Lingkungan

Ekosistem Darat: Pengertian, Ciri, Jenis, Contoh, dan Manfaat

3
ekosistem-darat:-pengertian,-ciri,-jenis,-contoh,-dan-manfaat
Ekosistem Darat: Pengertian, Ciri, Jenis, Contoh, dan Manfaat

Ekosistem darat memiliki karakteristik yang beragam, mulai dari hutan hujan tropis hingga savana. Keberagaman ini terbentuk dari interaksi antara makhluk hidup dan lingkungan.

Setiap ekosistem darat memiliki ciri dan keanekaragaman hayati yang berbeda serta berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan kehidupan manusia. 

Apa yang Dimaksud Ekosistem Darat? 

Ekosistem darat merupakan ekosistem yang sebagian besar proses kehidupan organismenya berlangsung di daratan. 

Ekosistem ini tersusun atas komponen biotik, seperti tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme, serta komponen abiotik, seperti tanah, air, suhu, cahaya, dan udara. 

Kondisi iklim, suhu, curah hujan, tanah, serta ketersediaan air turut menentukan vegetasi dan organisme yang dapat hidup. Perbedaan kondisi tersebut membuat setiap wilayah memiliki karakteristik ekosistem darat yang beragam. 

Ciri-Ciri Ekosistem Darat  

Ciri utama ekosistem darat adalah daratan sebagai habitat utama bagi berbagai organisme. Kondisi ekosistem ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, curah hujan, jenis tanah, kelembapan, dan ketersediaan air.

Selain itu, vegetasi memiliki peran penting sebagai sumber makanan, tempat berlindung, dan habitat bagi berbagai makhluk hidup. 

Perbedaan kondisi lingkungan dan vegetasi tersebut membuat tumbuhan maupu

n hewan memiliki bentuk adaptasi yang beragam agar dapat bertahan hidup di habitatnya masing-masing. 

Jenis-Jenis Ekosistem Darat  

Kondisi iklim, curah hujan, suhu, dan vegetasi yang berbeda membuat ekosistem darat terbagi menjadi beberapa jenis, antara lain: 

  • Hutan hujan tropis: Wilayah bercurah hujan tinggi dengan vegetasi lebat dan keanekaragaman hayati tinggi (Corlett & Primack, 2006).
  • Savana: Didominasi rerumputan dengan pepohonan yang tersebar (Sankaran et al., 2005).
  • Padang rumput: Ekosistem terbuka yang didominasi rerumputan dan menjadi habitat berbagai spesies (Bardgett et al., 2021).
  • Gurun: Wilayah kering dengan organisme yang beradaptasi terhadap keterbatasan air (Ward, 2016).
  • Taiga: Hutan beriklim dingin yang didominasi pohon konifer (Gauthier et al., 2015).
  • Tundra: Wilayah sangat dingin dengan musim tumbuh pendek dan vegetasi rendah (Elmendorf et al., 2012).

Contoh Ekosistem Darat di Indonesia 

Berbagai jenis ekosistem darat juga dapat ditemukan di Indonesia dengan karakteristik yang menyesuaikan kondisi geografis setiap wilayah.

Indonesia memiliki beragam ekosistem darat, seperti hutan hujan tropis di Sumatra, Kalimantan, dan Papua, savana di Nusa Tenggara, hutan musim, serta ekosistem pegunungan. 

Keanekaragaman ekosistem tersebut menjadi habitat penting bagi berbagai flora dan fauna. 

Namun, perubahan penggunaan lahan, seperti transformasi hutan menjadi perkebunan, dapat mengubah struktur habitat, jaring-jaring makanan, dan fungsi ekosistem sehingga berpotensi mengganggu keanekaragaman hayati. 

Manfaat Ekosistem Darat bagi Manusia dan Lingkungan 

Ekosistem darat memberikan berbagai manfaat bagi manusia dan lingkungan, mulai dari menjadi habitat flora dan fauna hingga menjaga keseimbangan alam. 

Selain itu, ekosistem ini berperan dalam menyimpan karbon, menjaga tanah dan air, serta menyediakan pangan dan sumber daya alam bagi kehidupan manusia. 

Besarnya manfaat tersebut membuat kelestarian ekosistem darat penting untuk dijaga. Namun, keberadaannya menghadapi berbagai ancaman. 

