Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Menjejak Pesona Kota Lama Semarang, Keindahan Apa Saja yang Bisa Kita Temukan di Sana?

39
×

Menjejak Pesona Kota Lama Semarang, Keindahan Apa Saja yang Bisa Kita Temukan di Sana?

Share this article
menjejak-pesona-kota-lama-semarang,-keindahan-apa-saja-yang-bisa-kita-temukan-di-sana?
Menjejak Pesona Kota Lama Semarang, Keindahan Apa Saja yang Bisa Kita Temukan di Sana?
Menjejak Pesona Kota Lama Semarang, Keindahan Apa Saja yang Bisa Kita Temukan di Sana?
Hotel KOTTA dan jalur masuk kawasan Kota Tua Semarang dari arah parkiran

Menjejak Pesona Kota Lama Semarang, Keindahan Apa Saja yang Bisa Kita Temukan di Sana? | Travel and Featured | Januari 2026

Mengikuti agenda tahunan jalan bareng para tante dan sepupu suami, kami sepakat untuk menjejakkan kaki di kota Semarang, ibu kota provinsi Jawa Tengah. Salah satu agenda yang sudah dijadwalkan sebelum berangkat adalah menjejak Kota Lama Semarang yang ada di kawasan Tanjung Mas, Semarang Utara. Keunikan apa saja yang bisa kita temukan di sana?

Example 300x600

Saya sebenarnya sudah mengunjungi kawasan ini dua kali, bertahun-tahun yang lalu. Tapi saat itu di malam hari dengan pencahayaan mengandalkan beberapa titik sinar lampu yang dipasang di seputaran kawasan. Tidak banyak tapi tetap mampu menampilkan keindahan beberapa bangunan lawas yang berada di dalam kawasan. Saat itu kemampuan saya memotret masih dalam tahap belajar, jadi “merekam” keindahan tempat belum bisa memberikan hasil yang maksimal.

Tapi peristiwa itu telah meninggalkan kesan yang begitu mendalam di hati. Memecut semangat untuk bersegera dan rajin berlatih memotret agar bisa, mampu menghadapi berbagai “medan” pengambilan gambar dalam setiap cuaca, tempat, dan kondisi.

Berbeda dari dua pengalaman sebelumnya, kali ini saya bertamu kembali ke Kota Lama Semarang di pagi hari, saat cuaca sedang panas-panasnya, dan matahari buka sekitar empat cabang dengan sinar mentereng menghujan kecamatan Semarang Utara di mana Kota Lama Semarang berada.

Mobil minivan yang kami tumpangi diarahkan untuk parkir di satu tempat khusus yang cukup luas. Kami harus berjalan tapi tak lama dan gak jauh kok. Hanya sekitar lima menitan. Saya memutuskan untuk jalan perlahan saja karena kendaraan, baik mobil maupun motor termasuk becak, sudah tampak sibuk memenuhi jalur yang melewati bagian tengah Kota Lama Semarang.

Sembari berjalan menyisir, saya malah sempat menemukan sebuah cafe yang menawarkan kopi dan produk bakery. Namanya Spiegel Bar and Bistro. Saya sesungguhnya begitu tergiur karena sempat memperhatikan tamu keluar masuk yang memungkinkan para pejalan mencium wanginya kopi dan beberapa roti atau cake yang baru matang. Semriwing harum baunya, layaknya produk fresh-baked baru dikeluarkan dari pemanggang. Saya langsung menelan ludah. Alamak menggoda sekali. Pengen banget nongkrong di situ sembari menikmati secangkir kopi Americano hitam tanpa gula dan sepotong besar croissant yang terlihat mengembang dengan kulit yang mengilap berwarna coklat muda.

Saya tertegun dengan selera yang menggelegak. Ya ampun.

Keinginan itu semakin menebal mengingat saat sarapan di hotel, perut saya belum terisi maksimal. Selain karena pilihannya tidak banyak, hidangannya sedikit dan kudu rebutan dengan banyak orang, rasanya pun tidak menghibur lidah dan selera. Sarapan gagal di hotel bintang 3 yang beberapa kali saya alami.

Tapi karena perginya berombongan dan tidak satupun berminat nongkrong barang sebentar di cafe ini, akhirnya saya harus mengalah. Tetap melangkah bareng, menyusur setiap bangunan yang ada di Kota Lama Semarang, dengan langkah gontai tentu saja. Langkah seorang pengelana yang memimpikan duduk bersantai sembari menghabiskan secangkir Americano dan menikmati gurih dan renyahnya sebuah croissant.

