Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Bertamu ke D’Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie Semarang

83
×

Bertamu ke D’Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie Semarang

Share this article
bertamu-ke-d’kambodja-heritage-dapur-ndeso-anne-avantie-semarang
Bertamu ke D’Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie Semarang
Bertamu ke D'Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie Semarang
Teras depan D’Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie. Spot foto yang apik di pintu depan resto

Saya dan beberapa orang sepupu serta bibi dari keluarga suami bersepakat untuk jalan-jalan ke Semarang. Beberapa tempat kami kunjungi termasuk diantaranya adalah D’Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie. Restoran yang sudah punya nama mengiringi kepopuleran sang pemilik.

Perjalanan ke Semarang

Ini kali ketiga saya bertamu ke kota Semarang. Setelah sempat dua kali berkunjung dengan beberapa teman, kali ini dalam rangka memenuhi ajakan keluarga besar suami yang sebagian besar tinggal di Bandung. Entah bagaimana awalnya kehebohan dan rencana itu terbangun. Tapi yang pasti kakak ipar tertua langsung memasukkan nama saya di daftar peserta.

Yoweslah mari kita kemon.

Example 300x600

Sebagai penggembira dan peramai suasana, keputusan tanpa bisa ditolak tersebut tak bisa saya indahkan. Tentu saja setelah mendapatkan izin dari suami sebagai pemegang modal dan pengisi uang jajan dan jalan-jalan.

Sekalian seseruan bareng saudara-saudara yang sudah lama tidak ketemuan langsung sebanyak itu.

Jadilah sehari sebelum keberangkatan, saya sudah berada di Bandung. Siap dengan koper kecil yang cukup untuk menginap di Semarang selama 2 hari 1 malam.

Sesuai pengaturan, kami serombongan berangkat dari Bandung berlomba-lomba dengan saatnya ayam berkokok di awal hari. Ayamnya masih tidur tapi saya sudah berdandan cantik dan siap menuju titik penjemputan demi efisiensi dan efektivitas rute perjalanan.

Menaiki mobil Hiace, seukuran mobil sewaan travel dengan sekitar 14 buah tempat duduk, saya pun mendapatkan “jatah” bangku belakang. Tepatnya deretan kedua terakhir yang nauzubillah hebohnya saat supir ngebut dan melewati polisi tidur. Sementara 4 deret terdepan sudah ditempati oleh para tante dan beberapa sepupu yang generasinya berada di atas saya.

Kebayang kan bagaimana seniornya para peserta jalan-jalan kali ini. Laahh saya aja sudah lebih dari setengah jalan menuju 60. Limit terbawah dari usia lansia. Gimana yang lain kan?

Saya sempat merasakan mual yang tak tertahankan saat pak supir menaikkan kecepatan kendaraan. Apalagi si supir tampaknya punya mimpi yang tak terwujudkan yaitu menjadi pembalap F1 mewakili Jaguar, Mercedes Benz, atau Toyota. Saya mendadak bisa membayangkan bagaimana pembalap F1 berada di cockpit dengan kecepatan yang maha dahsyat.

Yang pasti ngepotnya seru betul. Setiap edisi terpental mendadak mengingatkan saya mungkin BB saat itu sudah terlalu minim hingga mudah terbanting-banting. Sementara yang lain aman sentosa. Bahkan ada beberapa yang tampak nyaman tertidur tanpa merasakan gangguan apa pun. Ngorok berkepanjangan.

Dan semua harus tabah saya alami saat mobil mini van yang ditumpangi melewati tol Cileunyi – Sumedang – Dawu (Cisumdawu) dan tol Semarang – Batang hingga akhirnya mencapai hotel yang berada di tengah kota. Pinggang pun langsung remuk redam saat rebahan di malam harinya. Wajah si mbak tukang urut dan lulur yang biasa dipanggil ke rumah langsung berkelebat di pelupuk mata.

Adalah sekitar 6 jam perjuangan duduk mental-mental karena ada banyak sambungan jalan yang mulai berongga dan aspal yang mulai bopeng-bopeng. Duduk dengan posisi kaki sempit, tak bisa selonjoran, dan ruang gerak yang terbatas sempat saya rasakan setelah akhirnya mencapai kota Semarang. Ibu kota Jawa Tengah yang mendadak mengingatkan saya akan kunjungan terakhir 8 tahun yang lalu.

Ya ampun. Udah lama banget ternyata.

