Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Belanja Receh Tapi Bukan Recehan di ARTLINX Store Yogyakarta

12
×

Belanja Receh Tapi Bukan Recehan di ARTLINX Store Yogyakarta

Share this article
belanja-receh-tapi-bukan-recehan-di-artlinx-store-yogyakarta
Belanja Receh Tapi Bukan Recehan di ARTLINX Store Yogyakarta
Belanja Receh Tapi Bukan Recehan di ARTLINX Store Yogyakarta

Belanja Receh Tapi Bukan Recehan di ARTLINX Store Yogyakarta | Featured & Travel | April 2026

Salah satu alasan saya menambah hari kunjungan di Yogyakarta adalah karena penasaran dengan ARTLINX Store yang berada di Sleman. Apa aja sih yang bikin saya penasaran itu?

IG @artlinxstore sudah saya jelajahi berbulan-bulan sebelum berangkat ke Yogyakarta. Setiap unggahan sungguh bikin saya tergoda. Meski tidak berada di kota yang sama dan butuh usaha yang tidak sedikit untuk bisa mengunjunginya, saya selalu berusaha mengingatkan diri sendiri agar mampir ke ARTLINX Store jika ada kesempatan menginjakkan kaki di Yogyakarta kembali.

Example 300x600

Kenapa ARTLINX Store begitu menarik untuk disambangi?

Salah satu adalah informasi bahwa tempat yang sudah berdiri sejak 2015 ini menampung lebih dari 250 kreator lokal yang memproduksi berbagai jenis produk kreatif, seperti semua pernak-pernik journaling, aneka kartu dengan gambar-gambar yang menarik serta handmade, tempelan kulkas, gantungan kunci, tote bag dengan ilustrasi yang cerah ceria dan inspiratif, die cut stickers dan dalam bentuk lainnya, simple accessories, perlengkapan melukis, peralatan tulis menulis, dan masih banyak lagi.

Menilik akun IG @artlinx_store, saya sempat membaca, mencatat beberapa partners mereka seperti: Jari Jari Studio, Putsa Studio, Hello! Mister, Cheoxy Studio, Gemini Rising Co, Chareo Art. Dekorasi Kayu, Senyaman Project, Gambarika, 7.30 Studio, The Sticker Seeker, Peeko Indonesia, Jare Sayang, Alien Scarf, Dear Damay, Loovathings, Chocco Stuff, dan masih banyak lagi. Setiap partners memiliki spesialisasi dan produk khas nya masing-masing. Sentuhan artistiknya pun berbeda-beda. Ada keunikan khusus yang menjadikan setiap partners memiliki DNA nya sendiri.

Frankly, jarang banget loh ada toko yang begitu terbuka mengumumkan partners mereka. Melihat ini saya jadi respect to the max dengan ARTLINX Store. Karena dengan kondisi seperti ini, mereka sudah membuka jalur rejeki para partners untuk ditilik langsung oleh publik. Siapa tahu kan ada pihak lain yang berminat bekerja sama dengan para partners kedepannya.

Belanja Receh Tapi Bukan Recehan di ARTLINX Store Yogyakarta
Belanja Receh Tapi Bukan Recehan di ARTLINX Store Yogyakarta
Belanja Receh Tapi Bukan Recehan di ARTLINX Store Yogyakarta

Godaan Maha Dahsyat

Sebelum sampai di ARTLINX Store, jujurly saya tuh sudah gak bisa mengontrol diri sendiri. Astaga. Semua yang dihadirkan lewat foto-foto di IG aja sudah menggemaskan. Pengen dipungut dan diadopsi semua tanpa terkecuali. Angkut dah semua setoko-tokonya.

Bagaimana nasibnya saat lihat dan megang sendiri ya? Alamak. Godaan maha dahsyat banget ini sih. Apalagi untuk saya yang sedari kecil – masa SD – sudah rajin mencoba banyak produk handicraft. Bebikinan karena penasaran pengen bisa. Seneng banget mencoba membuat kerajinan tangan dengan materi/bahan yang terbatas. Maklumlah di jaman itu belum banyak toko-toko bahan kreatif. Jadi lumayan susah nyarinya.