Menjejak Pesona Kota Lama Semarang, Keindahan Apa Saja yang Bisa Kita Temukan di Sana?
Phone Box merah di depan Hotel KOTTA (kiri) | Gedung Spiegel (kanan)

Intermezzo Bersama si Bapak Tour Guide

Rombongan kami berjalan pelan dan sempat melipir ke sebuah teras depan Kotta Hotel, lalu duduk dan menikmati berbotol-botol air mineral dingin. Teriknya mentari sepertinya “menghajar” tubuh untuk tak henti mengisi raga dengan sumber energi yang menyegarkan. Air putihlah setidaknya.

Dalam hitungan menit kemudian seorang lelaki setengah baya, bertubuh tambun datang menghampiri saya lalu menawarkan jasa untuk menjadi tour guide. Dia mengenakan kaos seragam berpadu bawahan jarik batik. Ada serangkaian tulisan di kaos yang mengidentifikasi bahwa beliau memang petugas lepasan di kawasan Kota Tua Semarang. Butiran keringat tampak memenuhi wajahnya. Kulitnya yang legam menandakan bahwa dia pasti telah lama membiarkan dirinya “terpanggang” matahari menunggu wisatawan yang berkenan dia kawal.

Ah, bisa aja memang dasarnya pekat kan? Tapi ya sudahlah. Apalah artinya kulit legam itu dibandingkan dengan keramahan natural yang dia hadirkan di hadapan saya.

Saya sempat berpikir sekian menit sebelum memutuskan menerima tawaran nya. Ada dua alasan kuat untuk meng-iya-kan. Pertama adalah tentang rangkaian sejarah tempat ini yang patut saya dan rombongan dengarkan. Yang pada akhirnya, hanya saya yang menyimak. Sementara yang lainnya sibuk berkelakar dan mengamati setiap sudut bangunan tanpa merasa perlu membongkar alkisah. Ini adalah salah satu bukti konkret bahwa memang pada kenyataannya yang menyukai sejarah tuh hanya bisa dihitung jari.

Kedua adalah tentang foto. Yang kedua ini – menurut pemahaman saya – jadi urusan yang cukup krusial. Karena kalau saya yang sibuk sendiri memotret, hakul yakin dari serangkaian hasil foto tersebut tidak akan tampak diri saya sendiri. Sementara saya tak lihai selfie, apalagi menggunakan tongsis (selfie stick). Saudara-saudara yang lain tak ada satu pun yang bisa, memahami tips and trick memotret termasuk berminat untuk membantu memotret. Nah kalau ada si bapak, masalah ini otomatis terpecahkan sto?

Saat saya bertanya tentang honornya, si bapak dengan sopan menjawab, “Selowongnya ibu aja. Sak-ilhlas-se ibu.” Nah saya jadi terjebak deh. Bingung dah. Cukup bagi saya belum tentu pas bagi si bapak kan? Tapi masalah ini saya simpan sementara. Nanti kan sambil jalan-jalan saya bisa bertanya tentang ini ke saudara-saudara yang ada.

Lima menit kemudian saya sibuk mengajari si bapak mengutak-atik handphone. Satu-satunya alat yang saya bawa dan akan digunakan untuk memotret. Meyakinkan bahwa dia paham mengambil sudut foto terbaik lewat beberapa tombol dan arahan visual yang ada, saya langsung tersenyum lebar. Si bapak berulangkali mengangguk dan menjadikan saya obyek latihan. Dan hasilnya benar-benar sesuai harapan saya.

Hati saya langsung lega. Beliau ternyata tak hanya cakap pengetahuan sejarah tapi juga fast learner yang patut dihargai. Jadi saat teman-teman melihat foto yang menampilkan saya dan anggota rombongan, itu adalah hasil arahan dan jepretan si bapak. Matur thank you loh Pak.

Menjejak Pesona Kota Lama Semarang, Keindahan Apa Saja yang Bisa Kita Temukan di Sana?
Gedung MARBA yang berada di jalur utama (Jl. Letjen. Soeprapto)

Menyusur Setiap Sudut Kota Lama Semarang

Beranjak dari area duduk tadi, si bapak mengajak kami beranjak menuju Taman Sri Gunting yang berdampingan dengan Gereja Blenduk. Taman ini dijejali oleh tanaman di berbagai sisi yang tumbuh subur dan terlihat sehat. Ada beberapa tapak konblok untuk dijejak dan beberapa dudukan/bangku besi untuk bersantai. Dulu – seingat saya – ada sebuah becak dengan dudukan tinggi dan dicat berwarna-warni di tengah taman. Tapi sudah tidak ada di saat saya datang.

