

Selesai check-in dan sempat ngaso sebentar di dalam hotel, komandan rombongan keluarga langsung mengingatkan semua anggota untuk bersegera bersiap melanjutkan acara seharian itu. Sesuai rencana kami akan menikmati senja di Pantai Marina Semarang, baru setelah itu makan malam, dan menutup hari dengan tepar di kamar masing-masing
Teh Ida, sang ketua rombongan sekali lagi mengingatkan agar kami semua tidak tidur terlalu lama sesiangan itu. Kalau enggak, buyar semua rencana. Harus kompak waktu dan disiplin dengan kesepakatan serta jadwal yang sudah tersusun rapi sebelum berangkat.
Tapi ini jadi tantangan yang luar biasa bagi saya. Apalagi saat dalam perjalanan ke hotel hingga selesai proses check-in hujan deras sedang mengguyur hebat kota Semarang. Langit pun terlihat pekat dan menghitam. Angin kencang mengiringi saat mobil yang kami tumpangi berusaha mencapai bagian depan hotel yang kecil dan serba mepet.
Salah seorang tante yang sudah berusia 65-an tahun terpaksa basah kuyup karena hujan angin yang deras tanpa ampun. Padahal beliau turun dari bangku tengah yang sudah dikondisikan berada di titik teraman dan jauh dari rintik hujan yang menghujan bumi tanpa ampun.
Dengan cuaca seperti ini jujurly pengen rasanya menikmati sisa hari dengan ngukur kasur di dalam kamar. Mandi air hangat, pakai baju tidur dengan setelan udara yang nyaman dari pendingin ruangan. Lalu meluruhkan lelah serta meluruskan pinggang yang remuk redam selama perjalanan darat sekitar 5-6 jam dari Bandung. Kebayang dong duduk di deretan bangku bagian belakang dengan hantaman jalan yang seperti roller coaster. Mantab pisan lah pokoknya untuk penderita HNP seperti diriku ini.
Yok ah. Tetap semangat.
Anggota rombongan kami sebenarnya adalah ibu-ibu menjelang dan sudah lansia. Termasuk saya. Hanya 1-2 orang yang setidaknya belum 50 tahun. Namun semangat ngelencer nya gak kalah sama yang masih muda. Buktinya pada oke aja sewa mobil Hiace 14 seats, menyusur perjalanan darat selama berjam-jam dengan hanya waktu jelajah selama 2 hari 1 malam. Satu kondisi yang menjadikan 80% waktu dihabiskan di dalam kendaraan dan mampir kesana kemari.
Baca Juga : Bertamu ke D’Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie Semarang


