
Dollhouse, Misteri Boneka Hidup Jepang yang Menghantui Keluarga | Film Review | Desember 2025
Sudah lama banget rasanya tidak mengulas film hingga dua hari yang lalu seorang teman mereferensikan sebuah film horor Jepang yang berjudul Dollhouse dan diproduksi pada 2025. Menurut sang teman, yang juga adalah pecinta film horor thriller psikologis seperti saya, Dollhouse punya kekuatan cerita yang begitu seru hingga menit terakhir
“Loh ini sama dengan Anabelle?” Tanya saya saat pertama melihat official flyer dari film ini yang menampilkan sesosok boneka dengan wajah putih berambut panjang hitam tebal dan berwajah Asia. Wajahnya bersih dan sempurna. Tidak seperti Anabelle yang memiliki beberapa goresan tipis di wajahnya dan tampil dengan suasana muram.
“Konsepnya sama Ni, tapi alunan dan sentuhan ceritanya beda,” jawab sang teman dengan nada semangat. “Ada roh bersarang di sang boneka sama seperti Anabelle. Tapi bagaimana dan seperti apa efek kengerian yang muncul tuh beneran diulas dari sudut pandang berbeda. Lo tahu kan ciri khas horornya Jepang. Sadis ngena ke mental.”
Saya mendadak jadi penasaran.
“Dan yang penting,” lanjutnya lagi. “Ketegangannya gak gelap-gelapan. Lo sukanya begitu kan?”
Ah ok. Sebagai penonton yang punya frekuensi selera yang sama, saya tak butuh waktu lama untuk mencerna semua preambule yang barusan dibincangkan. Kemon lah saya pun langsung menonton Dollhouse.

Bermula dari Sebuah Trauma
Film dibuka dengan suasana ramai anak-anak bermain petak umpet di sebuah rumah. Anak-anak ini tinggal di satu kompleks perumahan kecil dan saat itu bermain riang di rumahnya Mei, anak dari Yoshie (ibu) dan Tadahiko (ayah).
Menyadari camilan di rumahnya habis dan ingin menjamu semua anak, Yoshie mencuri waktu pergi ke supermarket untuk berbelanja. Tanpa disadari keputusan ini ternyata cukup memakan waktu sehingga dia telat kembali ke rumah. Jadi saat pulang, Yoshie menemukan rumahnya sudah sepi dan hening. Bahkan dia tak melihat Mei, anaknya, meski sudah menyusur ke setiap sudut rumah dan dibantu oleh para tetangga.
Yoshie pun panik luar biasa hingga akhirnya menyerah dan melaporkan hal ini kepada polisi. Suaminya, Tadahiko, yang adalah seorang perawat rumah sakit, langsung pulang dan menyaksikan Yoshie menandatangani surat laporan hilang dengan dua orang polisi di dekatnya. Yoshie terlihat begitu menyesal dan tak mampu berkata-kata.
Menikmati makan malam bersama setelahnya, Yoshie tanpa sengaja menjatuhkan minuman di atas meja bertaplak. Dengan kegelisahan yang dia rasakan, Yoshie pun menggulung taplak dan langsung memasukkannya ke dalam mesin cuci.
Tahap ke-2 ketegangannya pun tercipta.
Dengan jeritan yang kencang dan menyayat hati, Yoshie menemukan Mei meringkuk tak bernyawa di dalam mesin cuci tersebut. Tempat yang ternyata menjadi lokasi persembunyian Mei saat bermain petak umpet.
Sejak kejadian itu, disesaki oleh rasa bersalah, Yoshie mengalami tekanan mental yang luar biasa. Rasa bersalah terus bersarang di hatinya hingga sebuah keajaiban – yang menurut saya lebih ke sebuah keanehan – terjadi. Saat sedang berjalan kembali ke rumah dari sebuah konsultasi psikologi, Yoshie membaca sebuah selebaran tentang penjualan boneka di sebuah bazaar barang antik.
Kertas kecil inilah yang membimbingnya bertemu dengan boneka dengan wajah yang begitu mirip dengan almarhumah Mei. Boneka ini ditaruh di dalam sebuah kotak kaca dengan tempelan rangkaian tulisan tangan, yang belakangan diketahui sebagai mantra-mantra yang ditulis terbalik.
Melihat Yoshie bergembira dan menikmati hidupnya kembali, Tadahiko pun mengizinkan istrinya untuk memiliki boneka ini. Dan memang benar. Kesehatan mental Yoshie kembali. Dia terlihat ceria bahkan dengan riang membongkar simpanan baju-baju Mei untuk dikenakan ke sang boneka.
Hingga di satu waktu, Yoshie mengabarkan suaminya bahwa dia kembali hamil anak mereka yang ke-2.

Seri Peristiwa yang Sarat Emosi
Ketegangan berikutnya kemudian berlanjut.