Kotak-katik berjam-jam tanpa peduli makan minum. Kadang ibu harus ngomel berkepanjangan karena biasanya, saat saya lagi “penuh kesibukan” seperti itu, rumah jadi berantakan. Setidaknya ruang keluarga yang menjadi “markas” saya kotak-katik penuh dengan printilan untuk saya oleh kembali. Tapi lama kelamaan sih tak seorang pun di rumah yang usil. Ibu dan beberapa tante yang tinggal di rumah, kakak, dan adik, tak ada yang celamitan. Gak berani juga ngerapihin atau memindahkan barang satupun jika “proyek” yang saya kerjakan belum selesai.

Jadi saat tiba di depan outlet ARTLINX Store di Condong Catur, Sleman, dan disambut dengan keramahan yang sangat menyenangkan, saya terjerembab dalam “pertarungan melawan diri sendiri” (ngakak). Ribuan barang receh untuk kelompok kreatif tapi bukan recehan, hadir menggoda dari titik awal masuk ruangan.

Melepas alas kaki, hal pertama yang menyambut mata adalah peralatan tulis menulis dan area khusus pelayanan pembayaran. Nah dari sini kita akan digiring memasuki ruangan inti yang padat dengan beberapa rak gantung dan rak bertumpuk dengan wadah kotak untuk kita sambangi. Ditilik satu persatu sepuas mungkin.

Semua materi dagangan tertata rapi, terkelola dengan baik sesuai dengan peruntukan dan penggolongan jenis nya. Meski ruangannya sendiri tidak begitu besar dan luas/jarak di antara gantung besi itu tidaklah lega, saya menikmati waktu-waktu berharga di setiap langkah. Tadinya sih, sesuai rencana, targetnya hanya tiga puluh menit menyusur karena harus berpindah ke tempat lain dan bertemu orang lain. Eeehhh ternyata lebih dari satu jam. Yang tadinya hanya megang keranjang kecil lah malah balik lagi ke counter depan ngambil satu keranjang lagi.

Gimana itu ceritanya? Piye toh?

Entahlah. Tak butuh cerita khusus tentang kegilaan beli sebanyak itu karena belum tentu ketemu karya kreatif yang sama setelah meninggalkan ARTLINX Store. Kepikiran kalau gak jadi adopsi. Sementara kan saya gak tinggal di Yogyakarta. Lagian setiap jenama, setiap karya, setiap artist punya keunikannya sendiri. Ada hal istimewa dari mereka yang tidak bisa ditiru 100% oleh orang lain. Meskipun mereka memiliki dasar pendidikan dan keahlian yang sama.

Yah seperti kata pepatah yang terus saya pegang hingga saat ini. Lebih baik nyesel beli daripada nyesel gak jadi beli.

Mbatinnya bisa berhari-hari bahkan berbulan-bulan itu. Halah.

Harganya gimana? Gak beda banyak sih sama di tempat lain yang juga menawarkan produk di lini yang sama. Ada yang ribuan dan puluhan ribu. Ada juga yang ratusan ribu. Seperti shopping bag printing full color yang saya adopsi. Tertarik beli karena gambarnya kucing. Mirip banget dengan Bella Alpenliebe kucing kesayangan saya di rumah. Suami dan anak-anak suka banget dengan shopping bag ini. Kemana-mana dibawa. Ukurannya pas buat belanja kebutuhan bulanan di supermarket. Bentuknya juga menarik. Mudah untuk dilipat dan disimpan kembali.

Dari semua yang ada, produk yang dominan saya beli adalah beragam stiker (dengan beragam motif dan gambar) dan lembaran-lembaran berwarna yang biasa jadi bahan journaling. Kemudian pembatas buku dan berbagai jenis postcard dengan gambar serta tulisan bercat air. Lembaran kreatif ini sering saya tempelkan di buku journaling ber-cover kulit yang saya miliki dalam beberapa seri handmade.

