#Viral

Patung Moai di Pulau Paskah Mungkin Telah Berjalan ke Tempat Mereka Sekarang Berdiri

34
patung-moai-di-pulau-paskah-mungkin-telah-berjalan-ke-tempat-mereka-sekarang-berdiri
Patung Moai di Pulau Paskah Mungkin Telah Berjalan ke Tempat Mereka Sekarang Berdiri

Patung Pulau Paskah, secara tradisional dikenal sebagai moai di pulau terpencil Rapa Nui di Pasifik Selatan, adalah beberapa artefak paling mengesankan dari peradaban Polinesia kuno. Cara pengangkutan patung-patung tersebut masih menjadi teka-teki, karena beratnya bisa mencapai beberapa ton namun tersebar di seluruh pulau. Berbagai teori telah diajukan, termasuk bahwa mereka diseret dengan kereta luncur kayu atau digulingkan di tanah, namun tidak ada bukti pendukung yang mendukung klaim tersebut.

Pada tahun 2012, tim peneliti AS berhasil menopang replika patung moai seberat 4,35 ton dan membuatnya “berjalan”. Teknik ini, di mana dua tim menggunakan tali menarik patung itu ke arah yang berlawanan agar patung itu terhuyung ke depan sementara tim ketiga memastikan patung itu tidak terjatuh, menantang teori konvensional bahwa moai dipindahkan dalam posisi horizontal.

Pertanyaannya kemudian adalah seberapa besar upaya yang diperlukan untuk memindahkan moai yang jauh lebih besar. “Setelah moai bergerak, itu tidak sulit sama sekali,” menjelaskan Carl Lipo, seorang antropolog di Universitas Binghamton.

Lipo dan timnya secara sistematis mensurvei 962 patung moai di Pulau Paskah, dengan fokus utama pada 62 patung yang ditemukan di sepanjang jalan kuno. Mereka baru saja menerbitkannya sebuah kertas memberikan bukti kuat bahwa moai diangkut dalam posisi tegak.

Tim juga berhasil memindahkan replika moai pinggir jalan sejauh 100 meter dalam waktu 40 menit hanya dengan 18 orang, hasil yang jauh lebih efisien dibandingkan eksperimen sebelumnya.

Para peneliti menunjukkan bagaimana orang Rapa Nui “berjalan” dengan moai.

Aturan Jalan

Penelitian menemukan bahwa patung moai diposisikan di sepanjang milik Rapa Nui jalan mempunyai ciri-ciri yang sama. Basis patung berbentuk D yang lebar dan desain patung yang condong ke depan mengoptimalkan moai untuk “berjalan”, bahkan saat ukurannya bertambah. Faktanya, moai yang ditinggalkan di pinggir jalan ditemukan memiliki pusat gravitasi yang tidak seimbang dan menunjukkan tanda-tanda roboh selama pengangkutan.

Hipotesis ini juga didukung oleh jalan kuno itu sendiri, yang lebarnya kurang lebih 4,5 meter dan penampangnya agak cekung. Para peneliti yakin ini adalah kondisi ideal untuk membantu menstabilkan moai saat mereka berjalan.

Analisis statistik terhadap distribusi moai menunjukkan 51,6 persen terkonsentrasi dalam jarak 2 km dari tambang tempat asal mereka, menunjukkan pola peluruhan eksponensial yang terkait dengan kegagalan mekanis dan bukan karena penempatan seremonial yang disengaja. Kemungkinan besar patung-patung ini rusak atau terjatuh saat diangkut dan tertinggal di tempatnya.

Tantangan terhadap hipotesis berjalan terutama terfokus pada kendala topografi, ketersediaan tali, dan pola cuaca, namun keberatan ini, kata para peneliti, tidak cukup didukung oleh bukti arkeologi yang komprehensif. Para peneliti juga mengikuti tradisi lisan Rapa Nui yang menyatakan keyakinan bahwa moai berjalan dari tambang ke lokasi mereka saat ini.

Penelitian ini merupakan penghormatan atas kecerdikan masyarakat Rapa Nui, tegas Lipo. Dibandingkan dengan teori transportasi horizontal konvensional, metode berjalan kaki memerlukan tenaga dan material yang paling sedikit. Manusia modern, kata Lipo, harus banyak belajar dari prestasi teknik kuno yang sangat efisien ini.

Cerita ini pertama kali muncul di KABEL Jepang dan telah diterjemahkan dari bahasa Jepang.

Exit mobile version