Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

176
×

Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

Share this article
Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung
Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

Menikmati dan menyesap wanginya kopi di sebuah kedai yang estetik seperti di Kopi Toko Djawa, Braga – Bandung ini, setiap hirupan rasanya terasa begitu sempurna. Nyaman di lidah dengan visual yang entertaining serta merabuk jiwa. Ambiance tempat yang menyenangkan, membuat kita merasa pulang sembari menyeruput kopi hitam dengan sedikit gula di rumah.

Saya baru saja rampung mengantar suami ke kampus Ganesha (ITB) untuk reuni di pagi hari itu, hingga kemudian sepakat dengan si bungsu untuk jalan-jalan setelahnya. Kami punya banyak waktu untuk menjelajah Bandung dengan mengandalkan google maps dan referensi lewat Instagram. Setidaknya hingga pkl. 14:00wib, limitasi waktu check in di Kollektiv Hotel yang sudah dipesan beberapa hari sebelum berangkat.

Keputusan kami cuma dua yaitu ke Braga lalu ke Paris Van Java Mall (PVJ Mall) di Setiabudi yang mendekat ke arah hotel.

Example 300x600

Baca Juga : Semalam Betah Menginap di Kollektiv Hotel Bandung

Mengandalkan Google Maps Menuju Braga

Saya sering ke Bandung karena di kota inilah suami melewati banyak waktu dalam hidupnya. Terutama saat remaja hingga lulus S1 dan membeli rumah di Cimahi, Bandung Barat. Sebagian keluarga (uwak, bibi, sepupu, ipar) juga masih tinggal di Bandung dan sering mengadakan arisan atau pertemuan keluarga untuk beberapa alasan. Seperti yang terakhir adalah munggahan dalam rangka puasa ramadan 1445H (2024).

Saya tak pernah sekalipun nyetir mobil sendiri di Bandung meski sudah tak terhitung seringnya ngelencer di kota Paris van Java ini. Tapi di kunjungan kali ini, saya harus melakukan itu. Biarpun saya termasuk pembaca peta yang baik, hal ini tak berlaku untuk Bandung. Saya kok tetap aja gak mudah mengingat alur lalu lintas dan pemetaan setiap tempat. Apalagi di Bandung banyak jalur yang searah. Jadi kalau sudah salah jalan, muternya bisa jauh banget.

Tabiat nekad dan bantuan Google Maps serta support si bungsu di bangku depan lah yang akhirnya membuat saya yakin untuk nyetir. Tak apa. Setidaknya jika pun “terpaksa nyasar,” saya tidak sendirian.

Semesta sepertinya begitu menyambut saya. Selain langit yang cerah ceria, jalanan pun sama sekali gak macet. Gak sampe 30 menit kemudian mobil yang saya kendarai pun sudah mengaspal di Jl. Braga dan parkir di bahu jalan yang memang disediakan untuk pengunjung. Senengnya luar biasa.

Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung
Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

Estetika Sebuah Kedai Kopi di Lahan Terbatas

Saya tiba di waktu yang tepat. Langit cerah, jalanan belum terlalu ramai, dan sudah banyak toko yang buka. Menyisir salah satu bahu jalan, wangi kopi mendadak menyeruak ke indera penciuman saya. Ya ampun. Tolong. Wanginya sungguh menggoda. Apalagi saya sempat mendengar nada dan getaran indah dari sebuah brewing machine. Suara khas yang begitu saya kenali.

Kok ya pas banget. Niat ngopi dan menikmati penganan ringan serasa komplit saat saya menuju dua tempat yang memang sudah lama saya incar. Toko Kue Lakker dan Kopi Toko Djawa. Tempat-tempat asik yang sudah lama direferensikan oleh beberapa travel and food blogger Bandung. Akun IG merekapun sering mendapatkan like ratusan dan puluhan komen yang komunikatif dari puluhan ribu followers nya. Jadi patut banget digunakan sebagai panutan dan acuan.

Setelah puas memamah biak dengan jajan pasar di Toko Kue Lakker, saya melangkah ke Kopi Toko Djawa yang terhubung oleh sebuah pintu tanpa pembatas diantara keduanya. Ini memang disengaja, keduanya punya hubungan kekeluargaan atau memang pemiliknya sama? Kemudahan akses ini justru jadi plus point buat keduanya. Mereka bisa saling melengkapi, berintegrasi, dan tentu saja bekerja sama. Bahkan waktu saya menyelesaikan makan-makan di Toko Kue Lakker, petugasnya menyarankan saya untuk menikmati kopi di Kopi Toko Djawa untuk menyambung waktu.

