Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Memahat Memori di Tebing Breksi Yogyakarta

35
×

Memahat Memori di Tebing Breksi Yogyakarta

Share this article
memahat-memori-di-tebing-breksi-yogyakarta
Memahat Memori di Tebing Breksi Yogyakarta
Memahat Memori di Tebing Breksi Yogyakarta
Memahat Memori di Tebing Breksi Yogyakarta

Memahat Memori di Tebing Breksi Yogyakarta | Travel & Featured | Januari 2026

Bertahun-tahun mendengar nama Tebik Breksi diperbincangkan, baru Juni 2025 akhirnya saya mengajak diri untuk berkunjung ke sini. Saya baru saja selesai mampir ke Shira Media dan makan siang di salah satu resto tengkleng, saat Mas Adi, driver yang menemani saya, mengajak untuk mampir ke Tebing Breksi sebelum masuk kembali ke dalam kota Yogyakarta.

Example 300x600

Ajakan ini langsung saya iya-kan. Meski saat itu jalur menanjak untuk menggapai Tebing Breksi sedang dalam tahap pembangunan. Debu dimana-mana dan kendaraan harus bergantian melewati jalur menantang yang cukup sempit dan sungguh mendebarkan. Menjadi semakin seru karena di saat bersamaan mixer truck (truk molen) yang mengangkut semen tampak bergantian mondar-mandir dan juga membutuhkan jalur yang lapang untuk bergerak.

Saya bahkan sempat ngilu hati saat salah satu truk ini sempat berhenti di tengah jalur pendakian. Entah apa sebabnya. Tapi yang pasti semua yang ada di seputaran jalur itu terpaksa berdiam diri dan menarik napas dalam-dalam. Menanti kelihaian sang supir yang diharapkan dapat melanjutkan pendakian tanpa mengakibatkan apa pun yang ditakutkan oleh orang banyak.

“Waduh, kok medeni banget ya Buk,” ujar Mas Adi sembari mengusap wajah. Netranya tak lepas dari truk molen yang “sedang berjuang” itu.

Saya paham mengapa kalimat ini meluncur dari mulut Mas Adi. Mobil kami nyatanya berhenti tepat di bawah truk molen ini. Meski jaraknya lumayan jauh (sekitar 200-an meter), tapi kalau si truk ndlongsor tanpa terkendali, bisa dipastikan mobil kami lah yang jadi korban hantaman pertama.

“Mari kita bacakan Alfatihah Mas,” ujar saya enteng meskipun dada berdegup kencang. “Iiibbbuuukk …..,” balas lelaki usia awal 30-an itu seraya menjerit kecil dan tersenyum kecut. Dia lalu melepas kuncian pintu mobil sembari membalikkan badan, melihat nanar ke arah saya.

Saya tak kuasa melepas tawa renyah.

Ada kali 15 menit orang-orang dibuat gelisah melihat si truk tak kunjung bergerak. Tapi begitu saya lihat ada pergantian supir yang mungkin lebih senior atau lihai, ada susupan rasa lega di hati.

Benar sto. Ngana pikir saya tadi tara taku apa?

Akhirnya truk itu bergerak mulus menaiki tebing yang masih dalam kondisi berantakan, diiringi dengan tepuk tangan riuh rendah masyarakat yang berdiri di pinggir jalan. Kejadian yang mengingatkan saya saat seorang mentalist dari luar negeri berhasil menghilangkan sebuah truk dari tatapan mata. Sekejap setelah melakukan aksinya, tepukan gemuruh pun langsung memecah suasana.

Pahatan Alam yang Cantik Tak Terkira

Jam di gawai sudah merangkak ke 14.30 WIB saat Mas Adi memarkirkan mobil di antara jejeran Hiace putih 10-11 dudukan. Gak menyangka bahwa di waktu menjelang sore itu (masih) banyak pengunjung yang datang. Padahal saat itu sedang tidak musim liburan. Mas Adi sampai berulang kali memutar, mencari slot parkir yang kosong.

“Pada menunggu sunset ya Mas?” tanya saya penasaran. “Gak tau sih buk, saya jarang dengar orang nungguin sunset di sini. Tapi kalau liat tempat setinggi ini ya mungkin aja,” jawab Mas Adi ringan.

“Saya mau belajar motret dari Ibuk aahhh,” lanjut Mas Adi dengan nada riang gembira. Saya yang sedang ringkes-ringkes mendadak menoleh dengan wajah semringah.

“Loh boleh banget dong. Ayok temenin saya keliling.” Saya justru semangat menanggapi niat Mas Adi. Dengan kondisi begini saya bisa jadi pose di banyak titik ketimbang hanya memotret tebing-tebingnya saja. Sungguh terbantukan malah.

Jadilah beberapa menit kemudian, kami berdua sibuk mengutak-atik fungsi kamera di gawai saya dan melakukan banyak uji coba. Hasilnya? Lumayan banget. Banyak foto saya yang hadir di sini adalah hasil jepretan Mas Adi. Tentu saja atas arahan “guru foto mendadak” yang semangat bergaya di depan banyak titik estetik.

Memahat Memori di Tebing Breksi Yogyakarta

Saya memutuskan untuk melangkah ke satu titik yang (agak) tinggi dan melemparkan pandangan ke segala arah. Di tengah padatnya publik, Tebing Breksi menghadirkan satu pemandangan yang unik dan estetik. Tebing yang berdiri tegak tampak seperti bukit kapur yang sudah terpotong dan nyeni terpahat di sana-sini. Di beberapa bagian bahkan tampak pahatan dan atau ukiran yang menggambarkan wayang, motif batik, dan sebuah ular atau naga berukuran besar. Di salah satu sisi batu dibuatkan tangga agar pengunjung bisa menggapai puncak batu yang berwarna kemerahan berpadu putihnya khas kapur. Kabarnya kalau berada di sisi teratas batu kapur itu, kita bisa melihat sebagian besar kota Yogyakarta dari kejauhan. Saya memutuskan untuk tidak naik karena cahaya matahari terlalu silau di pelupuk mata.

