Scroll untuk baca artikel
Lingkungan

4 Perbedaan Green Carbon, Blue Carbon, & Blue Economy

3
×

4 Perbedaan Green Carbon, Blue Carbon, & Blue Economy

Share this article
4-perbedaan-green-carbon,-blue-carbon,-&-blue-economy
4 Perbedaan Green Carbon, Blue Carbon, & Blue Economy

LindungiHutan Insight

  • Blue carbon: karbon yang diserap oleh ekosistem pesisir dan laut; green carbon: karbon yang diserap oleh ekosistem; blue economy: sebuah konsep pemanfaatan ekosistem laut secara ekonomi
  • Blue carbon: memerangi perubahan iklim; green carbon: strategi iklim berbasis lahan; blue economy : lebih condong ke aspek sosial-ekonomi
  • Blue carbon: menyerap karbon empat kali lebih banyak dibanding hutan tropis; green carbon: menyerap karbon lebih sedikit per satuan luas; blue economy: berkontribusi pada penyerapan karbon melalui pemanfaatan sumber daya laut
  • Ancaman ekosistem blue carbon: alih fungsi lahan hutan mangrove; green carbon: penggundulan hutan; blue economy: perubahan iklim

Green carbon dan blue carbon merupakan karbon alami dari ekosistem pesisir dan laut serta darat yang membantu menyerap karbon dioksida di atmosfer. Sementara itu, blue economy merupakan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan.

Indonesia dengan kekayaan laut dan hutan yang melimpah, menjadikannya salah satu penghasil blue carbon dan green carbon, sekaligus penentu dinamika iklim global, serta berpotensi mengembangkan ekonomi di sektor kelautan melalui model blue economy.

Example 300x600

Dilansir dari vokasi UI, blue economy dapat menjadi salah satu strategi utama dalam peningkatan ekonomi Indonesia di sektor kelautan.

4 Hal yang Membedakan Blue Carbon, Green Carbon, dan Blue Economy

Berikut empat hal yang membedakan antara blue carbon, green carbon, dan blue economy:

1. Ekosistem

Blue carbon adalah istilah untuk karbon yang diserap dari atmosfer dan disimpan oleh ekosistem di sekitar pesisir dan laut seperti hutan mangrove, rawa-rawa, padang lamun, dan terumbu karang. 

Ekosistem tersebut merupakan penyerap karbon paling efektif dibandingkan ekosistem lain. Karbon yang diserap dan disimpan dalam sedimen atau tanah dalam jangka waktu lama. 

Dilansir dari Bumi Baik, penyebab ekosistem pesisir dan laut sangat efisien dalam menyerap dan menyimpan karbon adalah karena tanamannya cenderung tumbuh cepat dan karena tumbuh di tanah anaerob sehingga memperlambat proses dekomposisi tanaman yang membuat karbon tersimpan lebih lama.

Sementara itu, green carbon adalah karbon yang diserap dari atmosfer dan disimpan oleh ekosistem daratan seperti hutan, padang rumput, serta lahan pertanian.

Dilansir dari OneStop ESG, karbon dari atmosfer tersebut diserap oleh pohon, semak, rumput, dan tanaman di ekosistem darat melalui fotosintesis dan disimpan di batang, cabang, daun, akar, juga tanah sekitarnya.

Berbeda dengan keduanya, blue economy bukan berasal dari ekosistem tertentu, melainkan sebuah konsep pemanfaatan ekosistem laut secara ekonomi. 

Dilansir dari Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM, blue economy merupakan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk meningkatkan ekonomi, memperbaiki kehidupan masyarakat, dan untuk kesehatan ekosistem laut. 

Adapun sektor yang dapat dimanfaatkan dalam blue economy yaitu perikanan, akuakultur, pelayaran, energi, pariwisata, dan bioteknologi kelautan. 