Wisata Semarang : Lawang Sewu. Sewu Tapi Bukan Seribu

Bertamu ke D'Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie Semarang
Nuansa di dalam resto D’Kambodja Dapur Ndeso Anne Avantie. Nuansa lawas dan etnik langsung menyambut di area depan
Bertamu ke D'Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie Semarang
Sudut kreatif dan display produk yang ada di dalam D’Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie

Wisata Semarang : Umbul Sidomukti. Wisata Alam di Lereng Gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah

Disambut Oleh Suasana Lawas

Agenda makan siang di D’Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie ini telah diaturkan di hari ke-2. Tepatnya setelah check-out dari hotel dan menyusur Kota Lama Semarang serta dalam rangka menyusur jalan pulang.

Berada di kawasan Gajahmungkur, saya melihat banyak sekali bangunan besar-besar sepanjang perjalanan. Ada yang berfungsi sebagai kantor, hotel, tapi ada juga digunakan sebagai tempat tinggal. Posisinya sebenarnya tak jauh dari hotel tempat kami menginap karena jalan di depan resto berulangkali dilewati saat rombongan kami mengunjungi berbagai destinasi wisata kota Semarang.

Apalagi diantaranya ada beberapa rumah besar, setidaknya dengan luas tanah sekitar 500m2, yang dibangun megah dengan rancang bangun klasik dan akses masuk yang lebih tinggi dari jalan yang ada di depannya. Rumah-rumah yang kalau ingin dicermati tentunya memiliki harga jual di atas 5 Milyar.

Saya sampai menandai beberapa titik tempat yang terekam dengan baik secara visual di ingatan. What a small city indeed. Apalagi, berbeda dengan kecepatan di dalam tol, pak supir harus banyak sabar karena selama di dalam kota kemacetan seringkali menguji jiwa.

Mengikuti google maps pun kudu telaten agar tidak kembali berputar atau terjebak pada arah yang salah.

Saat mencapai pintu depan D’Kambodja Heritage dan pelan memasuki lahan parkir yang penuh, saya bisa melihat sebuah rumah dengan halaman yang sangat besar. Main building nya sendiri berada di tengah dengan beberapa paviliun dan taman yang ada di sekitarnya.

Bertamu ke D'Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie Semarang

Menjejakkan kaki di teras depan, seorang petugas berseragam menawarkan kami untuk berpose di sebuah spot foto yang persis berada di depan pintu masuk. Area yang sudah berhias dan tertata dengan rapi.

Sebuah bangku kayu panjang disediakan dengan background logo tempat ini dan silhouette seorang Anne Avantie yang selalu tampil bersanggul. Bagian atasnya juga sudah dihiasi dengan bunga-bunga artificial yang memberikan sentuhan “rame” di lensa kamera.

Selain memotret dengan tablet dan kamera milik resto ini, sang petugas juga bersedia memotretkan kita (baca: tamu) dengan menggunakan HP atau kamera yang kita bawa. Skill memotretnya bagus menurut saya. Mampu mengarahkan agar hasil foto bisa maksimal.

Kemampuan dan insting photography yang sangat bermanfaat untuk tamu berombongan. Kondisi yang tentunya butuh kejelian agar posisi berdiri dan atau duduk bisa langsung “tertangkap” kamera serta berada dalam kondisi yang proporsional.

Puas berpose mengukir kenang-kenangan bersama, langkah pertama saya setelah pintu depan dihiasi dengan pemandangan yang merabuk hati dan jiwa. Kesan heritage dan lawasan yang dihadirkan D’Kambodja Heritage sungguh memesona. Setidaknya vibes dan atmosphere lawasan yang dihadirkan bisa teresap dengan baik lewat visual.

Di sisi terdepan ini kita langsung bertemu tiga “hidangan” yang menarik hati.

Pertama adalah sebuah outlet mini di sisi yang kiri yang menampilkan wastra dan produk fashion Anne Avantie, sang pemilik tempat. Seorang maestro dan pelopor kebaya nusantara modern kontemporer yang lahir di Semarang pada 1955. Saya sendiri sangat menyukai karya-karya beliau karena meski mendapat sentuhan kontemporer, hasil akhirnya selalu melahirkan kesan mewah dengan potongan rancang yang “mudah untuk dinikmati” tetapi tetap mempertahankan keindahan kebaya itu sendiri.