Cuaca yang Mendadak Berubah
Teh Ida adalah salah seorang dari kami yang hobi ngukur jalan seperti halnya saya. Referensi dan pengetahuannya tentang banyak tempat menarik di berbagai sudut negeri sudah dia kantongi. Khususnya jalur sepanjang Jawa dan banyak kota yang ada di dalamnya. Si teteh yang satu ini, menikmati masa pensiun dengan melakukan banyak kegiatan. Olah raga, pengajian, ngurusin kos-kosan, nongkrong-nongkrong (baca: bersosialisasi), termasuk diantaranya bergabung dengan berbagai komunitas emak-emak yang salah satu kegiatannya adalah pelesiran. Menikmati me and our time berkualitas bersama para sahabat.
Jadi saat beliau menyampaikan bahwa akan mengajak kami semua menikmati indahnya senja di pinggir pantai, saya langsung terlonjak. Baru nyadar bahwa Semarang punya tempat dengan kualifikasi seperti itu. Meski, menurut beliau, hanyalah pinggir laut seperti biasa, saya tetap penasaran.
“Bukan dengan pantai berpasir yang bisa kita injak dan jadi tujuan wisata alam seperti yang sering kita temui di Bali, Pangandaran, Ancol, dan daerah-daerah pesisir lainnya sih. Tapi lumayanlah buat menikmati senja,” sambungnya lagi memberikan semangat.
Saya tetap dan malah tambah penasaran. Gak sabar untuk segera sampai di tempat tujuan.
Ternyata Pantai Marina, tempat yang direferensikan Teh Ida dan akan kami kunjungi ini, tak begitu jauh dari hotel. Melewati sebuah kawasan dengan banyak bangunan besar, angin deras terlihat menyambut. Banyak batang dan daun pohon melambai-lambai dengan hebohnya. Titik air hujan pun tampak enggan untuk benar-benar beranjak.
Duh hujan please deh ya. Gak bakalan muncul deh sunset nya kalau begini.
Saya, bagai bocah ingusan yang lagi nunggu dihadiahi sesuatu, terus aja membatin. Kalau kondisi alamnya begini, bukan gak mungkin kami semua hanya menikmati waktu dengan ngopi dan ngobrol saja. Dan eh semangkuk besar Indomie kuah dengan potongan rawit dan telur rebus. Yah setidaknya itulah kondisi terbaik yang bisa menghibur hati.
Dan eeehh, ternyata impian saya terjawab. Tak lama setelah kami berlarian turun dari mobil saya melihat kedai Kusuma Kopi tampak hening dan sepi. Saya melihat kain kotak-kotak hitam putih terikat di sana-sini. Mendadak teringat dengan banyak cafe pinggir jalan yang ada di Bali yang selalu hadir dengan ciri khas yang sama.
Saya mengalihkan pandangan.
Ada sepasang tamu yang duduk di salah sudut tapi mereka tak pun hirau dengan kehebohan kami. Beberapa petugas langsung sigap menyambut dan segera membersihkan tempat duduk/bangku yang sempat basah tertimpa air hujan.
Kami pun dipersilahkan duduk di deretan bangku yang ada di teras terluar tapi masih terlindungi oleh atap. Jadi jika tiba-tiba hujan kembali hadir, kami gak perlu kocar-kacir.
Namun ketakutan itu tidak terbukti. Nyatanya doa saya dikabulkan oleh semesta. Dalam hitungan menit langit perlahan merekah dengan semburat sinar matahari yang sedikit meninggi. Tidak terlalu terang karena memang di saat itu adalah waktunya sang mentari mulai meninggalkan angkasa dan melangkah keperaduannya.
Saya duduk sejenak. Terpaku mengamati sekeliling, sekitar kedai Kusuma Kopi dan lingkungan Pantai Marina serta apapun yang berada di dekatnya.
Saya mendapati kedai ini seperti berdiri sendiri. Tak ada kawannya. Hadir mandiri dengan lapangan parkir yang (cukup) luas. Dari titik terujung yang mendekat ke laut, saya bisa melihat ada sebuah anjungan dengan fasilitas penyewaan speed boat. Sementara di sisi yang berbeda, ada sebuah lahan/jalan yang dinaungi oleh banyak pohon dan tempat duduk. Sepertinya tempat ini diperuntukkan bagi para pengunjung Pantai Marina yang datang dengan motor dan hanya ingin duduk-duduk menanti syahdunya senja.
Saya mencoba merekam menit demi menit, detik demi detik, sembari menyeruput kopi hitam yang saya pesan. Saat waktu beranjak Kusuma Kopi pun menyalakan lampu-lampu mereka dan membuat senja di Pantai Marina itu semakin syahdu.
Baca Juga : Umbul Sidomukti, Wisata Alam di Lereng Gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah



Tadi, tak berapa lama setelah kami duduk menghadap ke laut, Teh Ida memanggil kami satu persatu untuk memesan minuman dan camilan hangat. Saya seperti biasa memesan kopi hitam. Gak sempat terfoto karena saya fokus berkeliling mencari spot foto terbaik.
Tapi saya lihat para sepupu senior saya sudah gerak cepat memesan berpiring-piring tempe mendoan yang digoreng nyemek-nyemek dan pisang goreng keju. Penganan sederhana yang biasa kita nikmati di rumah sembari ngopi atau ngeteh bercangkir-cangkir. Semua menjadi semakin lengkap dan sempurna saat para sepupu terlibat dalam percakapan seru.
Saya? Hanya mojok dalam keheningan dan terkadang membantu banyak orang untuk dipotret. Gak bisa ikutan ngobrol karena semua berbicara dalam bahasa Sunda. Bahasa daerah suami yang hingga saya mengetik ini tidak juga saya kuasai. Jadi jika semua tertawa ngakak bareng-bareng dan saya ikut tertawa, berarti saya sedang mentertawakan orang yang sedang tertawa itu tanpa paham artinya.
BTW, yang pengen tahu lebih banyak tentang Kusuma Kopi, kuy mampir dan jelajahi akun IG @kusumakopi_ Siapa tahu pengen ikut menyaksikan dan merasakan syahdunya senja di Pantai Marina. Mereka buka 24 jam loh. Asyik kali ya sarapan di sini sambil mendengarkan deburan ombak laut yang menghantam sisi depan kedai.
Baca Juga : Sam Poo Kong, Klenteng Sarat Cerita di Semarang