Si bapak tour guide mengarahkan kami untuk berdiri berjejer di sebuah tangga besi dengan pemandangan Gereja Blenduk. Rumah ibadah ini tampak masih dirapikan, jadi ada pembatas seng yang dibangun di antara taman dan gereja. Uniknya setiap saya datang ke Kota Lama Semarang, gereja ini selalu dalam perbaikan. Jadi saya belum pernah berhasil memotret tempat ibadah ini secara keseluruhan dalam bingkai foto yang lengkap.

Sembari berjalan, si bapak memberikan penjelasan ringkas tentang keberadaan Kota Lama Semarang yang sering juga disebut de Oude Stad dalam bahasa Belanda.

Beliau mengajak kami serombongan berdiri persis di depan taman sembari menerangkan beberapa gedung penting yang menjadi bagian dari aset pariwisata kota Semarang ini. Selain Gereja Blenduk, ada juga gedung bekas De Javasche Bank yang ditempati oleh Semarang Kreatif Galeri. Lalu ada gedung bekas Kantor Pengadilan Pemerintahan Belanda dan pernah menjadi rumah dinas pendeta Gereja Immanuel dan pada 2006 menjadi rumah makan mewah bergaya Sunda.

Lalu ada Gedung Marba yang berseberangan dengan Hotel Kotta dan terlihat dominan menghadap arah jalur kedatangan tamu. Gedung ini berada di pertigaan jalan dengan pintu tinggi di sudutnya. Atapnya juga unik dengan bentuk kotak-kotak yang menyebar disana-sini. Tempat yang cantik banget untuk foto dalam grup.

Selain itu juga ada Gedung H. Spiegel (sekarang digunakan Spiegel Bar dan Bistro – yang tadi sempat bikin saya ngiler maksimal), Gedung bekas Van Drop (digunakan oleh Dream Museum Zone), Gedung Marabunta yang dulu bernama Statschouwburg. Lalu ada Gedung Keuangan Negara (Gedung Pajak) yang dulu merupakan Gedung Balai Kota. Tak jauh dari situ ada Bank Mandiri KC Mpu Tantular (dulu namanya gedung Societiet de Harmonie) dan sebuah jembatan (Jembatan Berok) yang dibangun pada abad ke-17.

Berada di kawasan seluas sekitar 31 hektar dengan puluhan bangunan bergaya Eropa di zaman 1700-an, Kota Lama Semarang yang juga dijuluki sebagai the Little Netherland ini menjadi saksi bisu dari kependudukan Belanda selama 2 abad lamanya. Saya menebarkan pandangan ke banyak sisi. Beberapa ciri khas yang bisa kita amati tentang arsitektur Eropa adalah bangunannya menjulang, dinding yang kokoh, tegel yang tebal dan tak gampang retak, langit-langit bangunan yang menjulang, penggunaan kaca-kaca berwarna, bentuk atap yang unik, serta jendela yang tinggi besar. Tata letak bangunannya pun begitu tertata, bersinergi satu sama lain, dan berkelompok dalam blok yang tersusun rapi.

Keindahan rancang design bangunan ala Eropa ini dulu sempat saya nikmati saat bersekolah di SMA St. Albertus di Jl. Dempo Malang. Sebuah sekolah yang menempati bangunan Belanda yang megah berdampingan dengan seminari, dan hingga kini masih terpelihara dengan baik. Semoga sekolah yang dikenal dengan nama Dempo ini selalu lestari dan terpelihara dengan baik.

Saya mencoba mengingat kembali saat terakhir saya datang ke Kota Lama Semarang kemudian mengangkat ulang memori ini bersama si bapak. Di terakhir kunjungan saya (sebelum di waktu itu), untuk menghindari kemacetan dan kesemrawutan, lalu lintas di kawasan ini diatur satu arah saja. Saat itu masih banyak pedagang pinggir jalan. Kemudian ada sebuah deretan kedai yang menawarkan produk lawas (seperti koin, uang lembaran, dekorasi jadoel) dan lokasinya persis di pinggir Taman Sri Gunting. Semua dibenarkan si bapak tapi berkat pengaturan yang baru, semua sudah diarahkan/dipindahkan ke tempat-tempat tertentu. Tidak berada di jalur utama.

