
Menikmati Waktu Membaca Serasa di Rumah di HOWL Library and Creative Space Bandung | Featured and Travel | Oktober 2026
Setelah berdiskusi beberapa waktu dengan suami, di akhir pekan itu kami bersepakat main ke Bandung untuk memenuhi tiga acara. Pertama adalah menghadiri acara Baca Buku di Kintsugi Terrace Sukajadi, makan siang, kemudian lanjut bertamu ke HOWL Library and Creative Space yang berlokasi di Ciumbuleuit
Rampung dengan dua acara di awal, suami pun memasang GMaps untuk mencapai HOWL Library and Creative Space yang ada di Cisatu, Ciumbuleuit. Dari tempat di mana kami menikmati makan siang yang super duper enak, dan melihat peta yang ada, perpustakaan ini ternyata sudah tidak begitu jauh. Hanya butuh sekitar maksimum 15 menit untuk tiba di sana.
Langit begitu cerah saat kami tiba. Sebuah gambar dan atau logo Howl (House of Wonder and Learning) berbentuk kepala burung hantu, tergantung kecil di salah satu sudut gerbang. Lokasinya sendiri berada di sebuah jalan menanjak dengan luas jalur yang cukup tricky. Gak bisa asal berhenti.
Suami sempat kelimpungan mencari tempat parkir. Di bahu kiri jalan sudah ada beberapa mobil yang rapi berjejer. Sementara di sisi kanan, ada limited parking space yang hanya diperuntukkan bagi kendaraan roda dua aja. Suami akhirnya meminta saya turun duluan, dan dia akan menyusur bahu jalan untuk mencari tempat parkir. Karena akhirnya menemukan lahan parkir yang cukup jauh dari HOWL, suami memutuskan untuk menunggu saja di dalam mobil lalu akan menjemput kembali jika kunjungan saya sudah selesai.

Menjejak Bagian Dalam HOWL
Dari titik kedatangan saya ini, di hadapan saya terhidang sebuah rumah bertingkat yang mulai menua dan sepertinya butuh dicat ulang. Fasadnya tampak biasa tanpa polesan kekinian yang mencerminkan bahwa di dalam rumah ini ada berbagai sumber ilmu pengetahuan yang bisa kita baca, ruang untuk berkreasi, dan untuk konsentrasi berkarya.
Saya menaiki sebuah tangga kecil kemudian melepaskan sepatu di sebuah teras luar berukuran kecil. Masuk ke sebuah ruangan, saya menemukan barisan locker berukuran sedang, bertumpuk lumayan banyak, dengan kunci yang tergantung di bagian depan. Sesuai petunjuk yang tertempel di salah satu dinding, semua pengunjung diwajibkan meninggalkan tas di dalam locker ini kecuali dompet, handphone, dan tumbler. Peraturan sama yang biasa kita temukan saat berkunjung ke banyak perpustakaan lainnya.
Beberapa langkah dari locker kita akan menemukan area penerimaan tamu yang menyatu dengan sebuah dapur kecil dan space khusus yang menghidangkan beberapa materi journaling, stationeries, dan beberapa produk kreatif lainnya. Di salah satu dinding terpasang beberapa buku yang diberi gelar sebagai Book of the Month. Area ini juga terhubung dengan tangga menuju lantai bawah dengan musala dan lahan parkir kendaraan (motor) yang saya lihat tadi.

Usai membayar HTM senilai Rp25.000,00/orang untuk waktu kunjungan selama enam jam (satu sesi) saya menaiki tangga berikutnya untuk mencapai sebuah ruang baca di sisi kanan. Di sini, Reading and Library area. terlihat sebuah rak hitam besar yang berisikan ratusan buku yang bisa kita baca di tempat. Di depan rak ini terhidang area baca yang cukup luas. Ada sofa dengan sandaran tinggi, bean bags warna-warni serta beberapa meja kecil dengan alas karpet tebal yang terlihat nyaman untuk diduduki.
