasan mangrove yang menjadi penyangga antara laut dan daratan.

Area terumbu karang dengan soundscape yang kaya memiliki kemungkinan 7 kali lebih besar untuk pulih dibanding area yang senyap. Dunia diperkirakan telah kehilangan hampir separuh terumbu karangnya dalam 50 tahun terakhir.

Sains Punya Jawaban akan Harapan

Di balik angka-angka yang mengkhawatirkan, ada secercah harapan dari dunia sains.

Peneliti Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI) memasang speaker bawah laut di area terumbu yang rusak, lalu memutar rekaman suara dari terumbu karang yang sehat. Hasilnya, larva karang terdorong untuk berkoloni lagi di area tersebut. (Sumber: WBUR)

Studi serupa di Great Barrier Reef, Australia, menunjukkan bahwa setelah 40 hari acoustic treatment, komunitas ikan muda meningkat hingga 50%. Teknologi sederhana ini terbukti menjadi salah satu intervensi yang paling scalable untuk memulihkan terumbu. Sumber: Earth.org)

Namun teknologi saja tidak cukup. Ekosistem pesisir yang sehat, terutama hutan mangrove tetap menjadi fondasi utama pemulihan laut jangka panjang. Ia melindungi garis pantai, menyaring sedimen, dan menjadi habitat bagi berbagai spesies.

Baca Juga: Pulihkan Ekosistem Mangrove Desa Mekarsari, Kecamatan Panimbang

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang paling dekat dengan kita.

Menjaga ekosistem pesisir dimulai dari kesadaran bahwa laut yang sehat bukan hanya soal pemandangan indah, tetapi juga keberlangsungan hidup jutaan makhluk, termasuk manusia.

Mangrove menjadi salah satu garis pertahanan terpenting pesisir. Hutan mangrove menyerap karbon, melindungi pantai dari abrasi, dan menjadi rumah bagi biota laut yang mendukung kesehatan terumbu karang.

Reef Soundscape Adalah

Kalau laut punya suara, itu artinya laut masih hidup. Mari kita jaga agar suara itu tetap terdengar. 

Baca Juga: Pulihkan Ekosistem: Budidaya Mangrove Desa Lontar, Kecamatan Kemiri, Tangerang

Jaga Pesisir, Jaga Laut

Terumbu karang, hutan mangrove, dan padang lamun merupakan tiga komponen yang memengaruhi kesehatan laut. Beberapa kondisi ekosistem laut akan mempengaruhi produksi perikanan, mengingat potensi perikanan sangat penting bagi ketahanan pangan.

Memulihkan satu berarti mendukung yang lain.
Pelajari lebih lanjut mengapa konservasi mangrove menjadi kunci pemulihan ekosistem dan bagaimana kamu bisa jadi bagian dari solusinya. Baca selengkapnya.

LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.2 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan