Sebut saja namanya Andi. Bukan nama sebenarnya tentu saja. Pria gagah di awal tigapuluhan yang boleh dibilang sukses dibandingkan kawan-kawan seusianya. Dia memiliki bisnis toko kelontong dan plastik.
Boleh dibilang usahanya cukup melejit. Dia mampu menggaji beberapa karyawan. Dengan omset yang semakin besar, gaya hidupnya pun makin naik. Dia yang awalnya hanya naik motor lantas membeli mobil baru. Jelang beberapa bulan kemudian dia membeli rumah cukup mewah yang angka cicilannya per bulan membuat mata saya mendelik. Gila, sukses amat hidupnya, pikir saya kala itu.
Nyatanya, semua yang terlhat sukses itu rapuh di dalamnya. Beberapa tahun kemudian usahanya makin meredup bahkan akhirnya gulung tikar. Dia menyisakan hutang di sana-sini, kemudian rumahnya terpaksa disita pihak bank.
Dari hasil nguping pembicaraan para orang tua akhirnya saya tahu, bahwa dia salah langkah dalam berbisnis. Dia mencampur semua catatan keuangan, baik keuangan keluarga maupun bisnis. Uang yang seharusnya menjadi tambahan modal dia gunakan untuk kepentingan pribadi. Dia juga berani berhutang dalam jumlah besar untuk hal-hal konsumtif. Wajar saja jika akhirnya usahanya bangkrut dan perekonomiannya goyah.
Jika biasanya saya membaca kisah-kisah ini pada akun instagram Jouska, maka kali ini saya melihat langsung kejadiannya. Sebab Andi adalah kerabat ayah saya. Meski kejadian itu sudah terjadi beberapa tahun lalu, hingga saat ini ingatan hal itu masih lekat di kepala.
Tapi tak usah jauh-jauh belajar dari kisah keluarga Andi. Kedua orang tua saya pun dari dulu selalu bermasalah dalam hal perekonomian. Saat kecil dulu saya tak tahu apa yang salah, yang saya ketahui hanyalah kami keluarga pas-pasan yang tidak punya banyak uang. Bahkan untuk biaya hidup pun terkadang harus berhutang.
Setelah saya dewasa akhirnya saya tahu, bahwa sejak awal cashflow kedua orangtua saya memang sangat buruk. Mereka tidak bisa berbisnis dan mengelola keuangan dengan terencana. Mereka tidak mempersiapkan dana pendidikan anak-anaknya, mereka tidak mempersiapkan dana kesehatan, mereka juga tidak memiliki tabungan maupun investasi. Wajar saja jika akhirnya keuangan kami berantakan.
Saya tidak ingin seperti Andi! Saya tidak ingin seperti kedua orang tua saya!
Makanya saat saya tahu bahwa VISA, sebuah perusahaan pembayaran digital terdepan di dunia, mengadakan workhop Literasi Keuangan #IbuBerbagiBijak di Jogja, saya pun langsung tertarik untuk ikut serta. Sebab kalau boleh jujur, saya juga belum melek soal literasi keuangan.
Dan keputusan saya untuk ikut workshop yang diselenggarakan pada Selasa, 3 September 2019 di Roasted & Bear benar-benar tepat. Dalam workshop yang diikuti oleh pelaku usaha UMKM Desan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Yogyakarta itu saya mendapatkan banyak pengetahuan baru soal pengelolaan keuangan.

Hadir sebagai pembicara utama pada workshop hari itu adalah Mbak Prita Hapsari Ghopzie, seorang dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI sekaligus pakar perencana keuangan ZAP Finansial. Dengan gaya yang atraktif dan bahasa yang mudah dipahami, beliau membawakan materi dengan sangat asyik. Beberapa materinya membuat saya mengangguk-angguk, beberapa membuat saya nyengir, tak jarang juga yang membuat saya merasa tertampar kanan kiri.
Berhubung rata-rata peserta pelatihan adalah ibu-ibu pegiat UMKM, maka tema yang dibrolin juga tak jauh-jauh jadi dunia wirausaha. Apa tantangannya memulai usaha, apa saja yang harus dipersiapkan, bagaimana mengelola keuangannya, dll. Meski saya bukan pelaku usaha yang menjual produk, tapi sebagai seorang penulis lepas yang menjual jasa, tema yang dibicarakan tetap bisa saya aplikasikan dalam kehidupan.
Ada beberapa poin penting yang sudah saya catat di notes dan ingin saya bagikan kepada kawan-kawan pembaca semua. Berikut poin-poin yang bisa membawa kita kepada kondisi keuangan yang ideal.
Pentingnya mencatat laporan keuangan
Halo ibu-ibu dan siapa pun yang membaca artikel ini, apakah ada di antara kawan-kawan yang rajin membuat catatan keuangan? Kalau ada saya menjura deh. Kalian keren.
Dulu, saat masih kuliah saya termasuk rajin mencatat keuangan. Namun begitu bekerja dan menikah, saya justru malas mencatat. Pokoknya asal tau ada uang masuk tiap awal bulan, sesudah itu tinggal ambil-ambil saja untuk bayar ini itu dan blanja-blanji.
Kadang kaget karena bayaran kurang beberapa hari duit sudah habis. Ada saatnya juga duit masih sisa. Tapi bukannya disimpan malah justru cari cara buat foya-foya. Gara-gara tidak pernah membuat laporan keuangan, saya jadi tidak tahu sebenarnya biaya hidup sebulan tuh berapa sih? Adakah kebocaran dana? Adakah uang yang larinya ke hal-hal nggak berguna?
