
Saya baru saja selesai mengunjungi Keraton Kasepuhan Cirebon saat membeli secangkir plastik es kelapa muda lalu berjalan cepat memasuki mobil. Bapak penjual es ini tampak legam berkeringat tapi terlihat begitu bersukacita karena dagangannya laris manis. Panas terik menyengat sesiangan itu justru menjadi sumber rezeki bagi beliau. Wajah semringahnya begitu terlihat saat satu persatu konsumen yang mengantri menjulurkan uang Rp10.000,00-an sebagai tukar dagang atas minuman dingin yang sudah dipesan. Tak sedikit beberapa diantaranya memberikan uang lebih. Mungkin membalas rasa iba melihat si bapak sudah berjuang berpanas-panas mencari nafkah.
Saya mendadak mengharu biru.
Di dalam mobil, minuman dingin padat es batu itu jadi rebutan saya, suami, dan si bungsu. Leher terhibur meski keringat tetap mengucur deras. Ya ampun. Matahari sepertinya lagi mendapatkan banyak suntikan modal dari beberapa investor. Buka cabang dimana-mana hingga menjangkau Cirebon. Sebuah kota kecil yang bisa saya raih hanya 2 jam 30 menit dari rumah di Cikarang.
“Makan di mana kita?” pertanyaan suami lumayan mengagetkan saya.
Eh iya ya. Perhatian saya berpindah ke jam digital yang terpasang di dashboard mobil. Sudah mau tengah hari. Gak terasa. Berarti tadi saya menghabiskan waktu 2.5 jam untuk keliling Keraton Kasepuhan Cirebon. Pantesan kaki terasa pegal luar biasa. Baju dan celana pun basah oleh keringat.
Sembari menunggu AC di dalam mobil hadir dengan udara yang kondusif, saya memutuskan untuk berselancar on-line dan berharap menemukan beberapa referensi tempat makan yang pas di selera. Banyak banget ternyata. Mulai dari jajanan/kedai pinggir jalan, aneka seafood, beragam masakan khas Cirebon, dan resto ala Sunda.
Keputusan akhirnya jatuh pada pilihan terakhir. Kebetulan sudah lama banget tidak bersantap di restoran jenis ini. Namanya Kampung Kecil. Dan letaknya tidak begitu jauh dari tempat di mana kami berada saat itu.
Baiklah. Mari kita kemon.