Kedua adalah kehadiran berbagai jenis camilan nusantara dalam berbagai jenis, warna, dan bentuk. Di sisi depan ini ada serangkaian rak kayu yang menampilkan dan menjajakan sebagian besar camilan atau penganan kecil saat saya masih kanak-kanak dulu. Khususnya permen, coklat, dan kue-kue kering yang biasa dijual oleh kantin sekolah. Zaman di mana mini market dan toko kue belum menjamur seperti sekarang.

Ketiga adalah spot foto unik yang sudah didekor dengan super apik. Yang di dalam ini berbeda dengan spot foto yang ada di teras depan tadi. Saya sempat menunggu beberapa waktu agar bisa memotret dengan selesa tanpa harus meng-capture atau mengganggu tamu lain. Tapi ternyata antriannya super duper panjang. Sementara para naga di perut saya sudah “nyaring bernyanyi” minta diisi.

Nawaitu tersebut akhirnya buyar dengan hormat karena komandan rombongan meminta saya untuk segera bergerak. Antrian pemesanan makanan juga tidak terpotong agar penghitungan pembayaran pun bisa tertangani dengan baik tanpa jeda pengunjung atau rombongan lain, plus tidak merepotkan kasir.

Tadinya saya ingin mewujudkan niat ini pas pulang aja atau setidaknya saat selesai makan. Tapi ternyata niat ini justru berantakan. Selain tamunya semakin banyak, ruangan khusus berfoto itu sudah tak ada jeda atau sela untuk bergerak.

Bertamu ke D'Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie Semarang

Wisata Semarang : Sam Poo Kong. Klenteng Sarat Cerita di Semarang

Santapan yang Berlimpah Ruah

Beberapa langkah setelah boutique dan penjualan camilan tadi, ada sebuah pintu kecil di sisi kiri yang membawa kita masuk ke area pelayanan untuk mengambil dan atau memesan makanan serta minuman.

Woaaahh tempatnya luas betul. Harum beberapa gorengan dan kue mendadak merebak menembus indera penciuman. Aroma menggoda yang selalu bisa kita rasakan saat ibu atau si mbok tukang masak sedang bekerja di dapur.

Dan yah memang selain deretan menu, di ruangan ini juga ada beberapa kompor dan penggorengan yang sepertinya tak henti membuat bakwan, tempe goreng, serta permintaan asupan protein yang digoreng juga.

Saya sempat tergoda saat salah seorang petugas dengan ramah menawarkan beberapa gorengan yang baru diangkat. Bahkan asapnya pun belum usai melenggok-lenggok, melambai-lambai, minta diambil, saat saya melewati counter khusus camilan gorengan ini.

Potongannya besar-besar yang hakul yakin perlu perjuangan yang tidak sebentar bagi saya untuk menghabiskannya.

Tapi saya menguatkan hati. Ingat pesan dokter internist (ahli penyakit dalam) untuk (sangat) mengurangi gorengan saat sedang berwisata kuliner.

“Jika ada pilihan lain atau lauk yang tidak digoreng, mending ambil itu saja.” Begitu deh pesan sponsornya. Tentu saja dengan maksud baik agar gula darah dan kadar kolesterol jahat di tubuh tidak berpesta pora.

Maklum. Kalau sudah di golden age metabolisme tubuh pun ikutan renta seiring dengan jumlah atau angka usia. Pahit memang. Tapi yah begitulah kenyataannya.

Oke. Mari kita lanjutkan.

Seperti kebiasaan, saya memutuskan untuk berkeliling terlebih dahulu sebelum ikutan berbaris dengan rombongan dan mengambil apa yang ingin saya konsumsi. Kalau terniat mau dihitung, mungkin adalah lebih dari 50-an menu yang tawarkan. Segala lauk, camilan basah, camilan kering, dan tentu saja minuman. Itu belum termasuk aneka kerupuk plus beragam potongan buah dan sayuran segar. Serta sayur yang dihidangkan sebagai pecel, gado-gado, dan yang lainnya.

Yang terpajang memang didominasi oleh menu Jawa tapi kalau mau lebih dilamati sebenarnya D’Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anna Avantie ini menawarkan menu nusantara.

Selain satu persatu menu yang bebas kita pilih, buat yang masih galau memilih dari depan sampai akhir, pihak resto menawarkan sistem paket. Gudeg misalnya. Ada yang sepaket dengan ayam, daging, atau cukup dengan telur saja. Ramesan lah istilahnya. Praktis gak perlu mikir panjang-panjang atau terjebak kebingungan bermenit-menit.

