Lingkungan

Melihat Sebaran dan Luas Lahan Mangrove di Kota Semarang, Manakah yang Potensial?

238
melihat-sebaran-dan-luas-lahan-mangrove-di-kota-semarang,-manakah-yang-potensial?
Melihat Sebaran dan Luas Lahan Mangrove di Kota Semarang, Manakah yang Potensial?

Kota Semarang terletak di pantai utara Pulau Jawa, memiliki ekosistem mangrove sebagai salah satu elemen lingkungan yang paling dominan di wilayah pesisirnya. Kawasan mangrove tersebar di beberapa kecamatan yaitu, Genuk, Semarang Utara, Semarang Barat, dan Tugu.

Berdasarkan data dari tahun 2010 hingga 2021, luas hutan mangrove di pesisir Kota Semarang sempat mengalami peningkatan hingga tahun 2018. Namun, setelah itu terjadi penurunan yang cukup signifikan terutama di Kecamatan Genuk antara tahun 2018 dan 2021. Saat ini, luas, struktur, serta fungsi ekologis dan ekonomi dari ekosistem mangrove tersebut terus mengalami penurunan yang serius.

Degradasi mangrove ini disebabkan oleh kombinasi faktor alami dan aktivitas manusia yang intensif, seperti pembangunan dan perubahan tata guna lahan. Dari hasil analisis citra satelit Landsat 8 pada tahun 2016, kawasan mangrove di Kota Semarang yang memiliki tingkat kerapatan yang baik hanya mencakup sekitar 62,9 hektare.

Namun, terdapat area potensial untuk penanaman mangrove yang jauh lebih luas, mencapai 2.424,7 hektare. Perubahan luas lahan mangrove ini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, seperti perubahan iklim dan pembangunan pesisir.

Beberapa kajian dan laporan, termasuk dari Dinas Lingkungan Hidup (2015), Laporan Hasil Kunjungan Lapang Kajian Lokasi Rehabilitasi Mangrove (2014), dan Coastal Rehabilitation Assessment (2013), mencatat bahwa ekosistem mangrove tersebar di beberapa daerah seperti Mangkang Kulon, Mangkang Wetan, Mangunharjo, Karanganyar, Pantai Maron, dan Trimulyo.

Pola distribusi mangrove di pesisir Semarang umumnya berbentuk kelompok-kelompok kecil yang tersebar, dengan total sekitar 279 kelompok mangrove. Rata-rata luas tiap kelompok ini sekitar 0,30 hektare, dengan luas terkecil 0,015 hektare dan yang terbesar mencapai 8,58 hektare, yang berlokasi di Kecamatan Tugu, Semarang Barat, dan Genuk.

Lokasi Penanaman Mangrove Mangunharjo Memiliki Ketahanan yang Baik, Trimulyo Sebaliknya

Abrasi yang signifikan di beberapa lokasi pesisir Kota Semarang menyebabkan kerusakan parah, bahkan hilangnya ekosistem mangrove di beberapa area. Berdasar hasil pengamatan lapangan di lokasi-lokasi kajian, ditemukan bahwa kawasan Mangunharjo, Mangkang Wetan, dan Tugurejo memiliki ketahanan pesisir yang cukup baik, dilihat dari kondisi mangrove-nya.

Artinya, meskipun ekosistem mangrove di wilayah-wilayah ini mengalami tekanan akibat perubahan lahan, yang memengaruhi struktur dan fungsinya, kawasan tersebut masih memiliki potensi besar untuk pulih dan kembali stabil.

Namun, kondisi berbeda terlihat di lokasi Trimulyo, yang menunjukkan tingkat ketahanan pesisir yang jauh lebih rendah. Tekanan yang ditimbulkan oleh perubahan lahan di kawasan ini sangat tinggi, sehingga ekosistem mangrove-nya tidak lagi mampu mempertahankan struktur dan fungsinya secara optimal.

Tanpa upaya pemulihan yang serius dan memadai, mangrove di Trimulyo akan sulit kembali ke kondisi stabil, mengingat kerusakan yang sudah terjadi cukup besar akibat gangguan yang terus menerus.

Upaya rehabilitasi di lokasi-lokasi dengan ketahanan rendan seperti Trimulyo sangat penting untuk dilakukan demi menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir dan memitigasi dampak abrasi serta kerusakan lingkungan lainnya.

Melihat Perubahan Luasan Mangrove di Pesisir Trimulyo 2005-2022

Upaya penanaman mangrove dilakukan oleh LindungiHutan sebagai bentuk upaya pelestarian dan menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir. 

Atas upaya yang dilakukan, kami coba melihat perubahan luas lahan mangrove di pesisir Trimulyo, yang ternyata mengalami peningkatan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa luasan vegetasi mangrove di wilayah pesisir Trimulyo terus mengalami peningkatan yang signifikan. Namun, berdasarkan indeks NDVI, kerapatan vegetasi mangrove di wilayah ini masih tergolong rendah.

Data menunjukkan bahwa pada tahun 2005 dan 2010, tidak ada keberadaan mangrove di Trimulyo, dengan luasan yang tercatat sebesar 0 hektare. Namun, pada tahun 2015, mangrove mulai tumbuh dan mencakup area seluas 25,6 hektare. Peningkatan ini terus berlanjut, dan pada tahun 2022, luas mangrove di Trimulyo telah mencapai 34,5 hektare.

Pertumbuhan tutupan mangrove yang positif ini menunjukkan keberhasilan proyek restorasi yang dilakukan di wilayah tersebut. Jika kegiatan restorasi terus dilakukan secara berkelanjutan, wilayah ini memiliki potensi besar untuk memperluas area mangrovenya di masa depan.

Tentu saja, hal ini perlu didukung dengan perhatian khusus untuk menjaga keberlanjutan dan kualitas dari proyek tersebut, guna memastikan mangrove dapat berkembang secara optimal dan memberikan manfaat ekologis yang lebih besar.

Exit mobile version