Kampung Kecil yang Tidak Kecil
Gak butuh waktu lama dan mengalami tragedi nyasar saat saya mengikuti petunjuk arah di Google Maps. Tak lebih dari 20 menit menyusur jalan dari Keraton Kasepuhan Cirebon hingga menggapai Kampung Kecil di Jl. Sisingamangaraja, Panjunana, Lemahwungkuk.
Iyalah ya. Kota kecil aja ini sih. Semua titik relatif lebih gampang untuk diraih kesana kemari. Tak ada yang terhitung jauh.
Parkiran masih sepi kendaraan saat saya turun dari mobil dan memutuskan untuk memotret fasad yang terhidang di depan mata. Mumpung masih sepi.
Dari sisi depan ini, saya cukup dibuat terpesona saat melihat betapa luasnya Kampung Kecil. Bangunannya didominasi oleh sederetan bambu yang saling terikat kuat oleh tali hitam yang terlihat tebal dan kokoh. Mulai dari batang hingga lembaran-lembaran yang sudah diproses, dipipihkan, kemudian dijalin satu persatu. Kehadiran bambu-bambu menghadirkan kesan dan karakteristik yang mengagumkan dan butuh maintenance khusus yang (pasti) tidaklah mudah.
Sapaan ramah kemudian menyambut kedatangan saya dan keluarga. “Selamat datang. Bapak/Ibu, ada berapa orang dan mau duduk di mana?”
Pertanyaan jitu.
Terhampar banyak “bilik lesehan” terbuka di sisi kanan dan kiri lalu area duduk di bagian belakang, memilih tempat duduk berubah jadi pe-er yang tidaklah mudah. Saya menebarkan pandangan sekali lagi. Pintu masuk depan – tempat saya berdiri ketika itu – memungkinkan saya melihat begitu banyak tempat duduk untuk dipilih.
Beneran luas banget. Penamaan Kampung Kecil ternyata tidak sebanding lurus dengan kondisi yang ada. Ini sih cocoknya disebut kampung besar.
Mata saya mendadak berpindah konsentrasi. Saya menatap beberapa area yang mengajak para tamu untuk melihat sebuah kolam bersih terawat yang mendampingi area duduk. Warna dasar kolam yang biru tampak sangat cerah dan mengundang siapa pun yang datang untuk sebentar mencelupkan kaki.
Saya menilik sebentar untuk membayar rasa penasaran. Tak ada satu pun ikan yang berenang di sana. Jadi, jika tidak salah menduga, bisa lah kita mengademkan kaki di kolam nan bersih ini ya. Apalagi tak ada tulisan larangan untuk melakukan itu. Tak heran jika beberapa waktu kemudian saya mendengar suara ibu-ibu yang heboh menentang permintaan anak-anak kecil mereka yang berminat (baca: bersikeras) untuk berenang di sana. Nah kan.
Menghindari keriuhan yang mendadak meramaikan suasana, saya lalu memutuskan untuk bergerak ke arah kiri dari pintu masuk tadi. Saya pun akhirnya memutuskan untuk “bertandang” di barisan pondokan mini paling depan saja. Duduk di sebuah bilik lesehan yang di atasnya tertulis RT 34. Lucu juga ya. Tak repot mencari nama untuk sekian banyak tempat, setiap bilik dijuluki kawasan dalam sebuah kampung. Cocoklah dengan konsep pendirian Kampung Kecil di sebuah pedesaan yang diusung oleh pemilik.
Seorang petugas kemudian menyodorkan buku menu besar yang menampilkan rangkaian foto dan harga banyak menu yang bisa dipesan. Banyaknya luar biasa. Bikin bingung banget. Apalagi ada yang diwakilkan oleh banyak foto yang cukup mengundang selera.

Asupan ala Sunda yang Menyelerakan
Terjebak pada kebingungan memilih menu, saya mendadak teringat. Tadi saat melewati salah satu sudut area makan, saya sempat membaca sebuah standing banner yang menampilkan beberapa menu best seller. Diantaranya adalah paket nasi liwet, iga bakar madu, dan gurame bakar hot plate.
Petunjuk yang sungguh menggampangkan.
Tanpa ragu, sebagai penggemar iga, saya pun memesan iga bakar madu dan gurame bakar hot plate yang porsinya cukup untuk ber-3. Sebagai tambahan suami memesan tahu gejrot bandung, buncis bawang putih, dan karedok. Untuk minuman saya memilih es jeruk sementara si bungsu tergoda untuk menikmati segelas mango sago. Semua dilengkapi oleh sajian teh hangat yang free flow dengan termos besar-besar yang gampang diraih. Jadi bisa nambah dan ngambil sendiri.
Gimana rasanya?
Untuk skala rasa – menurut saya – berada di level aman. Tidak (terlalu) istimewa tapi juga tidak mengecewakan. Semua dimasak dengan bumbu yang ramah di lidah. Sensasi lezat yang timbul juga tidak berlebihan. Secukupnya saja.
Daging iganya lembut dan mudah dikunyah. Begitu pun dengan gurame bakarnya. Rasa keduanya didominasi oleh kecap manis yang betah nempel di lidah. Buncisnya enak menurut suami karena masih krenyes-krenyes. Saya hanya sempat mencoel sayur buncis ini dalam sekali sendok karena mulut masih repot menikmati iga bakar. Sementara suami ligat menikmati sang buncis tanpa henti. Saat saya menengok dan ingin menyendok buncis sekali lagi, ternyata saya sudah kalah cepat. Buncis yang enak itu sudah masuk total ke lambung suami.
Karedoknya butuh sedikit revisi di kuah kacangnya. Sensasi gurih sepertinya harus ditingkatkan karena sajian ini sejatinya adalah penyempurna dari ikan bakar tadi. Kuantitasnya juga terlalu mini. Langsung habis dalam 2 kali genggam. Jadi saat karedok ini ditaruh di meja, saya cukup terpana. Biasanya justru sayur karedok tuh sering disajikan berlimpah ruah. Setidak hadir se-piring makan dan bisa dinikmati setidaknya oleh 2 orang dewasa. Begitu yang terjadi setiap saya mesan karedok di berbagai resto sunda. Ah, jadi gak puas menikmati karedok.
Saat selesai misi menghabiskan menu utama, saya menatap ke arah si bungsu yang tampak sudah bersandar kekenyangan. Masih ada mango sago segelas penuh yang menunggu giliran untuk dihabiskan. Yang pasti buat saya dan suami – yang selalu berusaha menghindari asupan manis – minuman ini tentunya bukan jatah kami. Tapi tampaknya si bungsu mulai mengibarkan bendera putih. Menyerah. Dia sepertinya butuh bantuan agar saya bersedia mengulurkan sendok serta melahap setengah porsinya.
Namun saya menggeleng dengan pasti. Janganlah “menambah gula darah” sementara tubuh menuju lansia saya sudah sampai pada tahap kemampuan metabolisme yang mulai melambat. Jadi saya sempat menahan tawa saat melihat si bungsu berjuang, bersusah payah, menghabiskan segelas besar mango sago yang dia pesan sendiri.
Yang pasti di hari itu, saya, suami, dan si bungsu, bisa makan enak sambil lesehan di Kampung Kecil Cirebon.