Saya menyempatkan diri menyusur setiap kolom rak berkayu hitam tersebut dan memperhatikan beberapa buku yang sudah ditempelkan identitas kepemilikan. Koleksinya sungguh beragam. Buku fiksi dan non-fiksi. Mulai dari novel, sejarah, ilmu pengetahuan umum, pembahasan politik, sosiologi, ekonomi, dan masih banyak lainnya. Disediakan juga sebuah trolley beroda untuk tempat pengembalian buku. Jadi kita tidak perlu mengobrak-abrik rak karena tentunya pihak perpustakaan punya catatan barisan buku agar mudah dicari ulang.
Saya tertarik dengan pewarnaan ruangannya. Dilengkapi dengan beberapa lampu gantung yang ciamik, dan bohlam putih di pusat area baca, ruangan ini terasa begitu nyaman buat mata dan waktu membaca yang cukup lama.
Di salah satu sisinya ada sederetan jendela kaca dan pintu yang menghubungkan tamu dengan sebuah teras dan taman kecil. Tampaknya cocok untuk mereka yang ingin makan atau merokok di luar terbuka. Selain rumput gajah, kolam kecil, beberapa tempat duduk dan meja, area ini dikuasai oleh dua orang kucing yang lucu-lucu. Di sisi luar dan dalam pintu terpasang tulisan peringatan agar tamu tidak meninggalkan pintu terbuka dan membiarkan dua makhluk lucu itu masuk.
Masih di lantai yang sama, saya juga menemukan Creation Room yang di dalamnya terdapat sebuah meja kayu besar lengkap dengan beberapa bangku, printilan kertas, peralatan tulis menulis, marker, stempel, dan lain-lain yang bisa kita gunakan untuk berkreasi, seperti misalnya membuat book mark. Di salah satu sudut dinding, ada sebuah space khusus untuk para pengunjung meninggalkan catatan.
Woah rame banget isinya. Segala pesan, kesan, bahkan jejak tulisan untuk orang-orang istimewa, terpajang dengan kokohnya. Isi tulisannya ada yang lucu tapi banyak juga yang serius. Kertasnya juga berwarna-warni. Membuat ruangan ini terlalu seru untuk dilewatkan.
Di sampingnya ada toilet dan Focus Room. Sebuah ruangan kecil yang sepertinya memang dirancang untuk mereka yang ingin konsentrasi belajar atau mengerjakan tugas. Ada tanda peringatan untuk menjaga keheningan di ruangan ini. Bagus juga ya idenya.
Saya kemudian melangkah ke beberapa spot yang ada di seberang ruang baca. Ada beberapa area duduk yang bisa dikunjungi tamu. Seperti spot kecil yang diisi dengan meja-meja pendek serta dudukan yang nyaman. Lalu ada meja panjang yang menempel ke sisi kaca dengan beberapa kursi kayu tinggi. Dan ruang persegi dengan pengaturan yang sama. Semua berada di lantai dua meski ada pijakan dengan tinggi yang berbeda antara satu sama lain.
Saya melihat beberapa orang tamu yang asyik bekerja di atas laptop. Pemandangannya adalah sisi luar HOWL (window area). Beberapa tamu lainnya yang menempati bean bags corner tadi. Mereka juga ada yang asyik membaca tapi ada juga yang begitu lahap menikmati artisan tea, desserts, cold drinks, dan comfort foods yang tentunya bisa dipesan di area penerimaan tamu tadi.
Saya sempat mencium aroma kopi menyeruak dan dentingan sendok makan yang beradu dengan piring keramik. Sesaat melirik, saya melihat seorang tamu sedang nikmat menghabiskan sepotong besar cake yang terlihat tebal dengan tiga lapisan. Nikmat betul sepertinya. Seandainya tadi belum makan siang, pasti saya bela-belain pesan juice dan sepotong kue buat menyenangkan rasa sembari membaca.
