Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Menyusur Jejak Perlindungan Bencana Gunung Merapi di Bunker Kaliadem Yogyakarta

6
×

Menyusur Jejak Perlindungan Bencana Gunung Merapi di Bunker Kaliadem Yogyakarta

Share this article
menyusur-jejak-perlindungan-bencana-gunung-merapi-di-bunker-kaliadem-yogyakarta
Menyusur Jejak Perlindungan Bencana Gunung Merapi di Bunker Kaliadem Yogyakarta
Menyusur Jejak Perlindungan Bencana Gunung Merapi di Bunker Kaliadem Yogyakarta

Menyusur Jejak Perlindungan Bencana Gunung Merapi di Bunker Kaliadem Yogyakarta | Travel | Mei 2026

Usai sarapan di satu villa yang kami sewa di pinggiran kota Yogyakarta, saya dan keluarga segera berkendara menuju bahu Gunung Merapi untuk mengikuti Merapi Jeep Lava Tour yang menyusur beberapa tempat di seputaran Gunung Merapi. Dari beberapa titik kunjungan itu, salah satunya adalah ke Bunker Kaliadem

Saat tiba di home base 86 Merapi Jeep Tour Community di Cangkringan, Sleman, saya dan sembilan anggota keluarga lainnya memutuskan istirahat sejenak. Aneka gorengan dengan potongan besar-besar dan bergelas-gelas teh dan kopi hangat langsung dihidangkan sembari menunggu persiapan mobil dan para crew yang akan mendampingi.

Example 300x600

Saya menikmati waktu-waktu ngaso ini. Meski cuma sebentar nyatanya suasana persiapan yang tercipta membuat saya paham bagaimana sebuah jejak adventure butuh kondisi yang memberikan rasa nyaman bagi seluruh peserta, termasuk mereka yang mendampingi. Saya pun menyampaikan tentang kondisi HNP dan apa yang sudah dipesankan oleh dokter internist. Sang captain rombongan pun paham dan meminta saya ikut di mobil jeep yang dia kendarai sendiri.

Setelah kesepakatan rute rampung disetujui beramai-ramai, kami semua diberikan pengarahan soal keamanan yang harus dipatuhi, dilengkapi dengan bagaimana kondisi seputaran Gunung Merapi yang terbarukan. Salah satu yang akan dikunjungi adalah Bunker Kaliadem yang terletak di desa Kepuharjo, Kapanewon, Cangkringan.  Sebuah bunker yang dibangun oleh pemerintah kabupaten Sleman pada tahun 2000-an. Tujuannya adalah sebagai tempat berlindung dari awan panas saat terjadi erupsi gunung Merapi.

Menyusur Jejak Perlindungan Bencana Gunung Merapi di Bunker Kaliadem Yogyakarta

Jalur yang kami lalui untuk mencapai Bunker Kaliadem cukup menantang. Lebar jalan yang tidak begitu luas kami lewati dilengkapi oleh aspal yang tidak rata di hampir setiap jengkal. Kalau mengingat bahwa semua jalur digunakan untuk jeep adventure, saya jadi paham. Rute yang menantang seperti ini justru membuat acara naik jeep terbuka itu menjadi lebih seru.

Jeep jadi berjalan pelan sembari “menikmati” setiap jengkal aspal yang menantang. Kadang terbanting-banting, miring-miring, bahkan menuntut penumpang berpegangan seerat mungkin saat melewati lubang yang lumayan dalam. Saya mengingatkan diri agar kuat memegang besi di depan tubuh agar tidak menghantam dada sendiri. Termasuk untuk tidak terjatuh atau bahkan terlempar. Dengan tentu saja, konsisten melemaskan tubuh agar tidak melawan “alunan” bantingan jeep saat mengaspal.

Saya juga menahan diri untuk tidak duduk di jok belakang. Mengapa? Karena jok nya tipis banget woi. Buat saya yang bokong nya tepos, tipe dudukan seperti ini tuh sungguh menyiksa. Apalagi dalam kondisi terbanting-banting. Bisa-bisa tulang bokong menjerit-jerit karena beradu dengan besi yang tersembunyi di balik jok. Yahud banget rasa sakitnya jika kondisi itu terjadi.

Jadi tetap berdiri adalah posisi solutif untuk kondisi saya.

Sembari menyetir, si Mas pengemudi, bercerita tentang Bunker Kaliadem yang niat pembangunannya adalah sebagai tempat persembunyian dan penyelamatan diri saat gunung Merapi erupsi, batuk-batuk berkepanjangan, atau bahkan meletus. Saya berusaha berkonsentrasi dan melekatkan telinga agar apa yang dia sampaikan dapat saya dengar dengan baik. Asumsi saya saat itu adalah bahwa yang namanya bunker tentunya seperti sebuah lorong atau terowongan panjang yang dibangun di bawah tanah. Persis seperti apa yang pernah saya lihat di Lawang Sewu Semarang.

Benarkah Bunker Kaliadem ini bentuknya sama? Mirip seperti apa yang saya pernah lihat saat berada di Lawang Sewu Semarang?

Menyusur Jejak Perlindungan Bencana Gunung Merapi di Bunker Kaliadem Yogyakarta

Jeep yang kami tumpangi tiba di sebuah bukit kecil sekitar lima belas menit berkendara. Langit biru menyambut seperti apa yang saya harapkan. Saya butuh waktu lebih lama dari yang lainnya untuk turun dengan alasan menjaga keseimbangan tubuh untuk tidak terjatuh. Karena kata “terjatuh” adalah koentji teramat penting bagi seorang penderita HNP.