Jalanan utama dan beberapa di sekitarnya sudah diganti dengan konblok. Bukan lagi aspal. Dulu kendaraan bermotor masih diizinkan parkir di bahu jalan utama. Tapi sekarang sudah diatur agar hanya bisa parkir di area khusus, seperti tempat mini van kami itu. Pemerintah setempat juga memasang pembatas jalan berupa tiang-tiang pendek (sedengkul orang dewasa) di semua sisi jalur. Perlengkapan yang memastikan bahwa setiap kendaraan tetap berada di lintasannya dan tidak menyentuh atau mengganggu para wisatawan yang berkegiatan di bahu jalan.

Rangkaian keputusan yang patut diacungi jempol karena dengan keteraturan seperti ini kawasan the Little Netherland jadi terlihat lebih bersih, cantik, estetik dengan rangkaian pesona keindahan yang tourist oriented dan worth visiting. Plus tentu saja memberikan kenyamanan bagi para wisatawan untuk memotret dan menikmati kawasan Kota Lama Semarang dengan senyaman mungkin.

Menjejak Pesona Kota Lama Semarang, Keindahan Apa Saja yang Bisa Kita Temukan di Sana?
Taman Sri Gunting dan Gereja Blenduk
Menjejak Pesona Kota Lama Semarang, Keindahan Apa Saja yang Bisa Kita Temukan di Sana?
Gereja Blenduk dan bangunan heritage lainnya yang berada di sekitar Taman Sri Gunting
Menjejak Pesona Kota Lama Semarang, Keindahan Apa Saja yang Bisa Kita Temukan di Sana?
Saya dan rombongan di Rumah Akar yang ada di Jl. Jalak

Kami kemudian diajak si bapak untuk mengunjungi beberapa deret bangunan yang tersusun seragam seperti barisan ruko di sisi belakang. Ada beberapa tempat yang digunakan sebagai resto dengan vibes yang meng-Eropa betul.

Beliau mengajak kami berfoto di depan sebuah bangunan bernama Soesmans Kantoor. Bangunan milik salah seorang pengusaha terkaya Asia Tenggara di awal abad ke-20 bernama Oei Tiong Ham. Si bapak juga menjelaskan bahwa kantor yang berada di bawah naungan firma Soesman NV ini juga sempat menjadi tempat usaha ekspor impor kuda dan penyedia jasa pekerja di 80-an dan kantor periklanan di 1914. Yang pasti mengingat sang pemilik adalah salah seorang pebisnis yang disegani semasa hidupnya, Soesman NV punya jejaring yang luas, khususnya dikalangan produsen gula di kawasan Jawa Tengah.

Saya sempat memandangi bangunan Soesmans Kantoor ini dari kejauhan. Luas banget ternyata. Berada di Jl. Kepodang, tidak di jalan utama kawasan Kota Tua Semarang, gedung ini justru begitu memikat perhatian saya. Tentu saja lebih kepada uraian sejarahnya serta bagaimana kehadiran firma dan pemilik usaha terlibat pada banyak bisnis yang berhubungan dengan pemerintah Hindia Belanda pada saat itu.

Saya mengajak semua anggota rombongan untuk berfoto di depan gedung. Mencari posisi terbaik agar nama gedungnya bisa terlihat dan tidak mengganggu sekelompok orang-orang kreatif yang sedang membuat video dan foto. Katanya sih lagi shooting film.

Gedung inilah yang menghubungkan kami dengan Jl. Jalak. Jalan yang menghadirkan Rumah Akar. Spot foto yang begitu terkenal di kalangan para pemburu foto instagrammable dengan keunikan maksimal. Rumah kosong tidak beratap dengan dinding list kayu berjejer yang biasa kita temui di rumah atau bangunan vintage. Di dalamnya tumbuh sebuah pohon (maha) besar dan memiliki akar kokoh yang menembus dinding bangunan hingga tampil sampai keluar. Ada yang menggantung dan tumbuh dari ranting dan dahan pohon tapi banyak juga yang memang muncul dari sisi bawah pohon.

Sungguh sangat mengagumkan.

Saya dan para sepupu berfoto bergiliran hingga akhirnya memutuskan untuk membuat video di sini.