Makanan berkuah juga banyaknya ampun-ampunan. Segala jenis soto, lontong, dan apa lagi ya. Banyak pokoknya.

Lauk pun tak terhitung jumlahnya. Mulai dari segala macam olahan ayam, daging, ikan, jeroan, tahu, tempe, dan berbagai sayur yang diolah pedas atau berkuah.

Belum lagi berbagai macam minuman tradisional merakyat. Dawet, es campur, es teler, dan berbagai versi es dari bahan tumbuhan dan buah, serta jamu. Secara ya selain soal kebaya, sebagai wanita yang jawani banget, Anne Avantie sangat peduli akan apa pun yang menyangkut atau berhubungan dengan budaya Jawa. Salah satunya adalah jamu itu.

Nah untuk urusan kerupuk juga begitu. Segala adalah pokoknya. You just name it then you’ll get it. Saking lengkapnya.

Tak ingin terjerembab dalam kegalauan berkepanjangan, seperti seorang lelaki yang menunggu jawaban lamaran dari sang kekasih (halah), saya akhirnya memutuskan untuk nge-rames aja dah. Saya memilih sayur tumisan dengan lele goreng dan telur bacem.

Segitu aja? Yoa. Terus terang, kalau melihat warna dari setiap lauk saya punya feeling bahwa dominasi manis pasti menguasai rasa. Apalagi di mata saya semua terlihat seperti baceman. Protein yang lama diproses dengan gula merah.

Bertamu ke D'Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie Semarang

Bagaimana dengan anggota rombongan yang lain?

Ternyata sebagian besar, bahkan semuanya, punya pemikiran yang sama dengan saya. Memesan ramesan karena terjebak kebingungan mau milih apa dan lebih memilih asupan protein yang tidak “terlihat gelap”

Itu pun kami masih terjebak dengan rasa manis yang nauzubillah. Apalagi sebagai wargi Sunda yang jagoan di urusan sambal dan segala jenis asin, dominasi manis yang terhidang di D’Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie, lidah tentunya tak bisa mendadak berbelok arah.

Salah seorang bibi yang memang sangat diandalkan untuk meramu sambal saat acara keluarga, malah sempat kaget saat mencoba sambal ala D’Kambodja Heritage. Menurut beliau, meski masuk kategori “sambal” ternyata efek pedas yang terbangun tidaklah semaksimal yang selama ini dia rasakan. Atau setidaknya seiring dengan standard baku yang dia bayangkan.

“Ini mah bukan sambal. Maklum. Sambalnya orang Jawa,” urai beliau sambil berseloroh yang diiringi oleh derai tawa para keponakan.

Pendapat sang bibi di-amin-kan oleh semua anggota rombongan. Termasuk diantaranya saya, si orang Sumatera, yang sebagian besar hidup dikelilingi oleh asupan asin berkuah, sambal pedas, dan semua yang dimasak gurih. Meskipun bukanlah orang yang memiliki skill memasak yang mumpuni, setidaknya skala standard rasa bagi saya adalah lebih condong ke gurih ketimbang legi.

Gara-gara “kemanisan” ini akhirnya hanya isi piring sayalah yang ludes amblas.

Bertamu ke D'Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie Semarang

Wisata Semarang : Kampung Laut Semarang. Rumah Makan Apung dan Kolam Pancing yang Menyenangkan

Menyusur Outlet yang Tertata Rapi

Saya dan para saudara melakukan perjalanan ke Semarang di awal 2025. Jadi saat berkeliling di setiap sudut fasilitas D’Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie, tempat ini masih dikepung oleh limpahan dekorasi bernuansa natal. Warna merah, hijau, dan hiasan pohon natal tersebar disana-sini. Termasuk diantaranya sebuah pohon natal tinggi besar yang tegak berdiri tak jauh dari parkiran tadi.

Suasana festival yang gemerlap dan memonopoli setiap sudut outlet.

Sembari menunggu giliran salat dzuhur, saya memutuskan untuk berkeliling dan memotret beberapa sudut yang terlihat menarik untuk direkam lewat lensa kamera. Terlepas dari hiasan natal yang ada, seharusnya nuansa lawas terlihat begitu kuat.

