CNN Indonesia
Jumat, 02 Okt 2026 23:30 WIB
Jakarta, CNN Indonesia —
Seorang wanita berusia 50 tahun di Jepang harus menggantungkan nyawanya pada ventilator gara-gara kesalahan ahli bedah veteran di ruang operasi.
Sang dokter mengangkat jaringan sehat ketimbang tumor jinak yang berada di otaknya. Alhasil, wanita tersebut jadi kehilangan kemampuan bernapasnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui media lokal TV Asahi, Rumah Sakit Universitas Kyoto, tempat wanita tersebut menjalani operasi, meminta maaf atas kesalahan medis tersebut dan berjanji akan mencegah insiden serupa terjadi lagi.
“Kami menyampaikan permintaan maaf kami yang terdalam,” kata Direktur Rumah Sakit Universitas Kyoto, Akifumi Takaori, dilansir SCMP.
Rumah sakit tersebut rata-rata melakukan 156 operasi tumor otak setiap tahunnya. Bahkan dengan ‘jam terbang’ yang mumpuni, kesalahan tetap dapat terjadi.
“Kami akan melakukan yang terbaik untuk memberikan perawatan sebaik mungkin, dan kami akan menyelidiki penyebabnya dan merumuskan langkah-langkah efektif untuk mencegah kekambuhan,” ujar Takaori lagi.
Dokter salah diagnosis meski sudah pengalaman 20 tahun
Awalnya, wanita tersebut didiagnosis mengalami mengidap tumor otak jinak setelah mengalami pusing dan tubuhnya tak stabil. Meski ia masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal, ia setuju untuk menjalani operasi pengangkatan tumor di area sudut serebelopontin.
Adapun menurut Mayo Clinic, sudut serebelopontin ini merupakan ruang kecil di dekat batang otak dan serebelum, lokasinya jauh berada di dalam otak. Ruang ini berisi saraf yang mengontrol pendengaran dan keseimbangan, serta saraf yang mengontrol sensai dan gerakan di wajah.
Operasi dilakukan selama 10 jam dan tergolong kompleks karena banyak saraf di sekitar area tersebut.
Tim operasi terdiri dari tiga ahli bedah yang dipimpin oleh dokter veteran dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang bedah saraf. Mereka melakukan prosedur tersebut pada akhir Juli.
Berdasarkan keterangan rumah sakit, para dokter melakukan tes dua kali selama operasi untuk menentukan apakah jaringan yang diangkat adalah tumor. Adapun hasil biopsi awal menunjukkan jaringan tersebut bukan tumor.
Meski demikian, dokter bedah tetap melanjutkan eksisi, karena percaya sampel yang diambil merupakan tepi jaringan tumor yang sudah diangkat. Saat tes kedua menunjukkan hasil sama, dokter menyimpulkan tumor sudah sepenuhnya diangkat.
Namun setelah operasi, pasien tak kunjung sadar dan tak bisa bernapas tanpa ventilator. Pemindaian MRI pun dilakukan dan mendapati tumor tetap utuh, sedangkan bagian otak yang sehat, termasuk batang otak yang mengontrol pernapasan dan gerakan, sudah rusak.
Walau kemudian pasien sudah cukup sadar dan dapat menjawab pertanyaan dengan berkedip, ia tetap tak bisa lepas dari ventilator.
Rumah sakit terapkan sistem baru
Departemen Bedah Saraf di Rumah Sakit Universitas Kyoto pun menyatakan, mereka meyakini telah terjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan.
Melalui wawancara dengan TV Asahi, Kepala Bedah Saraf Rumah Sakit Universitas Kyoto, Yoshiteru Ara, mengatakan kasus hasil tes tumor yang menunjukkan negatif sering terjadi.
Ketika ditanya apakah ahli bedah utama – yang telah melakukan lebih dari 100 operasi semacam itu – telah membuat keputusan yang salah dengan melanjutkan operasi meskipun hasil tes negatif, kepala bedah saraf rumah sakit, Yoshiteru Ara, mengatakan kepada stasiun televisi:
“Saya sendiri melakukan operasi, dan hal semacam itu kadang-kadang terjadi. Bahkan jika kami melaporkannya dua kali, kami diberitahu bahwa itu bukan tumor. Itu adalah sesuatu yang sering kami alami,” tutur Ara.
Lalu ketika ditanya apakah kesalahan ini disebabkan oleh rasa percaya diri yang terlalu tinggi karena bertumpu pada pengalaman, Ara mengakuinya.
“Saya rasa begitu,” jawab Ara pendek.
Ara melanjutkan, dokter bedah yang melakukan operasi tersebut sudah meninjau kembali video operasi dan hasil pemindaian MRI pascaoperasi. Dokter veteran tersebut juga menyampaikan permintaan maaf atas kesalahan diagnosis yang dilakukannya.
Adapun Rumah Sakit Universitas Kyoto, usai kejadian ini, mulai menerapkan sistem yang melibatkan lebih dari satu orang harus memverifikasi hasil tes selama operasi pengangkatan tumor.
(rti)
