
Saya dan Mega baru saja memarkirkan kendaraan di sebuah lahan parkir luas saat kami menyadari bahwa tempat tersebut adalah bagian dari Pasar Semarapura. Bangunannya megah, terlihat lega dan luas tak terkira. Kondisi yang begitu akomodatif karena lokasinya hanya beberapa langkah dari Taman Kerta Gosa dan Museum Puputan Klungkung yang akan kami sambangi
Sejenak turun dari kendaraan, saya bergegas masuk ke dalam sebuah kedai yang menawarkan aneka panganan serta minuman. Tapi yang membuat saya begitu tergoda adalah sebuah kulkas besar yang ada di sisi depan. Isinya adalah beragam minuman dingin yang tampaknya bisa melegakan tenggorokan di tengah panas terik yang saya hadapi saat itu.
Serasa di rumah sendiri, saya menghambur masuk dan langsung menuju kulkas, membuka, menyusur satu persatu, dan memungut sebotol besar air putih yang “badan botolnya” sudah berembun. Salah satu identifikasi bahwa si botol sudah lama didinginkan. Sapaan akrab sang pemilik kedai yang sedang asyik duduk di depan, nyaris saya abaikan. Tapi beberapa detik kemudian, untungnya sebelum tutup botol dibuka, saya tiba-tiba tersadar.
Astaga. Di mana sopan santun saya ya? Udah sok kenal sok deket aja. Tapi untungnya si ibu terlihat begitu ramah dan menyadari kelancangan saya.
Masuk “rumah” orang kok langsung buka-buka kulkas. Ampun dah.
“Ambil aja yang mau Bu. Udara panas begini memang bikin gerah dan haus tak terkira,” ujarnya mengurai ke-kikuk-an saya. Nada suaranya ramah betul.
Duh, saya langsung gak enak hati. Kata “maaf” pun langsung meluncur dari mulut saya karena main buka kulkas aja. Serasa di rumah sendiri. Saya bergegas membayar lalu duduk di salah satu bangku sembari menunggu Mega yang sedang menuju ATM. Air dingin di dalam botol pun langsung tandas hanya dalam beberapa teguh. Kondisi yang belakangan bikin heran saya sendiri. Ya ampun. Beneran haus ternyata ya. Minumnya bisa langsung tandas begitu.
Percakapan kecil di antara kami pun kemudian memecah kebekuan suasana.
“Bangunan di dalam itu pasar atau mall ya Bu?” tanya saya penasaran.
Karena terus terang saya mendadak diselimuti rasa ingin tahu yang membuncah. Sempat melihat bangunan indah, tinggi, dengan rancang khas Bali, saya tadi terpaku sekian detik. Bangunan tersebut terlihat masih baru dengan fasad dan rangkaian bangunan pendamping yang cantik tak terkira. Bangunannya tinggi-tinggi dengan jalanan aspal yang masih terlihat baru. Kok kayaknya terlalu megah kalau “hanya” disebut sebagai pasar.
“Betul Bu. Masih baru pasar ini. Akhir Oktober 2023 lah baru beroperasi,” jawab si ibu dengan nada bangga.
Saya biasa melihat keahlian para seniman Bali dalam merancang, membangun, dan membuat ukiran. Tapi ini sungguh memesona bahkan dari kejauhan. Beberapa langkah dari mobil kami yang diparkirkan setelah pintu gerbang depan yang memberikan tiket parkir, ada pintu gerbang ke dua yang berdiri lebar.
Di beberapa titik tiang, terlihat beberapa patung perempuan Bali sedang menari. Posturnya begitu singset dan tampil dengan bodi impian jutaan perempuan di segala penjuru dunia. Termasuk saya pastinya. Patung ini mengenakan kain dan kostum khusus tari dengan hiasan atau perlengkapan tari lengkap. Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tangannya juga begitu luwes memegang selendang sembari mengangkatnya ke atas, dengan pinggang melenggok ke kanan. Satu posisi tari yang gak mudah untuk dikuasai oleh orang kebanyakan.