Saat tiba di jalan kecil yang persis berada di halaman Bunker Kaliadem, saya melamati barisan panjang warung yang menjajakan berbagai produk. Mulai dari beragam oleh-oleh seperti tempelan kulkas, gantungan kunci, topi, dan masih banyak lagi. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah bunga Edelweiss yang sudah dikeringkan. Selain ada yang masih dalam bentuk tangkai, ada juga yang sudah diletakkan dalam beberapa wadah. Seperti dalam kotak kaca yang salah satunya saya adopsi untuk hiasan rak buku kayu di mini library saya.

Sebagian besar dari warung-warung ini juga menawarkan minuman dingin dan makanan siap saji yang mudah diolah seperti mie instan. Saat saya bertamu di salah satu warung, ada sepasang remaja yang memesan Indomie goreng telur. Astaga. Sangat menggoda sekali saudara-saudara. Wangi khas nya itu loh membuat lambung menjerit-jerit. Saya sempat tergoda jujurly. Tapi mengingat tadi saya menikmati beberapa pisang dan tahu tempe goreng plus segelas kopi hitam di home base tadi, gak kuat rasanya jika harus menambahi lagi mie instan goreng ke dalam lambung saya yang sudah kisut termakan usia itu.

Menunggu beberapa dari kami yang harus ke toilet, rombongan keluarga dengan formasi sepuluh pun berkumpul lagi sekian belas menit kemudian. Atas arahan si Mas tour leader yang menyupiri jeep yang saya naiki, kami lalu berkumpul di halaman depan bunker. Ada beberapa informasi yang bisa saya dapatkan saat berdiri di depan sebuah spanduk besar tentang bagaimana kondisi bunker sebelum, sesaat dan setelah terjadinya erupsi Merapi di 2021.

Di antaranya adalah bahwa Bunker Kaliadem ini dibangun oleh Dinas Pengairan Pertambangan dan Penanggulangan Bencana Alama (P3BA) dengan proses pembangunan sekitar dua tahunan. Pada erupsi Gunung Merapa di 2006, Bunker Kaliadem teruji secara alami untuk pertama kalinya. Dua orang relawan mencoba berlindung di sana, dengan harapan bahwa bunker ini dapat menyelamatkan mereka dan melindungi mereka dari awan panas (wedhus gember) atau material vulkanik lainnya.

Namun sayangnya mereka meregang nyawa di bunker tersebut. Duka mendalam tentu saja menyelimuti keluarga dan warga lereng Merapi pada umumnya. Setelah kejadian itu Bunker Merapi berubah menjadi bangunan terbengkalai dengan gundukan material vulkanik yang berserakan.

Karena kondisi ini, semula Bunker Kaliadem akan dijadikan sebagai monumen atau museum alam untuk mengenang peristiwa erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada 2006. Akan tetap pemerintah Desa Kapuharjo mempunyai gagasan yang lebih baik. Mereka menjadikan bunker ini menjadi salah satu obyek wisata di lereng Merapi. Dan inilah yang sekarang bisa dinikmati oleh banyak pengunjung.

Saya melangkah mendekat ke arah bunker yang dimaksudkan tapi justru menemukan gorong-gorong yang tidak begitu dalam dan dipadati oleh batu-batu berat vulkanik dalam berbagai ukuran. Terlihat juga tumpukan kotoran debu yang sepertinya enggan menghilang. Jadi kalau boleh terus terang, definisi bunker seperti belum terlihat secara visual. Tempatnya sama sekali tidak mirip dengan bunker yang pernah saya temui di obyek wisata Lawang Sewu Semarang. Jadi tak heran jika Bunker Kaliadem ini tidak cukup aman untuk menjadi tempat menyelamatkan diri saat Merapi erupsi.

Saya mendadak tercenung, membayangkan bagaimana dua orang relawan tersebut bersembunyi dan berjuang untuk tetap hidup saat Gunung Merapi memuntahkan asapnya yang mematikan. Tak terlukiskan di dalam otak saya kondisi terakhir mereka saat berjuang untuk bertahan hidup.

Usai tercenung di depan bunker kecil ini, kami menyempatkan diri berfoto bersama persis di depan sebuah signage besar bertuliskan Bunker Kaliadem. Menyimpan kenangan bahwa saya dan para sepupu serta dua orang tante dari keluarga suami, sudah pernah menyapa lereng Gunung Merapi. Niat kami untuk menyusur jejak perlindungan bencana Gunung Merapi pun sudah terekam dan tercatat dengan baik lewat tulisan ini.

Sebelum kembali ke jeep yang saya tumpangi tadi, saya sekali lagi menyempatkan diri berdiri di salah satu sudut halaman depan bunker.

Berdiri menghadap sang Merapi, di salah satu sudut sisi kanan halaman ini, ada sebuah menara tiga lantai dengan kondisi terbuka tanpa dinding. Cukup besar ukurannya. Tingginya pun cukup menjulang. Awalnya saya pengen banget naik ke menara itu tapi sayang tidak ada yang berkenan menemani. Lagian waktu juga sudah mepet karena masih ada dua tempat lagi yang masuk dalam agenda kunjungan bersama.

Menyusur Jejak Perlindungan Bencana Gunung Merapi di Bunker Kaliadem Yogyakarta
Menyusur Jejak Perlindungan Bencana Gunung Merapi di Bunker Kaliadem Yogyakarta
Menyusur Jejak Perlindungan Bencana Gunung Merapi di Bunker Kaliadem Yogyakarta
Menyusur Jejak Perlindungan Bencana Gunung Merapi di Bunker Kaliadem Yogyakarta

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com