Berita

Menghindari Akhlak Tercela

123
menghindari-akhlak-tercela
Menghindari Akhlak Tercela

Rasulullah SAW tidak meninggalkan satu kebaikan pun kecuali telah ditunjukkan kepada umatnya, dan tidak pula ada keburukan kecuali telah diperingatkan darinya. Salah satu keburukan yang diperingatkan oleh Nabi SAW adalah buruknya akhlak atau sifat-sifat tercela.

INDONESIAINSIDE.ID  – Buruknya akhlak adalah sifat yang rusak, penuh dengan keburukan, tidak sejalan dengan kewajiban syar’i dan moral. Hal ini merupakan tindakan yang tidak baik dan perilaku yang tidak pantas, biasanya muncul dari penyakit hati.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan bahwa semua akhlak buruk dan sifat rendah dibangun di atas empat pokok: kebodohan, kezaliman, hawa nafsu, dan kemarahan.

Pertama, Kebodohan:

Kebodohan membuat seseorang melihat yang baik sebagai buruk dan yang buruk sebagai baik. Menyebabkan seseorang melihat kesempurnaan sebagai kekurangan dan kekurangan sebagai kesempurnaan.

Kedua, Kezaliman:

Kezaliman mendorong seseorang untuk menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, membuatnya marah saat seharusnya bersabar, bersabar saat seharusnya marah, kikir saat seharusnya memberi, dan memberi saat seharusnya kikir.

Ketiga, Hawa Nafsu:

Hawa nafsu mendorong seseorang untuk tamak, kikir, tidak memiliki rasa malu, rakus, dan rendah diri.

Keempat, Kemarahan:

Kemarahan membuat seseorang menjadi sombong, pendendam, iri hati, agresif, dan bodoh.

Jika akhlak buruk bisa berubah menjadi akhlak baik dengan mengikuti syariat dan melatih diri dalam sifat-sifat mulia, apakah akhlak baik bisa berubah menjadi akhlak buruk? Al-Mawardi memberikan penjelasan bahwa hal tersebut mungkin terjadi karena beberapa sebab:

Pertama, Kekuasaan: Memiliki jabatan atau kekuasaan bisa mengubah akhlak seseorang menjadi kasar dan menjauhi teman-teman lamanya. Kedua, Kehilangan Jabatan: Kehilangan jabatan bisa membuat seseorang mudah marah dan tidak sabar. Ketiga, Kekayaan: Kekayaan bisa membuat seseorang menjadi sombong dan merendahkan orang lain.

Keempat, Kemiskinan: Kemiskinan bisa membuat seseorang mudah tersinggung dan merasa rendah diri. Kelima, Kekhawatiran: Kekhawatiran yang berlebihan bisa membuat seseorang kehilangan ketenangan dan mudah marah. Keenam, Penyakit: Penyakit bisa mengubah sifat seseorang menjadi tidak sabar dan mudah marah. Ketujuh, Usia Tua: Usia tua bisa membuat seseorang menjadi lebih emosional dan tidak sabar.

Peringatan dari Para Ulama
Para ulama dan salafus shalih telah memperingatkan untuk menjauhi orang-orang yang berakhlak buruk.

Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Jangan bergaul dengan orang yang berakhlak buruk, karena dia hanya akan mengajakmu kepada keburukan.” Hasan Al-Bashri berkata, “Orang yang buruk akhlaknya menyiksa dirinya sendiri.”

Yahya bin Mu’adz berkata, “Akhlak buruk adalah dosa yang tidak bisa ditutupi oleh banyaknya kebaikan, sedangkan akhlak baik adalah kebaikan yang tidak bisa dirusak oleh banyaknya dosa.”

Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa akhlak buruk adalah racun mematikan dan penghancur yang nyata. Akhlak buruk menjauhkan seseorang dari rahmat Allah dan membuatnya dekat dengan neraka. Ia juga mengatakan bahwa akhlak buruk adalah penyakit hati dan kerusakan jiwa.

Ada beberapa dampak buruk dari akhlak tercela:

Pertama, Dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya: Orang yang berakhlak buruk dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang di sekitarnya.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling dibenci dan paling jauh dariku di akhirat adalah yang paling buruk akhlaknya.” (HR. Ahmad)

Kedua, Mendapat Keburukan dari Orang Lain: Orang yang berakhlak buruk akan mendapatkan keburukan dari orang lain dan disebut dengan sebutan yang buruk.

Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang akan masuk surga adalah orang yang telinganya dipenuhi dengan pujian dari orang lain ketika ia mendengarnya, dan orang yang akan masuk neraka adalah orang yang telinganya dipenuhi dengan celaan dari orang lain ketika ia mendengarnya.” (HR. Ibnu Majah)

Ketiga, Mengundang Kesengsaraan: Orang yang berakhlak buruk akan mengalami kesengsaraan dalam hidupnya dan menyebarkan kesengsaraan kepada orang lain.

Abu Hazim berkata, “Orang yang berakhlak buruk adalah orang yang paling menderita dengan dirinya sendiri, diikuti oleh istri, anak-anak, dan bahkan hewan peliharaannya.”

Menghindari akhlak tercela adalah keharusan bagi setiap Muslim. Akhlak buruk tidak hanya merusak diri sendiri tetapi juga orang lain di sekitarnya. Penting bagi kita untuk selalu introspeksi dan berusaha memperbaiki akhlak agar senantiasa berada dalam jalan yang diridhai Allah SWT. (MBS)

Exit mobile version