Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Bentenan Maha Karya dari Minahasa Utara

165
×

Bentenan Maha Karya dari Minahasa Utara

Share this article

“Bukan hanya di Jawa, di Sulawesi pun kain tenun diproduksi dengan lembaran cinta. Bentenan adalah salah satu diantaranya. Tenun yang sempat hilang selama 200 tahun lamanya ini, kini berjaya di tanah kelahirannya sendiri.”

Ini hari kedua saya berada di Manado, ibu kota Minahasa Utara. Semangat untuk menjelajah semakin membludak di dada. Setelah kemarin saya menikmati keindahan alam di Likupang, hari ini adalah waktu khusus untuk menjelajah budaya dan kuliner khas Manado.

Example 300x600

Alex Pelealu – tour guide saya selama berada di Manado – sempat membicarakan tentang Bentenan melalui whatsapp beberapa hari sebelum saya berangkat. Tenun khas Minahasa Utara yang hingga saat ini terus dilestarikan, diproduksi, dipromosikan, dan dipasarkan kepada khalayak luas. 

Hati saya langsung tergerak. Ada rasa penasaran yang menyelip di sela hati.  Apalagi, lewat beberapa tautan atau referensi digital, saya menandai bahwa kain Bentenan yang sempat hilang selama 200 tahun lamanya.  Masa di mana kain tenun, yang tak mudah untuk dibuat itu, terkalahkan oleh kondisi dan persaingan perdagangan global yang cepat bergerak di dunia atau bisnis kebutuhan sandang.  Saat banyak kain produksi mesin dengan beberapa pilihan yang menarik, kenapa harus menggunakan tenun yang sulit diproduksi dan diketahui mahal itu? 

Bentenan Maha Karya dari Minahasa Utara
Bentenan Maha Karya dari Minahasa Utara

Semesta Mengatur Pertemuan dengan Mark Sahuleka

Sebelum berangkat dan menyusur agenda kunjungan saya di hari ke-2, saya dan Alex menyempatkan mengobrol dan membahas apa saja yang akan ditelusuri hari itu sembari ngopi. Seperti yang sudah disepakati, agenda perdana adalah mampir ke Krisma Kain Bentenan yang berada di Sario, kota Manado.

Semesta sudah mengatur.  Persis setelah saya mengetuk pintu utama outlet Prisma, sebuah rumah putih dengan rancang bangun klasik, Mark – sang manajer – sedang mengisi waktu dengan bebersih dan menata ulang ruang pamer jenama ini.  Sambutan dan sapaannya yang ramah memberikan kesan akrab yang begitu mendalam.  Mendadak mengingatkan saya akan seorang teman yang memang suhu di bidang courtesy management.  Lewat dialah saya mendapatkan ilmu dan pengetahuan tentang bagaimana selayaknya sebuah usaha atau bisnis menyambut baik semua tamu yang datang.  Dan itu langsung saya lihat dan buktikan dari seorang Mark Sahuleka, sang operational manager dari jenama Krisma Kain Bentenan.

Selepas mengenalkan diri secara singkat dan mengutarakan maksud kedatangan saya, kami kemudian terlibat dalam percakapan berjam-jam di teras belakang outlet.  Akrab, seru, dan bagai teman yang sudah kenal bertahun-tahun.  Waktu berjam-jam pun berlalu dengan banyak insight baru, khususnya tentang Kain Bentenan yang adalah salah satu mahakarya seni di bidang wastra milik Sulawesi Utara.

Bentenan Maha Karya dari Minahasa Utara
Bentenan Maha Karya dari Minahasa Utara

Tentang Krisma dan Tenun Bentenan

Jauh sebelum memutuskan untuk berangkat ke Sulawesi Utara, saya – jujur – tak pernah sekalipun mendengar nama tenun dan kain Bentenan.  Jadi saat Mark memulai percakapan kami dengan siapa, apa, dan bagaimana posisi Krisma untuk kelestarian kain dan tenun Bentenan, saya langsung tertohok pada kekaguman.

Krisma yang didirikan dan dikelola oleh Yayasan Karema yang didirikan oleh Ibu Ony Tambunan Markadi (alm) – yang notabene adalah nenek/oma dari Mark – telah konsisten melestarikan tenun dan kain Bentenan.  Selain melakukan promosi dan menampilkan wastra ini pada khalayak lewat outlet di Sario kota Manado ini, Krisma melakukan kerjasama dan melakukan pembinaan usaha dengan beberapa penenun yang berada di Sonder, Minahasa Utara, untuk memproduksi tenun dan kain Bentenan.  Sementara untuk pemasaran, Krisma bekerjasama dan bersinergi dengan beberapa butik-butik ternama untuk melakukan rapid promotion, setidaknya di tanah kelahiran mereka sendiri.