Usai menjejakkan kaki dalam diam, saya kemudian melihat sebuah tangga yang cukup curam. Tangga yang menghubungkan tamu ke lantai tiga dan dinamai Attic atau loteng —area yang terletak paling atas dari sebuah rumah dan tepat berada di sebuah struktur atap. Saat saya di sana, ruangan ini sedang ditutup karena sedang berlangsung sebuah kegiatan yang diadakan oleh sebuah komunitas kreatif. Suara riuh rendah serta canda tawa terdengar jelas dari titik di mana saya berdiri.
Ketika bertanya kepada seorang petugas, attic room ini ternyata biasa digunakan untuk berbagai acara yang sifatnya tertutup dengan tamu terbatas. Fungsinya seperti ruang serbaguna untuk berkumpul, berdiskusi, memajang karya, atau mengadakan pelatihan. Untuk menggunakannya tentu saja harus ada reservasi ya. Tapi saya lupa bertanya tentang biaya yang dikenakan. Teman-teman bisa langsung mengakses akun IG @howl__________.
Yang pasti, dalam beberapa waktu berada di library and creative space yang satu ini, saya menikmati waktu membaca serasa di rumah yang ingin terus hadir di sisa hidup. Memiliki sebuah cafe library yang nyaman dengan beragam koleksi buku, menimbun sekian banyak waktu di dunia literasi dan menjejakinya dengan mereka yang memiliki kecintaan pada dunia yang sama.
Ada satu sudut bekerja yang sangat menyita indera penglihatan saya. Sebuah ruang kecil yang menghubungkan antara lantai dua dan lantai tiga. Tidak begitu luas ukurannya tapi berada di posisi yang tepat karena bisa mengamati dan mengawasi setiap sudut area perpustakaan dalam dua kali pandang. Saya pengen punya area serta meja kerja seperti itu sembari membaca, menulis, melahirkan buku, atau bahkan berdiskusi dengan siapapun yang mempunyai minat yang sama di dunia literasi.


Berdiri dari Kecintaan Akan Sastra dan Buku
Saat menyempatkan waktu menyusur beberapa tulisan tentang HOWL library and creative space, saya menemukan sebuah tautan yang sekilas menceritakan tentang sejarah berdirinya tempat yang sudah grand opening pada 12-16 April 2025 yang lalu.
Lewat tautan tersebut saya menandai bahwa ruang setentram dan sedamai ini diinisiasi oleh para perantau —anak-anak muda— dari Palembang yang menimba ilmu di Institut Teknologi Bandung (ITB). Keseragaman kesukaan mereka di ranah sastra dan buku, membuat mereka bergabung dan mendirikan House of Wonder and Learning ini. Ruang publik yang menghubungkan mereka dengan para pecinta buku.
Keputusan untuk mengenakan biaya masuk sebesar 25K juga bukanlah satu hal tanpa pertimbangan. Terlepas dari perhitungan bisnis dan urusan biaya operasional, sesungguhnya HTM ini juga adalah satu hal penting yang mengajak publik untuk bersama-sama peduli akan keterbelangsungan tempat ini. Menghidupkan keberadaan HOWL dengan pengurusan yang layak agar HOWL bisa beroperasi dengan manajemen yang terjaga kualitasnya.
Jika saya diijinkan untuk memiliki dan mengemban tanggung jawab operasional untuk tempat yang sama, saya pun akan memberlakukan hal yang sama. Karena venue yang valuable yet well-organized bukan hanya butuh orang dengan high qualified managerial skill, tapi juga sense of business yang kuat. Dengan demikian tempat tersebut bisa senantiasa lestari dengan fasilitas yang terawat dan orang-orang yang well-paid untuk melakukannya.
Yang berminat mengunjungi HOWL library and creative space ini bisa datang pukul 09.00 – 21.00 WIB untuk weekdays dan pukul 07.00 – 23.00 WIB untuk weekends. Pantengin juga lini media sosial mereka untuk mendapatkan informasi terbarukan tentang kegiatan-kegiatan seru yang mereka adakan.