Gara-gara omongan dari Mbak Prita kemarin, saya jadi memikirkan ulang hal ini. Sepertinya saya memang harus mulai lagi mencatat laporan keuangan. Membuat daftar pemasukan dan pengeluaran secara rutin. Biar di akhir bulan saya bisa tahu apakah keuangan saya sehat atau tidak. Dan harus ingat satu hal, jangan sampai pengeluaran lebih besar daripada pendapatan!
Untuk memulai mencatat laporan keuangan sepertinya memang hal yang njlimet ya. Harus telaten. Tapi biar ibu-ibu rajin mencatat, kemarin sama Visa dikasih buku catatan keuangan yang kece. Kalau sudah dikasih buku gini sepertinya jadi bakalan rajin mencatat deh. Sedangkan bagi kawan-kawna yang malas mencatat manual, sekarang di playstore ada banyak aplikasi pencatat keuangan yang bisa diunduh gratis. Yuk rajin mencatat!
Pentingnya memiliki dana darurat
Jujur ya, saya itu kenal istilah dana darurat baru beberapa tahun belakangan ini. Sebelumnya saya nggak paham dengan konsep dana darurat. Iya, saya memang sebuta itu soal pengelolaan keuangan. Apalagi saya dibesarkan dalam keluarga yang bersprinsip “setiap orang pasti memiliki rejekinya masing-masing” jadi kadang abai dengan hal-hal seperti ini.
Tapi setelah sering ngobrol dengan kawan-kawan, baca-baca artikel soal keuangan, sedikit demi sedikit saya jadi tahu. Dana darurat adalah dana khusus yang memang dipersiapkan untuk membantu menutup biaya tak terduga dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya seperti rumah yang ambruk (2 tahun lalu saya sudah mengalaminya), keluarga yang harus mendapatkan perawatan medis (sudah mengalami juga), dll. Jika tidak memiliki dana darurat kita pasti akan kelimpungan mencari pinjaman sana-sini. Namun saat ada dana darurat, kita bisa menggunakan uang tersebut untuk mengcovernya.
Berapa jumlah dana darurat yang sebaiknya dipersiapkan? Hasil ngobrol-ngobrol dengan Aqied yang anak keuangan, katanya dana darurat ideal untuk single adalah 3x pengeluaran bulanan. Untuk yang sudah menikah 6x pengeluaran bulanan. Dan untuk mereka yang sudah memiliki anak harusnya lebih banyak dari itu.
Kalian nggak tau berapa pengeluaran bulanan kalian? Itulah pentingnya mencatat laporan keuangan! Lantas apakah saya sekarang memiliki dana darurat sebanyak itu? Tentu saja belum pemirsa hahahaha. Ini Sasha-nya lagi belajar banget soal keuangan, dana darurat baru mulai mengumpulkan. Semoga lekas terkumpul sesuai target biar bisa sedikit bernapas lega.
Pentingnya memiliki proteksi kesehatan
Sakit itu mahal! Makanya sebisa mungkin saya berusaha hidup sehat supaya tidak sakit dan berurusan dengan dokter maupun rumah sakit. Karena beneran deh, bayar rumah sakit itu nominalnya bikin nyesek.
Tahun 20017 termasuk tahun tergila buat saya. Almarhum ayah masuk rumahsakit beberapa kali hingga akhirnya meninggal. Sesudahnya ibu juga opname dua kali. Dan di penghujung tahun adik saya harus operasi benjolan di payudara.
Untungnya (orang Jawa mah apa-apa untung ya) saat itu kami sudah ikut program BPJS. Sehingga dana yang kami keluarkan sangat sedikit. Saya tidak bisa membayangkan jika kami tidak ikut BPJS, berapa banyak uang yang harus kami bayarkan?
Disinilah saya baru paham betapa pentingnya kita memiliki asuransi kesehatan. Hal itu juga yang dikatakan Mbak Prita. Sebaiknya setiap orang memiliki proteksi kesehatan, entah ikut programnya pemerintah (BPJS) atau ikut asuransi swasta. Setidaknya jika ada hal buruk terjadi, alur keuangan keluarga tidak akan terlalu tergoncang.
Pentingnya memiliki tabungan dan investasi
Don’t save what is left after spending, but spend what is left after saving! – Warren Buffet
Awalnya saya mengira bahwa menabung itu cukup dari dut sisa saja. Ternyata itu salah besar. Sebab yang sering terjadi tiap ada uang tersisa di akhir bulan, saya justru ingin menghambur-hamburkannya. Entah buat beli buku yang nggak perlu, bolak-balik pesen GoFood, dll. Makanya tabungan saya melompong. Tapi setelah baca Jouska (muahahahaha, anak Jouska banget emang) saya jadi tersadarkan soal pentingnya menabung dan investasi.
Kini tiap dapat bayaran, saya langsung ambil sekian persen di awal dan masukkan ke tabungan. Saya juga mulai investasi pakai aplikasi Bibit. Walau baru sedikit tapi senang rasanya. Melihat grafik naik turun. Supaya tabungan dan investasi lebih terencana, saya memancang target khusus.

Demikian daftar hal-hal penting yang harus kita perhatikan demi menuju keuangan ibu yang ideal. Semoga setelah ini, tiap dapat gaji langsung bisa dimasukkan ke pos-pos pengeluaran rutin. Oya, Mbak Prita memakai istilah ZAPFIN untuk membagi pos pengeluaran, yaitu Zakat, Assurance, Present Consumption, Future Spending, dan Investment. Berhubung saya non muslim, untuk bagian zakat saya ubah menjadi persepuluhan dan persembahan.
Demikian hal-hal menarik yang bisa saya bagikan kepada kawan-kawan semua. Semoga berguna juga, ya. Mari bersama-sama menjadi ibu atau pribadi yang bijak dalam mengelola keuangan.
Jogja, 8 September 2019
masih takjub dengan diri sendiri, akhirnya ada artikel soal keuangan di blog euy






