
Foto: Magnific/ DC Studio
Teknologi.id – Persaingan teknologi antara Amerika Serikat (AS) dan China memasuki babak baru yang lebih agresif. Melalui pemungutan suara bulat, Federal Communications Commission (FCC) baru saja menyetujui proposal untuk mencabut izin semua laboratorium pengujian di China dan Hong Kong dalam mensertifikasi perangkat elektronik yang akan dijual di pasar AS. Kebijakan ini diprediksi akan mengubah peta rantai pasok global dan berpotensi memicu kenaikan harga perangkat elektronik bagi konsumen.
Langkah ini merupakan perluasan dari kebijakan “Bad Labs” yang dimulai pada tahun 2025. Jika sebelumnya FCC hanya melarang laboratorium yang berafiliasi langsung dengan pemerintah China, kini aturan tersebut mencakup seluruh fasilitas pengujian di daratan China dan Hong Kong, tanpa memandang status kepemilikannya.
Baca juga: Strategi Xi Jinping: AI dan Militer Jadi Kunci China Hadapi Amerika Serikat
Dominasi Laboratorium China dalam Ekosistem Gadget
Selama puluhan tahun, produsen perangkat elektronik global sangat bergantung pada laboratorium di China karena lokasinya yang bersebelahan dengan pabrik-pabrik manufaktur utama. FCC memperkirakan bahwa sekitar 75 persen dari seluruh perangkat elektronik yang masuk ke Amerika Serikat selama ini diuji di fasilitas-fasilitas yang berbasis di China.
Data dari MarkReady menunjukkan bahwa dari 591 laboratorium uji yang diakui FCC secara global, sebanyak 126 laboratorium berlokasi di China dan Hong Kong. Wilayah Shenzhen sendiri menjadi rumah bagi 50 laboratorium, menjadikannya pusat sertifikasi terbesar di dunia. Keberadaan laboratorium ini sangat krusial karena setiap perangkat yang memancarkan frekuensi radio: seperti smartphone, tablet, router, hingga laptop, wajib mengantongi otorisasi FCC sebelum bisa dijual secara legal di AS.
Lonjakan Biaya Produksi dan Dampak Konsumen
Salah satu dampak paling nyata dari kebijakan ini adalah pembengkakan biaya sertifikasi. Di China, biaya pengujian dasar FCC relatif terjangkau, berkisar antara USD 400 hingga USD 1.300 (sekitar Rp6,9 juta hingga Rp22,5 juta). Namun, jika pengujian dialihkan ke laboratorium di Amerika Serikat, biayanya melonjak drastis menjadi USD 3.000 hingga USD 4.000 (sekitar Rp52 juta hingga Rp69,4 juta) per perangkat.
Selisih biaya yang mencapai tiga hingga empat kali lipat ini, ditambah dengan kompleksitas logistik pengiriman perangkat dari pabrik di China ke laboratorium di negara lain (seperti Taiwan, Jepang, atau Inggris), dipastikan akan menambah beban biaya produksi. Para analis khawatir vendor gadget akan membebankan kenaikan biaya ini kepada konsumen melalui harga jual yang lebih tinggi.
Baca juga: Kalah di Pengadilan, Perusahaan di China Dilarang Pecat Karyawan demi AI
Alasan Keamanan Nasional dan Tekanan pada Raksasa China
Ketua FCC, Brendan Carr, menyatakan bahwa langkah ini adalah bagian dari upaya sistematis untuk mengurangi risiko keamanan nasional. AS berupaya membatasi kemampuan entitas yang dianggap sebagai ancaman untuk saling terhubung dengan infrastruktur komunikasi mereka. Selain larangan laboratorium, FCC juga memajukan proposal untuk melarang operator besar seperti China Mobile, China Telecom, dan China Unicom mengoperasikan pusat data di AS.
Bahkan, AS tengah mempertimbangkan untuk melarang operator domestik mereka melakukan interkoneksi dengan perusahaan mana pun yang masuk dalam “Daftar Terlarang” (Covered List), termasuk perusahaan yang menggunakan peralatan dari raksasa telekomunikasi Huawei dan ZTE.
Adaptasi Raksasa Teknologi
Meskipun kebijakan ini memberikan tantangan besar, beberapa perusahaan teknologi besar dilaporkan sudah mulai beradaptasi. Apple dan SpaceX dikabarkan telah memindahkan sebagian proses sertifikasi perangkat mereka ke negara-negara yang masih diakui oleh FCC, seperti Jepang dan Inggris. Perusahaan pengujian Barat yang memiliki cabang di China, seperti TUV Rheinland dan SGS, juga mulai mengarahkan beban kerja mereka ke fasilitas di luar China untuk tetap bisa melayani pasar Amerika.
Keputusan ini kini memasuki periode komentar publik selama 60 hingga 90 hari sebelum aturan final diterapkan secara permanen. Industri elektronik global kini harus bersiap menghadapi masa transisi yang kompleks dan mahal demi mempertahankan akses ke pasar konsumen terbesar di dunia.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(yna/sa)