Dengan lahirnya anak perempuan ke-2 mereka bernama Mai, suasana rumah pun berubah kembali. Kebahagiaan yang tadinya berfokus pada sang boneka kini beralih kepada Mai yang lucu dan menggemaskan. Si boneka pun diacuhkan bahkan diletakkan di sembarang tempat, terinjak, tertendang, terbanting, dan menumpuk di antara boneka-boneka lama yang dulu dimainkan oleh Mei.
Musim pun berganti dan Mai sudah menginjak usia ke-5. Usia di mana Mei dulu menghembuskan nafas terakhir.
Meski Mai pada awalnya tampak senang dan gembira mendapat sebuah boneka sebagai teman bermain, rangkaian kejadian aneh pun mulai menyeruak kembali. Mai pada kenyataannya terlihat bersemangat bermain dengan Aya-san, demikian nama yang diberikan Mai untuk si boneka. Tapi dalam beberapa kejadian Aya-san ternyata melakukan beberapa tindak kekerasan pada Mai dan teman yang bermain di rumah. Memukul Mai bahkan pernah menggigit lengan teman Mai karena berusaha merebut Aya-san.
Sejak itu berbagai peristiwa aneh pun kembali terjadi di dalam rumah.
Dan menurut saya yang justru paling menegangkan adalah bahwa rambut dan kuku Aya-san tetap tumbuh meski sudah disimpan oleh Yoshie ke dalam kotaknya kembali selama lima tahun, tepat beberapa bulan kelahiran Mai. Plus saat Aya-san dimasukkan ke dalam mesin MRI di rumah sakit oleh Tadahiko, terlihat tubuh Aya-san lengkap dengan tulang layaknya seorang manusia.
Alamak!!
Rencana Pemusnahan yang Menegangkan
Rencana pemusnahan pun disusun.
Dengan berbagai cara Yoshie dan Tadahiko mencari tempat dan orang yang ahli untuk melakukan tindakan ini. Di sesi inilah saya melihat bagaimana Yaguchi Shinobu, sang sutradara, berhasil membangun berbagai irrational behavior yang benar-benar berada di luar nalar. Serangkaian nuansa mencekam yang mengocok emosi penonton.
Seperti apa yang telah disampaikan teman tadi, semua adegan direkam dan ditampilkan dalam kondisi terang benderang. Tidak gelap-gelapan yang membuat penonton sibuk meraba-raba adegan. Jadi jangan heran ya. Dalam beberapa bahkan mungkin banyak scene kita dibuat kaget dan merasakan ketegangan yang tercipta tanpa filter.
Karakter paranormal yang gigih membantu dan berhasil “menyarangkan” Aya-san di dalam kotak ajaib pun ditampilkan. Begitu pun usaha pasutri ini mengirimkan sang boneka ke sebuah tempat untuk dibakar yang katanya paham akan sejarah Aya-san.
Tapi nyatanya semua usaha gagal, tak ada hasil yang signifikan. Bahkan bukannya berhasil, rangkaian usaha ini justru menyebabkan banyak korban berjatuhan.
Mencekam dari Awal Hingga Akhir
Saya suka film Dollhouse ini. Sangat suka malah. Belum sempat minum atau menikmati camilan, dalam beberapa detik aja sudah muncul adegan yang bikin bergidik. Bahkan itu hanya atau sekedar lirikan atau kedipan kecil mata Aya-san. Atau adegan perpindahan fisik antara Mai dan Aya-san.
Rangkaian adegan penuh ketegangan di titik awal bahkan menjadi semakin menggila menjelang film ini berakhir. Penonton tak dibiarkan bernafas lega, slowing down, dan dilepas untuk menikmati teror yang intense disusun oleh penulis naskah. Merinding dari awal hingga akhir pastinya. Tapi jujurly ya, buat saya si penggemar shocking thrillers, suasana mencekam yang tanpa henti itu justru adalah kelebihan Dollhouse.
Tim kreatifnya sungguh layak diberikan empat jempol (kaki dan tangan). Setidaknya untuk saya yang selalu terkesan dengan bagaimana sutradara mampu memindahkan isi skenario ke dalam rangkaian adegan yang bikin bulu kuduk berdiri. Keberhasilan lainnya adalah melahirkan sederetan plot twist dan ending yang tak terduga dan membuat kita gemas tak tertahankan. Bahkan mungkin memaki.
Apalagi yang membuat film horor Jepang ini begitu punchy?
Selain jalan cerita yang runut dengan ketegangan di setiap menit, acting emosional yang ditunjukkan juga cukup kuat. Khususnya untuk peran Yoshie – ibu Mei dan Mai yang dipegang oleh Marami Nagasawa. Dengan bantuan Koji Seto yang menjadi sang ayah – Tadahiko – chemistry di antara keduanya terbangun dengan apik. Jadi saat duduk diam mengikuti sajian Dollhouse, misteri boneka hidup Jepang yang menghantui keluarga, selama 1 jam 50 menit, kita tertancap untuk terus menonton.








