Scroll untuk baca artikel
Lingkungan

Dampak Blue Economy untuk Perubahan Iklim dan Masa Depan Laut Indonesia

7
×

Dampak Blue Economy untuk Perubahan Iklim dan Masa Depan Laut Indonesia

Share this article
dampak-blue-economy-untuk-perubahan-iklim-dan-masa-depan-laut-indonesia
Dampak Blue Economy untuk Perubahan Iklim dan Masa Depan Laut Indonesia

LindungiHutan Insight

  • Blue economy mendorong pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi.
  • Perlindungan ekosistem pesisir seperti mangrove dan padang lamun berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon, perlindungan wilayah pesisir, dan peningkatan ketahanan lingkungan.
  • Keberhasilan blue economy membutuhkan kolaborasi berbagai pihak untuk mengatasi tantangan seperti degradasi ekosistem, polusi laut, dan rendahnya kesadaran terhadap pentingnya sumber daya laut sebagai aset jangka panjang.

Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada daratan, tetapi juga ekosistem pesisir dan laut. Bagi Indonesia yang memiliki wilayah laut luas, tantangan ini menjadi isu penting dalam pengembangan blue economy.

Wilayah pesisir menghadapi berbagai ancaman, seperti kenaikan permukaan laut, pemutihan terumbu karang, dan degradasi ekosistem. Dampaknya tidak hanya dirasakan lingkungan, tetapi juga masyarakat yang bergantung pada sektor kelautan dan perikanan.

Example 300x600

Salah satu penerapan blue economy dapat dilihat melalui konservasi padang lamun. Ekosistem ini mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam jangka panjang. Selain itu, lamun juga menjaga kualitas perairan serta mendukung kehidupan biota laut dan masyarakat pesisir. 

Apa Itu Blue Economy?

Pada dasarnya, blue economy adalah cara memanfaatkan sumber daya laut tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan. 

Pendekatan ini berangkat dari gagasan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pelestarian ekosistem tidak harus saling bertentangan, melainkan dapat berjalan bersama.

Karena itu, blue economy tidak hanya berbicara tentang peningkatan produksi perikanan atau pengembangan sektor kelautan. 

Konsep ini juga mencakup upaya menjaga ekosistem yang menopang berbagai aktivitas tersebut, mulai dari terumbu karang, mangrove, hingga padang lamun.

Ekosistem yang terjaga memberikan banyak manfaat, baik bagi lingkungan maupun perekonomian. 

Selain mendukung kehidupan berbagai biota laut, kawasan pesisir yang sehat juga berperan dalam menjaga ketahanan pangan, mendukung sektor pariwisata, serta membantu menyerap dan menyimpan karbon dari atmosfer.

Dengan potensi kelautan yang dimiliki Indonesia, penerapan prinsip blue economy menjadi semakin penting untuk memastikan pemanfaatan sumber daya laut dapat berlangsung secara berkelanjutan dalam jangka panjang.

Prinsip Dasar Blue Economy

Pada dasarnya, blue economy berupaya memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya laut tetap berada dalam batas yang dapat ditanggung oleh ekosistem. 

Karena itu, pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada upaya menjaga kesehatan lingkungan pesisir dan laut.

Prinsip tersebut diwujudkan melalui berbagai cara, mulai dari penggunaan sumber daya yang lebih efisien, perlindungan ekosistem pesisir, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada sektor kelautan. 

Di saat yang sama, blue economy juga mendorong pengembangan sektor-sektor ekonomi yang dinilai lebih berkelanjutan, seperti perikanan terukur, energi laut terbarukan, pariwisata bahari, dan bioteknologi kelautan.

Apa Hubungan Blue Economy dengan Perubahan Iklim?

Blue economy memiliki keterkaitan erat dengan upaya menghadapi perubahan iklim karena mendorong pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan sekaligus menjaga fungsi ekologis ekosistem pesisir. 

Melalui pendekatan ini, ekosistem seperti mangrove, padang lamun, dan rawa payau dapat terus berfungsi sebagai penyerap dan penyimpan karbon alami (blue carbon) yang membantu mengurangi konsentrasi karbon dioksida di atmosfer. 

Selain mendukung penurunan emisi, perlindungan ekosistem pesisir juga memperkuat ketahanan wilayah pantai terhadap berbagai dampak perubahan iklim, seperti abrasi dan kenaikan muka air laut. 

Karena itu, blue economy semakin dipandang sebagai salah satu strategi yang dapat menggabungkan pertumbuhan ekonomi dengan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim secara berkelanjutan.

Baca Juga: Aksi Bersih Sampah PT ORIX Indonesia Finance di Situ Gintung

Melalui pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan, blue economy dapat menjadi salah satu solusi dalam menghadapi perubahan iklim. Berikut tiga dampak positifnya:

1. Melindungi Ekosistem Penyerap Karbon

Salah satu bentuk penerapan blue economy dapat dilihat melalui upaya menjaga ekosistem pesisir. Mangrove, terumbu karang, dan padang lamun merupakan tiga ekosistem yang memiliki peran penting, baik bagi lingkungan maupun bagi masyarakat yang hidup di kawasan pesisir.