Pilihan Wisata Kuliner yang Menyenangkan
Tamu terus berdatangan saat saya menyelesaikan makan siang di hari itu. Suara percakapan, obrolan penuh tawa canda, dan ditambah oleh jejeritan para orangtua yang menahan anak-anaknya untuk tidak nyebur di kolam berlantai biru tadi masih juga berlanjut. Sementara saya berada di babak terakhir dari wisata kuliner ini. Meminta petugas mencetak tagihan, berusaha berdiri sekuat tenaga karena badan masih terduduk kekenyangan, kemudian melangkah gontai menuju kasir yang di sisi dalam restoran.
Tadinya pengen sih mencoba kopi hitam dan sepiring kecil pisang goreng sebagai asupan penutup. Yah setidaknya kopi hitam lah ya. Supaya sensasi ngantuk yang sedang menyerang bisa dibabat tuntas sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya. Karena dari Cirebon kami akan melalui jalan darat menuju kota Indramayu. Kota yang jaraknya sekitar hampir 60km dan bisa ditempuh dalam waktu 2 jam 30 menit dari Cirebon.
Lumayan kan perjalanannya. Setidaknya bakal lebih aman dan nyaman dilalui saat kantuk sehabis makan siang bisa diusir menjauh.
Tapi suami tampaknya gak bisa menikmati kopi panas siang-siang di dalam mobil. Dia akhirnya justru memesan fresh orange juice tanpa gula untuk menyegarkan kondisi. Ah bener juga ya.

Yang berencana mengunjungi Cirebon dan atau bersengaja berkendara ke Cirebon untuk berwisata kuliner, bersantap di Kampung Kecil bisa jadi pilihan yang tepat. Selain menawarkan aneka asupan ala Sunda yang sering kita nikmati, resto ini juga menyediakan beberapa menu Cirebonan dan berbagai jenis sajian nusantara.
Nilai plus lainnya yang saya baca dari beberapa ulasan pengunjung adalah soal harga. Banyak yang tetap sehat jantungnya saat melihat lembaran tagihan. Atau tetiba kehabisan isi dompet (digital) karena harga yang menguji keikhlasan dan kesabaran. Saya setuju, Dengan apa yang saya nikmati di atas, dana yang kami habiskan tak lebih dari 200-an ribu. Yang jika dibagi bertiga per orang jadi 60-an ribu saja. Range harga yang cukup reasonable dan acceptable untuk makan di restoran semegah Kampung Kecil Cirebon ini.
Bonus lainnya adalah bisa makan dengan suasana menyenangkan. Berada di satu tempat yang bersih, nyaman, dan well-organized dengan keramahan yang juga menyenangkan. Bersantap sebatalion di sini juga sepertinya seru. Ada paket nasi liwet yang bisa dinikmati bersama dengan patokan harga yang masih tetap bikin kita tersenyum.
Gimana. Kapan kalian mampir ke sini?






IG @annie_nugraha | Email : annie.nugraha@gmail.com