Di sebuah bangunan yang cukup besar di mana Krisma berada saya terkagum-kagum pada banyak informasi yang disampaikan oleh Mark.  Di outlet ini, saya melihat Krisma menampilkan kain-kain tenun meteran dan berbagai bahan atau materi kain print (non tenun) dari bahan polikatun, sutra, siffon, bahkan sutera ulat bulu (di kelas premium) yang motifnya disesuaikan dengan pakem yang ada.  Ada juga motif kontemporer yang terlihat menampilkan satu bahkan banyak jejak terbarukan yang mengiringi kebutuhan dan selera pasar.

Selain dalam bentuk kain, Bentenan juga diproduksi dalam bentuk fashion finished product lainnya. Seperti blouse wanita, hem pria, gaun, jaket, blazer, beragam tas wanita, pouch, dompet, souvenir, bahkan kantong panjang untuk botol air minum, dan masih banyak lagi.

Saya juga sempat melihat tenun dalam bentuk motif timbul dengan efek tiga dimensi yang dibentang dan ditaruh di dalam lemari kaca.  Keindahannya tak terbantahkan. Tidak heran jika kain tenun yang dikerjakan hingga berbulan-bulan dengan skill penenun yang tinggi, ditawarkan dengan harga tinggi sesuai dengan kualitasnya.  Jika nanti kain ini menemukan “tuannya” saya yakin produk wastra yang telah dibuat dengan ribuan kesabaran, kerapihan, dan konsentrasi tinggi ini akan menjadi salah satu koleksi eksklusif sepanjang masa.

Selama duduk sembari menyebarkan pandangan dan sesekali memotret, saya kerap terpaku pada setiap sudut outlet.   Untuk seseorang yang pernah melihat secara langsung seorang penenun duduk di hadapan alat tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) maupun ATKT (Alat Tenun Kaki Tangan), memasang lungsi dan pakan, kemudian menariknya satu persatu dengan pegas manual yang menyelaraskan antara kaki dan tangan, saya merasakan betapa kain tenun itu adalah sebuah mahakarya yang tak ternilai harganya.  Dunia handcrafted yang selalu menampilkan valuable things menjadi hal yang terus mengisi pengetahuan saya tentang kayanya seni budaya tanah air.

Sebagai salah satu icon dari Bumi Nyiur Melambai, kain dan tenun Bentenan pernah berpartisipasi dalam berbagai acara berskala internasional.  Seperti Annual National Weaving Exhibition 2006 di Jakarta Convention Centre. Lalu World Ocean Conference 2009 yang diadakan di Manado. Kemudian juga dikenakan sebagai seragam Aparatur Sipil Negara Sulawesi Utara. 

Mereka juga mengenalkan beragam motif seperti Kainu Patola, Tinonton Mata, Tinompak Kuda, Koffo – Sangihe Talaud, Sinoi, Pinatikan Batik dan masih banyak lagi.  Beberapa motif yang saya sebutkan ini di redrawing oleh Yessy Wenas, seorang seniman dan figur asal Sulawesi Utara yang sangat disegani di nusantara.  Budayawan, seniman, dan seorang maestro yang banyak karyanya menjadi kebanggaan bagi masyarakat Minahasa.

Mark sempat juga memperlihatkan sebuah buku berjudul Sejarah & Kebudayaan Minahasa yang ditulis oleh beliau.  Saya menyempatkan diri membaca sekilas daftar isi dari buku yang diterbitkan pada 2007 ini. Lewat itu saja, saya mendapatkan kesan yang luar biasa akan nilai informasi yang tertulis di sana.  Beginilah salah satu cara yang tepat untuk melestarikan budaya daerah itu sendiri.  Dengan menulis maka warisan itu sudah terukir.  Buku ini bukan saja bisa menjadi legacy bagi generasi penerus tapi juga bisa menjadi referensi sebuah karya ilmiah yang membahas tentang sejarah, seni dan budaya masyarakat Minahasa.

Dari percakapan saya dan Mark yang semakin seru, saya mendapatkan informasi bahwa workshop yang berada di Sonder, juga menerima tamu yang ingin belajar menenun.  Tentu saja dengan membuat perjanjian terlebih dahulu. Seandainya tahu di awal – setidaknya sebelum berangkat – saya pasti menyempatkan diri untuk menuju Sonder dan menikmati beberapa jam dengan belajar menenun dan berbincang lebih jauh dengan para penenun di sana.

Bentenan Maha Karya dari Minahasa Utara
Bentenan Maha Karya dari Minahasa Utara
Bentenan Maha Karya dari Minahasa Utara

Sekilas Tentang Bentenan

Nama Bentenan itu sendiri diambil dari nama wilayah pelabuhan utama di pantai timur Minahasa Selatan.  Di pelabuhan ini juga konon kain Bentenan pertama kali ditemukan serta di ekspor pada abad ke-15 hingga ke-17.  Sementara keberadaan kain ini sendiri dipercaya sudah saja sejak abad ke-7.

Kain Bentenan kemudian dibuat di berbagai tempat di Minahasa seperti Tombolu, Tondano, Ratahan, dan Tombatu.  Pada masa awal keberadaannya, kain Bentenan dibuat dengan bahan dasar alami seperti kulit kayu (tufa), pohon lahendong, pohon sawkouw, serat nanas, serat pisang (koffo), dan serat bambu (wau).  Kemudian mulai abad ke-15 pembuatannya baru menggunakan materi kapas.

Motif utama atau motif primer dari Kain Bentenan adalah:

  1. Tonilama (benang putih, tidak berwarna, dan hanya berupa kain putih);
  2. Sinoi (tenun dengan benang warna-warni, dan berbentuk garis-garis);
  3. Pinatikan (garis-garis motif jala dengan bentuk segi enam);
  4. Tinompak Kuda (dengan aneka motif berulang);
  5. Tontonan Mata (menghadirkan gambar manusia sebagai simbol dari eksistensi manusia);
  6. Kainu (menghadirkan motif Patola India);
  7. Kokera (motif bunga warna-warni bersulam manik-manik)

Kain yang terakhir ditenun di daerah Ratahan pada tahun 1900 ini, awalnya digunakan untuk upacara adat saja.  Setelah tidak diproduksi selama 200 tahun lamanya, kain Bentenan sesungguhnya memiliki banyak sekali keistimewaan.  Diantaranya adalah:

  1. Pembuatannya rumit dan memakan waktu;
  2. Dikerjakan dengan teknik dobel ikat.  Teknik dengan tingkat kesulitan tinggi sehingga motif yang tercipta akan bergambar halus, rumit dan sangat unik.  Benang yang membentuk lebar kain (pakan) disebut Sa’lange, sementara benang yang memanjang (lungsi) disebut wasa’lene;
  3. Ditenun tanpa terputus dan menghasilkan kain berbentuk silinder atau tabung;
  4. Menggunakan pewarna alam yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti biru/hijau dari pohon taun, hitam dari pohon taun bercampur air kapur sirih, kuning dari semak lenu/morinda bractenta, merah dari semak lenu bercampir air kapur sirih, merah dari bahan lelenu/peristrophe tinctoris, dan hitam dari sangket/homnolanthus paulifolius)

Setelah sempat berhenti diproduksi di masa penjajahan Belanda, kain Bentenan, motif Pinatikan berjumlah 20 lembar, kemudian tersebar di beberapa tempat.

  1. 2 buah di Museum Nasional;
  2. 4 buah di Museum Tropen, Amsterdam, Belanda;
  3. 7 buah di Museum Vour Land an Volkekunde, Rotterdam, Belanda;
  4. 2 buah di Museum Fur Volkekunde, Franfurtam, Germany;
  5. 4 buah di Museum Ethnographical, Dresden;
  6. 1 buah di Museum Indonesisch Ethografish, Delft

Kemudian ada sekitar 8 lembar, motif Kainu Patola yang tersebar di beberapa tempat berikut ini :

  1. 2 buah di Museum Nasional Jakarta;
  2. 4 buah di Museum Troppen, Amsterdam;
  3. 2 buah di Museum Rotterdam Ethnology

Menyadari bahwa sekian banyak koleksi otentik Bentenan yang masih berada di luar negeri, saya berharap bahwa para pemangku kepentingan, seperti pemerintah daerah Sulawesi Utara, pemerintah pusat yang bisa diwakili oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia atau Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, bisa melakukan negosiasi bilateral agar beberapa koleksi kain tenun Bentenan ini bisa “pulang kampung.”  Kembali ke tanah air, dan disimpan di Museum Nasional, tempat di mana seharusnya kain-kain yang bernilai tinggi dan memiliki jejak sejarah yang wajib untuk kita ketahui.

Saya mengakhiri kunjungan di Krisma Kain Bentenan dengan membawa setumpuk insight baru.  Bukan hanya tentang kain dan tenun Bentenan itu sendiri, tapi juga bagaimana wastra asli milik warga Minahasa ini selalu akan menjadi kebanggaan yang selalu lestari sepanjang masa. 

Sebuah alat tenun kayu berukuran kecil yang berada di dalam outlet Krisma Kain Bentenan dan semua karya tenun yang ditawarkan kepada publik, meleburkan semua harapan dan doa baik yang saya sampaikan kepada semesta.  Semoga eksistensi Bentenan terus bergerak maju dengan jejak langkah yang kuat dan membanggakan.

Bentenan Maha Karya dari Minahasa Utara
Bentenan Maha Karya dari Minahasa Utara
Bentenan Maha Karya dari Minahasa Utara