“Ini primadonanya spot foto di Kota Tua Semarang Bu,” ujar si bapak tour guide sembari membiarkan kami duduk sekian menit di bangku kayu. Meski sudah beberapa kali melihat unggahan banyak content creator di spot ini, saya masih tidak dapat menyembunyikan kekaguman saya. Betapa bijaknya alam saat “mengizinkan” pohon yang besar ini hadir dengan puluhan bahkan mungkin ratusan akar yang menjelajah kesana-kemari. Semua tampak bergelut dan berpadu satu persatu dan memperlihatkan kekuatan serta kekokohannya.

Rumah yang ditempati pohon ini sebenarnya sudah usang bahkan ada kemungkinan menjelang runtuh. Tapi tampaknya dinas pariwisata setempat sudah melakukan berbagai antisipasi agar sang primadona tetap berdiri tegak, menjadi titik foto andalan di Kota Lama Semarang.

Tentang Sebuah Kenangan dan Warisan

Sebagai penyuka sejarah, baru kali ini saya mendapatkan kesan istimewa untuk Kota Lama Semarang. Jika dulu hanya berkeliling di beberapa titik terbatas, kali itu eksplorasinya lebih luas lagi. Dan menjadi semakin (begitu) terkesan saat penelusuran tempat ini dibantu oleh seorang tour guide.

Di malam setelah berkunjung ke sini, saya tak henti membaca banyak referensi tentang keberadaan Kota Tua Semarang. Sebuah tempat yang berdiri di akhir abad ke-17 setelah terjadinya perjanjian antara kerajaan Mataram dan VOC di 1678.

Saat di mana VOC memanfaatkan area “pemberian” ini menjadi sebuah pemukiman yang berada dekat dengan Kali Semarang. Pemukiman yang kemudian dikelilingi oleh benteng dan diisi oleh tempat para pemimpin, para pegawai serta serdadu VOC. Tempat yang kemudian dalam catatan sejarahnya diruntuhkan bentengnya di dekade ke-3 abad ke-19 yang kemudian berubah menjadi sebuah kota, salah satu pusat bisnis di era/masa terakhir Hindia Belanda bercokol di nusantara.

Kita sesungguhnya (sangat) beruntung karena jejeran bangunan heritage yang ditinggalkan oleh Belanda berstruktur kokoh bisa tegak berdiri kuat hingga kini. Sama halnya dengan Kota Tua Jakarta yang dulunya adalah pusat pemerintahan yang dikuasai oleh VOC.

Terlintas di kepala, agar kita, di saat ini, juga bisa meninggalkan legacy fisik berupa bangunan indah yang bisa diwarisi ke dan dinikmati oleh anak cucu kita di abad mendatang. Membuat banyak karya fisik yang akan menjadi jejak kebanggaan dan menjadi pengingat bahwa dulu, di abad ke-21, pernah ada sebuah peradaban dengan cita rasa seni tinggi yang melahirkan rangkaian decak kagum.

Mungkin gak sih?

Menjejak Pesona Kota Lama Semarang, Keindahan Apa Saja yang Bisa Kita Temukan di Sana?
Bersama rombongan berpose di Taman Sri Gunting dan sisi samping Gereja Blenduk
Menjejak Pesona Kota Lama Semarang, Keindahan Apa Saja yang Bisa Kita Temukan di Sana?
Berfoto di jalur utama kawasan Kota Tua Semarang
Menjejak Pesona Kota Lama Semarang, Keindahan Apa Saja yang Bisa Kita Temukan di Sana?
Gedung MARBA yang istagenic
Menjejak Pesona Kota Lama Semarang, Keindahan Apa Saja yang Bisa Kita Temukan di Sana?
Menjejak Pesona Kota Lama Semarang, Keindahan Apa Saja yang Bisa Kita Temukan di Sana?
Gedung Seosmans Kantoor dan lingkungan yang berada di sekitarnya
Menjejak Pesona Kota Lama Semarang, Keindahan Apa Saja yang Bisa Kita Temukan di Sana?
Bersama kedua kakak ipar saya dengan latar belakang sisi depan Gereja Blenduk
Menjejak Pesona Kota Lama Semarang, Keindahan Apa Saja yang Bisa Kita Temukan di Sana?
Menjejak Pesona Kota Lama Semarang, Keindahan Apa Saja yang Bisa Kita Temukan di Sana?

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com