Ilustrasi-Pulau kecil. (Foto: Antara/HO-Dok KKP).
Indonesiainside.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap fakta mengejutkan, sebanyak 200 lebih pulau-pulau kecil di Indonesia sudah diprivatisasi dan diperjualbelikan ke berbagai pihak. Temuan ini disampaikan Kepala Pusat Riset Politik BRIN, Athiqah Nur Alami.
Hingga tahun 2023, Athiqah mengatakan, pulau-pulau kecil Indonesia paling banyak terjual di Jakarta dan Maluku.
“Lebih dari 200 pulau-pulau kecil, terbanyak di DKI Jakarta dan Maluku Utara dipr,” kata Kepala Pusat Riset Politik BRIN Athiqah Nur Alami dalam keterangan persnya, di Jakarta, Senin (15/7).
Tidak hanya jual-beli pulau kecil, Athiqah mengatakan, terdapat adanya dampak negatif lainnya. Yakni, dampak negatif dari industri ekstraktif di sejumlah pulau kecil di Indonesia.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai banyak dampak negatif dari industri ekstraktif seperti pertambangan, eksplorasi minyak dan gas, serta penangkapan ikan besar-besaran bagi masyarakat pulau-pulau kecil dan pesisir di Indonesia.
“Eksistensi pulau-pulau kecil sudah ada yang mulai lenyap, bahkan tenggelam. Ini menunjukkan terjadinya kerentanan di pesisir yang sifatnya tidak hanya ekologis, tapi juga sosial, ekonomi, dan budaya. Hal itu tidak hanya karena perubahan iklim, tetapi juga aktivitas industri ekstraktif,” kata Kepala Pusat Riset Politik BRIN Athiqah Nur Alami di Jakarta, Senin.
Athiqah menyebut beberapa tahun terakhir pihaknya mencermati bagaimana kebijakan hilirisasi dan masifnya kegiatan pertambangan dan perluasan industri ekstraktif.
Ia menilai kegiatan industrialisasi, seperti proyek hilirisasi nikel di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, juga pertambangan biji besi dan tambang emas di Sulawesi Utara berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem di pesisir laut dan pulau-pulau kecil.
“Dampak lingkungannya jelas, bahwa terjadi pencemaran logam berat, misalnya di sungai-sungai di sekitar pabrik di wilayah tersebut. Khususnya di pertambangan nikel yang tidak hanya pencemaran air, tapi juga pencemaran udara, hancurnya hutan, serta penggusuran kebutuhan petani akibat ekspansi tambang nikel,” ujarnya.
(Nto/Ant)