Saya juga penggemar berat block notes. Baik yang bentuknya sticky atau yang tanpa lem. ATK yang satu ini biasanya saya gunakan sebagai reminder atau catatan-catatan kecil saat membaca buku. Bagian yang menarik itu saya salin kembali lalu saya selipkan di lembar tersebut tatkala ingin membuat ulasan tentang buku yang bersangkutan.

Saya juga sempat melongok ke beberapa art producer seperti Dekorasi Kayu @dekorasi.kayu. Jenama ini menghadirkan semua produk berbahan dasar kayu dalam bentuk bookmark, tempat pensil, penjepit, stand kalender, book planner dan lain-lain. Kemudian ada juga Senyaman Project IG @senyamanproject.id yang menghadirkan keychain dan phone strap Ghibli. Gambarika IG @gambarika.ya yang menawarkan holo stiker Harry Potter. Barkandwooffle IG @barkandwooffle yang hadir dengan leather cable organizer, keychain, leather keychain, earrings, bookmark. Dan masih banyak lainnya. Saya banyak membeli leather key chain ini karena memang sangat berguna di peralatan elektronik yang saya dan keluarga gunakan di rumah juga untuk bepergian.

Apa lagi ya? Ah pokoknya banyak banget dah. Masuk ke dalam ruang pamernya ARTLINX Store itu bagai tercebur di tengah lautan yang penuh dengan sentuhan kreatif dan bikin megap-megap. Serasa hampir tenggelam tapi kaki terus mengayuh, bergerak, agar tak jatuh.

Belanja Receh Tapi Bukan Recehan di ARTLINX Store Yogyakarta
Belanja Receh Tapi Bukan Recehan di ARTLINX Store Yogyakarta

Pulang dengan Suka Cita Tak Terkira

Baru sekian detik naruh bokong di jok tengah mobil, saya sudah korak-korek, buka shopping bag terus menggelar semua hasil belanjaan. Semua dibaris ulang untuk sekedar memuaskan hati karena sudah ngangkut semua yang diinginkan. Hati riang gembira seperti baru dapat undian. Wajah pun semringah meski bolak-balik megang barang yang itu itu lagi. Ah senengnya.

Bahagia yang sederhana banget. Bisa beli tambahan stok bahan-bahan lucu yang menyemangati diri untuk kembali mengerjakan journaling. Padahal di rumah masih seabrek stiker dan saudara-saudaranya yang rapi berjejer di ruang kerja. Meski tadinya gak yakin bakal ketemu banyak pilihan semenarik apa yang disediakan oleh ARTLINX Store, ternyata berlimpah printilan yang baru saya temukan di sana. Ya iyalah ya. Dengan ratusan partners/suppliers, produknya pun pasti bervariasi dan heterogen. Sentuhan seninya juga pasti beda-beda kan.

Jadi saat melangkah pulang, meski perut perih karena sudah dua jam lewat dari waktunya makan siang, wajah bahagia dan rasa suka cita berlimpah ruah tak bisa saya sembunyikan.

“Di dalam itu tadi jualan apa toh Buk? Kok lama sampe satu jam lebih?” Mas Adi bertanya sembari melirik wajah saya yang masih senyum-senyum lewat spion tengah. Suara kresek-kresek yang terdengar begitu semangat, membuat dia penasaran.

“Jualan pernak-pernik Mas. Bikin tongpes tapi bahagianya gak ketulungan,” jawab saya enteng.

Makasih ARTLINX Store Yogyakarta yang sudah mencerahkan hati saya sesiangan itu. Mas Adi pun langsung tancap gas karena harus segera sampai di Stasiun KA Yogyakarta Tugu dalam 45 menit kemudian. Mengantar saya bertemu dengan KA Argo Dwipangga untuk pulang kembali ke Jakarta.

Belanja Receh Tapi Bukan Recehan di ARTLINX Store Yogyakarta
Belanja Receh Tapi Bukan Recehan di ARTLINX Store Yogyakarta

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com