Mangrove membantu menyimpan karbon dalam jumlah besar sekaligus melindungi garis pantai dari abrasi. 

Terumbu karang menjadi habitat bagi berbagai jenis biota laut dan mendukung aktivitas perikanan serta pariwisata. Sementara itu, padang lamun berperan dalam menyerap karbon, menjaga kualitas perairan, dan menyediakan habitat bagi berbagai organisme laut.

Karena manfaatnya yang beragam, perlindungan ketiga ekosistem tersebut menjadi bagian penting dalam pendekatan blue economy. 

Ekosistem yang terjaga tidak hanya mendukung keseimbangan lingkungan, tetapi juga membantu menjaga keberlanjutan berbagai sektor ekonomi yang bergantung pada sumber daya pesisir dan laut.

2. Mengurangi Emisi dari Aktivitas Ekonomi Laut

Sektor kelautan juga memiliki tantangan tersendiri dalam upaya mengurangi emisi dan menjaga kesehatan ekosistem. 

Beberapa aktivitas ekonomi yang tidak dikelola secara berkelanjutan dapat meningkatkan tekanan terhadap lingkungan laut, mulai dari pencemaran hingga kerusakan habitat penting di wilayah pesisir dan perairan.

Sebagai contoh, sektor perkapalan berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca dalam skala global. 

Di sisi lain, praktik penangkapan ikan yang berlebihan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem laut dan mengurangi kemampuan habitat pesisir dalam memberikan berbagai manfaat ekologis.

Melalui pendekatan blue economy, berbagai aktivitas tersebut didorong untuk dikelola secara lebih berkelanjutan. 

Dalam sektor perikanan, misalnya, pengelolaan berbasis kuota dan pemantauan stok ikan dapat membantu menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian sumber daya. 

Sementara itu, sektor pariwisata bahari dan pembangunan pesisir diharapkan dapat berkembang tanpa mengabaikan perlindungan ekosistem yang menjadi penopangnya.

3. Meningkatkan Ketahanan Wilayah Pesisir

Wilayah pesisir termasuk kawasan yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. 

Kenaikan muka air laut, abrasi, serta meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem dapat memengaruhi lingkungan pesisir sekaligus kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut.

Dalam konteks ini, penerapan prinsip blue economy dapat mendukung upaya peningkatan ketahanan wilayah pesisir. 

Salah satunya melalui perlindungan ekosistem alami seperti mangrove dan padang lamun yang berperan membantu mengurangi dampak gelombang serta menjaga kestabilan garis pantai.

Selain itu, ekosistem laut yang terjaga cenderung lebih mampu menghadapi berbagai tekanan lingkungan. 

Di sisi lain, pengembangan ekonomi yang memberikan manfaat bagi masyarakat pesisir juga dapat memperkuat kemampuan mereka untuk beradaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan dan iklim di masa depan.

blue_economy[1]_11zon

Baca Juga: PT Tata Metal Lestari Buktikan ESG Lewat 4 Kali Monitoring Karbon di Sadang Purwakarta

Ekosistem Lamun, Contoh Nyata Blue Economy yang Mendukung Aksi Iklim

Di antara berbagai ekosistem pesisir, padang lamun sering kali kurang mendapat perhatian dibandingkan mangrove atau terumbu karang. 

Padahal, ekosistem ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir sekaligus mendukung berbagai aktivitas yang bergantung pada kesehatan laut.

Manfaat ekosistem lamun dalam mendukung blue economy, antara lain: 

  • Menyerap dan menyimpan karbon biru
    Lamun mampu menyerap karbon melalui fotosintesis dan menyimpannya dalam biomassa serta sedimen dasar laut dalam jangka panjang.
  • Menjadi habitat berbagai biota laut
    Padang lamun berfungsi sebagai tempat hidup, mencari makan, dan area pembesaran bagi ikan, kepiting, kerang, kuda laut, hingga dugong.
  • Menjaga kualitas lingkungan pesisir
    Keberadaan lamun membantu menjaga kualitas perairan sekaligus mengurangi risiko abrasi dan erosi pantai.
  • Mendukung penerapan blue economy
    Pengelolaan lamun yang berkelanjutan memberikan manfaat ekologis, mendukung sektor perikanan, dan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Mengapa Konservasi Lamun Penting?