Saya mendadak berpikir. Barangkali pasar ini, Pasar Semarapura, adalah tempat penjualan peralatan dan kostum tari.
Saat Mega kembali dari ATM, saya sempat mengajak Mega berdiskusi. Mau masuk pasar atau keliling dulu. Opsi terakhir akhirnya jadi keputusan. Kami pun akhirnya melangkah keluar menuju Taman Kerta Gosa yang berada persis di seberang Pasar Semarapura.
Baca Juga : Menjejak Sejarah Kerajaan Klungkung Bali di Taman Kerta Gosa Semarapura

Menjelajah Pasar Semarapura
Janji tersebut kami tunaikan.
Yuk menjelajah sisi dalam Pasar Semarapura. Produk apa saja sih yang bisa kita temukan di sini?
Usai menyusur Taman Kerta Gosa dan Museum Puputan Klungkung yang berada di pusat/ibukota Kabupaten Klungkung ini, kami kembali ke titik kedatangan tadi. Panas masih centang perentang menghujan tubuh saat saya dan Mega berjalan tergesa memasuki Pasar Semarapura. Pasar dengan gedung tinggi dan luas yang tulisan tempatnya terpasang indah di depan gerbang utama.
Dinginnya AC langsung merangsek sesaat kami masuk melalui pintu otomatis utama di lantai bawah. Rasa nyaman begitu terasa merasuk jiwa. Tersaji di depan mata sebuah gedung 2 lantai yang hadir dengan penataan yang megah, apik, sentuhan warna membumi, dan terstruktur indah. Marmernya mengilat. Tampak terpoles dengan paripurna.
Pintu masuk utama ini berada di tengah-tengah area, saya memutuskan untuk ke arah kiri terlebih dahulu lalu memutari setiap lorong tanpa kecuali, lalu berjalan mengarah ke kanan. Begitu terus sembari memutar hingga tak ada lorong yang terlewatkan.
Di tengah ruangan ada eskalator dan dekorasi indah yang menghiasi bagian sentral/tengah Pasar Semarapura. Eskalatornya cukup membuat saya mendangak saking tingginya. Saya kemudian terpesona dengan hiasan langit-langit yang mengesankan meski hadir dengan kesederhanaan.
Simple yet impressive.
Saya dan Mega berjalan pelan sembari memotret. Di lantai bawah ini berkumpul segala macam produk fashion dari usaha lokal.
Ada yang berjualan kain meteran. Kain Endek dan songket Endek dengan berbagai motif yang mengagumkan. Ada yang tenun tapi ada juga yang kain stempel/cap. Banyak juga yang menawarkan produk pakaian sudah jadi. Mulai dari kebaya, rok, kemeja putih yang biasa dipakai oleh lelaki Bali, dan masih banyak lagi.
Tersedia juga pakaian dan perlengkapan sembahyang serta baju adat Bali. Mulai dari hiasan kepala seperti Udeng dengan beragam bahan serta motif, sanggul untuk wanita beserta pernak-perniknya, juga ada dupa dengan segala kelengkapannya.
Kelengkapan yang jika saya tidak salah asumsi adalah yang biasa dibutuhkan saat melaksanakan upacara adat.
Yang sangat menarik perhatian saya adalah kebayanya. Duh cantik-cantik banget deh. Dilengkapi dengan bordiran cantik, rangkaian kebaya ini tampilannya mem-bodi banget. Outlook yang selalu saya lihat saat para wanita Bali datang untuk bersembahyang di pura. Deretan koleksi kebaya ini ada berwarna tunggal, polos, tapi ada juga yang dimodifikasi. Semua pasti punya penggemarnya masing-masing.
Kain yang menemani kebaya ini juga banyak sekali pilihannya. Sebagian besar hadir dengan rancang siap pakai. Jadi kita gak perlu repot-repot menata kain polos tanpa cantolan. Pinggang kain ini sudah berbentuk untuk bisa dipakai tanpa ribet. Motifnya juga berlimpah. Tinggal menyesuaikan dengan warna kebayanya.