Tentang Bandung : Rela Mengantri Demi Dim Sum Enak di Bandung

Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

Atas usulan itulah, akhirnya saya ke Kopi Toko Djawa yang dimaksud. Gak perlu keluar lagi karena langsung terhubung oleh pintu tanpa pembatas tadi. Satu pemandangan baru kemudian menyergap indera penglihatan saya. Persis di dekat pintu, tepatnya di sisi kanan, ada satu konter khusus yang melayani para tetamu. Di sini selain beberapa tanaman, beberapa lampu sorot, dan lampu-lampu bulat gantung, ada dua petugas yang luar biasa sibuk melayani permintaan customer yang sudah mengantri panjang. Baik untuk minuman maupun aneka penganan yang disusun di dalam sebuah kotak kaca.

Di titik ini nafas kehidupan Kopi Toko Djawa terlihat begitu dominan. Selain mesin pemroses kopi, tersedia juga aneka roti yang melengkapi waktu-waktu berharga untuk menyesap wanginya kopi. Ini nih tadi yang sempat tercium dan terdeteksi oleh radar pemikiran saya. Saat saya melangkah ke depan, terlihat tulisan-tulisan cantik yang memperlihatkan beragam jenis roti yang bisa kita beli. Di samping juga tersedia berkotak-kotak kopi dengan penamaan yang tertulis di bagian depan kotak tersebut. Penyusunannya menarik banget. Meski kecil dan padat dengan ruang gerak yang (sangat) terbatas, semua terlihat tertata dengan baik dan fungsional.

Di lantai bawah ini, saya merasakan ambience tempat nongkrong yang asik banget. Pewarnaan ruangan juga membumi. Tersedia bangku panjang tempat menunggu, meja-meja kayu yang sudah divernis yang salah satunya diberi taplak kain tenun. Di salah satu sudut ada sebuah rak dinding besi hitam tempat menaruh banyak buku yang bisa kita pinjam. Tanaman-tanaman gantung pun ditaruh di sini. Satu kondisi yang membuat Kopi Toko Djawa semakin terlihat natural dan menyatu sempurna dengan warna alam yang menyelimuti kedai. Di sisi paling ujung, ada juga ruang makan dengan sentuhan interior design yang sama dengan bagian depan kedai. Karena cukup tertutup, di sini sepertinya cocok buat diskusi, ngobrol lebih private, atau bahkan bekerja. Asik juga kali ya menulis di ruang makan ini. Ruangan semi kedap suara. Tenang dan sedikit menjauh dari kesibukan yang tercipta di bagian depan.

Saya langsung membayangkan punya satu waktu khusus untuk ngopi, makan roti sembari membaca atau bekerja di laptop. Bisa jadi dengan nuansa yang tercipta, bisa lahir banyak tulisan, atau setidaknya produktif dalam bekerja. Tempat senyaman dan seestetik itu biasanya mampu mendorong kita untuk (lebih) konsentrasi bekerja.

Tentang Bandung : Bakmi Ayam dan Bakso Goreng Anugerah. Kuliner Kaya Rasa dari GOR Pajajaran Bandung

Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung
Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

Tentang Bandung : Nikmat Serundai Hidangan Hachi Grill Sutami Bandung

Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung
Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung
Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung
Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung
Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung

Sebelum melangkah keluar Kopi Toko Djawa, saya sempat memotret secuil bagian dalam kedai dari sebuah pintu masuk yang unik dengan wall mural kecil. Tadi pun saya juga memperhatikan ada sebuah pintu yang memperlihatkan sebuah tangga untuk menggapai lantai atas kedai. Pengen sih melangkah ke sana dan menengok apa yang ada di atas. Yang saya asumsikan adalah sebuah ruang yang cukup luas dengan jumlah meja dan kursi yang lebih banyak dari lantai bawah. Tapi si bungsu mengajak saya untuk berpindah tempat, ingin mencari sebuah counter khusus yang menjajakan ice cream, yang sudah lama dia incar.

Saat berada di luar, persis di sidewalk depan Kopi Toko Djawa, sayang melihat sebuah papan yang cukup menarik perhatian. Di papan itu tertulis “Kopi. Kue. Buku. Toko. Braga.” Empat elemen yang mewakili apa yang bisa kita dapat saat mengunjungi Kopi Toko Djawa. Termasuk salah satunya, dan yang menurut saya menjadi unsur terpenting adalah bisa memiliki waktu khusus untuk sesaat menyesap wanginya kopi saat berada di Braga, Bandung.

Ada tiga filosofi kopi yang terus saya ingat. Pertama, kopi merupakan karya yang bernilai, dihasilkan dari sebuah proses yang panjang dan bukan instan. Kedua, kopi merupakan penyemangat. Ketiga, kopi merupakan pengikat rasa.

Untuk saya pribadi, kopi adalah bagian dari sejarah hidup sebagai seorang anak berdarah Sumatra dengan garis keturunan yang adalah daerah produsen kopi. Kopi hitam adalah favorit saya. Salah satu surga dunia adalah menikmati secangkir kopi hitam dengan sesendok kecil gula dalam kondisi sehat.

Sesaat Menyesap Wanginya Kopi di Kopi Toko Djawa Braga Bandung