Menjaga padang lamun memberikan berbagai manfaat bagi lingkungan dan masyarakat, di antaranya:

  • Menyerap dan menyimpan karbon dalam jangka panjang untuk membantu mitigasi perubahan iklim.
  • Menjadi habitat penting bagi berbagai biota laut dan menjaga keanekaragaman hayati.
  • Mendukung sektor perikanan pesisir yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat.
  • Menjaga kualitas lingkungan pesisir, termasuk kestabilan ekosistem laut.
  • Mendukung blue economy dan pembangunan berkelanjutan yang menyeimbangkan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial.

Tantangan Penerapan Blue Economy di Indonesia

Indonesia memiliki potensi blue economy yang luar biasa. Lebih dari 65 persen wilayahnya adalah laut, dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. 

Bappenas memproyeksikan potensi blue economy nasional mencapai USD 1,33 miliar dengan kapasitas menyerap 45 juta lapangan kerja.

Meski memiliki banyak manfaat, penerapan blue economy masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain:

  • Degradasi ekosistem pesisir, seperti akibat reklamasi, tambak ilegal, dan sedimentasi yang mengurangi luas mangrove dan padang lamun.
  • Ancaman aktivitas manusia, yang berpotensi menyebabkan hilangnya sekitar 2–5% luas padang lamun global setiap tahun.
  • Polusi laut, baik dari sampah plastik, limbah rumah tangga, maupun limpasan pertanian yang menurunkan kualitas perairan.
  • Alih fungsi kawasan pesisir, yang sering mengabaikan nilai ekologis dan manfaat jangka panjang ekosistem.
  • Rendahnya kesadaran terhadap nilai ekonomi ekosistem, sehingga laut masih kerap dipandang sebagai sumber daya untuk dieksploitasi, bukan aset yang perlu dijaga dan diinvestasikan 

Padahal, menurut kajian UGM, perpaduan konsep karbon biru dan ekonomi biru sangat tepat diterapkan di wilayah pesisir Indonesia yang 60 persen masyarakatnya bekerja sebagai nelayan.

Mendorong Blue Economy Melalui Restorasi Ekosistem Laut

Restorasi ekosistem pesisir adalah inti dari blue economy yang berkelanjutan. Tanpa ekosistem yang sehat, tidak ada ikan untuk ditangkap, tidak ada pantai untuk dikunjungi, dan tidak ada karbon yang bisa disimpan.

Pemerintah Indonesia telah menyadari hal ini. Indonesia Blue Economy Roadmap yang diluncurkan Bappenas menetapkan lima pilar aksi, termasuk perluasan kawasan konservasi laut, penangkapan ikan terukur berbasis kuota, dan pengelolaan kawasan pesisir secara terpadu. 

Target jangka panjangnya adalah kontribusi sektor maritim terhadap PDB mencapai 15 persen pada 2045.

Namun, kapasitas pemerintah saja tidak cukup. Kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, organisasi lingkungan, dan komunitas lokal adalah kunci keberhasilan. 

Program restorasi lamun, misalnya, membutuhkan pemantauan jangka panjang, keterlibatan masyarakat pesisir, dan dukungan finansial yang konsisten.

Di sinilah peran sektor swasta menjadi sangat strategis. Melalui program ESG atau CSR berbasis konservasi laut, perusahaan dapat berinvestasi dalam restorasi ekosistem lamun dan mangrove sebagai bagian dari strategi net-zero mereka. 

Investasi ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memperkuat reputasi dan kontribusi nyata terhadap target iklim global.

Konservasi lamun, secara khusus, menjadi salah satu nature-based solutions yang paling menjanjikan: biaya relatif terjangkau, dampak iklimnya terukur, dan manfaatnya langsung dirasakan oleh komunitas pesisir yang menjadi penjaga ekosistem tersebut.

Baca Juga: 3 Sustainability Perusahaan Indonesia yang Patut Dijadikan Benchmark

Konsep blue economy menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya laut tidak harus dilakukan dengan mengorbankan lingkungan. 

Melalui pengelolaan yang berkelanjutan, laut dapat terus memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga fungsi ekologis yang penting bagi kehidupan.

Padang lamun menjadi salah satu contoh bagaimana prinsip tersebut dapat diterapkan. Selain berperan dalam menyerap dan menyimpan karbon, ekosistem ini juga mendukung keberlanjutan perikanan, melindungi wilayah pesisir, serta menjadi habitat bagi berbagai biota laut. 

Karena itu, upaya menjaga lamun tidak hanya penting bagi lingkungan, tetapi juga bagi masyarakat yang bergantung pada sumber daya pesisir dan laut.

Jika perusahaan atau organisasi Anda tertarik berkontribusi dalam pemulihan ekosistem pesisir dan konservasi lamun, LindungiHutan siap menjadi mitra diskusi untuk merancang program yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan keberlanjutan Anda.

Bagaimana menurut Anda peran laut dalam mengatasi perubahan iklim? Tertarik menjalankan program konservasi lamun atau ekosistem pesisir? Konsultasikan kebutuhan Anda bersama LindungiHutan.

LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.3 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan