Scroll untuk baca artikel
Lingkungan

Mengenal Pantai Banji Indramayu di Tengah Ancaman Abrasi dan Rob 

5
×

Mengenal Pantai Banji Indramayu di Tengah Ancaman Abrasi dan Rob 

Share this article
mengenal-pantai-banji-indramayu-di-tengah-ancaman-abrasi-dan-rob 
Mengenal Pantai Banji Indramayu di Tengah Ancaman Abrasi dan Rob 

LindungiHutan Insight

  • Pantai Banji merupakan kawasan pesisir di Desa Tanjakan, Indramayu, yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa dan menjadi lokasi pemulihan ekosistem mangrove bersama komunitas lokal.
  • Pantai Banji menghadapi abrasi, intrusi air laut, dan banjir rob yang mengancam lahan pertanian serta aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
  • Penanaman Rhizophora dan cemara laut dilakukan untuk membantu memulihkan ekosistem pesisir, memperkuat perlindungan alami pantai, dan mendukung keberlanjutan kehidupan masyarakat sekitar.

Pantai Banji Indramayu menghadapi ancaman abrasi, intrusi air laut, hingga banjir rob yang telah mengganggu kehidupan dan aktivitas ekonomi warga kawasan pesisir. Melihat urgensi ini, upaya pemulihan dan konservasi menjadi kebutuhan yang semakin penting.

Urgensi tersebut mendorong LindungiHutan bersama Komunitas Jaga Pesisir untuk bekerja sama memulihkan ekosistem Pantai Banji.

Example 300x600

Kerja sama ini juga menjadi ruang terbuka bagi program CSR perusahaan, brand, dan individu untuk ikut berkolaborasi melalui kampanye alam dan donasi pohon sebagai bagian dari kontribusi penguatan ekosistem pesisir Pantai Banji Indramayu.

Mengenal Lokasi Baru Penanaman, Pantai Banji Indramayu

Pantai Banji Indramayu merupakan kawasan pesisir yang berada di Blok Banji, Desa Tanjakan, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang menghadap langsung ke Laut Jawa di pesisir utara Indramayu.

Indramayu dikenal memiliki garis pantai terpanjang di Pulau Jawa, sekitar 114 kilometer, namun hampir separuhnya rusak parah akibat abrasi. Studi citra satelit mencatat bahwa hampir 90 persen garis pantai Indramayu telah terdampak abrasi, menenggelamkan sedikitnya 6.145 hektare lahan pesisir.

Di tengah kondisi tersebut, kegiatan konservasi di Pantai Banji Indramayu digerakkan oleh Komunitas Jaga Pesisir di bawah naungan Yayasan Indramayu Kreatif, dibantu oleh Tokim yang kerap disapa Mas Okim sebagai staf lapangan yang memahami kondisi pesisir, serta Abidzar sebagai penanggung jawab yayasan. 

Komunitas Jaga Pesisir bergerak sejak tahun 2020 saat masa pandemi Covid-19 dengan fokus pada bidang lingkungan dan mangrove. Pada awalnya, anggota komunitas hanya sekitar 15 orang, namun telah mampu menggerakkan hingga 180 relawan dalam kegiatan penanaman pada tahun tersebut. Hingga kini anggota telah bertambah menjadi sekitar 20 orang.

Pada 2025, Komunitas Jaga Pesisir mulai menjalin kerja sama dengan LindungiHutan dalam kegiatan penanaman mangrove. Jenis yang ditanam meliputi Rhizophora dan cemara laut sebagai bagian dari upaya pemulihan kawasan pesisir Pantai Banji.

Kerja sama ini mendapat respons positif dari komunitas, terutama karena masih jarang organisasi dari luar daerah yang terlibat langsung dalam mendukung konservasi di Pantai Banji.

Mengapa Pantai Banji Indramayu Perlu Diperhatikan?

Pantai Banji Indramayu merupakan kawasan terbuka tanpa vegetasi pelindung pesisir, hanya ada beberapa pohon waru yang digunakan petani untuk berteduh saat bekerja di sawah sekitar pantai.

pohon waru di kawasan pantai banji indramayu

Kondisi sawah yang berhadapan langsung dengan laut menjadi salah satu alasan penanaman mulai difokuskan di Pantai Banji. Intrusi laut kerap kali mengganggu kegiatan ekonomi masyarakat, panen sering gagal karena lahan mulai terkikis.

Keterbukaan lahan kian memperparah abrasi yang merusak pertanian dan permukiman sekitar. Persoalan keterbatasan lahan untuk penanaman karena banyak area pesisir yang beralih fungsi menjadi permukiman dan konversi lahan mangrove menjadi tambak udang dan bandeng dalam skala luas juga memperbesar kerentanan terhadap abrasi.

Wilayah pesisir Indramayu, termasuk kawasan sekitar Pantai Banji, memang dikenal sebagai daerah rawan bencana rob dan abrasi. Seperti di Desa Eretan yang mengalami banjir rob nyaris tidak pernah berhenti, hingga menggenangi jalan Pantura. Agus Susanto juga menyebutkan terdapat sebanyak 3.700 hunian terendam secara permanen.

Kondisi di wilayah pesisir Indramayu tersebut menunjukkan pentingnya upaya perlindungan dan pemulihan pesisir, termasuk melalui penanaman mangrove di Pantai Banji, sebelum abrasi semakin menggerus daratan dan mengganggu kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Baca Juga: Mengenal Desa Kelapapati, Bengkalis, Riau yang Terancam Abrasi

Mangrove Rizhopora dan Cemara Laut untuk Pesisir Banji yang Lebih Tangguh

Jenis tanaman yang ditanam LindungiHutan di Pantai Banji meliputi mangrove Rhizophora dan cemara laut. Penempatannya disesuaikan dengan fungsi masing-masing dalam membantu melindungi kawasan pesisir.

mangrove Rhizophora dekat lahan pertanian pesisir banji

Mangrove Rhizophora ditempatkan di posisi lebih depan karena fungsinya menahan hantaman gelombang ombak secara langsung, sedangkan cemara laut berperan menyerap kandungan garam di udara pesisir sekaligus menahan terpaan angin.

Secara ekologis, keberadaan mangrove juga memberikan berbagai manfaat bagi kawasan pesisir. Ekosistem ini menjadi sumber nutrien bagi biota perairan, tempat pemijahan dan asuhan berbagai macam biota, penahan abrasi pantai, amukan angin taufan dan tsunami, penyerap limbah, serta pencegah intrusi air laut.

Kehadiran kepiting bakau dan burung air seperti bangau di kawasan ini menunjukkan bahwa pesisir Pantai Banji masih menjadi habitat penting bagi fauna. Kondisi tersebut menjadi potensi yang dapat terus dikembangkan seiring dengan pemulihan ekosistem mangrove.

Berdasarkan pengalaman penanaman mangrove yang dilakukan Mas Okim sejak tahun 2012 pada kawasan Pantai Tiris juga menunjukkan bahwa wilayah yang sudah tertutup mangrove jauh lebih terlindung dibandingkan wilayah yang masih terbuka seperti kondisi Pantai Banji saat ini. 

Dengan demikian, harapannya dengan pola pendekatan serupa lahan pesisir di Pantai Banji yang tadinya terbuka dan rentan abrasi bisa berangsur membentuk sabuk hijau mangrove yang mengurangi intrusi air laut ke lahan pertanian warga.

Hubungan Masyarakat Lokal dengan Lingkungan Pesisir Banji

Komunitas Jaga Pesisir merupakan mitra utama LindungiHutan di Pantai Banji sekaligus komunitas lokal yang terlibat langsung dalam kegiatan penanaman mangrove. Salah satu sosok yang turut menggerakkan kegiatan konservasi tersebut adalah Mas Okim.

Mas Okim mulai tertarik pada isu lingkungan dan mangrove sejak ia masih bersekolah atau sekitar tahun 2012. Baginya sebagai anak pesisir, jika bukan warga pesisir sendiri yang bergerak menyelamatkan daratan, maka tidak akan ada pihak lain yang melakukannya. Hingga akhirnya ia bergabung dengan Komunitas Jaga Pesisir sejak tahun 2020.

Selain itu, masyarakat sekitar juga memiliki dua tradisi yang berhubungan erat dengan pesisir serta saling melengkapi antara mata pencaharian sebagai petani dan nelayan, yakni Nadran (sedekah laut) dan Mapag Sri.

Nadran merupakan upacara adat tahunan sebagai ungkapan syukur atas hasil tangkapan ikan sekaligus doa keselamatan dan harapan rezeki yang lebih baik di tahun berikutnya.

Sedangkan Mapag Sri bertujuan menghormati hasil pertanian. Keduanya dimaknai sama sebagai ungkapan syukur kepada Sang Pencipta dan melambangkan keseimbangan antara manusia dan alam.

Kini, cara pandang masyarakat juga sudah mulai bergeser, kejadian rob yang sebelumnya hanya dianggap sebagai banjir biasa dan gagal panen yang dikaitkan dengan hama mulai dipahami masyarakat sebagai akibat dari intrusi laut.

Melalui edukasi yang dilakukan komunitas, kesadaran warga akan bahaya abrasi dan pentingnya mangrove sebagai pelindung pesisir berangsur meningkat. Selain itu, dukungan masyarakat terhadap kegiatan penanaman juga tergolong tinggi.

Bukan Hanya untuk Konservasi, Ada Potensi Ekonomi dan Ekowisata

Kabupaten Indramayu melalui Dinas Lingkungan Hidup telah menegaskan tentang pentingnya kolaborasi dalam upaya penghijauan. Tidak hanya untuk konservasi tetapi juga berkaitan dengan kehidupan ekonomi masyarakat karena melihat ketergantungan ekonomi warga Pantai Banji terhadap kondisi alam pesisir yang tergolong tinggi dan rentan.

Sawah yang berhadapan langsung dengan laut seringkali terancam gagal panen karena air rob atau intrusi air laut masuk ke lahan pertanian.

lahan pertanian warga yang berhadapan langsung dengan laut

Kondisi abrasi dan rob yang terus terjadi juga mengancam keberlangsungan aktivitas bertani, melaut, dan budidaya tambak warga.

Pantai Banji juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata mangrove guna menunjang sumber pendapatan warga sekitar.

Sejauh ini sudah ada inisiatif pengembangan konten edukasi mangrove berbasis VR (Virtual Reality) berbentuk animasi, yang ditujukan untuk anak-anak agar lebih mudah memahami pentingnya ekosistem mangrove dan bahaya abrasi.

Awalnya alat VR didapatkan melalui program riset LPDP dan diperuntukkan bagi pengembangan konten kebudayaan, namun setelah konten kebudayaan tersebut selesai dibuat pemanfaatan alat dialihkan untuk konten edukasi lingkungan dan mangrove.

Meskipun pengembangan masih terkendala biaya dan kerja sama dengan berbagai pihak, hasil program penanaman nantinya diharapkan dapat menjadi modal pengelolaan kawasan wisata edukasi mangrove yang berkelanjutan bagi anak-anak maupun masyarakat luas.

Mari Pulihkan Ekosistem Pantai Banji Indramayu

Ancaman abrasi, intrusi air laut, hingga banjir rob yang terjadi di kawasan Pantai Banji menunjukkan besarnya dampak dan bahaya yang ditimbulkan, sehingga pemulihan ekosistem menjadi langkah penting saat ini.

Mari berkontribusi melalui penanaman mangrove Rhizophora dan cemara laut di Pantai Banji Indramayu.

Lewat kampanye alam dan donasi pohon, kontribusi Anda tidak hanya berhenti pada penanaman pohon, tetapi turut membantu menjaga pesisir sekaligus mendukung keberlangsungan hidup masyarakat di sekitarnya.

Bantu Pulihkan Ekosistem Pantai Banji Indramayu