Ancaman terhadap Ekosistem Darat  

Ekosistem darat menghadapi berbagai ancaman, seperti deforestasi, alih fungsi lahan, fragmentasi habitat, kebakaran hutan, eksploitasi sumber daya alam, dan perubahan iklim. 

Berbagai tekanan tersebut menyebabkan hilangnya habitat dan menurunkan keanekaragaman hayati. Powers dan Jetz (2019) menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan meningkatkan kehilangan habitat serta risiko kepunahan. 

Kerusakan ekosistem darat juga dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi. Salah satu contohnya adalah banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra pada akhir tahun 2025. 

Dilansir dari Kompas.com, selain dipicu oleh curah hujan tinggi, berkurangnya tutupan hutan dan alih fungsi lahan dapat memperparah dampak banjir karena menurunkan kemampuan tanah menyerap air. 

Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya untuk menjaga dan memulihkan ekosistem darat. 

Baca Juga : Perbedaan Ekosistem Darat dan Perairan Beserta Contohnya

Cara Menjaga Kelestarian Ekosistem Darat   

Kelestarian ekosistem darat dapat dijaga melalui perlindungan habitat, pengurangan deforestasi, pengelolaan sumber daya berkelanjutan, rehabilitasi, dan restorasi lahan. Kawasan lindung juga berperan dalam mempertahankan habitat dan populasi spesies (Geldmann et al., 2013).

Selain itu, penanaman pohon yang sesuai dengan kondisi ekosistem dapat mendukung pemulihan habitat dan menjaga keanekaragaman hayati.

Seperti LindungiHutan berhasil mengadakan program CollaboraTree dan CorporaTree di mana program ini merupakan program penanaman pohon yang disesuaikan dengan lokasi tujuan penanaman.

Program penanaman tersebut menghasilkan berbagai jenis bibit pohon ekosistem darat yang dapat masyarakat akses pada laman lokasi.

Upaya konservasi ini penting untuk mempertahankan fungsi ekosistem bagi generasi mendatang.

LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.3 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan

Reference

Bardgett, R. D., Bullock, J. M., Lavorel, S., et al. (2021). Combatting global grassland degradation. Nature Reviews Earth & Environment, 2, 720–735. https://www.nature.com/articles/s43017-021-00207-2 

Corlett, R. T., & Primack, R. B. (2006). Tropical rainforests and the need for cross-continental comparisons. Trends in Ecology & Evolution, 21(2), 104–110. https://www.cell.com/trends/ecology-evolution/abstract/S0169-5347(05)00408-8?_returnURL=https%3A%2F%2Flinkinghub.elsevier.com%2Fretrieve%2Fpii%2FS0169534705004088%3Fshowall%3Dtrue  

Elmendorf, S. C., et al. (2012). Plot-scale evidence of tundra vegetation change and links to recent summer warming. Nature Climate Change, 2, 453–457. https://www.nature.com/articles/nclimate1465 

Gauthier, S., Bernier, P., Kuuluvainen, T., Shvidenko, A. Z., & Schepaschenko, D. G. (2015). Boreal forest health and global change. Science, 349(6250), 819–822. https://www.science.org/doi/10.1126/science.aaa9092 

Geldmann, J., Barnes, M., Coad, L., Craigie, I. D., Hockings, M., & Burgess, N. D. (2013). Effectiveness of terrestrial protected areas in reducing habitat loss and population declines. Biological Conservation, 161, 230–238. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0006320713000670?via%3Dihub 

Kompas.com. (2025). Banjir dan Tanah Longsor Sumatera Disebabkan Cuaca atau Kerusakan Hutan? Ini Penjelasan BMKG dan Pakar. Banjir dan Tanah Longsor Sumatera Disebabkan Cuaca atau Kerusakan Hutan? Ini Penjelasan BMKG dan Pakar 

Powers, R. P., & Jetz, W. (2019). Global habitat loss and extinction risk of terrestrial vertebrates under future land-use-change scenarios. Nature Climate Change, 9, 323–329. Nature Climate Change

Sankaran, M., et al. (2005). Determinants of woody cover in African savannas. Nature, 438, 846–849. https://www.nature.com/articles/nature04070 

Exit mobile version