Banyak sekali ornamen “rasa lampau” yang dihadirkan. Salah satunya adalah papan-papan kayu rustik yang dipasang di dinding, gebyok dan ukiran kayu yang terlihat elegan megah, wadah makan enameled dalam beberapa ukuran, sepeda ontel, dan masih banyak lagi.

Saya sempat duduk agak lama di teras luar yang menghadap ke sebuah taman ini. Sembari ngobrol dengan beberapa sepupu, saya melihat kesibukan luar biasa dari tim pelayanan resto, dan para tetamu yang ingin salat.

Di salah satu sudut, saya kembali melihat fashion outlet yang menampilkan karya kebaya sang empunya tempat. Tiga buah manequin yang terbuat dari jalinan rotan berdiri di pintu masuk dan menampilkan kebaya bordir dengan batik yang bikin jatuh cinta. Salah satu di antara ketiga standing display tersebut menampilkan atasan batik untuk lelaki. Gak heran jika harganya dalam hitungan jutaan.

Saya sempat melangkah masuk untuk menyusur setiap pajangan. Ternyata selain batik dalam wujud baju atau outfit, juga ada produk fashion lainnya seperti tas, kalung, dompet, syal, pouch, dan masih banyak lainnya. Sayangnya saya tidak sempat dilayani dengan baik karena para petugas tampak sibuk berdiskusi dan sedang memeriksa dokumen.

Tapi meskipun dicuekin, saya sempat berandai-andai. Tempat secantik ini dan dengan sajian jualan yang handmade dalam berbagai rupa, perhiasan yang saya produksi tentunya cocok juga untuk ditampilkan. Wire jewelry yang saya rancang dan juga adalah produk fashion and craft dan dibuat dengan penguasaan teknik tertentu, tentunya bisa berkolaborasi sempurna dengan beragam potong kebaya couture karya Anne Avantie.

Ah seandainya para petugas itu bisa dan berkenan diajak diskusi, saya ingin banget mempresentasikan karya perhiasan yang hingga kini tetap eksis mengusung jenama Annie Nugraha Handmade Jewelry.

Semoga ya suatu saat nawaitu ini menemukan jalannya. Entah lewat orang lain atau bahkan bisa langsung berkomunikasi dengan Anne Avantie.

Bertamu ke D'Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie Semarang
Outlet produk fashion karya Anne Avantie di D’Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie. Posisi ada di sederetan paviliun yang berada di dekat taman

Rombongan kami bergerak meninggalkan D’Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie setelah semua anggota selesai “buang sauh” di kamar mandi. Sesuai arahan dan jadwal, maksimum pkl 13:30 wib kami sudah berada di arah jalan pulang. Tentu saja dengan 30 menit tambahan waktu untuk mampir ke kedai oleh-oleh. Itu pun yang dipilih adalah tempat yang lokasinya akan dilewati sebelum kendaraan masuk kembali ke jalan tol.

Selama dalam perjalanan, obrolan tentang manisnya masakan kembali merebak. Untungnya sebelum makan siang di resto milik fashion designer kebaya tersebut, kami sempat menikmati lezatnya Soto Bangkong, hidangan seafood, dan nongkrong asyik di Kusuma Kopi yang berada di kawasan Marina Beach.

Perjalanan kembali ke Bandung selama 7 jam berikut melahirkan banyak obrolan hangat tentang banyak tempat yang kami kunjungi. Dari perjalanan ini kami semua sepakat untuk membuat tabungan bersama untuk digunakan sebagai biaya operasional di acara yang sama di tahun-tahun berikutnya.

Yang pasti cukup di Pulau Jawa dulu. Seperti misalnya Yogyakarta, Solo, Malang, Surabaya, bahkan mungkin sampai ke Banyuwangi. Destinasi yang bisa dengan mudah digapai menggunakan mobil Hiace andalan dan mengangkut kami dalam satu kendaraan.

Tapi, kalau boleh jujur nih, saya lebih memilih naik kereta atau pesawat ke kota tujuan dan baru menyewa Hiace untuk keliling berwisata di tempat tersebut. Lumayan kan. Waktu lebih hemat dan kekuatan fisik pun terjaga dengan baik.

Bertamu ke D'Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie Semarang
Area dine-in yang ada di rumah inti D’Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie
Bertamu ke D'Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie Semarang
Bertamu ke D'Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie Semarang
Teras taman yang melahirkan kesan heritage yang estetik dan photogenic.