Scroll untuk baca artikel
Berita

Hamas Menarik Diri dari Perundingan Gencatan Senjata di Gaza

116
×

Hamas Menarik Diri dari Perundingan Gencatan Senjata di Gaza

Share this article
hamas-menarik-diri-dari-perundingan-gencatan-senjata-di-gaza
Hamas Menarik Diri dari Perundingan Gencatan Senjata di Gaza

Suasana di Gaza Barat setelah Israel melancarkan pembantaian. Foto: Euro-Med

Suasana di Gaza Barat setelah Israel melancarkan pembantaian. Foto: Euro-Med

Example 300x600

Indonesiainside.id – Pejabat senior Hamas mengatakan pihaknya menarik diri dari perundingan gencatan senjata di Gaza, Palestina. Keputusan tersebut diambil lantaran ‘pembantaian’ yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina dan sikap mereka dalam negosiasi.

Melansir AFP, Senin (15/7/2024), pejabat Hamas lainnya menyampaikan, pemimpin militer kelompok tersebut, Mohammed Deif dalam kondisi ‘baik-baik saja’ dan masih bekerja saat serangan bom besar-besaran Israel di kamp Al-Mawasi, Gaza Selatan yang diklaim menargetkan pejabat Hamas tersebut.

Pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh mengatakan kepada mediator internasional Qatar dan Mesir tentang berakhirnya pembicaraan mengenai rencana gencatan senjata di Gaza.

“Menghentikan negosiasi karena kurangnya keseriusan pendudukan (Israel), kebijakan penundaan dan hambatan yang terus berlanjut, dan pembantaian yang sedang berlangsung terhadap warga sipil tak bersenjata,” tegas dia.

Dia mengklaim, kelompoknya telah menunjukkan fleksibilitas yang besar guna mencapai kesepakatan dan mengakhiri agresi. Pun siap melanjutkan negosiasi ketika pemerintah pendudukan menunjukkan keseriusan dalam mencapai kesepakatan gencatan senjata dan kesepakatan pertukaran tahanan.

Haniyeh juga menyampaikan, dirinya telah menelepon para mediator dan negara-negara lain untuk memberikan tekanan pada Israel agar menghentikan serangan tersebut.

Israel berdalih bahwa serangan ke kamp pengungsian Al-Mawasi menargetkan Deif, yang dianggap sebagai salah satu dalang serangan 7 Oktober 2023. Kenyataanya, hingga saat ini Deif masih hidup dan bekerja.

Atas serangan brutal yang diluncurkan pasukan Zionis itu, setidaknya 92 orang meninggal dunia berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Palestina.