
Mengulik Bejana Jiwa Lewat Buku Psikologi dalam Seduhan | Book Review | Februari 2026
Buku psikologi ini hadir sebagai panduan praktis untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam diri Anda dan bagaimana kehadiran kopi bukan saja bisa menghangatkan perut tetapi juga mampu menghangatkan jiwa.
Buku ini ditulis oleh para pecinta kopi dengan latar belakang ilmu psikologi. Gaya penulisannya ringan dan mudah dipahami. Setiap bab menyajikan insight psikologi modern, tips aplikatif, serta contoh nyata yang bisa langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pembaca diajak melihat ulang hubungan, kebiasaan, hingga pola pikir yang mungkin selama ini menjadi sumber stres. Hasilnya? Anda akan menemukan cara baru untuk mengelola emosi, meningkatkan kepercayaan diri, dan menciptakan hidup yang lebih tenang, melalui secangkir kopi.
Rangkaian kalimat di atas saya ambil dari blurb yang ada di back cover buku. Membaca ini saya seperti “mempersiapkan diri” untuk lamat membuka lembar demi lembar agar bisa memahami apa yang disampaikan di atas dengan sempurna. Tentu saja sembari membuka bejana jiwa agar dapat menyelami apa yang disampaikan oleh para penulis.
Yok baca ulasannya pelan-pelan ya.
Perihal pertama yang disampaikan oleh buku ini adalah tentang bagaimana kopi telah menjadi bagian dari hidup kita, hidup para pecintanya, hidup bagi sekelompok orang – sebuah komunitas – yang memiliki latar belakang pendidikan psikologi dan yang tergabung dalam Ikatan Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Bandung (IKA FAPSI UNPAD). Sebuah wadah resmi yang berfungsi sebagai ruang silaturahmi, kolaborasi dan penguat jejaring lintas generasi.
Sekaligus mengingat bahwa salah satu visi dan misi komunitas ini adalah untuk memperluas dampak keilmuan psikologi di tingkat nasional maupun global. Jadi saat ide ini melambung di antara setiap anggota – khususnya para kontributor – persiapan penyusunan naskah pun berjejak satu demi satu, hari demi hari, minggu demi minggu, hingga akhirnya terkumpullah 21 naskah dengan topik bahasan yang sangat beragam.
Lewat Kang Dudi Iskandar, salah seorang alumni dan juga adalah penulis buku Sang Peracik, semangat menulis bersama dan melahirkan buku antologi yang berfokus pada ilmu psikologi dan kopi, menggerakkan 18 (delapan belas) orang alumnus agar bergabung melahirkan Psikologi dalam Seduhan.

Para Penulis dan Karya yang Dihadirkan
Menyusur setiap naskah, ada banyak tema dan rasa yang hadir dalam hidup para penulis. Yang pasti semua berangkat dari kesukaan akan kopi dan apa pun atau siapa pun yang juga menikmati sajian minuman berwarna hitam ini kemudian menghubungkannya dengan ilmu psikologi yang para penulis kuasai.
Siapa saja mereka dan seperti apa rangkaian diksi yang mereka hadirkan untuk Psikologi dalam Seduhan? Berikut adalah uraian singkatnya.
Dudi Iskandar. Seorang pembelajar visual yang menjadikan fotografi sebagai jalan awal mengenal dunia, Kang Dudi – biasa dia dipanggil – adalah juga pemilik dari jenama Photo Coffee Roastery. Seorang pecinta kopi yang belajar menyangrai sendiri, ikut berbagai pelatihan hingga akhirnya mendapatkan sertifikat Roaster dari BNSP. Untuk buku ini Kang Dudi mempersembahkan tulisan berjudul “Kopi Sebagai Mindfulness Ritual”
Andini Nurfitriani. Sebagai seorang professional and international shopper yang pernah bekerja selama 7 tahun di bidang HR, Andini kini bergelut di dunia belanja sekaligus traveling ke banyak negara. Tulisan “Geretan Koper dan Kopi Personal Shopper” pun hadir mewakili aktivitas yang dilakukannya saat ini. Tulisan seru yang mengajak kita “menikmati” sebuah profesi yang jarang sekali ada. Kegembiraan berkelana sembari belanja barang titipan punya sensasi yang asyik juga ternyata.
Tulisan berikut yang berjudul “Nenek-nenek Juga Masih Suka Kopi” dihadirkan oleh Astrid Regina Sapiie. Seorang psikolog yang sudah praktik selama 40 tahun lebih. Regina dengan riangnya menghadirkan diskusi panjang dengan rekan-rekan seusia tentang bagaimana kopi memengaruhi perempuan seusianya. Tentu saja sembari menyeruput kopi dengan selera masing-masing. Dari obrolan seru itu jentik-jentik pengetahuan akan kopi pun bisa kita dapatkan. Tentang efek kesehatan dan bagaimana menyeruput kopi menjadi salah satu bagian penting dari menyegarkan fisik dan pikiran serta penyemangat untuk membuka hari dan menjadi manfaat bagi orang banyak.
Arief Budiarto. Doktor psikologi UNPAD yang pernah mengenyam pendidikan S2 di bidang psikologi kerja di Universite Pierre Mendes France ini mengajak kita untuk menyelami bagaimana gaya hidup kopi Perancis adalah fenomena budaya yang kompleks, dibentuk oleh tradisi berabad-abad, pertukaran intelektual, dan ritual sehari-hari. Semua terurai begitu runut lewat tulisan yang berjudul “Gaya Hidup Kopi Perancis, Ritual, Budaya, Sosial dan Kuliner”
Di halaman berikut kita akan menemukan sebuah tulisan dengan judul “Cinta dalam Secangkir Kopi Aceh” yang ditulis oleh Diah Mahmudah. Lewat tulisannya Diah mengungkapkan rangkaian cerita tentang bagaimana perjalanan panjang seorang perempuan pecinta teh yang kemudian juga jatuh cinta pada kopi. Keduanya menjadi pengisi tangki cinta yang menghangatkan sebuah rumah, rumah di masa kecil kemudian menjadi rumah saat dewasa bersama orang-orang tercinta. Perempuan penggagas berdirinya biro psikologi Dandiah Selekta Persona ini sudah bergerak dan membesarkan biro ini di 16 kota di Indonesia serta hingga saat ini sudah menghasilkan 13 karya buku psikologi sebagai bantu untuk dirinya bekerja sebagai seorang psikolog profesional.
Membalik beberapa lembar berikutnya, hadir artikel berjudul “Resiliensi dan Secangkir Kopi” yang ditulis oleh Elvi Fianita. Seorang pemilik kebun kopi organik yang mengurai bagaimana pohon kopi itu bertumbuh dan bertahan. Sebuah konsep resiliensi yang menunjukkan dan membicarakan tentang kemampuan untuk terus tumbuh meski tanahnya sempat rusak, meski angin membawa racun, meski hama menyerbu, dan meski cuaca tidak bersahabat. Sebuah siklus kehidupan yang diperjuangkan oleh tanaman kopi hingga bisa dihidang untuk dinikmati orang banyak.
Gevi Khairunnisa. Perempuan pengusaha pengangkat hasil karya perajin kain Sumsel dan melebarkan sayap dengan berbisnis kopi dan jati ini, mengingatkan saya akan tanah kelahiran alm. Ayah saya, Tanah Basemah. Yak. Almh. Ayah saya lahir di sini dan besar hingga SMA kemudian merantau ke Jakarta. Saat kecil dan beberapa kali ikut Ayah pulang kampung, saya menandai bahwa desa yang udaranya dingin ini adalah salah satu penghasil kopi yang punya nama populer dan kehadirannya sudah menemani saya sedari kecil. Jadi saat artikel “Antologi Kopi Tanah Basemah” melengkapi buku ini, apa yang dituliskan oleh Gevi menghanyutkan memori saya. Terbayang betapa “lezatnya” kopi basemah hitam yang selalu pas di lidah. Setiap tegukan yang saya rasakan, hingga kini, tetap menempati tahta terbaik dari sekian banyak jenis kopi yang saya sesap sejauh ini.
“Manisnya Kopi Pahitnya Kehilangan.” Artikel yang dirangkai oleh Mayasu ini hadir sendu menyentuh sanubari. Bagaimana kehilangan dan ditinggalkan sejatinya adalah takdir. Sesuatu yang mau tak mau harus kita terima dengan lapang dada. Kopi hadir menyamankan suasana itu. Apalagi saat kehadiran kita menjadi menumbuhkan mana bagi orang yang kehilangan. Gina Mayasari Sujaya – nama lengkap dari Mayasu – ternyata sudah melahirkan buku antologi di 2022 dan 2023 bersama Rumah Antologi Indonesia loh. So no wonder kalau tulisannya tersusun rapi dan kaya rasa. Kapan yuk Mbak bergabung dengan Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI).
Hesti Farida Al Bastari. Salah seorang alumni dan anggota IKA FASI UNPAD ini menghadirkan dua artikel yang membawa kita ikut menelusuri jejak leluhur ayahnya yang berasal dari Jawa. Sukses mendirikan dan mengoperasikan Yayasan Pesantren Ramah Anak bersama teman-teman, Hesti menyajikan dua tulisan yaitu “Kopi dan Jawa: Jejak, Budaya, Kolonialisme, dan Ketenangan dalam Secangkir Kopi” dan “Kopi dan Pesantren: dari Zikir ke Cangkir.”

Perjalanan membedah buku Psikologi dalam Seduhan ini para pembaca akan berkenalan dengan Heru Wiryanto. Seperti halnya Hesti, lelaki yang berprofesi sebagai psikolog dan bangga menjadi coffee home brewer ini, menghadirkan dua tulisan yang isinya sangat menggigit yaitu “Kepribadian Bisa Ditebak Dari Jenis Kopinya: Perspektif Psikologi dan Neurosains” dan “Kopi: Jendela Kecil Kesadaran.” Sebagai pembaca yang tak memiliki latar belakang ilmu psikologi, artikel pertama tuh sungguh menggelitik loh. Dengan runut Heru menjelaskan tentang bagaimana Robusta, Arabika, dan penggabungan di antara keduanya bisa mencerminkan kepribadian penyesap nya. Kamu pasti penasaran juga kan?
Mari kita lanjutkan.
Tulisan berjudul “Kopi: Melayani, Memaafkan, dan Mencintai Tanpa Syarat” yang ditulis Iip Fariha, membawa kita pada sebuah kejutan akan betapa kuatnya kopi dan dunia psikologi berkolaborasi satu sama lain. Bahkan lewat serangkaian kalimat pembuka di awal saja, saya tak sadar terus mengangguk. Membayangkan bahwa tawaran “Mau kopi?” untuk pasangan atau tamu yang datang ke rumah kita, nyatanya meletakkan betapa penting kalimat pendek ini untuk mempererat hubungan serta bisa membangun ruang dialog di antara mereka yang sedang ngopi bareng.
Di lembar berikutnya kita akan menyapa Irfan Aulia Syaiful. Lelaki bergelar doktor di bidang Daya Saing Daerah dengan latar belakang psikologi, yang menggabungkan perspektif ilmiah dan human-oriented dalam merancang solusi strategis ini, juga adalah Ketua IKA FAPSI untuk periode 2025-2029. Bersentuhan dengan politik praktis, Irfan menghadirkan artikel berjudul “Kopi dan Psikologi Politik: Sebuah Refleksi Tentang Rasa, Manusia, dan Kekuasaan” Terdengar “berat” gak sih? Tapi jangan khawatir, lewat kemampuannya melahirkan tulisan yang renyah dan easy to grasp ini, menarik kita untuk memahami bahwa “rasa terbaik muncul ketika identitas dihargai, bukan dipaksakan” dan bagaimana secangkir kopi bisa terlibat dalam setiap kegiatan politik.
Menyapa tulisan selanjutnya kita akan bertemu dengan rangkaian kalimat indah dan insight baru tentang kopi berjudul “Jenis Kopi Baru dari Turki Menengic Kahvesi” yang disajikan oleh Sefa Bulut. Seorang guru besar dari Ibn Haldun University, Istanbul, Turki. Yang pernah menginjakkan kaki di Istanbul dan mencicipi kopi di sana, boleh lah mengulik tentang jenis kopi baru ini ya. Menengic Kahvesi. Salah satu jenis kopi tradisional Turki yang unik karena tidak berasal dari biji kopi melainkan dari biji pohon Pistacia Terebinthus, sejenis kerabat pohon Pistachio. Tuh seru kan?
Mari kita buka halaman selanjutnya.
Artikel berikutnya adalah karya dari Reza Fathurrahman dengan judul “Kopikir Semuanya Indah Tanpa Perlu Upaya Maksimal? Bangun Boy!” Eh, seru dan menohok banget ya. Apa sebab? Yah seperti halnya birama kehidupan, selalu ada usaha untuk menggapai cita-cita kan? Pastikan Anda membaca beberapa poin penting yang dihadirkan Reza agar kita tetap tangguh untuk menjadi lebih baik. Saya sendiri tertegun dengan banyak kalimat yang sesungguhnya menyemangati pembaca untuk tak lelah berjuang. Selayaknya Reza yang melanjutkan studi master dan doktoralnya dengan beasiswa penuh dari DAAD (German Academis Exchange Service) di ranah Kebijakan Publik. Berada di negeri orang – Jerman – tentulah tidak mudah bagi Reza. Lalu apa hubungannya dengan kopi? Kuy, nanti baca lebih lanjut ya.
Penulis berikutnya adalah Santya Anggraini yang menghadirkan dua artikel yaitu “Fenomena Kafe Jalan Darmo Malang” dan “Warkop dan Coffee Shop Gresik” Dari judulnya kita bisa langsung paham bahwa keduanya bercerita tentang kopi dan budaya minum kopi di kedua kota di Jawa Timur ini. Ngopi dan ngafe tidak sekedar berkaitan dengan kebiasaan menikmati minuman (kopi), tetapi juga mencerminkan sebuah dinamika sosial, psikologis, dan kultural masyarakat yang kini berkembang menjadi kota yang berpengaruh.