Saya sempat tergoda untuk membeli. Setidaknya punya sepasang kebaya dan kain/roknya. Tapi mendadak teringat bahwa di rumah masih banyak kebaya seragam panitia nikahan atau saat masih sering ngemce (jadi MC berberapa acara pernikahan dulu). Semua sepertinya baru sekali pakai.
Sayangnya saat tiba kembali di rumah saya baru sadar. Semua kebaya itu sudah pada kebesaran karena BB saya yang turun drastis. Astaga. Sementara untuk urusan vermak biayanya lumayan mahal dan butuh waktu. Hampir setara dengan beli baru. Gak worth it lah pastinya.
Tiba-tiba teringat dengan pepatah “Mending nyesel beli daripada nyesel gak jadi beli.” Yak. Itu terjadi pada saya.
Tentang Bali : Mempererat Silaturahmi Bersama Para Sahabat di Neun Cafe Sanur Bali

Mari kita lanjutkan penelusuran Pasar Semarapura ini.
Deretan kios di lantai bawah yang sebagian besar berukuran sekitar 4x5m ini benar-benar tersusun tematik. Semua konsen pada produk fashion Bali dan merupakan usaha lokal. Cara penyajiannya pun tidak sama. Ada yang memanfaatkan display kaca tapi ada juga yang sekedar memanfaatkan display besi gantung dan rak-rak yang ditempel ke dinding kios. Harga produk juga rentangnya luas. Saya sempat melihat dan menanyakan harga Endek yang benar-benar produk tenun handmade. Harganya jutaan. Tapi ada juga endek cap di harga yang (jauh) lebih murah.
Puas menyusur lantai bawah ini, saya dan Mega melangkah ke lantai 2. Susunan kiosnya persis sama dengan lantai 1. Hanya saja di lantai ini masih banyak kios yang kosong. Karena saat saya perhatikan, tidak ada signage atau label nama dari toko yang bersangkutan. Ada juga yang sudah terpasang mereknya tapi tidak buka.
Lantai dua ini dipenuhi atau setidaknya didominasi oleh para penjual perhiasan dengan precious materials seperti emas dan perak. Ada juga aksesoris pelengkap yang sering dipakai saat berkebaya dan bahan dengan olahan kreatif. Jenis perhiasan atau aksesoris nya juga macam-macam. Mulai dari anting, kalung, gelang, hiasan sanggul, dan masih banyak lagi. Kebanyakan berasal dari bahan kuningan.
Jika tak mengingat perut yang mulai “bernyanyi riang” pengen rasanya berlama-lama mampir lalu mengamati setiap perhiasan ini satu persatu. Kadang-kadang kegiatan ini sering membangkitkan ide jitu untuk membuat wire jewelry yang saya geluti. Meskipun hasilnya tidak akan persis sama, setidaknya ada pemantik ide yang bisa dikembangkan lebih jauh.
Karena tidak banyak yang buka, saya dan Mega memutuskan turun kembali ke lantai 1, keluar dari gedung utama ini lewat pintu samping, lalu melangkah ke gedung yang lain yang jaraknya hanya selemparan kutang (baca: kutang gajah).


Tentang Bali : Utama Beach Villas, Hotel Tepi Pantai Bintang 3 di Candidasa Karangasem Bali yang Apik dan Ramah di Kantong
Kali ini, keluar dari sisi kanan gedung yang besar ini, saya melihat sebuah bangunan setengah terbuka yang terlihat gemerlap dengan lampu-lampu gantung yang rangkanya terbuat dari rotan. Cukup menarik perhatian pastinya. Apalagi di dalam cangkang rotan itu ada lampu-lampu kuning redup yang membuat warna ruangan foodcourt ketularan cantiknya.
Tapi sebelum melangkah turun lewat tangga yang ada, mata saya sempat menangkap 2 spot dengan posisi mojok berdekatan dengan beberapa area parkir motor. Ada satu lahan untuk anak-anak bermain. Gak banyak pilihan permainan nya. Tapi lumayanlah untuk ngajak anak-anak bersuka ria dan menghabiskan waktu, sambil menunggu emaknya belanja. Lalu di sebelahnya ada spot khusus dengan free wifi. Disediakan bangku panjang buat duduk-duduk di sana. Konsep yang benar-benar sudah dipikirkan di awal.