Baca juga: PT Tata Metal Lestari Buktikan ESG Lewat 4 Kali Monitoring Karbon di Sadang Purwakarta

2. Manfaat

Dilansir dari IAEA, blue carbon dapat membantu memerangi perubahan iklim dengan menghilangkan kelebihan karbon di atmosfer dan menyimpannya selama ratusan atau ribuan tahun.

Manfaat lainnya meliputi restorasi pesisir, penyerapan dan penyimpanan emisi CO₂, perlindungan dari erosi, pasang surut, badai, dan banjir, penyediaan habitat bagi berbagai spesies laut, serta peningkatan sumber pendapatan bagi masyarakat pesisir.

Dilansir dari OneStop ESG, green carbon memiliki peran penting dalam upaya penghutanan dan reboisasi, serta berbagai strategi iklim berbasis lahan, seperti konservasi dan pengelolaan hutan berkelanjutan. 

Ekosistem dari green carbon juga bermanfaat untuk mengatur curah hujan, menjaga kualitas udara dan air, mendukung keanekaragaman hayati, serta berkontribusi pada sistem pangan.

Adapun manfaat blue economy lebih condong ke aspek sosial-ekonomi. Melalui Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM, blue economy memiliki manfaat dalam menurunkan angka kemiskinan, memberikan pembangunan berkelanjutan di daerah pesisir laut, ketahanan pangan, sumber energi terbarukan, dan konservasi keanekaragaman hayati. 

3. Jumlah Penyerapan

Ekosistem blue carbon memiliki kemampuan menyerap karbon dalam jumlah besar, bahkan hingga empat kali lebih banyak per hektare dan 30-50 kali lebih cepat dibandingkan hutan tropis.

Mangrove mampu menyimpan karbon hampir lima kali lebih banyak dibandingkan hutan tropis. Sementara itu, ekosistem rawa memiliki potensi menyimpan karbon sekitar 800 ton per hektare, sedangkan padang lamun dapat menyimpan sekitar 600 ton karbon per hektare.

Sementara itu, ekosistem green carbon meskipun mencakup area yang lebih luas, umumnya menyerap karbon dalam jumlah yang lebih sedikit per satuan luas dibandingkan ekosistem blue carbon

Namun, karbon yang tersimpan dapat bertahan selama puluhan hingga ratusan tahun, tergantung pada kondisi kesehatan ekosistem dan pengelolaannya.

Blue economy sendiri tidak memiliki ukuran kapasitas penyerapan karbon, namun salah satu pilar penerapannya turut berkontribusi pada penyerapan karbon melalui pemanfaatan sumber daya laut.

4. Ancaman

Ekosistem blue carbon dan green carbon juga berpotensi menghadapi sejumlah ancaman. Ancaman kerusakan ekosistem blue carbon yaitu pengasaman air laut, alih fungsi lahan hutan mangrove, hingga penebangan mangrove sebagai bahan baku arang dan kertas.

Abrasi, erosi, hantaman gelombang, hingga kenaikan permukaan laut juga mengancam ekosistem blue carbon sekaligus memicu pelepasan karbon yang tersimpan kembali ke atmosfer dalam waktu singkat.

Adapun ancaman terhadap ekosistem green carbon yaitu penggundulan hutan, degradasi lahan, penebangan kayu, dan kebakaran hutan, yang juga dapat melepaskan karbon yang tersimpan, kembali ke atmosfer.

Blue economy juga menghadapi sejumlah ancaman, seperti perubahan iklim, penangkapan ikan berlebihan, polusi, dan perusakan habitat. 

Baca Juga: Dampak Blue Economy untuk Perubahan Iklim dan Masa Depan Laut Indonesia

infografis blue carbon, green carbon, blue economy

Memahami perbedaan blue carbon, green carbon, dan blue economy penting untuk melihat bagaimana ekosistem alam dan aktivitas ekonomi dapat berjalan beriringan dan saling melengkapi.

Dengan menjaga kelestarian ekosistem pesisir dan daratan sekaligus menerapkan prinsip blue economy secara berkelanjutan, Indonesia berpotensi memperkuat perannya dalam penentu dinamika iklim global sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir.

LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.3 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan