Indonesiainside.id — Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera, Muhammad Kholid, meluncurkan Gerakan Nasional Waste For Aid yang diinisiasi Bidang Energi, Lingkungan Hidup, dan Perubahan Iklim DPP PKS. Gerakan ini membawa gagasan sederhana tetapi kuat: sampah tidak cukup dipandang sebagai beban lingkungan, tetapi juga bisa diubah menjadi sumber bantuan kemanusiaan, ekonomi, dan sosial.
Kholid mengapresiasi inisiatif BELHPI DPP PKS tersebut karena dinilai menghadirkan cara pandang baru dalam menjawab persoalan sampah. Menurut dia, krisis lingkungan harus direspons dengan aktivisme, inovasi, dan gerakan sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Ini adalah langkah maju, karena biasanya sampah menjadi masalah, tapi ini menjadi peluang untuk menjadi bantuan kemanusiaan, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan. Ini adalah cara berpikir ketika situasi krisis diubah menjadi peluang,” ujar Kholid.
Gerakan Waste For Aid diluncurkan di tengah persoalan sampah yang masih menjadi tantangan besar Indonesia. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional yang dikutip Kementerian Kelautan dan Perikanan memperkirakan timbulan sampah nasional pada 2025 mencapai 50,06 juta ton, dengan sekitar 40 persen tidak terkelola. KKP juga mencatat sebagian besar sampah yang tidak tertangani dapat berakhir di laut, sementara studi UNEP menyebut 80 persen sampah laut berasal dari daratan.
Karena itu, Kholid menilai gerakan lingkungan tidak bisa berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ia berharap kerja para pegiat lingkungan seperti Direktur Bank Sampah Induk Patriot Kota Bekasi, Mulyanto Diharjo, dan Founder Gerakan Pencegah Krisis Planet, Taufiq Supriadi, dapat diperluas menjadi gerakan nasional yang didukung kebijakan negara. Keduanya hadir sebagai narasumber dalam peluncuran tersebut.
“Kenapa bisa muncul tokoh-tokoh seperti Pak Taufiq dan Pak Mulyanto? Karena ada sikap aktivisme, kepeloporan, dan kerelawanan. Ini bagus, tapi tidak cukup. Ini harus jadi gerakan nasional yang nantinya akan menjadi mainstreaming kebijakan negara,” tegasnya.
Menurut Kholid, pengelolaan sampah yang baik tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi hijau. Sampah memiliki nilai jika dikelola melalui sistem pemilahan, pengumpulan, daur ulang, dan ekonomi sirkular yang melibatkan masyarakat.
Gagasan itu sejalan dengan kajian ekonomi sirkular di Indonesia. Laporan The Economic, Social and Environmental Benefits of a Circular Economy in Indonesia menyebut pendekatan ekonomi sirkular berpotensi menciptakan 4,4 juta pekerjaan bersih kumulatif pada 2030, sekaligus mengurangi limbah di berbagai sektor.
“Sampah yang banyak bisa memiliki nilai ekonomi. Sampah kita kalau dievaluasi bisa mencapai ratusan triliun rupiah dan mampu menciptakan 4,4 juta green jobs,” kata Kholid.
Dalam acara tersebut, Kholid secara simbolis meresmikan gerakan dengan melakukan pemilahan sampah sesuai jenisnya. Ia juga menyerahkan tempat sampah kepada pengurus DPW dan DPD PKS yang hadir. Aksi simbolik itu menjadi pesan bahwa gerakan besar harus dimulai dari kebiasaan kecil: memilah sampah dari sumbernya.
Para pengurus BELHPI tingkat wilayah dan daerah kemudian membacakan komitmen Gerakan Waste For Aid yang dipimpin Sekretaris BELHPI DPP PKS, Paramitha Messayu. Komitmen itu diharapkan menjadi pijakan agar gerakan tidak berhenti di tingkat pusat, tetapi bergerak hingga struktur wilayah dan daerah.
Kholid berharap Waste For Aid menjadi kebiasaan baru di seluruh struktur PKS dan menginspirasi elemen bangsa lain untuk bergerak bersama. Ia menilai pengelolaan sampah membutuhkan kerja kolektif, bukan hanya pemerintah, partai politik, komunitas lingkungan, atau bank sampah secara terpisah.
“Semoga gerakan nasional ini menjadi solusi untuk mengurangi sampah di masyarakat dan bisa menjadi bantuan untuk masyarakat yang membutuhkan untuk terus beraktivitas,” pungkasnya.
Dengan Waste For Aid, PKS mencoba membawa isu lingkungan masuk ke ruang aksi sosial. Sampah yang selama ini sering berakhir di tempat pembuangan, sungai, atau laut, didorong menjadi sumber nilai baru. Bukan hanya untuk membersihkan lingkungan, tetapi juga membantu masyarakat yang membutuhkan dan membuka jalan bagi ekonomi hijau berbasis warga.