Masuk ke ruangan foodcourt yang dibuat lebih tinggi dari jalanan di depannya, saya kembali terpaku dengan keindahan lampu-lampu gantung itu. Kios-kios dengan pembatas bertebaran di sisi pinggir dengan bagian tengah dikuasai oleh meja dan tempat duduk.
Saat saya menyusur ada penjual jajan pasar, kue-kue basah khas Bali, aneka keripik. Ada juga yang jual Serombotan. Sayur rebus/gado-gado atau pecel khas Bali. Tapi kalau Serombotan toppingnya itu selain saus kacang juga ditambahi dengan bumbu kelapa sangrai. Awalnya saya ingin mencoba, tapi si pedagang melarang karena non-halal. Terima kasih ya Mbok sudah jujur memberi tahu.
Akhirnya saya berpindah peminatan dengan merubah sasaran ke bakso kuah. Lah eh gak halal juga. Ndeketin penjaja kopi eh kopi dituang ke gelas plastik. Duh ilfil akutu. Gak tega minum kopi dengan gelas plastik yang suka meleyot kepanasan gitu. Nanyain cangkir katanya gak ada. Yowes lah batal semua keinginan nongkrong sebentar di foodcourt.
Saya dan Mega senyam-senyum. Sepertinya balik nongkrong di kedai depan tadi rasanya dah paling tepat deh.
Setelah menenggak air putih dingin sebotol gede, saya memutuskan untuk menikmati teh less sugar.
Obrolan kembali bersambung dengan si Ibu pemilik warung. Tapi kali ini Mega yang bertukar sahutan. Sementara saya sibuk berselancar di dunia maya mencari informasi tentang Pasar Semarapura.
Tak banyak info yang bisa saya gali. Kecuali tanggal peresmian 31 Oktober 2023 oleh Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta. Pasar dengan bangunan megah ini diharapkan dapat menghadirkan UMKM Bali, khususnya Kabupaten Klungkung kepada publik luas. Menjadi pasar tematik produk khas Bali dan juga menjadi destinasi wisata di kota Semarapura, ibukota Kabupaten Klungkung.
Dari beberapa tulisan saya juga membaca bahwa Pasar Semarapura mendapatkan dukungan atau bantuan dari Kementrian Perdagangan Republik Indonesia. Tentu saja dengan harapan bahwa lewat pasar yang tematik seperti yang barusan saya telusuri, akan terjadi transaksi dagang yang memberikan efek ekonomi yang meningkatkan taraf penghasilan serta kehidupan warga Klungkung.
Jika teman-teman ingin mendapatkan bacaan lebih lanjut tentang Pasar Semarapura, coba menyusur dengan keyword Pasar Tematik Wisata Semarapura atau Pasar Semarapura Klungkung. Di google maps kita juga akan melihat bahwa Semarapura sendiri dikelilingi oleh banyak sekali pasar tradisional. Ada Pasar Endek Klungkung, Pasar Galiran Klungkung, Klungkung Traditional Market, ada juga Pasar Senggol UMKM Rama.
Pasar yang terakhir ini seperti sempat saya hampiri saat keliling Karangasem bareng Dwi, seorang sahabat blogger dan penulis yang tinggal di Bali. Pasar dengan aneka sajian kuliner yang rame luar biasa saat malam hari.
Saya berharap di kunjungan saya berikutnya ke Bali, saya punya waktu lebih untuk menyusur beberapa pasar kembali. Pasar dengan konsep tematik yang menampilkan ciri khas Bali. Belum ada yang terlintas di kepala hingga saat ini. Tapi saya yakin topik ini akan sangat menarik untuk diulas.


Tentang Bali : Singgah ke Rumah Momo, Book Cafe Estetik di Renon, Denpasar, Bali



IG @annie_nugraha | Email : annie.nugraha@gmail.com