Di depan kedua batu tinggi ini ada pijakan luas yang bisa menjadi lahan berdiri wisatawan untuk memotret. Semua diatur sedemikian rupa agar bisa menampung sekian banyak tamu. Semennya dibuat sedikit kasar dengan warna natural yang cantik saat berpadu padan dengan bukit kapur.

Dari beberapa jejak dari dua batu kapur yang tinggi ini, ada satu kawasan terbuka dengan banyak dudukan yang tersusun berundak-undak seperti open amphitheater. Bentuknya melingkar dengan sebuah kolam di bagian tengah. Ada juga beberapa semen tempat berdiri berbentuk lingkaran. Saya sendiri sempat berdiri di atas pijakan itu. Posisi ini memungkinkan saya melihat ke beberapa penjuru arah yang berada di seputaran Tlatar Seneng. Nama dari area yang diatur seperti amphitheater ini. Dari beberapa tautan yang saya baca Tlatar Seneng bisa dijadikan tempat untuk live performance. Tapi bagaimana ngaturnya ya jika pusat pertunjukannya tergenang air begitu sementara pijakan di bagian tengah itu hanya sedikit?

Di dekat Tlatar Seneng ini saya bisa melihat spot foto berupa gerbang kecil berbahan kayu dengan plang tulisan Tebing Breksi Yogyakarta di bagian tengah. Posisinya membelakangi pemandangan alam. Jadi jika cahaya matahari tidak berada di atas kepala, bisa memunculkan efek backlight.

Di salah satu sudut Tlatar Seneng saya melihat sebuah rumah kayu berukuran sedang, berjendela kaca dengan tirai putih yang berjejer di sepanjang dinding bangunan, khas rumah lama yang ada di seputaran Jawa. Kata Mas Adi sih itu restoran. Tapi saya tidak membuktikan sendiri. Saya malah lebih tertarik untuk berjalan ke area lain yang menghadirkan banyak kedai makan minum, dibangun setengah atap, dan menempel ke salah satu bukit. Konsepnya seperti food court yang diisi oleh UKM lokal dengan sajian/pilihan menu yang melokal.

Tempat ini bersinergi dengan mushala dan area duduk bagi para pengunjung. Asyik juga sih duduk-duduk di sini sembari memandangi tebing yang ada di depan mata. Melihat bagaimana satu tempat wisata sudah ditata sedemikian rupa setelah beberapa tahun lampau sempat digunakan sebagai penambangan alam oleh masyarakat sekitar hingga dihentikan pada 2014.

Saat itu pemerintah setempat memutuskan agar bebatuan yang berasal dari aktivitas vulkanis Gunung Api Purba Nglanggeran ini menjadi satu kawasan yang dilindungi, kemudian ditata ulang. Area ini akhirnya diresmikan sebagai destinasi wisata alam Yogyakarta dengan keunggulan tampilnya batu breksi pada 30 Mei 2015 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. Berada di Sleman, Tebing Breksi menampilkan eksistensi dirinya sebagai destinasi keramaian para wisatawan selain beberapa candi yang juga menjadi andalan destinasi wisata alam yang berada tak jauh, seperti Candi Ratu Boko, Candi Ijo, Candi Barong, dan Candi Banyunibo. Jadi saat memutuskan untuk ke Tebing Breksi, kita sekalian bisa bertamu di deretan candi tersebut.

Salah seorang pemilik kios minuman malah sempat menawarkan naik jeep untuk berkeliling kawasan. Tapi saat itu saya memutuskan untuk tidak menerima tawaran ini mengingat jalur ke dan dari Tebing Breksi belumlah selesai secara utuh.

Yang terpikirkan oleh saya ketika itu adalah mengembangkan bisnis fotografi. Ada sih beberapa fotografer jalanan yang menawarkan foto langsung cetak yang kemudian dipasang di sebuah frame keras yang bertuliskan Tebing Breksi. Salah seorang di antara mereka bahkan menunjukkan hasil motret nya saat bekerja untuk sebuah kegiatan photo pre-wedding. Cakep hasilnya meski beliau hanya menggunakan kamera analog lama, yang sudah berumur, dari jenama Nikon.

Memahat Memori di Tebing Breksi Yogyakarta

Saya beranjak pergi sekitar 1.5 jam kemudian. Pengunjung pun semakin menyemut. Tampaknya memang berencana melewati senja di atas patahan bukit yang tinggi tersebut. Pengen sih ikutan nongkrong di sana tapi sayangnya saya sudah punya agenda dan janji lainnya.

Melihat langit yang sesiangan tadi cerah dengan langit biru dan awan putih yang cantik, sepertinya akan ada senja yang cantik di ujung sana. Secantik dan seindah Tebing Breksi yang menjadi salah satu wisata alam andalan Yogyakarta.

Saya pun berhasil memahat memori di Tebing Breksi Yogyakarta nan cantik rupawan ini.

Memahat Memori di Tebing Breksi Yogyakarta
Memahat Memori di Tebing Breksi Yogyakarta
Memahat Memori di Tebing Breksi Yogyakarta
Memahat Memori di Tebing Breksi Yogyakarta
Memahat Memori di Tebing Breksi Yogyakarta
Memahat Memori di Tebing Breksi Yogyakarta
Memahat Memori di Tebing Breksi Yogyakarta
Memahat Memori di Tebing Breksi Yogyakarta

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com