Wijanarko Dwi Utomo. Ayah empat orang anak ini sudah lebih dari 18 tahun bekerja sebagai praktisi Sumber Daya Manusia ini menyajikan “Aroma Kenangan dari Tanah Pandalungan” sebagai bagian dari buku Psikologi dalam Seduhan. Serangkaian memori indah akan sebuah rumah sederhana di mana dia bisa menikmati dunia yang hangat, sebuah dunia yang berpusat pada Ayah, Ibu, dan tentu saja kopi. Bagaimana akhirnya dia dikenalkan pada kopi alpukat hasil olahan Ayahnya. Alpukat kualitas prima yang dicampur dengan hitam pekat nya kopi. Hingga bertahun-tahun kemudian dia menyadari bahwa kopi alpukat sang Ayah bukan sekedar campuran bahan. Itu adalah gabungan antara rasa, memori, dan cinta. Wuaaahh. Ada yang punya kenangan manis dengan kopi bersama Ayah tercinta?
Artikel terakhir disusun oleh Lulu Hataki. Naskah terlihat dan mepet dengan date-line. Apa yang disajikan Lulu sebagai sang penutup buku? Judulnya sungguh menggelitik “What Coffee Makes You. Kopi dan Pilihan Menjadi Dirimu” Tiga paragraf pembuka yang ditulis oleh Lulu sudah cukup mewakili ratusan kata yang dia susun untuk artikel ini.
Apa yang muncul di benakmu ketika aroma kopi yang baru saja digiling dan diseduh perlahan menyebar pelan, menyusup ke rongga-rongga hidung, menelisik makna-makna dalam ruang-ruang batin yang tidak tersentuh?
Apakah kopi masih hanya sekedar minuman? Ataukah menjadi refleksi hidup yang menemanimu merasakan pahit, manis, wangi, hangat, atau dingin, dan membuatmu terjaga?
Dari tegukan itulah cerita-cerita pilihan hidup dimulai.
Menurut saya, apa yang dituliskan Lulu di atas layak menjadi penutup dari semua esai, karangan, yang disajikan oleh 18 (delapan belas) sarjana psikologi UNPAD yang turut membidani lahirnya buku Psikologi dalam Seduhan. Setiap jejak kata, refleksi, kontemplasi, bahkan buah pemikiran, tentunya berawal dari rasa nyaman yang menyesap dalam jiwa. Dan itu bisa kita dapatkan wangi istimewa dari secangkir kopi.


Jutaan Rasa, Merabuk Jiwa
Saat naskah masuk dan melewati proses suntingan lembar demi lembar, saya merasakan euforia berjumpa dengan banyak insight baru di dunia psikologi. Latar belakang pendidikan saya di dunia komunikasi tentunya jauh berbeda ilmu yang didapat oleh semua penulis yang ada. Tapi dengan kehadiran kopi, yang kemudian terpaparkan apik bersama ilmu psikologi, semua akhirnya didampingi dan dibungkus oleh ilmu komunikasi.
Perpaduan yang apik bukan?
Nyatanya setiap kata dan kalimat yang dipilihkan oleh para penulis, sangat mewakili makna terkuat yang digiring oleh Psikologi dalam Seduhan. Bagaimana kemudian jutaan rasa, merabuk jiwa hadir sebagai letupan manis dari semua memori yang dimatangkan oleh buku ini. Seluruh cerita tentang kopi, makna kehadirannya, dan cerita yang terbangun di antara seduhannya, membuat buku ini lebih dari layak untuk diadopsi dan dibaca oleh khalayak.
Long story short. Sesungguhnya apa saja sih yang bisa kita dapatkan dari buku Psikologi dalam Seduhan ini selain berkenalan dengan para pecinta kopi dengan latar belakang pendidikan psikologi?
Ada banyak pastinya.
Buku ini jelas mengajak kita untuk memahami bahwa kehadiran kopi bukan saja bisa menghangatkan perut tapi juga memberikan efek yang sama untuk jiwa kita. Buku ini juga mampu dan mengizinkan kita untuk mengulik bejana jiwa yang ditempa oleh banyak kesibukan dan kepadatan pikiran. Gaya penulisan setiap artikel tersaji ringan dan mudah dipahami, serta menyajikan banyak pengetahuan tentang psikologis modern berikut tips aplikatif dengan kehidupan sehari-hari. And to forget at the end of everything adalah bahwa Psikologi dalam Seduhan bisa banget dijadikan investasi kecil yang merabuk jiwa. Melambungkan budaya membaca sambil menyesap kopi kesukaan dan menghadirkan ilmu psikologi yang selalu menyertai setiap langkah kita.



IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com
Annie Nugraha Mediatama | Cikarang, Bekasi | T. 0811-108-582 | IG @annie_nugraha_mediatama_ | Email: annie.nugraha@gmai.com | www.annienugrahamediatama.com









